Jessica diantar oleh Maura ke kamar yang sudah disiapkan untuk gadis itu. Sesampainya di lantai 3, Jessica hanya melihat ada 1 ruangan di sana. Ia pun menatap Maura seolah ia ingin mendapatkan jawaban kenapa lantai ini hanya memiliki 1 ruangan. Seolah paham dengan arti tatapan Jessica, Maura pun menjelaskan.
"Lantai bagian ini memang lebih kecil, makanya hanya ada 1 kamar. Ini kami pilih untuk kamu agar kamu memiliki space pribadi. Anggap saja saya dan Mike adalah orangtua kamu, dan anggap rumah ini adalah rumah kamu juga. Jangan menganggap bahwa kami adalah orang asing," tutur Maura.
Jessica menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kemudian, Maura membukakan pintu kamar yang akan ditempati oleh Jessica.
Kamar bernuansa biru itu membuat mata Jessica berkaca-kaca. Sebab, kamar seperti ini adalah kamar impiannya.
"Istirahatlah," ucap Maura sebelum ia meninggalkan kamar Jessica.
"Terima kasih," ucap Jessica pelan.
Maura tersenyum senang karena akhirnya Jessica mengeluarkan suara untuknya. Maura tidak menoleh, sebab ia tidak ingin jk Jessica kembali merasakan kecanggungan. Maura berencana akan mendekati Jessica secara perlahan saja.
...
Jessica menyusun barang-barang yang ia bawa dari rumahnya. Namun, hatinya memanas ketika ia mengingat moment saat ia bersama orangtuanya. Di mana Jessica pernah berkata jika ia sangat menginginkan kamar yang seperti ia tinggali sekarang.
"Untuk apa aku sudah memilki kamar se-bagus ini, tapi aku kehilangan kalian?!" ucap Jessica pada tembok di hadapannya.
Gadis itu melempar sebuah buku novel yang ia bawa. Novel itu hampir rusak karena Jessica melemparnya sangat kuat. Hembusan napas yang terdengar berat lolos dari mulut gadis itu. Ia ingin segera pergi dari rumah itu. Namun Jessica juga takut kalau ia akan bertemu dengan penjahat itu lagi.
"Aku tidak akan menyerahkan nyawaku secara cuma-cuma pada kalian. Aku akan mati jika dendamku pada kalian sudah lunas terbayar," batin Jessica.
Jessica keluar dari kamarnya, gadis itu berjalan menuju pintu yang terhubung langsung dengan balkon yang ada di lantai 3. Dari balkon itu, Jessica bisa melihat hamparan rumput yang luasnya hampir sama dengan luas lapangan bola. Di sudut sebelah kanan, Jessica melihat sebuah tempat yang begitu membuatnya penasaran. Ada beberapa target yang terpasang dengan jarak yang berbeda-beda.
"Apa Om Mike dan Tante Maura bisa menembak?" gerutu Jessica.
"Menembak adalah hobi kami," suara perempuan itu berasal dari belakang Jessica. Gadis itu pun menoleh ke belakang dan mendapati Maura yang berjalan semakin mendekatinya.
"Apa ingin mencobanya?" tawar Maura.
"A-apa boleh?" tanya Jessica dengan gugup.
"Tentu saja," jawab Maura. 'Ayok kita ke bawah sekarang," ajaknya.
Maura dan Jessica pun turun ke halaman belakang dan menuju tempat di mana Maura dan Mike sering melakukan latihan menembak.
Maura memasangkan headphone ke telinga Jessica agar Jessica tidak merasakan sakit akibat nyaringnya bunyi tembakan nanti.
"Arahkan ke target," ucap Maura seraya membimbing tangan Jessica untuk mengarahkan pistol itu ke arah target di depan sana. "Jika sudah yakin, tarik pelatuknya," ucap Maura lagi.
DOOORRR!!!
Dengan sekali tarikan napas dari mulut Jessica, sebuah peluru panas lolos dari sarangnya. Jessica berlompat kegirangan karena tembakan pertamanya berhasil mengenai target, meskipun hanya mengenai target yang paling dekat.
"Hey! Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Mike yang baru saja keluar dari rumah karena mendengar suara tembakan tadi.
"Ke sini sebentar," perintah Maura agar Mike mendekat.
Mike pun mendekati Maura dan Jessica.
"Tadi aku ajari Jessica menembak. Baru sekali dan dia sudah bisa," jelas Maura. "Atau jangan-jangan, ini bukan pertama kalinya kamu latihan menembak?" tanya Maura pada Jessica.
Jessica menggelengkan kepalanya kemudian ia berkata "Ini pertama kalinya aku memegang pistol."
"Bisakah kamu menunjukkannya pada saya?" tanya Mike.
Jessica menganggukkan kepalanya, ia menarik larasnya, kemudian ia mengarahkan ujung pistolnya ke arah target yang lebih jauh dari sebelumnya. Jessica mengingat setiap ucapan Maura saat mengajarkannya tadi.
"Tarik napas dan yakinkan hati. Lalu, tarik pelatuknya," batin Jessica.
DDOOORRRR!!!
Sekali lagi, sebuah peluru panas berhasil mengenai target yang Jessica inginkan. Saat itu juga, Mike dan Maura bertepuk tangan. Jessica pun tersenyum senang.
"Bagaimana aku tidak mengenai target jika target itu kubayangkan bahwa mereka adalah penjahat-penjahat b******n itu," batin Jessica.
...
Hari sudah menunjukkan pukul 12 malam, Jessica masih duduk di bangku taman belakang seorang diri. Malam ini, gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sebenarnya bukan hanya malam ini, malam-malam saat kehidupannya sudah menjadi kelabu, ia sudah sangat kesulitan untuk tidur dengan nyenyak. Sebab, ketika ia menutup mata, maka bayang-bayang wajah para penjahat itu muncul di benaknya.
Mike baru saja pulang setelah pekerjaan mendadak yang ia kerjakan sejak sore, Mike melihat Jessica tengah duduk di sofa ruang tamu dengan kaki yang ia peluk dan pupil matanya nampak bahwa ia sedang melamun.
Mike menyentuh pundak Jessica dengan lembut. Seketika itu juga, Jessica terkejut, ia menatap Mike dengan tatapan sendu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Mike yang saat itu masih berdiri di belakang sofa tempat Jessica duduk.
"Aku enggak bisa tidur, Om," jawab Jessica apa adanya. "Dari kemarin memang begini," sambungnya.
"Tidurlah, ini sudah larut malam," ucap Mike. "Tidak baik bagimu jika tidur terlalu larut," Mike mengingatkan.
Jessica menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Om duluan aja. Aku sebentar lagi akan ke kamar juga kok," ucap Jessica.
"Baiklah. Ingat perkataan saya tadi," ucap Mike sebelum ia meninggalkan Jessica.
Jessica hanya menatap punggung Mike sampai punggung itu hilang di anak tangga bagian tengah. Jessica kembali menekukkan kakinya dan memeluk kaki mungil itu dengan erat. Pikirannya kembali melayang ke perencanaan balas dendamnya.
"Mungkin bagi para Polisi itu, mencari kalian adalah hal yang cukup sulit. Tapi, bagiku, mencari kalian sampai bertemu dan membayar semua hutang darah adalah kewajiban yang akan aku tunaikan suatu saat nanti," gerutu Jessica.
...
"Ra? Kamu kenapa belum tidur?" tanya Mike ketika ia memasuki kamar dan mendapati Maura yang belum tidur.
"Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Maura.
"Kenapa enggak besok aja? Kamu kan tahu kalau aku akan pulang malam hari ini, masih saja ditunggu," ucap Mike. "Apa yang mau dibcarakan?" tanya Mike kemudian ia duduk di sisi ranjang.
"Soal Jessica..."
"Kenapa Jessica?' potong Mike.
"Aku takut jika dia terus-menerus larut dalam trauma-nya," ungkap Maura.
'Kalau kiat terus membantunya keluar dari rasa trauma-nya, maka dia enggak akan tersesat dalam trauma yang kelam itu," ucap Mike.
"Bahkan, berbicara dengan kita saja, dia seperti ketakutan, 'kan?" ungkap Maura lagi.
"Coba kamu ajarkan dia menembak setiap hari. Sepertinya menembak membuatnya sedikit tenang," ucap Mike.
Lalu, sepasang suami istri itu bertatapan satu sama lain, seolah mereka sedang memikirkan hal yang sama.