Chapter 1
Tangan serta kaki Jessica bergetar hebat, sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Hal itu terjadi karena ia baru saja melihat pemandangan yang tidak seharusnya dilihat oleh gadis berusia 15 tahun itu. Ia berteriak kemudian berlari keluar rumahnya. 3 orang asing yang berada di dalam rumahnya tadi segera mengejar Jessica.
Sekuatnya, Jessica berlari guna menghindari 3 pria itu. Seseorang menarik Jessica untuk bersembunyi. Ketakutan gadis itu bertambah, namun orang itu mengisyaratkan agar Jessica tidak perlu takut padanya. Jessica diam dan menuruti perkataan orang itu.
Saat orang itu sudah berada jauh dari tempat di mana Jessica bersembunyi, orang yang membantunya pun membawa Jessica keluar dari tempat persembunyian dan membawa Jessica ke sebuah mini market untuk membelikan minuman untuk Jessica.
Jessica masih menatap orang itu dengan ragu, ia tidak ingin jika menghindar dari orang jahat dan malah berlari bersama orang jahat lainnya.
"Jangan ragu, saya bukanlah mereka yang ingin melukaimu juga," ucap orang itu dengan tutur kata yang terdengar sangat lembut. Tangannya menyodorkan sebotol air mineral pada Jessica. Kemudian ia duduk di samping gadis yang baru saja ia temui itu.
"T-terima kasih," ucap Jessica kemudian ia meminum air mineral yang diberikan orang itu.
"Apa yang terjadi?" tanya orang itu pada Jessica.
Setelah meneguk minumannya, Jessica menatap orang itu dengan jeli, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Orang itu teringat bahwa ia harus memperkenalkan dirinya pada Jessica terlebih dahulu. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Jessica.
"Saya Mike," ucapnya memperkenalkan diri.
Jessica masih ragu-ragu untuk menjabat tangan lelaki itu.
Mike menarik tangannya kembali karena merasa bahwa tatapan Jessica padanya masih seperti melihat seorang penjahat.
Tiba-tiba, Jessica berdiri dan berkata "Ayah?! Ibu?!" kemudian gadis itu segera berlari kembali ke rumahnya.
Mike yang takut akan terjadi hal buruk pada Jessica, ia pun mengejar Jessica sampai di rumah.
...
Sesampainya di rumah, Jessica sudah tidak bisa melangkahkan kakinya untuk masuk, ia hanya sampai di depan pintu rumahnya saja. Sebab, Jessica merasakan bahwa saat itu kakinya sangat lemas. Gadis itu terduduk di tengah pintu yang terbuka lebar. Bibirnya terasa kelu hingga tidak bisa mengeluarkan suara lagi.
Mike yang saat itu baru sampai, ia ikut tidak bisa berbuat apa-apa ketika pandangannya menyamai arah pandangan Jessica. Mike berjongkok di samping Jessica dan menutup kedua mata Jessica dengan tangan kanannya.
Jessica terisak, ia menyadarkan kepalanya ke d**a Mike, kemudian, teriakan pun keluar dari mulut gadis itu. AYAAAHHHH!!! IBUUUUU!!!!
Kedua orang tua bersimbah darah dengan luka sayatan di mana-mana, hati anak mana yang tidak sakit ketika melihatnya di hadapan mata? Terlebih lagi, di saat pelakunya terlihat oleh mata telanjang, tentunya dendam muncul di dalam hati sang anak, 'kan?
Setelah proses indetifikasi dan proses autopsi selesai, kedua orangtua Jessica pun dimakamkan. Hari itu hari yang sangat kelabu bagi Jessica. Untungnya, Mike datang untuk selalu mendampingi Jessica. Mike juga tertunjuk untuk menjadi salah satu saksi mata atas pembunuhan sadis yang sudah terjadi.
Jessica juga mengakui pada pihak kepolisian bahwa Mike yang sudah menyelamatkannya malam itu. Seandainya Mike tidak ada, mungkin berita yang akan muncul hari ini adalah "PEMBUNUHAN SATU KELUARGA"
Sembari menunggu Jessica selesai menabur bunga di atas makan Ayah dan Ibunya, Mike di tarik oleh salah seorang pihak kepolisian untuk berbincang sebentar.
"Ada apa, Pak?"
"Mereka berdua adalah satu-satunya keluarga yang Jessica miliki. Jessica juga adalah seorang anak tunggal. Sekarang, dia hanya hidup seorang diri. Bolehkah jika saya meminta anda untuk menjaganya dalam waktu beberapa saat sampai kami menemukan pelaku pembunuhannya?"
"Syukurlah jika bapak mempercayai saya. Saya pribadi pun juga sudah ingin membicarakan hal ini. Apalagi, setelah 10 tahun usia pernikahan saya dan istri saya. Kami belum dikarunai anak, Pak."
"Apa Pak Mike ada rencana untuk mengadopsi Jessica?"
"Itu masih tahap perundingan saya dan istri, Pak."
Setelah Jessica selesai menabur bunga, ia pun menghampiri Mike.
"Apa sudah selesai?"
Jessica hanya menganggukkan kepalanya.
Seorang polisi yang turut hadir dalam upacara pemakaman Jessica tadi, ia menepuk lembut pergelangan tangan kanan Jessica. Kemudian ia berucap "Tinggallah dengan Pak Mike untuk sementara waktu sampai kami menemukan pelaku pembunuhan orangtuamu. Kalau kamu tinggal sendirian, saya khawatir jika pelakunya masih mengincar kamu."
Jessica menganggukkan kepalanya, sebab ia sendiri pun masih trauma dengan kejadian tempo hari.
Mike dan polisi itu merasa lega karena Jessica mau menuruti perkataan mereka. Mike pun membawa Jessica pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan ke rumah Mike, Jessica hanya menatapi pohon-pohon yang berjejer rapi di pinggir jalan. Sesekali ia menyeka embun yang terlukis di kaca mobil milik Mike.
...
15 menit kemudian, Mike dan Jessica sampai di depan sebuah rumah dengan pagar yang mungkin 10 kali lebih tinggi dari tinggi badan Jessica. Saat Mike membunyikan klakson mobilnya, pagar itu terbuka dan menampakkan rumah yang terlihat seperti istana bagi Jessica.
Saat tiba di depan pintu, Mike mematikan mesin mobilnya dan seseorang segera membukakan pintu mobil untuk Mike. Jessica juga ikut kelar dari mobil laki-laki itu.
Seorang perempuan berambut lurus sepinggang yang baru saja muncul dari balik pintu dan membuat kening Jessica berkerut sempurna.
"Apa namamu Jessica?" tanya perempuan itu dengan suaranya yang terdengar lembut memasuki gendang telinga Jessica.
Walau begitu, Jessica juga merasa takut karena ini kali pertama ia dan perempuan itu bertemu.
'Jangan takut," ucap Mike yang sudah berdiri di samping Jessica. "Dia Maura, istri saya," sambung Mike.
Saat itu juga, Jessica tersenyum tipis seraya menatap Maura.
"Ayok masuk," ajak Maura sembari merangkul bahu Jessica.
Jessica pun mengikuti langkah Maura yang membawanya ke ruang tamu rumah itu.
"Maaf, ya? Saya tidak bisa hadir dalam upacara pemakaman orangtua kamu," sesal Maura.
"Letakkan koper itu di kamar lantai 3 saja," perintah Mike pada seorang asisten rumah tangga yang sedang membantu Mike membawa koper milik Jessica. "Kamarnya sudah dibersihkan, 'kan?" tanya Mike.
"Sudah Tuan," jawab asisten rumah tangga itu. Kemudian ia pun membawa koper itu naik ke lantai 3.
"Jessica jika ingin sesuatu, bilang saja pada kami ya," ucap Maura.
Saat itu Jessica merasakan kenyamanan yang hampir sama dengan saat ia bersama sang Ibu. Jessica hendak menangis, namun ia tahan. Sebab, Jessica tidak ingin belas kasihan dari orang di sekitarnya.
"Jika aku meminta kalian untuk membantuku membalaskan dendamku pada orang-orang yang sudah membunuh kedua orangtuaku, apa kalian akan bersedia membantuku ataukah kalian malah akan mengusirku?" Jessica membatin