Chapter 8

1024 Words
"Jessica pulang," ucap Jessica saat ia baru saja memasuki rumah. Namun, hanya keheningan yang ia dapatkan. Tidak ada sahutan dari dalam sana. "Bi, Mama sama Papa ke mana?" tanya Jessica kepada salah seorang pekerja di rumah Mike dan Maura. "Tuan dan Nyonya sedang pergi, Non," jawabnya. "Katanya kalau Nona pulang, suruh makan dan istirahat. Kemungkinan Tuan dan Nyonya akan pulang malam," jelasnya. "Yasudah deh. Terima kasih, Bi," sahut Jessica sebelum ia berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai 3. "Mereka ke mana? Sibuk banget, ya? Lalu, kalau sibuk harus keduanya yang sibuk? Aku jadi penasaran dengan pekerjaan mereka. Nampak sih kalau mereka bukan sembarangan orang," Jessica berkata seraya melepas seragam sekolahnya dan menggantinya dengan baju rumahan. Gadis itu nampak mengeluarkan semua buku pelajarannya dari dalam ransel yang ia bawa ke sekolah tadi. Semua buku-buku itu ia letakkan di atas meja belajarnya. Satu persatu buku ia buka dan ia pelajari ulang. Beberapa tugas rumah juga ia buka untuk ia kerjakan sedikit demi sedikit. Tok...tok...tok... Suara ketukan pintu kamar terdengar. Jessica segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang ada di balik sana. "Ada apa, Bi?" tanya Jessica kepada asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kedua orangtua angkatnya itu. "Ini ada jus buah sama sedikit camilan. Kata Nyonya, Nona harus ada asupan kalau sedang belajar," ucap Bibi seraya menyerahkan nampan berisi segelas jus mangga dan sepiring kue-kuean. "Terima kasih, Bi," ucap Jessica seraya menerima nampan itu. "Sama-sama, Nona," sahut Bibi. "Kata Tuan juga, nanti sore Nona akan latihan menembak dengan Tuan Hansel," ungkap Bibi. "Iya, Bi. Tadi Om Hansel juga ada bilang kok," sahut Jessica seraya memakan sebuah kue. "Yasudah, Non. Hanya itu saja yang Bibi sampaikan. Semangat belajarnya," ucap Bibi sebelum beliau pergi dari depan pintu kamar Jessica. Jessica lantas kembali ke kamarnya dan kembali ke meja belajarnya. ... Sore harinya. Jessica sudah siap untuk latihan menembak bersama Hansel. Saat ia tengah menunggu lelaki itu datang, Jessica berjalan di sekitar lapangan tembak yang ada di belakang rumah Mike dan Maura. Gadis itu nampak sedang menatapi satu persatu pistol yang terpajang di sebuah kaca. Dari yang terkecil sampai yang terbesar. Jessica tahu bahwa tidak ada yang palsu di sana. Semuanya asli. Senjata api itu bisa saja Jessica ambil satu dan menyimpannya untuk memburu satu-persatu pelaku pembunuhan orangtuanya. Namun, Jessica yang memiliki pemikiran dewasa, ia tentu saja enggan untuk melakukan hal yang nantinya akan membahayakan dirinya sendiri juga. "Hey!" Hansel dengan sengaja membuat Jessica terkejut. "Serius banget," ledek lelaki itu seraya terkekeh. "Untung aja aku enggak jantungan," gumam Jessica seraya melenguh kesal. Hansel yang melihatnya hanya tertawa. "Mau mulai sekarang?" tanya Hansel. "Kalau aku mau coba yang ini, apa boleh?" tanya Jessica seraya menujuk sebuah senjata api yang paling besar yang terpajang di kaca hadapannya. "Mulai dari hal yang terkecil dulu, Je," sahut Hansel. "Ya ya ya," ucap Jessica kemudian ia berjalan menuju tempat di mana ia akan berdiri untuk mengambil posisi. Hansel membantu Jessica untuk memasang sebuah headphone ke telinganya agar suara tembakan yang nyaring tidak merusak pendengaran gadis itu. "Sudah siap?" tanya Hansel. Jessica menganggukkan kepalanya dan ia langsung menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya. "Astaga!" Hansel terkejut seketika. Namun, Jessica malah tersenyum puas. Sebab, ia telah berhasil mengenai target dengan sempurna. "Apa sekarang aku sudah bisa memakai senjata yang lebih besar dari ini?" tanya Jessica kepada Hansel. "Nanti gua coba tanya Mike dulu," sahut Hansel. "Mau belajar yang lebih menantang nggak?" tawar Hansel seraya tersenyum miring. "Apa?" tanya Jessica yang penasaran. Hansel pun mengambil sebuah apel yang terletak di atas meja yang ada di halaman belakang rumah. Kemudian, Hansel membawa apel itu ke depan target. Lalu, Hansel meletakkan apel itu di atas kepalanya. "Kalau elo berhasil menembak apel ini, maka elo sudah boleh naik step," ucap Hansel. "Okey!" Jessica menerima tantangan dari Hansel. Gadis itu nampak sedang mengarahkan ujung pistol yang ada di tangannya ke kepala Hansel. "Salah banget. Sudah kayak mau bunuh diri aja gua," gumam Hansel. "Sudah siap, om?" tanya Jessica. "Harusnya gue yang tanya begitu," kesal Hansel. "Jangan gerak, Om. Nanti salah sasaran," ucap Jessica seraya memasang ekspresi wajah seperti seseorang yang sudah siap membunuh orang yang ada di hadapannya. Hansel pun hanya bisa pasrah. Lelaki itu menghela napasnya kemudian ... DORRR! Apel yang ada di kepalanya hancur berantakan. Jessica telah berhasil. "Seriusan?! Hancur?!" tanya Hansel yang sedikit tidak percaya. "Jelas dong," sahut Jessica dengan penuh percaya diri. "Jadi, aku sudah bisa latihan pakai pistol yang lebih besar, 'kan?" tanyanya. "Yang besar belum tentu mematikan dan yang kecil belum tentu enggak mematikan, Je. Lo bisa lihat sendiri tadi, 'kan? Apel yang ada di kepala gua hancur enggak berbentuk lagi," ucap Hansel panjang lebar. Jessica menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia paham maksud dari ucapan Hansel. Kemudian ia kembali melanjutkan sesi latihannya. ... Di sisi lain. Maura dan Mike sedang berada di sebuah gudang di mana mereka memproduksi banyaknya senjata api dengan berbagai jenis. Keduanya nampak berjalan dengan santai menyusuri setiap rak yang berisi senjata api yang sudah siap kirim itu. Di belakang Mike dan Maura terdapat 5 orang pria berbadan tinggi besar dengan berpakaian serba hitam. Mereka berlima tidak lain adalah penjaga Mike dan Maura jika mereka sedang sidak ke gudang. "Mau menambah koleksi di rumah?" tanya Maura kepada Mike yang berjalan di sampingnya. "Aku sudah pesan untuk Jessica. Kemungkinan selesai minggu depan," ungkap Mike. "Apa itu akan menjadi senjata penjaganya sampai nanti?" tanya Maura. Mike menganggukkan kepalanya. "Apa kita akan benar-benar membiarkannya membalaskan dendam yang sudah meliputi hatinya seorang diri?" tanya Maura. "Kita akan melindunginya tanpa sepengetahuannya. Karena aku sendiri pun sudah menyayanginya layaknya anakku sendiri," sahut Mike. Maura nampak tersenyum senang. Karena, wanita itu pun juga merasakan hal yang sama dengan Mike. Ia sudah menganggap Jessica layaknya anak kandungnya sendiri. "Kamu mau satu nggak? Buat oleh-oleh," tawar Mike. "Orang sih oleh-oleh tuh makanan atau nggak baju atau nggak tas. Ini oleh-oleh malah pistol," gerutu Maura. Mike yang mendengarnya, ia pun tertawa puas. "Senang lah itu," ucap Maura. "Kamu kalau menggerutu begitu, sudah seperti anak SD tau nggak," ucap Mike. Maura hanya bisa menghela napasnya. Ia sudah sering mendapat ejekan dari Mike. Walau sudah berusia sangat dewasa, lelucon ringan sudah menjadi bumbu cinta keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD