Maura melihat dengan jelas bagaimana Jessica yang nampak ketakutan bersembunyi di samping Hansel. Maura mengisyaratkan pada anaknya itu untuk segera menghampirinya. Mulanya Jessica nampak ragu. Namun, merasa situasi aman, akhirnya Jessica pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Mama," lirih Jessica lalu ia berdiri di belakang Maura.
"Tenang, jumlah mereka sudah kalah banyak dengan jumlah yang kita punya," sahut Maura.
Jessica melihat dengan jelas jika para penjarah mall itu nampak kocar-kacir ketika para anak buah Hansel dan Mike mengepung mereka.
"Ma, tadi dia takutin aku dengan menodong pisau ke leher aku supaya aku diam. Padahal aku sudah diam dan menuruti perintah yang dia beri," Jessica mengadu.
"Ingin balas dendam?" tanya Maura seraya tersenyum miring.
Jessica langsung menganggukkan kepalanya.
Maura pun memberikan pistol yang ada di tangannya kepada Jessica. Jessica tentu saja menerimanya.
Kemudian, Jessica berjalan mendekati salah seorang pria yang beberapa menit lalu menodong pisau ke arahnya. Sesampainya ia di hadapan pria itu, ia menodongkan ujung pistolnya ke arah perut pria itu.
"Tadi Om melakukan hal yang sama ke aku. Bedanya hanya disenjata. Om pakai pisau sedangkan aku pakai pistol saja," ucap Jessica dengan lembutnya.
"J-jangan b-bunuh saya," ucap pria itu dengan tergagap.
Jessica nampak memanyunkan bibirnya. Padahal dalam hatinya ia merasa puas karena sudah berhasil membuat pria itu merasa ketakutan.
"Sudah, Jes. Jangan membuat onar," tegur Hansel kemudian ia menarik Jessica agar menjauh.
"Mereka akan segera diamankan oleh pihak berwajib dan gua pastikan kalau mereka akan menanggung semua kerugian yang ada di sini," jelas Mike.
Namun, saat Hansel hendak menyahut, sebuah peluru terlepas dari sarangnya dan hal itu kembali membuat kegaduhan. Seluruh anak buah Hansel dan anak buah Mike mulai melakukan perlawanan atas para penjarah itu yang memulainya.
"Bawa Jessica ke mobil. Cepatlah!" perintah Mike kepada Maura.
"Aku mau bantu Papa," sahut Jessica.
"Di sini terlalu bahaya, Jessica!" tegas Mike yang membuat Jessica takut.
Suasana mall semakin gaduh. Sesekali suara tembakan terdengar bersahutan seiring dengan pecahnya kaca-kaca.
Sedangkan Maura dan Jessica sedang berusaha untuk keluar dari area mall dengan dibantu oleh beberapa anak buah Mike.
Syukurnya, Maura dan Jessica bisa sampai di mobil dengan selamat. Maura langsung menancapkan gas mobil menuju rumah.
"Kita enggak tunggu Papa?" tanya Jessica. "Aku takut kalau Papa kenapa-napa."
"Papamu akan baik-baik saja," sahut Maura menenangkan. "Dia sudah terbiasa dengan situasi ini," sambungnya.
Jessica hanya bisa mengangguk paham. Kemampuan bela dirinya memang masih sedikit dan belum sepenuhnya terlatih. Itu sebabnya Mike melarangnya untuk ikut dalam aksi kali ini. Mungkin suatu saat nanti akan tiba masanya Mike membawa Jessica dalam aksinya. Itulah yang ada di dalam pikiran Jessica.
...
Malam semakin larut. Maura dan Jessica yang sedari tadi duduk di kursi ruang tamu nampak semakin cemas. Sebab, beberapa jam yang lalu mereka melihat berita utama hari ini bahwa sebuah mall nampak begitu kacau setelah terjadinya penjarahan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Di sana juga terdapat beberapa korban meninggal dunia akibat kerusuhan yang terjadi akibat perlawanan yang dilakukan oleh 2 kelompok mafia.
"HP papa enggak aktif dari tadi, Ma," ucap Jessica setelah ia puluhan kali menelfon ke nomor Mike.
"Coba telfon Hansel," perintah Maura.
Jessica langsung menelfon ke nomor Hansel. Namun, hasilnya sama. Nomor Hansel tidak aktif.
Pukul 11 malam.
Jessica dan Maura masih berada di ruang tamu. Keduanya saling bertatapan satu sama lain setelah mendengar suara mobil masuk ke dalam pekarangan rumah. Mereka segera beranjak dari tempat duduk mereka dan membuka pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
Suka cita menyambut kedatangan Mike dan Hansel yang datang dengan wajah yang lelah.
"Kalian kenapa?" tanya Mike seraya terkekeh.
"Jangan tanya, Pa. Kami cemas dengan Papa dan om Hansel," sahut Jessica.
"Kalian enggak ada luka, 'kan?" tanya Mike.
"Seharusnya kami yang bertanya begitu dengan kamu," sahut Maura.
"Aku hanya luka sedikit, Sayang. Mungkin karena terkena pecahan kaca tadi," ungkap Mike.
"Ayok masuk. Biar aku obatin luka kamu," ucap Maura. "Mama obatin luka Papa dulu, Jes," ucapnya pada Jessica.
Jessica lantas menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata "Istirahat, Ma, Pa."
Sepeninggal Mike dan Maura. Hansel nampak menatap Jessica dengan nanar.
"Apa?" tanya Jessia dengan acuh.
"Sakit, Jes," sahut Hansel.
"Apanya yang sakit?" tanya Jessica seraya menahan tawanya.
Bukannya menjawab, Hansel malah memanyunkan bibirnya.
"Ayok masuk," ajak Jessica.
Hansel duduk di sofa ruang tamu seraya memperhatikan Jessica yang tengah mencari kotak P3K. Lelaki itu nampak tersenyum senang ketika Jessica perhatian padanya.
Setelah menemukan apa yang ia cari, Jessica pun duduk di samping Hansel dan mulai membersihkan luka-luka kecil yang ada di pergelangan tangan Hansel.
"Tadi aku dan Mama sempat cemas. Mall sudah mendapat penjagaan dari pihak kepolisian. Tapi kalian enggak pulang-pulang jug. Mana HP enggak ada yang aktif," ungkap Jessica.
"Tadi kamu dimintai keterangan oleh pihak kepolisian," jawab Hansel.
"Hampir 3 jam?" tanya Jessica lagi.
"1 jam kami di kantor polisi dan 2 jam kami di markas," jelas Hansel dengan singkat.
"Ngapain di markas?" tanya Jessica dengan polosnya.
"Periksa kel*min. Masih utuh atau enggak," jawab Hansel dengan asal.
"Jorok!" pekik Jessica seketika.
"Lagian lo pakai tanya segala," kesal Hansel.
"Kalau aku tahu, aku enggak akan tanya, Om," sahut Jessica.
"Biasanya kalau setelah adanya pertempuran, kami memang selalu berkumpul di markas untuk memastikan kalau anggota berkurang atau tetap saja," ucap Hansel.
"Lalu, apa ada anggota yang masuk rumah sakit atau gugur dalam pertempuran?" tanya Jessica lagi.
"Syukurnya hanya sampai ada yang masuk rumah sakit. Itu pun hanya 3 orang," jawab Hansel lagi.
Jessica mengangguk tanda bahwa ia sudah paham dengan apa yang dikatakan oleh Hansel. "Sudah," ucapnya setelah ia menyelesaikan membersihkan luka yang ada di tangan Hansel.
"Enggak dikasih minum gitu?" tanya Hansel.
"Sudah malam, Om. Aku mengantuk," sahut Jessica.
"Tega banget," ucap Hansel kemudian ia berjalan menuju kamar tamu yang ada di lantai 1 rumah Mike.
"Om Hansel ngapain?" tanya Jessica yang heran.
"Gua sudah bilang sama Mike kalau malam ini gua nginap di sini," sahut Hansel kemudian ia membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya.
"Pantas saja jam segini masih di sini," gumam Jessica.
Jessica yang tidak enak hati, ia pun berjalan menuju dapur dan membuat secangkir teh panas untuk Hansel.
Tok! Tok! Tok!
Jessica mengetuk pintu kamar tamu.
"Siapa?!"
"Aku, Om."
Hansel pun langsung membukakan pintu untuk Jessica. "Kenapa?" tanyanya.
Jessica menyodorkan secangkir teh panas yang tadi ia buat. "Hati-hati, masih panas soalnya," ucapnya.
Hansel menerimanya dengan senyuman yang mengembang begitu manis, menandakan bahwa ia senang dengan perlakuan Jessica terhadapnya.
To Be Continued...