"Jessica lo kasih makan apa sih, Mike?" tanya Hansel yang baru saja duduk di samping Mike.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" tanya Mike kembali.
"Selama ini, baru Jessica yang sekali latihan langsung jago," jawab Hansel.
Mike hanya terkekeh sembari terus menatap layar iPad yang ada di tangannya.
"Serius tanya gua," ucap Hansel lagi.
"Gua kasih makan daun singkong," jawab Mike asal.
Karena kesal, Hansel pun melempar sebatang rokok ke tubuh Mike.
"Apa sih?!" kesal Mike.
"Lo jawabnya enggak benar banget," sahut Hansel.
"Memang begitu adanya," ucap Mike dengan santai.
...
Semakin hari, Hansel semakin merasa bersemangat mengajari Jessica. Sebab, Jessica termasuk orang yang mudah paham dan cepat bisa.
Rasa balas dendam Jessica lah yang membuatnya semakin gigih dalam belajar segala hal. Terutama dalam bela diri dan dalam menggunakan berbagai senjata.
"Jes, besok ada eskul. Kamu ikut eskul apa?" tanya Anne.
"Aku pikir di sekolah ini enggak ada eskul," gerutu Jessica.
"Jelas ada lah," sahut Anne.
"Ada eskul apa aja?" tanya Jessica penasaran.
"Seperti di sekolah umum lain juga, Jes. Cuman yang utama di sini adalah bela diri dan menembak," jawab Anne.
"Sejak kapan ada sekolah yang mengadakan eskul menembak?" tanya Jessica.
"Sejak sekolah ini berdiri," jawab Anne dengan nada suaranya yang terdengar pelan.
...
"Aku baru tahu kalau sekolah punya eskul menembak," ucap Jessica saat ia dan kedua orangtua angkatnya sedang makan malam bersama.
"Jadi, kamu besok akan ikut eskul?" tanya Maura.
Jessica menganggukkan kepalanya.
"Eskul apa?" tanya Maura lagi.
"Bela diri, Ma," jawab Jessica.
"Kenapa enggak menembak aja?" kali ini, Mike yang mengajukan pertanyaan.
"Aku takut kalau guru pembimbingnya malah suruh aku menggantikannya," jawab Jessica seraya terkekeh.
"Bagus dong kalau begitu," sahut Maura.
"Keenakan gurunya lah, Ma. Aku yang kerja, dia yang dapat gaji," ucap Jessica lagi.
"Benar juga ya," sahut Maura.
"Makanya, aku mau ikut bela diri aja. Karena gurunya itu Om Hansel," ungkap Jessica.
"Beneran? Hansel gurunya?" tanya Mike yang terbelalak kaget.
Jessica menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia membenarkan ucapan Mike.
"Tapi ingat ya. Jangan usil kalau Hansel lagi ngajar," ucap Mike mengingatkan.
"Iya, Pa," jawab Jessica paham.
...
Keesokan harinya.
Jessica dan teman-teman satu eskulnya sudah berkumpul di aula untuk mengikuti eskul bela diri. Sebelum Hansel datang, mereka mempersiapkan diri mereka terlebih dahulu.
Di aula tidak hanya ada murid perempuan saja, di sana juga ada murid laki-laki yang bahkan jumlahnya lebih banyak daripada murid perempuan.
"Ivan ikut eskul apa?" bisik Jessica ke telinga Anne yang berdiri di sampingnya.
"Dia juga ikut eskul bela diri," jawab Anne. "Tapi, biasanya dia datang semenit sebelum Pak Hansel datang juga," sambungnya.
Jessica menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Ternyata benar saja, sesaat setelah Ivan datang, Hansel juga datang.
Hansel mengabsen satu persatu murid yang berpartisipasi dalam eskul yang ia pimpin. Setelah selesai mengabsen, Hansel menyuruh murid-muridnya untuk melakukan pemanasan sebelum mereka akan mulai latihan bela diri.
"Jessica! Tangannya lurus, jangan bengkok!" tegur Hansel ketika ia melihat Jessica melakukan pemanasan dengan tidak baik.
"Galak banget," gerutu Jessica sembari membenarkan posisinya.
"Pokoknya, sebelum kalian semua berkeringat, maka latihan bela diri tidak akan dimulai," ucap Hansel dengan tegas.
...
Setelah hampir 20 menit melakukan pemanasan, Hansel pun menghentikan murid-muridnya dan mengatakan bahwa latihan akan dimulai karena seluruh anak muridnya sudah nampak berkeringat semua.
"Jessica, Ivan. Maju ke sini," panggil Hansel.
Jessica dan Ivan pun berjalan menghampiri Hansel yang berdiri menghadap murid-muridnya.
"Silakan, kalian saya tunjuk untuk pembukaan hari ini," ucap Hansel.
"Pak Hansel belum mengajarkan apa-apa. Malah sudah menyuruh aku dan Ivan memulai," gerutu Jessica. "Mau pakai gaya apa?" tanyanya.
"Coba saja," sahut Hansel dengan santai seraya menampakkan senyuman miringnya.
Ivan dan Jessica pun berdiri dengan berhadapan. kemudian, keduanya memasang kuda-kuda.
"Mulai!" ucap Hansel.
Jessica dan Ivan pun mulai melakukan aksi mereka. Ivan yang menghajar dan Jessica yang mencoba melakukan perlindungan diri. Sampai saat Jessica membalikkan keadaan. Kini, malah ia yang menghajar Ivan habis-habisan sampai Ivan terjatuh ke lantai.
Bersamaan dengan itu, seluruh murid yang ada di aula bertepuk tangan untuk Jessica karena sudah bermain dengan baik.
"Pak!" ucap Anne seraya menaikkan tangan kanannya ke udara.
"Iya?" tanya Hansel seraya menatap Anne.
"Pak Hansel tahu dari mana kalau Jessica bisa melakukannya? Sedangkan Jessica baru hari ini masuk eskul," heran Anne.
"Kenapa memangnya?" tanya Hansel kembali.
"Enggak apa-apa, Pak. Saya hanya bertanya," sahut Anne.
"Saya menunjuk Jessica karena tempo hari saya melihat dia menghajar 2 orang murid laki-laki yang membully teman sekelasnya sendiri. Dari sana saja sudah kelihatan kalau Jessica ini adalah anak yang pemberani," jelas Hansel.
Seluruh murid yang ada di hadapan Hansel pun terlihat paham dengan apa yang diucapkan oleh Hansel. Sebab, rumor tentang keberanian Jessica melawan 2 orang murid laki-laki itu viral di lingkungan sekolah mereka.
Sebab, sebelum Jessica masuk ke sekolah Cabrigte, bully adalah hal yang wajar. Namun, setelah Jessica masuk ke sekolah itu, bully akan ia berantas.
...
"Sakit banget tangan gue. Latihan bela diri sudah seperti latihan kerja rodi," sungut Anne setelah jam eskul mereka telah usai.
"Namanya belajar pasti akan melelahkan," sahut Jessica, "Tapi, kita akan menikmati hasilnya nanti. Kita bisa pakai ilmu yang dikasih Pak Hansel untuk ke masa depan kita juga," sambungnya.
"Tapi, mana ada latihan bela diri disuruh angkutin batu bata," kesal Anne.
"Itu supaya elo bisa angkat benda apa aja yang ada di dekat lo untuk melawan orang jahat," sahut Jessica lagi. "Sudah, jangan terlalu banyak mengeluh."
Jessica dan Anne pun berjalan menuju kantin untuk membeli minum.
"Enak ya jadi teman Jessica. Dijamin aman dari pembully," ucap salah seorang siswi dengan nada suaranya yang terdengar menyindir.
Namun, hal itu justru diabaikan oleh Jessica.
"Apalagi kalau pansosnya jago," sahut siswi lainnya.
Anne sudah bersiap untuk menghampiri orang-orang itu. Namun, Jessica menahannya.
"Tapi, Jes-"
"Aku punya cara yang lebih bagus dari emosi untuk melawan orang semacam mereka," sahut Jessica dengan nada suaranya yang pelan.
Anne nampak mengernyitkan dahinya karena ia begitu bingung dengan sikap yang diambil oleh Jessica. Namun, Anne tentu saja yakin kalau cara yang Jessica ambil adalah cara yang baik.
"Hai, Jes," sapa Leena yang baru saja sampai di kantin juga.
"Hai," sapa Jessica kembali.
"Lo ikut eskul apa hari ini?" tanya Leena.
"Gue ikut bela diri," jawab Jessica. "Lo ikut eskul apa tadi?" tanyanya.
"Gue ikut eskul nembak," jawab Leena.
Jessica menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Duhhh. Gue jadi iri nih. Makin banyak aja yang suka sama orang macam dia," siswi itu kembali menyindir Jessica.
Leena yang mendengar, tentu saja ia marah. Sama seperti Anne tadi, Leena hendak menghampiri beberapa siswi yang nampaknya adalah sebuah geng itu. Namun, Jessica kembali menahannya.
"Gue sudah punya cara untuk membalasnya," bisik Jessica pada Leena.