Chapter 17

1002 Words
"Hai!" sapaan yang disertai senyuman manis itu berhasil membuat Jessica merasa geram. "Om Hansel!" kesal Jessica. "Buka," ucap Hansel seraya menunjuk kaca jendela kamar Jessica. Jessica menggelengkan kepalanya seraya mengisyaratkan kepada Hansel agar lelaki itu pergi. Hansel tentu saja tidak ingin mengalah, ia tetap meminta pada Jessica untuk membukakannya pintu. Jessica memutar bola matanya dengan malas, gadis itu membuka jendela kamarnya sedikit, kemudian ia bertanya " Mau apa?" "Kenapa bukanya hanya sedikit?" tanya Hansel. "Sudah malam, Om. Enggak baik kalau bertanggang ke kamar anak gadis jam segini," sahut Jessica. "Ada hal yang mau saya bicarakan, Jes," ucap Hansel yang tiba-tiba saja memasang ekspresi serius. "Bilang saja sekarang," sahut Jessica. "Ini ... menyangkut hidup dan mati seseorang," ucap Hansel lagi. Melihat raut wajah Hansel yang begitu serius, Jessica pun mempersilakan kepada Hansel untuk masuk ke dalam kamarnya. Kemudian, keduanya duduk di sofa panjang yang tersedia di kamar Jessica. "Ada apa, Om?" "Lo sudah makan?" "Pertanyaan macam apa itu?! Katanya menyangkut hidup dan mati seseorang!" "Kalau elo enggak makan, lo bisa meninggal, Jes." "Sudahlah. Lebih baik kalau Om Hansel pergi sekarang. Sebelum Mama dan Papa dengar." "Baru sekali ini gua mengalami, kalau ada yang berani mengusir gua." Jessica menghela napasnya dengan panjang, kemudian ia bangkit dari duduknya untuk menarik Hansel keluar dari kamarnya. "Mau keluar lewat mana? Jendela lagi atau pintu?" tanyanya. "Jendela aja, Jes. Daripada lewat pintu dan papasan sama Mike, diwawancara yang ada nanti," sahut Hansel. "Kasih alasan lah. Masuk ke kamar aku aja bisa dengan alasan menyebalkan," ucap Jessica. "Apa kamu punya rekomendasi alasan yang bagus?" tanya Hansel. Jessica lantas menganggukkan kepalanya "Ada dong," jawabnya dengan percaya diri. "Apa?" tanya Hansel yang nampaknya ingin mendengarkan alasan macam apa yang akan diberikan Jessica padanya untuk menghadapi Mike jika ia bertemu saat hendak keluar melalui pintu utama. "Bilang aja kalau Om Hansel mau mencuri," sahut Jessica dengan santai. "Sudah enggak waras ini anak," ucap Hansel kemudian ia berjalan menuju jendela yang tadi ia jadikan sebagai akses masuk ke dalam kamar Jessica. "Sampai jumpa besok, Om," ucap Jessica seraya melambaikan tangannya kepada Hansel. Hansel hanya mencibir dengan asal. Kemudian lelaki itu benar-benar pergi dari pekarangan rumah Jessica. ... Keesokan harinya. Saat Jessica, Mike dan Maura sedang sarapan di meja yang sama, Mike membuka percakapan dengan bertanya "Semalam Papa dengar ada suara mobil berhenti di depan. Kalian berdua mendengarnya juga?" "Kamu mengigau kali," timpal Maura. "Jessica dengar atau enggak?" tanyanya pada Jessica yang duduk di sampingnya. Jessica menggelengkan kepalanya. "Jam berapa memangnya?" tanyanya. "Sekitar jam 10 malam," jawab Mike. "Tetangga kali, sayang," ucap Maura. "Tapi aku merasa familiar dengan suara mobilnya," ucap Mike lagi. "Jam 10? Owh itu. Semalam Om Hansel datang buat kasih beberapa buku yang kemarin aku cari di perpustakaan dan aku enggak menemukannya. Mungkin pas aku cerita sama Om Hansel, Om Hansel bantu aku mencarinya," ungkap Jessica, berbohong. "Nah kan benar. Pantas saja Papa dengarnya seperti enggak asing," sahut Mike. "Maaf, Pa. Aku pikir suara mobil yang Papa dengar itu di atas jam 10 malam," ucap Jessica. "Enggak apa-apa," jawab Mike. ... "Duhhh. Jessica kenapa begitu bodoh sekarang? Ruang tengah dan pintu depan ada CCTV. Enggak mungkin dalam sehari Papa enggak cek CCTV. Sedangkan Om Hansel masuk lewat jendela. Bagaimana ini?" Jessica nampak begitu khawatir dengan kebohongan yang ia lontarkan tadi. Bahkan, Jessica sampai tidak menyadari bahwa ia hampir saja menabrak seseorang saat ia berjalan di koridor sekolah. Sebab, gadis itu berjalan dengan menundukkan kepalanya. "Maaf," ucap Jessica yang masih menundukkan kepalanya. "Jes!" panggilan itu membuat Jessica menegakkan kepalanya dan menatap ke arah seseorang yang ada di hadapannya sekarang. Dilihat Jessica, Ivan lah yang berdiri di hadapannya sekarang. "Kenapa, Jes?" heran Ivan. Jessica hanya menggelengkan kepalanya. "Tumbenan elo jalan sambil nunduk. Apa yang terjadi?" Ivan bertanya dengan raut wajah yang nampak keheranan dengan sikap Jessica hari ini. "Enggak apa-apa, Van," jawab Jessica. "Gue ke kelas duluan, ya," pamitnya kemudian ia pergi dari hadapan Ivan. Jessica memilih untuk tidak menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya terhadap Ivan. Sebab, Jessica berpikir kalau ia menceritakan pada Ivan, maka apa yang akan dikatakan olehnya? Seorang murid yang menggoda gurunya atau seorang guru yang menggoda muridnya? ... Setelah jam pelajaran pertama selesai, Jessica langsung berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Sebab, dari 10 menit yang lalu ia sudah menahan hendak buang air kecil. Setelah selesai buang air kecil, Jessica kembali berjalan menuju kelasnya. Saat gadis itu masih berjalan di koridor, ia berpapasan dengan Hansel. Namun, Jessica tidak menyadari akan hal itu. "Jessica!" panggil Hansel ketika ia melihat Jessica sudah melaluinya. Jessica langsung menghentikan langkah kakinya dan ia menoleh ke arah belakangnya. "Om Hansel?" lirih Jessica. Dilihatnya, Hansel sedang berjalan dengan cepat menghampirinya. "Kenapa lo?" heran Hansel yang sudah berdiri di hadapan Jessica. Jessica menjawabnya dengan gelengan kepala. "Kenapa, Jes?" desak Hansel. Jessica menceritakan segala hal yang terjadi beberapa jam yang lalu saat ia masih berada di rumah dan sedang sarapan bersama dengan Mike dan Maura. "Lalu, masalahnya di mana?" tanya Hansel setelah Jessica selesai bercerita. "Aku takut kalau Mama dan Papa tahu aku bohong, Om. Secara, di rumah ada CCTV," sahut Jessica. Hansel seketika menjadi tertawa, rasanya seperti ada yang sedang menggelitiki pinggangnya. "Kenapa malah ketawa? Aku lagi takut wahai bapak Hansel yang terhormat," kesal Jessica. "Kalau mereka tahu aku bohong dan mereka enggak percaya lagi sama aku, bagaimana?" tanyanya. "Gua enggak mungkin berani manjat ke lantai 3 kalau CCTV di rumah kalian sedang dipebaharui," ucap Hansel. "Maksud Om Hansel apa? Aku enggak paham," sahut Jessica. "Sudah 2 hari ini CCTV di rumah kalian sedang diperbaharui semua. Yang artinya, enggak ada satupun CCTV yang aktirf sampai lusa. Itu sebabnya juga, satpam di depan rumah kalian ditambahkan," jelas Hansel. Berkat penjelasan Hansel itu pula lah Jessica merasa lega. "Jangan takut lagi. Sekalipun Mike tahu kalau semalam gua ke kamar elo secara diam-diam, pasti Mike marahnya ke gua, bukan ke elo," pungkas Hansel. Jessica menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Senyuman yang sedari pagi tidak mengembang sama sekali dan baru sekarang senyuman itu kembali. Walau hanya beberapa jam, namun itu tetap nampak aneh jika terlihat di raut wajah seorang Jessica.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD