"Jangan main-main dengan dia. Sudah ada beberapa orang yang berakhir damai karenanya."
Ucapan itu membuat Jessica tersenyum dengan sinis. Gadis itu tidak hentinya menatap lelaki yang tadi membentaknya karena merasa bahwa urusannya diikut campuri oleh Jessica.
"Kenapa tatap gue begitu? Suka?" tanya Jessica dengan angkuhnya.
"Cih! Pergi sana," sahutnya dengan sarkas.
"Kenapa sih pembully seperti kalian beraninya main keroyokan? Enggak berani satu lawan satu? Atau kalian terlalu lemah jika satu lawan satu?" tanya Jessica yang heran dengan sekelompok siswa itu.
"Lebih baik lo pergi deh. Sebelum gue benar-benar membuat elo menyesal karena sudah berani ikut campur dengan urusan gue," ancam siswa yang nampak dominan itu.
"Apa? Gue nyesal?" tanya Jessica. "Bahkan gue enggak pernah menyesal dengan apa yang gue lakukan sepanjang hidup gue ini," sambungnya.
Wajah siswa itu nampak menjadi merah padam ketika apapun yang ia ucapkan akan mendapat sahutan dari Jessica yang membuatnya terdiam.
"Kenapa diam? Kehabisan kata-kata, ya?" tanya Jessica lagi.
Amarah semakin memenuhi emosi siswa itu sampai ia berani menarik kerah seragam Jessica.
"Katanya kalau melawan cewek sama aja dengan banci," ucap Jessica mengingatkan ucapan lelaki itu beberapa menit yang lalu.
Lelaki itu segera melepaskan kerah seragam Jessica, kemudian ia mengisyaratkan pada teman-temannya untuk pergi dari sana.
"Cih! Banci!" ledek Jessica sehingga beberapa murid lain melihat ke arahnya. Namun, Jessica mengabaikannya dan ia memilih untuk membantu siswa yang tadi dibully oleh sekelompok siswa lainnya.
"Seharusnya, kalau dibully kamu melawan, bukan malah diam," ucap Jessica.
"Aku terlalu takut untuk melawan mereka," sahut siswa yang masih nampak tertekan itu.
"Kenapa harus takut?" tanya Jessica lagi.
Siswa itu menggelengkan kepalanya. Kemudian ia berterima kasih kepada Jessica sebelum ia pergi dari hadapan Jessica.
"Jika kalian terus diam jika ada perundungan, maka sampai nanti, perundungan itu akan menjadi hal yang lumrah di sini. Bukankah itu hal yang enggak baik?" Jessica menggumam. Gadis itu juga berpikir bahwa ia harus mendiskusikannya dengan Hansel.
...
Sore harinya. Saat Jessica sedang berlatih bersama dengan Hansel, ia teringat akan niatnya saat di sekolah tadi. Jessica pun memulai percakapan.
"Om, boleh aku tanya?"
"Tanya apa?"
"Kenapa di sekolah, bully adalah hal yang lumrah?"
"Kayaknya gua pernah cerita sama elo tentang itu."
"Kapan? Aku lupa."
"Mereka yang menjadi korban perundungan adalah mereka yang memiliki orangtua yang lemah dalam sebuah gang."
"Maksud om?"
"Begini, seandainya kamu adalah anak dari ketua gang Destroge, maka kamu akan menjadi kuat di mata anak lainnya. Nah, dalam 1 gang, pasti akan ada salah satunya yang menjadi anggota terlemah. Mereka biasanya dijadikan umpan saja untuk memancing musuh. Karena kerjaannya hanya begitu dan tidak bisa berkelahi, maka anaknya pun dipandang lemah juga."
"Enggak adil, Om. Masa orangtua yang bermasalah tapi anaknya juga kena?"
"Sudah hukum alam dibuat seperti itu."
"Banyak sekolah yang mengharamkan bully. Bahkan jika ada pembully dan sudah dapat 3 kali teguran, maka akan dikeluarkan dari sekolah."
"Beda, Jes. Itu sekolah umum, sedangkan sekolah elo adalah sekolah yang memang diajarkan untuk menjadi pribadi yang keras."
"Apanya yang keras?"
Pertanyaan Jessica itu berhasil membuat telapak tangan Hansel tertempel di dahinya.
"Om Hansel! Sakit tahu!" kesal Jessica seraya mengusap dahinya yang memerah karena ulah Hansel.
"Pertanyaan dan ekspresi elo sudah terjerumus," ucap Hansel.
"Minta maaf kek, apa kek. Malah cengengesan kayak enggak ada dosanya," ucap Jessica dengan kesal.
"Salah sendiri. Kenapa otaknya suka kemana-mana?" tanya Hansel.
Jessica hanya cengengesan, ia tahu bahwa ia salah.
...
Menjadikan Mike dan Maura sebagai dua orang malaikat penyelamatnya, Jessica tidak lepas dari rasa bersyukurnya atas takdir yang sudah digariskan untuknya.
Meski begitu, terkadang ada rasa takut yang menghampiri Jessica. Sebab, ia bukan tinggal dengan orang biasa, melainkan dengan orang yang begitu berpengaruh dikalangan mafia.
"Ini hanya perumpamaan, jika suatu saat aku sudah bisa mengandalkan berbagai senjata dan aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, lalu apa yang akan kalian berdua lakukan padaku?" tanya Jessica dengan serius saat ia, Mike dan Maura sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Kami akan tetap merawat kamu, Jes. Bahkan sampai kamu sudah punya anak nanti," sahut Mike.
"Kalian sebegitu sayangnya sama aku?" tanya Jessica lagi.
"Jangan menanyakan itu, Papa takut kalau istri Papa cemburu dengarnya nanti," sahut Mike.
"Apa sih?!" kesal Maura yang sedari tadi hanya diam dan Mike malah menggodanya.
'"Jangan berantem, guys," tegur Jessica menengahi.
"Heh! Kayak ngomong sama teman seumuran aja," tegur Maura.
Jessica terkekeh pelan.
...
Pagi minggu yang cerah membuat Jessica bersemangat untuk berolahraga hari ini. Gadis itu sudah memutari halaman belakang rumah Mike. Sesekali ia berhenti untuk mengatur napasnya kemudian ia berlari lagi.
Sampai saat Maura melihatnya dari balik jendela kaca. Maura langsung menghampirinya dan berkata "Olahraganya jangan terlalu keras, Jes."
Jessica menaikkan jari jempolnya sembari terus berlari dengan pelan mengitari sudut demi sudut halaman belakang rumah.
"Sudah berapa lama dia di belakang, Bi?" tanya Maura kepada Hanna, sang asisten rumah tangganya.
"Sekitar 30 menitan, Nyonya," sahut Hanna.
"Itu anak memang rajin," gumam Maura seraya tersenyum.
"Saya juga heran dengan Nona Jessica. Beberapa kali, kalau Nona yang selesai memasak, pasti Nona juga yang membersihkannya. Padahal saya sudah bilang kalau biar saya saja yang membersihkan," ungkap Hanna.
"Enggak salah Mike bawa dia ke sini," sahut Maura.
Setelah hampir 1 jam Jessica mengelilingi halaman belakang rumah, ia pun duduk di bangku yang ada di sana. Sembari menyeruput air dingin yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Akhirnya, selesai juga," gumam Jessica.
"Astaga!" pekikan itu membuat Jessica sendiri pun merasa terkejut.
"Mama. Bikin aku kaget aja," ucap Jessica.
"Ini bau apa sih?" tanya Maura.
"Keringat aku kali. Lihat aja nih, banjir," sahut Jessica.
"Mandi lah, sayangkuuu," geram Maura.
"Nanti, Mamaaa. Tunggu keringatnya kering dulu," sahut Jessica lagi.
"Airnya diminum banyak?" tanya Maura.
Jessica menganggukkan kepalanya seraya menunjukkan botol minumnya yang sudah kosong. "Tadi sesekali aku berhenti karena capek. Habis itu lanjut lagi. Makanya air 1 liter habis," ungkapnya.
"Bagus," ucap Maura seraya menaikkan jari jempolnya. "Jangan kayak Papa kamu kalau weekend," ucapnya.
"Memangnya Papa gimana kalau weekend?" tanya Jessica penasaran.
"Masih tidur tuh," jawab Maura.
"Serius? Papa masih tidur jam segini?" tanya Jessica yang seolah tidak percaya. "Aku pikir Papa ada kesibukan," sambungnya.
"Paling sebulan sekali baru ada kesibukan pas weekend," ungkap Maura.
"Cieee yang lagi ngomongin Papa," ucap Mike yang tiba-tiba ada di antara Maura dan Jessica.
"Kamu lihat, Jes. Kotoran matanya aja masih besar begitu. Sekilo ada kali," bisik Maura kepada Jessica.
"Aku dengar hey!" kesal Mike.
Jessica yang melihatnya, ia pun tertawa.