Chapter 29

1069 Words
Jessica terdiam saat ia tiba di ambang pintu masuk ke dalam kamar Hansel. Mata gadis itu nampak sudah siap hendak mengeluarkan cairan bening yang memenuhi kelopak matanya. “Sini,” panggil Hansel yang saat ini sedang duduk di atas ranjangnya – dengan tangannya yang sedang dipasangi selang infus. Jessica pun berjalan menghampiri lelaki itu, kemudian ia duduk di sisi ranjang. “Kenapa? Mau menangis?” Pertanyaan yang dilontarkan Hansel padanya – membuat Jessica langsung menangis saat itu juga. Namun, bukan Hasel namanya jika ia hanya diam saja. Lelaki itu langsung menarik Jessica ke dalam dekapannya. “Gua masih hidup, jangan ditangisi,” ucapnya. Seketika itu juga, Jessica langsung memukul tangan Hansel karena ia kesal dengan ucapan lelaki itu. “Benar, bukan? Ucapan gua barusan.” Hansel membela diri. “Tapi jangan begitu juga bicaranya,” sahut Jessica di sela isak tangisnya. “Cukup, ya?” ucap Hansel yang mencoba membuat Jessica menghentikan tangisannya. Jessica menjauhkan tubuhnya dari Hansel, gadis itu menyeka air matanya dengan cardigan yang ia pakai. “Jorok,” ucap Hansel sembari tertawa kecil. “Kok bisa sampai diinfus?” tanya Jessica. “Selesaikan dulu nyeka air matanya,” ledek Hansel. “Ihhh! Jawab lah!” kesal Jessica. “Gua kira, dengan sakitnya gua ini, elo bakalan lembut sama gua. Taunya sama saja,” ucap Hansel dengan raut wajahnya yang nampak memelas. “Dih, tadi pas ledekin aku, wajahnya ceria tuh,” ucap Jessica. “Sudahlah,” ucap Hansel kemudian ia memalingkan wajahnya dari Jessica. “Gua hanya dehidrasi, kurang cairan. Itu saja,” ungkapnya. “Om, bicaranya lihat sini lah. Memangnya yang ajak bicara itu tembok, ya?” “Lo sih ngeselin,” kesal Hansel kemudian ia kembali menatap Jessica. Hal itu rupanya hampir saja membuat wajah keduanya hampir bertabrakan karena Jessica masih duduk di sisi ranjang yang mana sangat dekat dengan Hansel. Keduanya nampak terdiam beberapa saat, sampai Jessica lebih dulu sedikit menjauhkan wajahnya. “Hey hey hey!!!” suara perempuan dan laki-laki yang terdengar berbarengan itu membuat Jessica dan Hansel langsung menatap ke arah pintu. Yang mana mereka berdua melihat Mike dan Maura berjalan berbarengan menghampiri mereka. “Bisa sakit juga lo, Sel,” ledek Mike. “Bisa lah. Gua juga manusia kali. Bukan robot,” sahut Hansel. “Om Hansel mau makan apa nggak? Mau aku masakin nggak?” tanya Jessica bertutur. “Enggak, Jes. Gua baru aja makan tadi,” sahut Hansel. “Buah, ya? Aku kupaskan,” tawar Jessica lagi. “Gua kenyang,” sahut Hansel. “Paaaa, Lihat Om Hansel tuh. Bagaimana mau cepat sembuh kalau disuruh makan buah aja enggak mau,” Jessica mengadu pada Mike. “Kamu tinggal siapkan buahnya, terus suapin. Kalau enggak mau, paksa aja,” perintah Mike. “Oke, Pa,” jawab Jessica kemudian ia beranjak. “Tadi Mama ada bawakan buahnya. Kamu bilang aja sama Bibi di dapur. Anggap rumah sendiri, Jes,” timpal Maura. “Oke, Ma,” jawab Jessica lagi sebelum ia berjalan meninggalkan kamar Hansel. Sepeninggal, Jessica, Mike langsung memasang ekspresi seriusnya. Lelaki itu menatap Hansel yang masih duduk di atas ranjangnya. “Ada masalah lagi, Sel?” tanya Mike. “Enggak,” jawab Hansel singkat. “Kita kenal enggak setahun atau dua tahun, Sel. Yang pastinya gue sama Mike tahu betul bagaimana elo,” timpal Maura. “Papa lo lagi?” tebak Mike. “Beliau memanggil gua hanya untuk membuat emosi gua naik lagi. Gua bisa apa selain menyiksa diri gua sendiri sebagai pelampiasannya?” Ucapan Hansel itu membuat Mike berdecik kesal. “Yang buat emosi elo naik adalah beliau, jangan melampiaskannya pada diri lo sendiri. Bahkan, dia enggak pantas lo datangi lagi kalau hanya akan membuat elo emosi,” sahut Mike yang nampak kesal. Ya. Semenjak Mike tahu bagaimana sikap papanya Hansel itu, ia bahkan tidak suka ketika tahu kalau Hansel dipanggil untuk menghadapnya. “Gua pikir, dia akan melakukan perubahan dengan sikapnya itu, Mike. Gua pikir, dengan menjauhnya gua selama ini, bisa membuat dia sadar akan kesalahannya,” sahut Hansel. “Orang seperti itu enggak akan pernah tahu apa artinya penyesalan sebelum benar-benar kehilangan,” ucap Mike lagi. Tidak lama, Jessica kembali ke kamar Hansel dengan membawa sepiring buah dengan beberapa jenis. Kemudian, gadis itu kembali duduk di sisi ranjang. “Mau aku suapin nih?” tanya Jessica sembari menatap Hansel. Tanpa Jessica duga, Hansel malah membuka mulutnya. Itu tandanya, ia menyetujui penawaran yang Jessica ajukan. “Enak aja! Suap sendiri,” kesal JessicA. “Yasudah. Enggak gua makan buahnya,” sahut Hansel. “Ngambekan banget lo,” kesal Mike. “Tadi dia yang menawarkan mau suapin gua, ‘kan?” tanya Hansel. “Sudah-sudah. Aku suapin nih,” ucap Jessica menengahi. Jessica pun menyuapi Hansel dengan buah yang ia kupas tadi. Sesekali, Hansel tersenyum karena ia merasa senang dengan perlakuan Jessica yang manis itu. ... Sepulang dari rumah Hansel, Jessica hanya berdiam diri di kamarnya. Gadis itu teringat akan sebuah foto yang dikirimkan seseorang padanya melalui pesan daring. Foto itu tidak lain adalah foto Hansel dengan seorang pria paruh baya. Yang mana, Jessica sangat merasa familiar dengan wajah pria itu. “Nona Jessica. Nona dipanggil Tuan. Disuruh makan malam dulu,” ucap Hanna dari depan pintu kamar Jessica yang tertutup dengan rapat. Bukannya menyahut, Jessica malah mematikan layar ponselnya kemudian ia masuk ke dalam selimut dan memejamkan matanya. “Nonaaa,” panggil Hanna lagi. “Saya masuk, ya?” ucapnya saat ia merasa bahwa Jessica tidak menjawab panggilannya. Hanna pun membuka pintu kamar Jessica, ia melihat Jessica sudah memejamkan matanya di atas kasur. “Duhhh, enggak tega saya banguninnya,” gumam Hanna. Kemudian ia keluar lagi dari kamar Jessica dan berjalan menuju ruang makan untuk menghampiri Mike dan Maura di sana. “Loh, Bi. Jessica mana?” tanya Maura ketika ia tidak melihat adanya Jessica di belakang Hanna. “Nona sudah tidur, Nyonya,” jawab Hanna. “Tadi saya lihat sendiri. Pas saya panggil, Nona enggak jawab-jawab. Jadinya saya masuk ke kamarnya saja,” ungkap Hanna. “Dia enggak ikutan sakit, ‘kan?” gumam Maura. “Palingan cuman kecapean aja, Sayang. Biar saja dia istirahat lebih awal malam ini,” sahut Mike. Maura menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memahami ucapan Mike. Walau dalam lubuk hatinya ia merasa cemas dengan keadaan Jessica. Bahkan, saat setelah selesai makan, Maura langsung menghampiri Jessica ke kamarnya. Untungnya, saat itu Jessica menyadari bahwa ada seseorang yang sedang menuju kamarnya. Jadi, Jessica kembali berakting seolah ia benar-benar sudah tertidur. To Be Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD