Seringai Api

1195 Words
Helena menyeringai pada bayangan di cermin yang menatapnya balik, setajam belati. "Oh, inikah arti kebebasan? Asing!" desahnya. Helena mengurai rambutnya yang panjang, tebal, hitam. Sekelebatan ingatan menghadirkan visi bagaimana dulu suaminya memuji-muji mahkotanya itu, tentang betapa legamnya bak malam tak berbintang atau betapa halusnya bak selendang sutra. Dia lalu meraih pisau yang tergeletak di pinggir wastafel, menggunakannya untuk menghabisi visinya itu bersama dengan setiap jejak kepalsuan di dalamnya. Helai demi helai rambutnya jatuh berserakan. "Tak ada ruang bagi keindahan yang rapuh!" Dia menggeram pada bayangannya, seorang wanita dengan wajah penuh memar. Matanya bengkak seukuran bola kasti diwarnai biru keunguan. Darah mulai mengering di sudut bibirnya yang pecah. Helena menjadi sulit dikenali sekarang. Bukan hanya lantaran rambutnya yang berubah dari panjang tergerai seperti model iklan shampoo menjadi pendek tak beraturan seperti sapu ijuk, tetapi juga karena sorot matanya yang tampak seakan-akan lupa jika matahari pernah bersinar dan bibirnya yang seperti kehilangan syaraf untuk tersenyum manis. Oh, dia masih bisa tersenyum, sih, keji! Wanita itu telah mengupas dirinya; dia membuang kulitnya yang imut, lucu, menggemaskan; dia mempersembahkan jati dirinya yang baru: seorang monster tanpa rasa takut. Suara ledakan tiba-tiba menggetarkan cermin di toilet sempit tempatnya berada, menyusul suara berdecit yang mengiris telinga. Saat itu tahulah dia, sesuatu telah memaksa kereta yang ditumpanginya berhenti. Helena merapatkan telinga di pintu toilet, berusaha menyerap lebih banyak lagi suara. Rentetan senjata, teriakan orang-orang berlangsung beberapa lama sebelum semuanya kembali hening. "Mereka datang," batinnya. Seseorang berusaha membuka pintu toiletnya. Helena reflek menjauh, menekankan punggungnya di sisi yang berlawanan. "Jadi, kau di sana, Ja Lang! Sebetulnya, akan jauh lebih mudah menyeret mayatmu keluar. Ck!" Seorang pria berteriak dari balik pintu, "Kau beruntung mereka menginginkanmu hidup-hidup. Tapi, tetap saja aku tidak sesabar itu, Manis. Aku akan memberimu pilihan, kau yang keluar atau aku yang ma---" Ceklik! Pintu toiletnya terbuka. Pria itu bersenjata. Badannya besar dengan bongkahan otot di mana-mana. Dia merasa dirinya cukup berbahaya bagi seorang wanita mungil berambut ijuk dengan wajah berdarah-darah sehingga merasa tidak perlu lagi menodongkan senjatanya. Dia hanya berdiri di sana, berusaha tampak mengancam, dan berpikir si wanita mungil itu akan mendekat sambil berjalan gemetar. Kesalahan besar. Wanita itu bergerak terlalu cepat, juga pisaunya. Pria itu roboh seketika dengan jantung tersayat. "Dia di sana! Kejar!" Kawanan pria lainnya yang juga besar-besar berteriak. Rentetan senjata kembali terdengar. Wanita itu lari sambil membayangkan dirinya adalah bagian dari peluru yang melesat sambil berusaha menghindari peluru-peluru lain yang ditembakkan ke arahnya. "Jangan tembak dia, Bo doh! Aku mau dia hidup-hidup." Beberapa pria mengumpat sebelum menurunkan senjatanya, kemudian berlari mengejar buruannya saat itu. Perintah adalah perintah. Pelanggaran bisa berarti mati. Terjadilah kejar-kejaran di dalam gerbong kereta. Helena diuntungkan justru oleh tubuhnya yang kecil, dia dengan mudah berlari di depan para pengejarnya. Dia mencari-cari pintu yang terbuka sama seperti yang selalu dia lakukan sepanjang hidupnya. Tak peduli menuju ke mana, yang penting pintunya terbuka! Helena melompat keluar. Keretanya berhenti di tengah-tengah jalanan sepi di pinggiran kota. Dia jatuh berguling-guling ke atas kerikil yang mengalasi rel sebelum bangkit dan kembali berlari. Pengejarnya masih tak menyerah. Pria-pria beringas yang terus merangsek maju bagai binatang buas kelaparan. Tubuh kecil Helena melaju lincah. Jarak di antara dia dan pengejarnya semakin lebar. Dan di saat dia merasa keadaan sudah mulai aman, sesuatu menyengat lehernya. Itu panah bius yang ditembakkan oleh penembak jitu. Helena menatap langit-langit biru sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan. *** "Kau sudah bangun, Ma Chérie'?" Helena meludah begitu melihat wajah tampan Ian, sang suami. "Masih bersemangat seperti biasanya, heh?" Ian menyentuh rambut Helena. "Modelnya cocok untukmu." Helena menyeringai. "Jangan menantangku!" Ian memukul wajahnya. "AKU TIDAK PERNAH SETENGAH-SETENGAH DALAM MELAKUKAN APA PUN!" "Termasuk memperdayaiku demi keuntunganmu sendiri?" Helena mempertahankan seringai di wajahnya. "Kau yang memulai perang ini, Ma Chérie'! Seandainya kau tetap menjadi wanita manis di sisiku ...." "Kau mengkhianati Papa! Berapa lama kau merencanakan semua ini? Setahun? Dua tahun? Kau mendekatiku demi akses untuk menyelundupkan barang harammu, bukan? Apa kau akan membunuhku?" "Itu keinginan terbesarku, Ma Chérie', tapi untuk saat ini kau lebih berguna untukku dalam keadaan hidup!" Seorang pria kemudian datang. "Mereka sudah sampai di gerbang, Monsieur." Ian melirik jam tangannya. "Satu yang kusuka dari saudara laki-lakimu adalah ketepatan waktu." Dengan anggukan kepala, Ian memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa Helena bersama mereka. "Saatnya menghukum para pencuri!" Ian meremas-remas tangannya sendiri. Rombongan itu melangkah memasuki ruangan lain yang lebih luas, sebuah hanggar tua yang tak terpakai. Mereka berdiri di sana, menanti. Tak lama sebuah van hitam masuk dan berhenti tepat di hadapan mereka. Sesaat tak ada yang terjadi seakan-akan waktu sengaja dijeda untuk memberi kesempatan bagi setiap rasa curiga. Hans keluar dari dalam van. Satu tangannya menenteng sebuah tas, sementara tangan lainnya terangkat ke udara. "Kembalikan barangku!" Ian berseru. "Serahkan Helena," ujar lawan bicaranya dingin. Ian mendorong Helena hingga jatuh berlutut lalu mengacungkan pistol ke kepalanya. "Aku akan menyerahkan jasadnya kalau kau tidak ikut aturan mainnya, Saudaraku!" Helena lagi-lagi menyeringai. Hans melihatnya dan dia bergidik. Petunjuk satu-satunya jika wanita itu adalah Helena hanyalah wajahnya---yang sebenarnya sudah tidak jelas bentuknya---yang mirip. Selebihnya dia tidak tahu. Hans mengira yang akan dia jemput adalah seorang wanita cantik dengan mata sayu yang menyiratkan campuran ketakutan dan harapan dan air mata seperti anak kucing yang terjebak dalam kubangan lumpur hisap. Alangkah berbedanya! Kemudian Hans baru menyadari kebenaran tentang Helena yang hampir dia lupakan, lebih tepatnya ingin dia lupakan, tentang ahli waris satu-satunya Don Costello, seorang lady killer yang mati-matian ingin melarikan diri dari takdirnya. Bagaimana pun, Hans cukup sadar diri bahwa dirinya hanya berandalan jalanan yang dipungut oleh Don Costello dan bersumpah setia melindungi wanita itu. Hans memandang sekeliling. Dia menghitung jumlah musuhnya. Dua puluh bukan angka yang sedikit, tetapi juga tidak banyak. Sekali lagi dia menatap ke arah Helena dan mendapatkan api di matanya. Wanita itu tidak gentar. "Tunjukkan kepadaku isi tasnya!" Ian kembali berteriak. Hans meletakkan tasnya pelan-pelan di lantai, lalu menunduk untuk membukanya, dan memperlihatkannya kepada Ian. Serbuk putih dalam kantong-kantong plastik memenuhi isi tas. Ian tampak puas. "Lemparkan tasnya!" Hans menoleh lagi ke arah Helen yang masih bersimpuh, bergeming dengan seringainya yang makin lama makin mirip sebuah topeng. "Kau akan mendapatkan dia!" Ian menendang Helena. Gigi geligi Hans gemeretak menahan amarah, tetapi kemudian api di mata Helena justru menenangkannya. Sebab mereka punya api yang sama dan tahu saatnya sudah datang untuk membuat apinya berkobar semakin besar. Hans melempar tasnya ke udara, semua mata melihat. Tasnya jatuh tepat pada sasaran---di belakang kawanan pecundang---kemudian meledak! Helena sempat berguling menjauh sebelum terlempar ke depan. Itu jelas bukan bom pertama yang dia dapatkan hari itu. Dia mulai terbiasa. Punggungnya panas dan perih, tetapi sedikit luka bakar tidak dapat menghentikannya untuk kembali. Perang belum usai. Hans berlari menyerang orang-orang yang berhasil lolos, mematahkan satu-dua tulang, mengajak lawannya menari dengan maut. Helena di sisinya, bukan sebagai pihak yang harus dia lindungi, tetapi yang berpesta bersamanya. Mereka berdua akan bersenang-senang hari itu. Ada dendam yang harus dituntaskan. Tubuh-tubuh berguguran. Ian merangkak di antara mereka. Wajahnya tidak terlalu tampan lagi sekarang. Helena menghadang. "Apa yang kau lakukan di bawah sana, suamiku? APAKAH KETAKUTAN AKAN KEMATIAN TELAH MERASUKI KEHIDUPANMU?" "Tidak! Ampuni aku, Ma Chérie' ... Kau tahu aku mencintaimu." Helena membuka telapak tangannya, Hans mengisinya dengan sepucuk revolver. Ian menangis histeris. Dor! Hening. Banten, 3 Januari 2022
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD