bc

Kumpulan Cerpen: Kekasih Dalam Kotak Es dan Cerita-cerita Lain

book_age16+
60
FOLLOW
1K
READ
dark
drama
tragedy
comedy
twisted
sweet
heavy
serious
mystery
spiritual
like
intro-logo
Blurb

Selamat datang di dunia halu, tempat berbagai cerita bermula. Ada kisah-kisah fantasy, drama, romance, sampai horor. Satu bab berisi satu cerita pendek yang langsung tamat. Selamat membaca. Terima kasih.

chap-preview
Free preview
Kekasih Dalam Kotak Es
Hal-hal yang pemuda itu ingat saat bangun dari tidurnya yang panjang hanyalah namanya—Kane—dan tawa renyah seorang gadis. Ada rasa tak biasa yang kerap muncul saat Kane memikirkan gadis itu. Dia berusaha membuka setiap laci ingatan dalam kepalanya, mencari-cari sebuah nama yang mungkin muncul, tetapi nihil. Selayaknya misteri, wajah gadis itu pun tertutup oleh tabir kenangan. "Bagaimana perasaanmu hari ini? Lebih baik?" Soraya, seorang perempuan paruh baya yang selama ini merawat Kane, bertanya. "Secerah matahari pagi, Soraya." Kane tersenyum. Begitulah dia selalu memanggil perempuan itu, tanpa embel-embel 'Bu' atau 'Nyonya', meski secara fisik, mereka terpaut dua puluh tahun. Kane jauh lebih muda. "Sarapan?" tanya Soraya datar, tanpa merasa perlu membalas senyuman Kane. "Aku ingin menelan embun pagi bersamamu, please?" Kane mengerling, tak dapat menahan diri untuk tidak menggoda Soraya dengan kata-kata puitis, seakan-akan itu adalah ritual yang dulu biasa dia lakukan. Soraya berusaha mempertahankan wajah dinginnya dari pesona Kane yang perlahan-lahan membakarnya dari dalam. "Aku akan mengambil kursi rodamu." "Tidak, tidak. Aku harus belajar menggunakan kakiku." Kane bersikukuh. Soraya menghela napas sesaat, sebelum mendekati Kane. "Aku akan membantumu." Kane menurunkan kakinya dari ranjang. Dia melingkarkan tangannya ke pundak Soraya, memercayakan separuh bobot tubuhnya kepada perempuan itu agar bisa berdiri tegak. Tanpa bisa dihindari, wajah mereka jadi saling berdekatan, begitu dekatnya hingga Soraya dapat merasakan kehangatan napas Kane di pipinya. Topeng kakunya mulai retak, rona merah meronta keluar. Kane sangat menyadari perubahan itu, dia menoleh kepada Soraya, sengaja mengeratkan lingkaran tangannya di bahu perempuan itu, lalu menatapnya lekat-lekat. Wajah Soraya terlihat asing bagi Kane, tetapi mata hijau Soraya seperti penawar untuk setiap rindu yang tidak mampu dia kenali. Sesaat, kedua mata mereka bertemu, memunculkan sepercik api. Soraya cepat-cepat memadamkannya. Dia mengalihkan pandangan, berkata dengan nada dingin, "Kurasa, sudah waktunya kau berjalan sendiri." Kemudian, Soraya menjauh, membuat Kane kehilangan tumpuannya, dan kembali jatuh terduduk di pinggiran ranjang. "Jangan menghindariku, Soraya. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu." Kane berseru, "Kau memanfaatkan ingatanku yang hilang!"loh Soraya mendadak merasa begitu lelah. "Apalagi sekarang? Apalagi yang ingin kau ketahui?" Di hadapan Kane, topengnya luruh. "Semuanya tentang kita." "Aku hanya perawat yang ditugaskan untuk mengurusimu. Itu saja." Soraya tahu kali itu dia harus sanggup menatap kedalaman bola mata Kane saat bicara. Dengan begitu, Kane mungkin akan memercayainya. Sambil berpegangan pada sisi nakas di samping ranjangnya, Kane bangkit. Awalnya kakinya gemetar, dalam hati Kane menyumpahi ketidakberdayaannya, kemudian setelah beberapa lama, didorong oleh segenap emosi di dadanya, Kane mulai melangkah perlahan. Soraya mau tidak mau mengawasinya. Jantungnya yang selalu berdegup lebih kencang setiap kali melihat Kane, kini hampir meledak. Ah, sudah berapa lama dia memimpikan melihat ini? Kane berdiri di atas kakinya sendiri dengan senyum yang sanggup mencairkan salju Kilimanjaro. Soraya berharap memiliki keberanian untuk berlari memeluk Kane dan mencumbui senyumnya. Kurang dari semeter jarak Kane dari Soraya, kaki-kaki Kane mulai limbung, dan sebelum pemuda itu jatuh, Soraya menahannya. "Cukup sampai di sini, aku akan mengambilkan kursi rodamu, Kane." Hati-hati, Soraya membiarkan Kane duduk di lantai. Soraya baru akan berlalu, tetapi Kane segera menariknya hingga sekali lagi wajah mereka berdekatan. Kane bersumpah, kali itu tidak akan membiarkan Soraya berpaling lagi darinya. Dia merasa harus membuktikan satu hal. Sebelum Soraya menyadari segala sesuatunya, Kane mengecupnya. Satu kecupan yang cukup untuk memecah pertahanannya. Seketika, kekuatannya layuh, menjatuhkan bulir-bulir bening dari matanya yang puluhan tahun telah dia tahan. Kane terkesiap, tak menyangka akan akibat dari perbuatannya itu. Namun, bersamaan dengan air mata Soraya, aliran deras ingatan masa lalu menghantam bagai air bah di setiap sudut kepala Kane, menghajarnya begitu keras. Kane mengaduh, menjambaki rambutnya sendiri. Siapa yang bisa menduga kalau kenangan dapat semenyakitkan itu? Napasnya tersengal-sengal di antara nyeri yang berdenyut-denyut dari dalam kepalanya. Kane merasa seperti ribuan jarum sedang menusuki saraf-saraf otaknya. Suara Soraya yang memanggil-manggil namanya didengarnya semakin menjauh, sampai kegelapan total menenggelamkannya kembali dalam kesunyian panjang. *** "Sialan!" Soraya mengempaskan tumpukan dokumen berisi hasil penelitiannya bertahun-tahun. "Kita gagal lagi!" "Dari awal, proyek ini adalah kemustahilan. Kita tidak bisa membangkitkan kembali manusia yang sudah mati." Ben, seorang profesor eksentrik dengan rambut kelabu, datang membawa pil-pil kalori, hasil rekayasa teknologi yang mengubah sepiring makan siangmu ke dalam satu pil kecil tanpa citarasa. "Setidaknya telanlah ini, atau aku terpaksa harus membuatmu bergabung dengan Kane." Soraya mendongak, memandang seraut wajah dalam sebuah tabung kaca. "Kane," panggilnya lirih kepada wajah itu sebelum beralih memandang Ben. "Teknik kriogenik yang kita pakai sudah sempurna, Ben. Tak ada kerusakan DNA, semuanya baik-baik saja. Tetapi, mengapa? Apa yang telah kita lewatkan sehingga Kane tidak mampu bertahan?" Ben melirik ke panel-panel yang menghubungkan setiap kabel dengan tabung kaca berisi tubuh Kane. Sebelum Kane, dia sudah pernah mencoba membekukan seekor simpanse, dan melihat apakah hewan itu masih bisa dihidupkan kembali setelah bertahun-tahun kemudian. Percobaannya berhasil, simpanse yang dinamainya, Daisy, hidup. Kane adalah manusia pertama yang mencoba teknik itu. Seandainya Kane berhasil, maka itu adalah kemajuan teknologi terbesar dalam sejarah umat manusia. "Kita bisa coba membangunkannya kembali dengan proses yang sama, tetapi beri waktu lebih lama bagi jantungnya untuk beradaptasi." Soraya berjalan mendekati tabung, meletakkan telapak tangannya tepat di permukaan kaca yang membatasinya dengan wajah Kane. Saat itu Kane serupa pangeran es di mata Soraya. Bulu-bulu mata Kane yang panjang dihinggapi butiran salju. Dia bahkan tergoda untuk menyematkan sebuah mahkota di kepala Kane. Kane-nya yang tampan, kekasihnya yang malang. Kehidupan mungkin cemburu dengan wajah rupawannya, hingga merenggut masa lalu dan masa depan miliknya, milik mereka. Seharusnya Kane tewas dua puluh tahun lalu dalam pelukan samudera. Kane telah memainkan permainan maut dengan ombak ganas, hanya berbekal papan selancarnya. Dan, dia dikalahkan. Ombak menggulungnya, mengisi paru-parunya dengan air asin. Seharusnya Kane sudah mati, andai Soraya tidak menculik jasadnya dan memaksa Ben menghidupkannya kembali. Pertama-tama, Ben berhasil mengawetkan organ-organ Kane dalam tabung kriogenik. Kemudian, setelah pergulatan panjang selama lebih dari satu dekade, ditambah ide jenius Soraya, dibumbui insomnia dan frustasi, Ben berhasil merebut Kane kembali dari tangan kematian. "Detak jantungnya harus tetap stabil. Trauma di masa lalu, emosi-emosinya, perasaannya terhadapmu ... kita harus mencegah semua intervensi itu darinya," ujar Ben, "tapi, tanpa semua itu, dia hanya akan menjadi sesosok boneka hidup tanpa jiwa." "Aku tidak peduli!" Soraya menjerit, "Kumohon ... kita sudah berhasil menghidupkannya sekali, yang berikutnya tidak akan sesulit itu. Iya, kan?" Ben menangkap kegilaan dalam tatapan Soraya. Betapa dia berharap, perempuan itu akan menyerah suatu hari nanti dan mulai melihat ke arahnya dengan cara yang sama ketika memandangi Kane. "Aku hanya ingin melihatnya hidup." Soraya kembali berkata, kali ini serupa bisikan. "Kita harus menghapus semua ingatannya. Semuanya." Ben berkata, lantas bergidik begitu menyadari betapa mengerikan apa yang akan dia coba lakukan nanti. "Saat dia bangun, dia akan kembali seperti bayi yang baru lahir. Dia akan kehilangan seluruh kemampuannya." "Kita bisa mengajarinya pelan-pelan, bukan?" Soraya menggenggam tangan Ben kuat-kuat seakan-akan di sanalah seluruh harapannya berada. Matanya berkilat-kilat. "Mungkin saja." Ben mengangkat bahunya. "Kalau begitu, lakukanlah!" "Masalahnya, jantungnya sudah terlalu rusak, Soraya. Kita butuh jantung yang baru. Segera! Kane tidak akan bisa menunggu lebih lama lagi." Ben memandang Soraya putus asa. Kegilaan dalam tatapan Soraya memudar, berganti sesuatu yang lain, yang tak dapat dinamai dengan apa pun. Tak ada istilah yang bisa menggambarkan arti tatapan Soraya itu saat dia berkata, "Aku tahu sebuah jantung yang cocok untuknya." *** Bertahun-tahun kemudian di lorong-lorong suram sebuah laboratorium rahasia, seorang lelaki tua mendorong seorang pemuda di atas kursi roda. Dia lalu berhenti di sebuah pintu yang baru bisa terbuka setelah sensor berhasil mengenali sidik jarinya. "Aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang, Kane. Kurasa, ini sudah waktunya bagimu untuk mempelajari hal baru," ujar si lelaki tua. Kane, pemuda di atas kursi roda itu, mengangguk. Sorot matanya berbinar-binar persis seperti seorang anak kecil yang bersemangat ingin mengetahui segala hal tentang dunia. Kedua tangannya bertepuk, kedua kakinya mengentak-entak. Dia tidak sabar. Lelaki tua itu membawa Kane ke hadapan sebuah tabung kaca, di mana berbaring sesosok perempuan paruh baya. Wajah perempuan itu membeku, begitu juga dengan tubuhnya. Selimut tipis es telah melindunginya dari sergapan waktu. "Siapa dia?" Kane bertanya. "Proyek kita selanjutnya, Kane." "Aku suka! Apa nama proyek kita kali ini, Prof? Apa ini ada kaitannya dengan mutasi genetik yang baru kau ajarkan kepadaku?" Sejenak, pandangan lelaki tua itu menerawang, mengingat-ingat kembali sepasang mata hijau yang bersinar oleh kecerdasan dan harapan milik seorang perempuan, Soraya. "Kau ingat dongeng yang pernah kuceritakan kepadamu, Kane? Sleeping Beauty?" "Putri tidur yang terbangun oleh ciuman sang pangeran? Tentu saja!" jawab Kane. "Benar!" Lelaki tua itu tersenyum. "Nama proyek kita, Sleeping Beauty. Kau harus membangunkannya kembali, Kane." "Aku?" Mata Kane membulat. "Ya." "Bagaimana caranya?" "Sama seperti caraku membangunkanmu." Si Lelaki Tua mengedip. Banten, 21 Februari 2022.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
200.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.4K
bc

AKU DAN JIN CANTIK

read
2.3K
bc

Kali kedua

read
219.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook