Give Me a Reason

1016 Words
Cellyn masih mematung di tempat. Bagaimana dia menjelaskan semua ini kepada Kevin? "Benar, ini gelang yang lo cari?" Sekali lagi Cellyn melihat gelang yang ada di genggaman Kevin. Dia tidak bisa mengakui, tidak bisa. "Gelang gue bukan itu." Cellyn hanya bisa menggigit bibir bagian dalamnya. Dia menunggu keajaiban supaya Kevin bisa percaya dengan apa yang dia katakan. Tak akan baik bagi Cellyn jika Kevin tahu bahwa gelang itu benar milik Cellyn. "Oh, gue salah. Sorry." Jadi, Kevin benar-benar percaya? Cellyn ingin berteriak karena senang. Keajaiban benar-benar datang untuknya. "Gelang gue memang hilang, tapi bukan yang itu. Gue masih mau nyari lagi." "Lo yakin gelang itu jatuh di sekitar sini?" "Ha?" "Lo tahu gelang itu jatuh di sini? Kenapa lo nyari di sini? Bisa saja gelang itu jatuh di rumah lo atau di jalan." "Gue cuma nyari. Mau jatuhnya di rumah, jalan atau di sekolah, gue juga nggak tahu." Jika seperti ini terus, mungkin Cellyn bisa benar-benar tertangkap basah. Dia pun berbalik, sayangnya Kevin kembali mencegahnya. "Gue bisa bantu lo Cell." Cellyn menggeleng cepat tanpa berbalik. "Makasih, tapi gue bisa cari sendiri." Dia segera berjalan untuk menghindari Kevin. Sedangkan di belakang sana, Kevin semakin menggenggam erat gelang itu. Dia tersenyum, Kevin sebenarnya tahu. Dia hanya ingin Cellyn yang mengatakan langsung bahwa gelang itu miliknya dan hal itu cukup untuk membuktikan rahasia besar yang selama ini Cellyn simpan. ***** Napas Cellyn tidak teratur setelah berlarian menghindari Kevin. Dia kembali ke kantin untuk menemui sahabatnya yang ada di sana. Cellyn menyesal, seharusnya dia mendengarkan kata Edel untuk mencari gelang itu selesai makan. Kehadirannya kembali di kantin membuat ketiga sahabat Cellyn segera memberikan tempat duduk. Mereka masih makan sembari menunggu Cellyn yang lama sekali tak kembali. "Gue minta minum ya." "Kebiasaan deh lo. Tapi ambil aja sih." Naya menggeser botol minumnya agar bisa dijangkau Cellyn. "Eh, dari mana sih Cell?" "Gue tadi inget suatu tempat, gue kira gelang gue ada di sana. Tapi nggak ada Kat." Edel melirik Cellyn di sebelahnya. "Di mana emangnya?" Cellyn melihat ketiga sahabatnya yang menunggu jawaban. "Loker." "Bukannya loker lo rusak Cell?" tanya Katrina lagi. "Iya, tapi tadi gue sekalian minta petugas buat benerin loker." Cellyn meremas tangannya di bawah meja. Ketiga sahabatnya tidak tahu apa yang sedang terjadi dan telah terjadi. Mereka tak tahu masalah Cellyn saat ini dan Cellyn tidak bisa memberitahukannya. "Oh ya, gue pesen makan dulu ya." Sayangnya saat Cellyn berdiri, bel masuk berbunyi. "Yah, gue belum makan padahal." "Santai, bawa aja ke kelas. Makan di kelas tapi sampahnya jangan simpen di laci biar guru nggak tahu." Usulan Edel masuk akal juga, Cellyn pun membeli beberapa makanan ringan untuk ia bawa ke kelas. Lagipula pelajaran setelah istirahat pertama ini lumayan ringan, gurunya juga tidak terlalu galak. Cellyn janji setelah makan, dia akan serius belajar. Perutnya sudah tidak bisa menoleransi lagi, dia terpaksa makan di kelas. Tempat duduk yang berada di baris paling depan membuat Cellyn sedikit kesusahan untuk makan secara sembunyi-sembunyi. Gelagat aneh Cellyn itu terlihat oleh Denin yang mana duduk di barisan belakang dengan Kevin. "Bro, gue mau duduk di baris depan. Lo duduk sama Cellyn bentar ya." Sebenarnya Kevin ingin protes karena biasanya kalau Denin bertindak seperti itu, pasti ada hal yang akan terjadi dan itu dilimpahkan Denin ke Kevin. Denin memang ketua kelas yang tidak terlalu bertanggungjawab. "Gue nggak mau Denin." Penolakan itu berasal dari Cellyn yang dipaksa Denin untuk pindah kursi agar bisa makan dengan leluasa. Ya meski Cellyn memang lapar, dia tidak perlu berpindah tempat ke bagian belakang. Apalagi ada Kevin, orang yang Cellyn hindari untuk sementara waktu ini. Namun Denin sudah membawa tas beserta alat tulis Cellyn ke mejanya. Mau tak mau, Cellyn harus satu meja dengan Kevin. Kadang Cellyn sebal dengan sifat Denin yang seenaknya saja, tapi dia juga tak bisa marah karena Denin juga baik. Cellyn hanya bisa menggenggam erat tangannya saat dia sampai di meja Kevin. Matanya menatap Denin agar segera menjelaskan kepada Kevin. "Kev, gue titip Cellyn bentar. Gue pantau kalian dari depan, jangan macem-macem sama dia." Lihatlah bahkan Denin seposesif itu kepada Cellyn padahal dia tak terlalu dipedulikan Cellyn. "Sampai istirahat kedua kok. Nanti gue balik lagi ke kursi depan. Sorry kalau gue ganggu lo." "Duduk aja." Siapa kira kalau Kevin menyetujui dengan mudah. "Jangan kangen ya." Denin mengusap rambut Cellyn lalu pergi ke deretan kursi yang ada di depan. Apa yang dilakukan Denin menarik perhatian Kevin. "Kalian pacaran?" "Eh." Cellyn menoleh kaget. "Gue sama Denin cuma temen." Kevin mengangguk mengerti. Tapi sepertinya Cellyn masih tidak rela kalau dia dicap sebagai pacar Denin. "Denin bukan pacar gue," tegasnya sekali lagi. Namun pengakuan Cellyn bukan berarti apa-apa untuk Kevin. Dia hanya melirik sekilas lalu kembali ke buku materi selanjutnya. Tidak mendapatkan respon dari Kevin membuat Cellyn kesal. Dia makan dengan tergesa dan mengunyah roti dengan kesal seakan-akan itu Denin. Gara-gara Denin kesalahpahaman ini tercipta. Bukan hanya di antara Cellyn dan Kevin saja, tapi dengan satu kelas. Semua orang mengira Cellyn memang berpacaran dengan Denin karena mereka yang sering bersama. Ah, tepatnya Denin yang suka mengikuti Cellyn ke mana pun. Cellyn masih menghabiskan makanannya saat guru masuk kelas. Mungkin karena posisinya yang ada di kursi belakang jadi membuat Cellyn agak santai. Tapi hal itu justru membuat Kevin menarik tangan kanan Cellyn yang memegang roti ke bawah meja. Tanpa Cellyn sadari, guru hampir saja memergoki dirinya. Untunglah Kevin tahu hal itu dan bisa menyelematkannya. "Tangan lo." Tunjuk Cellyn ke tangan Kevin yang masih menggenggam tangannya. Seharusnya Kevin menjelaskan alasan dia menggenggam tangan Cellyn, tapi dia memilih diam dan berfokus pada buku. Dari banyaknya cowok yang dikenal Cellyn, Kevin satu-satunya yang paling cuek dan dingin. Sayangnya Kevin harus menjadi mentor Cellyn juga. Dan sayangnya Cellyn juga menyukai cowok itu. Andaikan saja bukan Kevin yang Cellyn sukai, dia akan biasa saja duduk di sini. Haruskah Cellyn berterima kasih atau memarahi Denin yang memberikannya peluang untuk duduk bersama Kevin? "Kalau lo nggak mau guru ke sini, cepet habisin makanannya." Cellyn gelagapan, dia buru-buru menunduk untuk memakan yang tersisa. Selain cuek dan dingin, Kevin ternyata sangat suka mengejutkan orang. Sekali lagi Cellyn melirik Kevin, kenapa bisa dia jatuh cinta ke orang yang mempunyai sifat seperti itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD