Tertangkap Basah

1007 Words
Dua orang itu berada dalam atmosfer yang berbeda. Laki-laki yang muda duduk tegap terpisah meja makan dengan pria berumur di seberangnya. Pria yang sudah beruban itu membenarkan letak kacamatanya. Pria itu meneguk air putih lalu menatap anaknya lamat-lamat. Masih sama seperti lima belas menit yang lalu. Belum ada pembicaraan yang dimulai. Hanya deru napas masing-masing lah yang terdengar. Satu bernapas menggebu-gebu. Satunya lagi bernapas santai-kelewat santai. Sampai satu pertanyaan keluar dari mulut Wijaya dan membuat Kevin tersentak. "Bagaimana dengan tawaran Papa?" Kevin mengehela napas. "Semua sudah Kevin rencanakan, Papa hanya perlu menunggu hasil saja." "Baik." Wijaya berdiri dari kursinya. "Papa percaya sama kamu. Ingat, buat dia sejatuh-jatuhnya." Lalu Wijaya pergi meninggalkan meja makan. Kini Kevin sendiri di sana. Rumah menjadi sepi lagi. Sejenak, Kevin memandang foto keluarga yang terletak di atas TV. Dia tersenyum tipis. "Ma, maaf karena Kevin melakukan ini. Kevin hanya tidak ingin kehilangan orang yang Kevin cintai." Masa lalu membuat Kevin terpaksa memilih keputusannya yang sekarang. Dia sangat tidak ingin kehilangan Rain, sosok perempuan yang sangat ia cintai setelah sang mama. Ponselnya bergetar, ada panggilan dari Rain. Sudah lama Rain tidak menghubungi Kevin karena kesibukannya di Jerman. [Kevin] Suara Rain menyambutnya. "Rain, kamu baik?" [Aku selalu baik kok. Gimana sama keluarga di Jakarta? Aku kangen sama kamu] Kevin tetap menanyakan keadaan Rain karena dia tahu betul Wijaya yang bisa melakukan apa saja asal tujuannya tercapai, termasuk melukai Rain. "Rain, hati-hati dengan orang asing ya, siapa pun. Kamu jangan mudah percaya dengan orang asing." [Aku seneng kamu posesif gini, tapi nggak semua orang jahat Kevin. Aku bisa menjaga diri, kamu tenang aja." Tidak, Rain tidak mengerti bagaimana Wijaya. Perusahaan raksasa yang kuat saja bisa Wijaya kalahkan, apalagi ini Rain yang hanya satu orang. "Ada kabar baik dari Papa." [Jangan bilang kalau Om Wijaya setuju kamu pindah ke Jerman?" Kevin menarik napasnya sebelum memberitahu kabar gembira itu. "Rain, Papa setuju dengan rencana kita untuk bertunangan." [Astaga! Ini beneran Kev? Kamu nggak bohong?] "Pernah aku bohong ke kamu Rain?" Kevin tahu kabar ini pasti sangat membuat Rain senang. Seandainya dia ada di Jakarta juga, mereka sudah bertemu dan melepas rindu. Mendapat persetujuan dari Wijaya adalah hal yang Rain tunggu sedari dulu. Apalagi papa Kevin itu tak terlalu suka jika Kevin berpacaran, jadi ini kabar yang bisa dibilang sangat menggemparkan. [Kev, kamu tahu hal apa yang buat aku bahagia selain bisa ke Indonesia tahun depan?" Kevin menggeleng meski Rain tidak tahu. "Apa coba?" [Denger kabar ini langsung dari kamu. Aku nggak tahu hal apa yang buat Om Wijaya bisa berubah pikiran seperti ini. Tapi aku seneng banget.] Apa Rain akan tetap senang kalau dia tahu apa yang Kevin korbankan demi dia? "Semua orang bisa berubah Rain, termasuk Papa. Hanya saja, aku harus belajar lebih serius untuk menjadi penerus perusahaan Papa." [Semua keputusan kamu, aku mendukungnya Kevin. I love you three thousand." Kevin tertawa renyah. Mendengar Rain yang tidak segan mengungkapkan cintanya itu sangat menenangkan. "I love you more than word." ***** "Wait, wait!" Cellyn, Katrina dan Edel berhenti di tengah koridor karena Naya. "Kenapa lagi sih?" Kesal Katrina, dia sudah sangat lapar dan ingin segera sampai di kantin. "Iya Nay, kenapa lagi?" Edel juga sudah haus karena memarahi teman-temannya yang tidak mau membayar kas. "Gelang lo kemana Cell?" Reflek Cellyn melihat tangannya yang tidak memakai gelang lagi. "Gelang gue!" Wajar respon Cellyn seperti itu. Gelang itu adalah gelang dari Darrel yang diberikan kepada Cellyn dan kembar dengan milik Naya. Hanya saja bandul gelang Naya berbentuk kunci dan milik Cellyn berbentuk bintang. "Bukannya itu gelang yang kembar sama Naya dan dikasih Darrel?" "Iya itu gelang yang dikasih Darrel, Kat. Mampus kalau Darrel sampai tahu gelangnya hilang." Sungguh Cellyn tidak bisa berpikir harus mengatakan apa kepada Darrel. Bukan hanya mahal, gelang itu edisi khusus dari brand ternama yang didapatkan Darrel dari Jerman. "Gampang, anak sultan bisa beli lagi." "Edel bener, beli lagi kenapa sih Cell? Lo bisa minta ke Darrel yang duitnya melimpah." Naya mendapat lemparan kertas dari Cellyn. "Lo pikir gampang apa buat dapat gelang kayak gitu lagi? Itu dibawa Darrel dari Jerman. Walau bentukannya kayak gitu, itu limited edition dari brand yang buat." "Ya terus gimana dong?" Kini Katrina mulai ikut panik. "Lebih baik kita minggir dulu biar yang lain bisa lewat." Cellyn mengedip beberapa kali, dia baru ingat kalau masih di koridor dan menghalangi jalan teman-temannya yang ingin ke kantin. Di antara teman-teman Cellyn itu, ada Denin dan Kevin juga. Denin sengaja berhenti di depan Cellyn. "Gelang siapa yang hilang?" tanyanya. "Gelang Cellyn!" celetuk Naya. Cellyn segera melotot. Naya memang sungguh ember. Tidak bisakah dia menyimpan hal itu tanpa memberitahu Denin yang suka penasaran dengan segala hal tentang Cellyn? "Gelang?" Bukan Denin yang bertanya, tapi Kevin. "Gelang di kembar sama punya Naya. Hadiah dari Darrel, kakak Cellyn," jelas Katrina. "Kalau kalian tahu atau nemu gelang, kabarin kita ya. Kita mau ke kantin dulu, laper." Edel segera mendorong ketiga sahabatnya untuk ke kantin. Edel sesantai itu karena dia tahu Cellyn bukan orang yang ceroboh, jadi mungkin saja gelang itu terselip di buku-bukunya. Tapi bagaimana pun Cellyn tetap memikirkan gelang itu. Dia ingat terakhir kali memakai gelang itu adalah saat belajar bersama Kevin di perpustakaan. Setelah itu .... "Gue inget!" Cellyn menghadap teman-temannya yang masih memesan makanan. "Gue pergi bentar, kalian jagain tempat ya. Janji nggak akan lama." Tanpa menunggu persetujuan siapa pun Cellyn langsung pergi ke tempat yang ada di pikirannya saat ini. Cellyn yakin betul gelangnya hilang di sana. Di jam istirahat seperti ini, bagian loker belum dibersihkan oleh petugas kebersihan. Kemungkinan besar Cellyn masih bisa menemukan gelang miliknya. Lelah berlari dari kantin yang ada di tengah sekolah hingga koridor yang ada di bagian ujung, Cellyn menyandarkan tubuhnya pada pintu loker. Dia mengatur napasnya sejenak sebelum mencari. Cellyn juga memastikan kalau koridor di bagian loker sepi. Tidak ada yang boleh tahu kehadiran Cellyn di sini terutama Kevin. Cellyn menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya jika orang yang baru saja dia sebutkan di dalam pikirannya, sudah ada di depannya. "Gelang ini yang lo cari Cell?" Cellyn menggenggam tangannya kuat-kuat. Cellyn, rahasiamu sebentar lagi terbongkar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD