Telepon dari Ibu membuat Luna terbangun dari tidurnya. Baru beberapa menit ia terlelap setelah menyusui Kato. Keenan mencoba menguping percakapan keduanya, ia tidak lagi fokus pada buku di tangannya. Keenan biasa tidur sedikit lebih larut dibanding Luna. Sering ia masih terbangun ketika tengah malam anak-anak rewel sebab popok yang penuh atau kelaparan. "Baik kalau begitu, aku coba sampaikan ke Keenan. Selamat malam, Bu," kata Luna sebelum meletakkan ponselnya di nakas samping ranjang. Ia kembali merebahkan dirinya dan menghela napas panjang. "Kenapa, Lun?" tanya Keenan. "Ibu memintaku ke Brussels untuk ulang tahunku tahun ini, tapi tidak mungkin pergi ke sana dengan dua balita. Paspor saja mereka belum punya," keluh Luna. Keenan terkekeh pelan. "Ada aku, kamu tidak sendirian membawa

