Bab 5 Patah Hati

1099 Words
"Aku butuh kerja part time. Tolong carikan dong!" lirih Aish seolah putus asa sesaat berganti semangat yang membara. Mey dan Haris hanya melongo mendengar ungkapan Aish. "Kapan?" sahut Haris tidak mau Aish terlalu fokus dengan masalah keluarganya. "Besok!" "Apa?! seru keduanya kompak. Haris tampak menaikkan pandangannya ke atas seolah sedang mencari ide. "Aku lagi kosong ngajar privat Aish, maaf," ungkap sedih Mey sembari mengusap lengan Aish. "Mau mengajar privat? Gantiin Sherly mau, nggak? Tapi anaknya agak rewel dan susah diajar katanya." "Mau-mau, Ris!" "Anak SD kelas enam, laki-laki," terang Haris. "Iya, aku mau. Nggak masalah." "Oke, aku sharlok alamatnya ke HP mu." "Makasih banyak Haris. Kamu baik banget." Wajah Aish kembali berubah ceria mendapat solusi masalahnya barusan. Uang saku yang dihasilkan dari study tour sejatinya ia kumpulkan untuk persiapan membayar kos dan makan. Namun, sang bapak meminta uang dengan dalih untuk membayar sekolah Arif adiknya. Aish selalu meragukan hal itu. Bapaknya suka bermain dengan uang yang ia kirim. Entah untuk taruhan dengan teman-temannya, kena tipu investasi bodong atau membayar utang renteneir yang bunganya mencekik. Aish tidak bisa berbuat apa-apa. Setiap ia diam-diam mengirim lewat Arif tanpa sepengetahuan bapaknya, lagi-lagi Arif yang kena sasaran fisik. Pun ibunya terkadang kena luka fisik maupun batin dengan caci maki tak terhingga. Aish hanya bisa mendoakan dari jauh, kelak bapaknya segera taubat dari kelakuan buruknya. Ia rindu kembali ke masa keluarganya yang bahagia. Roda memang berputar, kadang di atas kadang di bawah. Sudah sepantasnya selalu bersyukur pada Yang Maha Kuasa agar ditambah nikmatnya. Aish kadang meratapi hidupnya, sang bapak lupa diri hingga serakah. Saat bisnisnya meroket, bukan rasa syukur yang diagungkan justru kesombongan yang diandalkan. Tak pelak Allah murka dengan membuat bisnisnya bangkrut hingga terlikit hutang. Pada akhirnya anak istrilah yang harus turut menanggung. Aish sering kasian sama ibu dan adiknya. Ia mendadak harus menjadi perempuan tangguh supaya bisa mengembalikan senyum keluarganya. @@@@@ Malam setelah sholat isya, Aish masih kepikiran tentang Dika yang menelpon. Terdengar seruan teman kos dari balik pintu yang mengatakan ada tamu mencarinya. "Siapa yang datang ya? Jangan-jangan Dika datang beneran nih. Astaga. Aish kelabakan sendiri. Jantungnya berdebar, lama tidak bertemu dan komunikasi membuat jarak semakin terasa, hingga kecanggungan pun melanda. Padahal dulunya mereka sangat akrab dan sering bercanda bareng. "Assalamu'alaikum, apa kabar Aish? Makin cantik aja nih." Aish terpaku melihat sosok yang terngiang di kepalanya tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba menyambung silaturahim. "Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah baik, kabarmu gimana nih dah banyak duit lupa sama aku, ya?" Aish memasang muka pura-pura cemberut. Beberapa menit berlalu, Aish membuatkan minum dan membawakan cemilan. Aish dan Dika asyik mengobrol dan mengenang masa SMA-nya. Sesekali teman laki-laki yang menemani Dika ikut menimpali obrolan mereka. Sejenak kemudian Dika mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Aish penasaran apa itu, bentuknya persegi. Seperti, undangan. Jantung Aish berdesir, pikiran berkelana entah kemana. Susah payah, ia menetralkan denyut nadinya. Menarik napas panjang, sebuah senyum dipaksakan terlukis di wajah Ais. "Aish, datang ya di hari bahagiaku." Aish gemetar sambil menerimanya. Ternyata undangan pernikahan Dika. Sesak di dasa semakin terasa. Ingin menjawab, lidahnya seolah kelu. Pun tenggorokan terasa kaku. "Kamu mau menikah, Dik?" Kalimat itu hanya tersangkut di tenggorokan. Kecewa sudah pasti. Harusnya ia bahagia bisa bertemu kembali dengan Dika. Pupus sudah harapan Aish hidup bersanding dengan Dika. Ia menghela napas seraya beristighfar untuk menguatkan hatinya. "Hmm, selamat ya, Dik. Semoga diberi kelancaran sampai hari-H. Semoga kamu bahagia. Kebetulan pas tanggal ini jadwal ujian Semester." Aish berusaha tidak menampakkan wajah sedih. Beruntung ia punya alasan untuk tidak datang ke acara sakral itu. "Yah, aku sedih nih kamu nggak bisa datang, Aish." "Besok lihat situasinya ya, Dik. Siapa tahu sehari cuma ujian satu." "Baiklah." Kepergian Dika dan temannya setelah pamitan, menyisakan Aish yang bergelung dengan selimut di kasur. Ia meringkuk, bahunya bergetar sejak tadi. Di dalam kamarnya yang temaram, sesekali tangannya menepuk d**a berulang untuk mengurangi sesaknya. Detik demi detik terlewati, suara denting jarum jam di meja belajar pun ia abaikan. Malam telah larut, tetapi ratapan itu tak kunjung reda. Aish merasa bodoh terkekang masa lalu. Terlalu lama berkaca ke belakang ternyata hanya menorehkan luka. Menarik napas dalam, ia meneriakkan suara yang tertahan di tenggorokan. "Aish, Aish! Ada apa teriak-teriak?!" Aish terkejut, teman kosnya mengetuk pintu, ternyata teriakannya terdengar dari luar. "Nggak papa, mau latihan suara," seru Aish dengan suara sedikit parau. "Sudah malam, kasian tetangga sebelah." "Ah iya, maaf." Gegas Aish mengambil air wudhu untuk bermunajat pada Rabbnya. Ia yakin Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Belum juga masalah kelakuan bapaknya beres, sudah hadir kembali masalah lain berturutan. Ia harus kuat, pasti bisa. @@@@ Pagi hari Aish berangkat kuliah dengan wajah kusut karena semalam tidak bisa tidur. Matanya sembab akibat menangis semalaman setelah Dika berpamitan pulang. Kuliah pun ia tidak bersemangat meski jadwal presentasi bersama Haris. Namun, ia tetap bertanggung jawab dengan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman saat presentasi. Selesai kuliah Aish diminta menemui Pak Sis di ruangannya. Karena takut, Aish mengajak Haris dan Mey meskipun mereka hanya berjaga di luar ruangan. Keluar dari ruang Pak Sis, Aish merasa lega pikiran buruknya terenyahkan oleh fakta. Kenyataan tentang Pak Sis yang bersikap kurang baik tidaklah benar. Ia harus belajar menyaring kebenaran info dari orang lain. "Aish, sore nanti jadwal ngajar privat. Jangan lupa." Haris mengingatkan jadwal part time Aish untuk hari pertama. "Siap, makasih, Ris." "Perlu aku antar?" Haris dengan senang hati menawarkan diri. "Oh tidak perlu, aku bisa cari sendiri. Nanti naik bis kota aja." Sedikit kecewa dirasakan Haris, tetapi memang Aish seperti itu, tidak mau merepotkan orang lain kecuali terpaksa. Haris juga tidak berani memaksa, demi menjaga persahabatannya. @@@@@ Sampai di rumah murid privatnya, Aish berdecak kagum. Rumahnya amat besar dengan desain klasik terlihat dari luar. Begitu masuk ke dalam, desain interiornya jelas memperlihatkan pemiliknya adalah orang kaya. Perabotan mahal berjajar rapi di sebuah lemari kaca. Pun koleksi suvenir dari berbagai negara di dunia bertengger di sana. Aisha menggelengkan kepala melihat pernak-pernik yang lucu. "Kapan aku bisa mengunjungi salah satu negara ini?" gumannya dalam hati sebelum suara perempuan mengagetkannya. "Non, gurunya Mas Rafi?" sapa perempuan paruh baya kisaran usia setengah abad itu. "Eh, iya, Bu. Saya Aisha," jawab Aish sopan. "Panggil Mbok Irah aja. Saya ART di sini. Ayo saya antar mbak Aish ke kamar Mas Rafi di lantai dua!" Aish mengangguk, lalu mengikuti langkah Mbok Irah. Sepanjang menapaki anak tangga, Aish tak berhenti memanjakan matanya berkeliaran mengamati pemandangan yang mengesankan. Benar-benar rumahku surgaku, pikirnya. "Mbok," sapa seorang laki-laki dewasa yang baru saja keluar dari sebuah kamar. "Oh, Tuan. Ini Mbak Aish guru privat yang baru untuk Mas Rafi." Aish menunduk sopan. Melihat penampilan laki-laki di depannya jelas terlihat berkelas. Rambut klimis, pakaian dan jam tangan yang melekat pastinya branded.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD