Setelah satu jam mondar mandir mencari pusat informasi, Aish dan Mey akhirnya bisa kembali ke hotel dengan selamat. Mereka berkumpul bersama tour guide dan tiga mahasiswa lainnya yang ternyata kesasar juga saat menaiki Subway. Akhirnya, mereka menikmati makan malam sambil tertawa mengingat kejadian saat tersesat naik Subway.
Malam semakin larut, mereka beristirahat, karena esok hari harus mengunjungi salah satu kampus yang ada di Busan. Mereka perlu mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dan tidak menyia-nyiakan kesempatan kunjungan ini.
@@@@
Di tempat lain dimana Andra berada, yaitu di kota Daejeon dia sedang bingung mencari baju yang akan dipakai saat conference di Busan. Karena tak kunjung ketemu, dia baru teringat kalau bertabrakan dengan gadis bernama Aisha di bandara. Ya, bajunya terbawa Aish.
Andra bingung bagimana caranya untuk menghubungi Aisha karena ia lupa tidak minta nomer HP. Akhirnya dibiarkan saja bajunya dibawa Aisha dulu. Andra harus segera ke kampus karena siangnya ada teman yang ingin mengajaknya ke Busan naik kereta cepat. Ia tidak mempermasalahkan bajunya, karena bisa meminjam milik temannya.
Setelah urusan di kampus selesai, Andra dan temannya menuju stasiun untuk ke Busan. Mereka juga menaiki Subway untuk ke tempat tujuan. Dalam perjalanan di salah satu stasiun, Andra seperti melihat sosok Aisha dan mendengar namanya dipanggil. Akan tetapi, Andra mencoba menampik pikirannya.
"Seperti ada yang manggil namaku, Don," seru Andra kepada Doni temannya.
"Memangnya siapa, aku kok nggak dengar?" kata Doni.
"Ah sudahlah kayaknya aku cuma kepikiran dengan gadis yang menabrakku di bandara waktu mau berangkat ke sini," kata Andra dengan santai.
"Kayaknya berkesan sekali nih pertemuannya? Kamu sudah harus melupakan Nayla kayaknya Ndra." Doni berusaha mengompori.
"Entahlah, gadis ini ceroboh tapi menggemaskan, perangainya mirip Nayla." Andra menampilkan senyumnya saat mengingat pertemuannya dengan Aisha. Senyum yang pertama sepanjang ia meninggalkan kota Bandung.
"Nah tanda-tanda nih mulai ada rasa. Sudah save belum nomernya?" tanya Doni penasaran.
"Sayangnya, aku lupa nggak minta nomer karena buru-buru ke toilet waktu landing. Dia bawa baju kaos kampusku, Don." Jawaban Andra membuat Doni bingung.
"Kok bisa bajumu ada sama dia?"
"Waktu tabrakan di bandara tasku rusak trus beberapa barang kaos dan kemeja, aku titipkan di tasnya."
Doni yang mendengarnya beroh ria. Senyum menyeringai terlukis di wajah sahabat Andra itu.
"Wah jodoh nih kayaknya, siap dikejar deh Ndra, nanti kayak Nayla keburu digaet orang lain." Doni terkekeh memperingatkan Andra.
"Ya besok sampai Indonesia aku cari dia, semoga berjodoh," pungkas Andra.
"Aisha gadis ceroboh. Apa kita masih bisa ketemu lagi." Andra menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa jadi kepikiran gadis itu.
@@@@@
Sehari setelah kepulangan dari Busan, Aisha dan Mey sudah masuk kuliah. Mereka berbagi oleh-oleh untuk teman-temannya. Hari ini ada kuliah Geometri dengan dosen Pak Siswanto. Dosen senior yang terkenal agak susah nilainya, kecuali yang kenal dekat dengan beliau. Aisha dan Mey termasuk yang takut kalau tidak lulus mata kuliah ini. Jadi, mereka mencari tips biar bisa mengikuti kuliah dengan lancar dan lulus.
Tugas dalam mata kuliah ini adalah presentasi materi secara kelompok yang terdiri dua mahasiswa per kelompok. Aisha satu kelompok dengan Haris, sedangkan Mey dapat pasangan Anto. Undian materi pertama jatuh pada kelompok Aisha. Mereka harus konsultasi maksimal H-1 ke dosen sebelum dipresentasikan. Presentasi akan dimulai pertemuan berikutnya.
Setelah kuliah berakhir, Aisha membahas materi dengan Haris sebelum dikonsultasikan ke Pak Sis.
"Ris, syukurlah kita sekelompok ya. Aku takut harus konsul ke beliau kalau anggota kelompoknya perempuan semua." Aish mulai curhat ke Haris.
"Memang kenapa, Aish?" Haris pura-pura tidak tahu.
"Ah kamu ini kayak nggak tahu, teman-teman kita suka ngomongin beliau yang enggak-enggak kan aku jadi khawatir." Penjelasan Aish hanya dijawab oh sama Haris.
"Iya tenang aja, aku bakal njagain kamu," jawab Haris mantap.
"Cie, gini nih ada yang mau pedekate," goda Mey ke Aish dan Haris.
"Apain sih Mey datang-datang ngomongin yang enggak-enggak." Aish melotot ke arah Mey yang tak acuh.
"Udah-udah ayo lanjutin kita susun strategi buat konsul ke Pak Sis." Haris dalam hati bersorak gembira karena sebenarnya ingin mendekati Aish. Hanya saja gadis yang ceria itu memiliki prinsip anti pacaran. Meskipun Aish baik kesemua orang, ia hanya hanya fokus kuliah, lulus dan cari kerja. Haris penasaran dengan sikap Aish hingga membuatnya semangat untuk mendekati saat dalam satu kelompok.
Dering ponsel terdengar, ternyata HP milik Aisha yang berbunyi.
"Aish HP mu tuh angkat dulu siapa tau penting," kata Haris.
"Nomer baru, siapa ya?" Kening Aish berkerut, lalu ia menggeser layarnya.
"Halo, assalamu'alaikum. Ini siapa ya?"
"Wa'alaikumsalam." Ternyata suara laki-laki Aish seperti tak asing dengan suaranya.
"Apa kabar Aish?" sapa laki-laki itu.
Jantung Aish berdebar hanya karena mendengar suara Dika.
"Dika?"
"Halo,"
....
"Ya, besok bisa."
"Siapa Dika, Aish?" Mey mengerutkan dahinya. Aish yang dipanggilnya justru hanya bergeming. Haris pun turut heran, lalu saling pandang dengan Mey.
"Siapa, Dika?" ulang Mey membuat Aish berjengkit.
"Hah, Dika! Yes."
"Astaga. Ditanya bukannya menjawab malah kegirangan," sungut Mey. Haris yang melihat tingkah dua sahabat perempuannya hanya menyunggingkan senyum.
"Besok aku ceritain. Pokoknya aku lagi seneng dapat kabar dari Dika."
Mey dan Haris cuma berdehem mengiyakan. Pasti Aish akan cerita panjang lebar, karena ia tidak pernah ingkar janji.
Kembali dering ponsel Aish menggema. Membaca nama yang tertera di layar, kening Aish pun berkerut, disusul senyumnya yang memudar.
"Halo, Pak." Aish sedikit berdecak kesal saat salamnya tidak dijawab sang bapak. Ia sudah berprasangka buruk setiap mendapat telepon dari bapaknya.
"Aish, Bapak butuh uang hari ini juga. Tolong dikirim ya! Bapak tunggu."
"Buat apa lagi,..." Panggilan mendadak diputus sepihak sebelum kalimat Aish selesai. Ia hanya bisa mendecis, bahunya pun melorot.
"Selalu, begitu."
"Ada apa, Aish?" Mey mencoba bertanya lirih. Wajah Aish yang semula berbinar karena telepon dari Dika, mendadak muram oleh panggilan ayahnya. Aish hanya menggelengkan kepala. Beberapa detik kemudian muncul notifikasi pesan masuk dari ayahnya. Aish membelalakkan matanya lebar, terlihat fokus menatap layar.
"Ada apa, Aish?" tanya Mey khawatir. Sahabatnya sampai hafal kalau Aish sudah ditelpon keluarganya di kampung pasti wajahnya mendadak murung.
"Aku butuh kerja part time. Tolong carikan dong!" lirih Aish seolah putus asa. Namun sesaat kemudian wajahnya kembali ceria diiringi semangat yang membara.
"Part time?! Kita baru semester tiga, Aish." Haris mencoba mengingatkan sahabatnya.
"Ya, aku harus kerja part time. Apa salahnya?" desak Aish.
Haris saling pandang dengan Mey. Keduanya tampak berpikir serius.
"Ayolah, tolong carikan aku kerja part time ya! Butuh banget, nih," rayu Aish.