Chapter 4: Dira dan Lisa

1957 Words
Dira POV Dira turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke kantor sekaligus rumahnya, sebuah ruko tiga lantai di bilangan Batam Center bergaya minimalis dan didominasi warna abu serta oranye. Ruko ini dibelinya setahun setelah ia pindah ke Batam dari keluarga sahabat sekaligus iparnya, Lisa. “Baru pulang, Dir?” Tanya Lisa, wanita muda berpipi chubby dan berkulit sawo matang yang sedang duduk di kursi tamu saat Dira membuka pintu kantornya.  “Sore banget baru pulang jam 7, banyak meeting ya tadi.” “Hooh,” Jawab Dira sekenanya, “Raka sama Vita udah pada balik kan?” Dira menanyakan paralegal dan associate lawyernya. “Udah, tadi mereka titip salam juga buat lo, katanya lo yang minta mereka pulang kalau udah pada beres, soalnya besok bakal ada sidang pagi, berkas juga udah ditaruh di meja lo.” “Iya, tadi gue memang sudah telpon mereka untuk pulang cepet kalau berkas untuk besok sudah siap, nanti gue periksa deh.” Dira mengambil air putih lalu meletakkan tas kerjanya di ruangannya. “Halo cantik!” Dira menyapa anak Lisa sekaligus keponakannya, Tasya, yang sedang asik mewarnai. “Halo Tante! Lihat, Tasya pintar mewarnai bunga,” Jawab balita berusia empat tahun itu. Dira tersenyum bangga sambil mengusap kepala Tasya. “Pintar ih. Tasya udah makan belum? Makan yuk sama Bunda dan Tante! Sekalian mewarnai juga disana.” “Ya, Tasya mau!” anak kecil itu mengangguk semangat, lalu membereskan peralatan warnanya. “Giliran ditawarin Tante aja mau, tadi sama Bunda nggak mau,” Lisa mendengus pelan. Dira tertawa sambil membawakan buku dan crayon Tasya. “Makan di sebelah kaya biasa kan?” Lisa memastikan pada Dira. “Iyalah,” Kemudian mereka bertiga keluar dari kantor Dira dan berjalan ke beberapa ruko sebelah kanan, tempat restoran kopi tiam langganan mereka berada. Kompleks ruko ini terdiri atas sepuluh ruko berderet yang diisi oleh berbagai  macam jenis usaha, dari kantor hukum milik Dira, kantor notaris milik Lisa, klinik dokter spesialis milik Diro, kembaran Dira sekaligus suami Lisa, serta minimarket, tempat kursus, toko baju bayi dan beberapa restoran. Terletak di pusat kota Batam dan pinggir jalan utama, daerah ini selalu ramai dan mudah ditemukan. Dira tinggal di sini sejak pertama pindah ke Batam empat tahun lalu, tadinya sebagai penyewa dan kemudian menjadi pemilik. Kompleks ruko ini adalah salah satu dari sekian banyak kompleks ruko yang dibangun oleh Sunland, perusahaan real estate dan developer milik ayah Lisa, yang keluarganya sudah tinggal di Batam bahkan ketika pulau ini dulu masih didominasi hutan. Karena itu, Dira bisa membelinya dengan harga yang termasuk murah dan bahkan menyicilnya menggunakan sistem cash bertahap tanpa bunga. Lisa dan Dira bersahabat erat sejak pertama masuk kuliah, berawal dari perkenalan mereka saat daftar ulang, kemudian tanpa sengaja mereka satu kelompok saat OSPEK, dan ternyata sering sekelas karena nomor mahasiswa mereka berdekatan. Lisa yang tinggal di apartemen sendirian tinggal di pulau Jawa sering diajak menginap di rumah keluarga Dira, yang waktu itu lebih sering ditempati Dira dan almarhumah Ibunya, karena Diro tinggal di asrama kedokteran dekat kampus. Saking dekatnya Dira dengan Lisa, Lisa juga jadi ikut dekat dengan Diro, sampai mereka pacaran sejak kuliah dan menikah dua tahun setelah Lisa lulus. Lisa yang memang orang asli Batam, memilih Batam sebagai penempatan notarisnya, dan mengajak Diro ikut pindah ke Batam setelah pendidikan spesialisnya sebagai bedah syaraf selesai. Diro tidak keberatan karena tahu peluangnya lebih besar di Batam yang kekurangan tenaga kesehatan ahli. Saat ini Diro selain memiliki klinik sendiri juga memiliki jadwal praktek di dua rumah sakit besar di kota Batam. Tadinya Dira tidak terpikir sama sekali mau ikut pindah ke Batam mengikuti Diro dan Lisa, karena seperti yang sudah diceritakan, kehidupan Dira cukup sempurna di Jakarta. Meski ayahnya sudah meninggal karena sakit saat ia SMA dan beberapa tahun kemudian ibunya menyusul sang ayah setelah Dira wisuda, Dira tetap betah tinggal sendiri di ibu kota karena karirnya yang cemerlang dan karena ia punya Arya, pacarnya selama 6 tahun dan calon suami yang mencintainya. Sampai di suatu malam, Dira tanpa sengaja memergoki Arya sedang berhubungan intim dengan rekan kantornya di kamar apartemennya. Tidak hanya itu, beberapa hari setelahnya terjadi masalah lain yang waktu itu pada akhirnya memaksanya pindah demi menjaga kewarasan otaknya. Setahun pertama tinggal di Batam cukup berat bagi Dira saat itu yang harus mengurusi segala macam izin untuk bisa membuka kantor hukum sendiri, belum lagi mencari klien di kota asing ini. Dira bersyukur setidaknya ia waktu itu tidak sendirian dan tidak pusing dengan masalah tempat tinggal dan kantor karena sudah dipersiapkan oleh Lisa yang memang sudah lama mengajaknya ikut pindah ke Batam. Karena Lisa dan keluarganya, Dira jadi bisa berkantor di kompleks ruko mewah di pusat kota Batam, dengan kantor berdempetan dengan kantor notaris Lisa dan klinik Diro. “Mau pesen apa Lis?” Tanya Dira sambil membuka blazer abunya dan menggantungkan di sandaran kursi. “Saya mau nasi goreng ikan bilis sama es kopi tarik ya mas. Tasya pesen ayam goreng seperti biasa kan?” Tasya mengangguk semangat lalu melanjutkan mewarnai bukunya. Waiter kopi tiam mencatat semua pesanan dengan sigap. “Mie goreng deh, sama es teh tarik.” Jawab Lisa, pandangannya tertuju pada kemeja Dira. “Kenapa tuh kemeja lo Dir?” Tanya Lisa sambil menunjuk ke bagian perut Dira, dimana ada sedikit noda hitam yang tadi tertutupi blazer. “Oh ini, tadi kena kotor pas gue ganti ban,” Jawab Dira sekenanya. “Ban mobil lo pecah lagi? Perasaan baru aja diganti deh.” Ibu muda seumur Dira ini terus mencecar. Dira tersenyum geli. Kadang Dira merasa sejak menjadi ibu, Lisa jadi lebih cerewet dari sebelumnya. Beda dengan Dira yang cenderung irit bicara, Lisa tidak tahan kalau tidak ngobrol dan bisa ngomongin segala hal dari A sampai Z dalam sekali duduk. Belum lagi komentar nyablaknya, sehingga kadang Dira merasa Lisa itu kakaknya, padahal usia mereka sama. Tapi Dira tidak pernah mengomentari Lisa balik dan cenderung mengalah saja, karena dia tahu Lisa selalu bermaksud baik dan sayang padanya. “Bukan ban mobil gue, ban mobil orang tadi.” “Lah,” Lisa mendelik, “Lo kurang kerjaan apa ya, sampai gantiin ban mobil orang gitu,” “Ya abis gue kasian tadi sama bapak itu, lo tau sendiri kan Nongsa tuh sepi, kalau gak gue bantu, berapa lama dia bakal terjebak disitu,” “Lo bantuin bapak-bapak di Nongsa?” Lisa makin menggeleng-geleng tak percaya, “Lo gak takut dibegal?” “Masa pagi-pagi ada begal.” Dira menjawab santai sambil menyeruput kopinya. “Mobilnya juga mobil mahal, Mitsubishi mewah gitu. Rugilah dia kalau mau ngebegal gue, siapa juga coba yang mau sama swift gue,” Dira tertawa. “Bener-bener ya lo, katanya sibuk tapi sempet aja begitu. Terus apa kata dia?” “Dia bilang terima kasihlah, terus mau ngasi gue duit lima ratus ribu.” “Buset, lima ratus ribu? Orang kaya kali ya, begitu doang sampai ngasih lima ratus ribu.” Lisa berkomentar. Dira hanya mengangguk, merasa geli atas ucapan Lisa yang suka lupa kalau sendirinya juga orang kaya. Inilah yang membuat Dira cocok sama Lisa dari pertama mereka bertemu, meski berasal dari status social yang jauh berbeda, Lisa sama sekali tidak pernah sombong dan memamerkan uangnya. Dira juga tidak pernah memanfaatkan Lisa dan uangnya, soal rukonya saja kalau tidak dipaksa Lisa, Dira tentu memilih membeli ruko di pelosok Batam yang sesuai dengan tabungannya saat itu. “Pasti duitnya lo tolak, kan?” Tebak Lisa. “Hooh, tapi ya itu, dia maksa. Akhirnya daripada lama gue kasihkan aja kartu nama panti asuhannya pak Muchtar, kan lumayan kalo didonasi kesana.” Panti Asuhan Cinta Kasih yang dikelola oleh Pak Muchtar dan istrinya, merupakan panti dimana keluarga Lisa dan Dira menjadi donatur tetap. Dira bahkan sebulan sekali meluangkan waktunya mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak panti. “Bagus, bagus. Terus, lo gak kasih kartu nama lo juga?” “Nggaklah, buat apa?” “Ya kali aja suatu saat dia perlu pengacara, bisa ngehubungin elo.” Lisa menimpali, gemas dengan kepolosan sahabatnya ini.  Punya kantor hukum tapi jarang banget promosi kantornya. Dira cukup beruntung klien kantornya selalu bertambah setiap bulan karena kliennya mayoritas perusahaan asing dengan direktur warga negara asing yang saling berbagi info satu sama lain. Dira yang mampu berbahasa Inggris, Jepang, Korea dan Mandarin jadi diminati oleh banyak perusahaan PMA dari berbagai negara, karena rata-rata direktur mereka tidak bisa berbahasa Indonesia  dan kesulitan memahami birokrasi, undang-undang serta perjanjian lokal. Penerjemah kantor mereka biasanya juga tidak dapat menjelaskan dengan mumpuni karena kosa kata bahasa hukum yang lumayan sulit diterjemahkan oleh orang awam. Ini juga yang membuat Dira sering keliling ke berbagai perusahaan kliennya agar bisa menjelaskan langsung dalam bahasa ibu para direktur tanpa miskomunikasi. “Yah, iya juga ya!” Dira menepuk jidatnya. “Gak kepikiran sumpah gue kesitu, tadi soalnya gue buru-buru, udah ditelponin sama orang Hankook Precision,” “Minimal lo kasih kartu nama gue kek, kali aja dia perlu notaris juga,” Lisa berkata santai sambil menyuapi Tasya. Dira hanya tertawa. “Kartu nama gue aja lupa gue kasih, apalagi kartu nama eloo.” “Mending kita bikin kartu nama barengan deh, satu sisi kantor lo, satu sisi kantor gue,” usul Lisa. “Ya udah terserah deh, tapi lo yang buat ya.” “Beres!” Lisa tersenyum lebar. “By the way, lo ada rencana apa sabtu ini?” “Gue ada seminar brevet pajak di hotel Aston. Emang ada apaan?” “Lo kan baru beres ikutan seminar kekayaan intelektual. Kok sekarang udah ambil brevet pajak? Tiap weekend sibuk melulu deh. Heran gue.” “Ya mending sibuklah, biar makin banyak sertifikasi gue.” Tandas Dira, sambil berusaha menutupi alasan sebenarnya dia selalu cari berbagai macam kegiatan setiap libur adalah karena dia takut galau kalau lama-lama di rumah sendirian. Dengan mengikuti banyak seminar dan les, dia jadi bisa memusatkan pikirannya pada satu hal, bonusnya dia juga bisa mendapat keahlian baru yang bermanfaat bagi pekerjaannya. Alasan ini juga yang menjadi penyebab kenapa Dira bisa berbicara bahasa Korea dan Mandarin, yang dia pelajari secara intensif selama tahun-tahun pertamanya di Batam. “Kurang banyak apa sertifikasi lo? Tiap bulan ada aja yang baru. Tapi gue salut sih lo masih niat aja belajar, gue aja udah males banget rasanya.” “Ya wajar lo kan udah nikah, udah punya anak. Kesibukan lo banyak selain urusan kerjaan. Gue kan sabtu minggu gak ada yang harus diurusin, jadi gue cari kegiatanlah yang positif.” “Orang single kan biasa liburan, shopping, lo malah belajar mulu.” “Sayang ah kalo keseringan shopping ntar duit gue abis, mending gue beliin saham dan ikut pelatihan.” Jawab Dira. Sedari kecil, Dira memang tergolong hemat dalam berbelanja dan menggunakan uangnya. Mungkin karena tumbuh bukan di keluarga berada, terlebih harus ditinggal ayahnya saat masih sekolah, membuat Dira dan juga Diro, pintar menabung dan berhemat. Kebiasaan ini terbawa sampai sekarang, meski pemasukan kantor Dira lumayan besar, ia tidak pernah menghambur-hamburkan uangnya dan memilih menyimpannya dalam bentuk tabungan serta investasi, baik berupa surat berharga, logam mulia, maupun property. “Tadinya gue mau ngajakin ke pantai Vio Vio, sama Diro dan Tasya.” “Tumben Diro libur sabtu ini, biasanya kalo gak ada jadwal operasi, ada praktek.” “Makanya. Tumben kan? Mau ikut?” “Ya gak lah, kan gue udah bayar seminarnya.  Nanti aja deh gue ke pantai bulan depan, sekalian pas tahun baruan, gue ditawarin ikutan acara resortnya Mr. Matsumoto dan dikasih kamar juga buat nginap dua malam.” “Wah seru banget! Resortnya Mr. Matsumoto kan mewah banget tuh. Gue ikutan juga dong, Diro libur juga tuh tanggal segitu.” “Gue emang udah rencana mau ngajak kalian. Nanti gue telpon Pak Desmon supaya nambah satu kamar, biar kamar kalian gue yang bayar,” “Aseek! Sering-sering dong begini,” Lisa menepuk tangannya bahagia. Dira ikut tersenyum lebar. Tiba-tiba dia merasa tak sabar akan liburannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD