Chapter 5: Dira dan Diro

1135 Words
Adya POV Sore ini Adya keluar kantor bersama Pak Suroto lebih cepat, karena ada meeting dengan salah satu petinggi bank swasta di restoran hotel di Batam Center. Jalanan menuju kesana agak macet karena sudah masuk jam pulang kantor, jadi Adya agak panik ketika sebentar lagi jam janjian tapi mereka belum sampai juga. “Lewat jalan cepat aja ya pak, mutar sedikit pun tidak apa daripada kena lampu merah dan macet panjang,” Adya menginstruksi supirnya. “Baik pak,” Jawab Pak Suroto, “Ini depan kita lewat parkiran ruko ya pak, lebih sepi, nanti tembusnya langsung di depan hotel 31.” “Oke.” Adya terdiam sambil memperhatikan jam. Pak Suroto lalu membelokkan mobil ke kompleks ruko mewah bergaya minimalis tersebut.  Ternyata benar, jalanan lebih lancar meskipun tidak dapat mengebut. Sambil pelan-pelan melewati berbagai ruko disana, pandangan mata Adya tiba-tiba mengenali sesorang dari jauh yang sedang mengunci pintu rukonya, menggunakan blazer abu dan sepatu sneakers ungu. Wanita misterius yang dua minggu lalu mengganti ban mobilnya. Wajah dan style berpakaian yang dia tidak akan pernah lupa. “Berhenti dulu pak di kiri depan,” Adya reflex meminta Pak Suroto berhenti, yang langsung dilaksanakan Pak Suroto tanpa banyak tanya. Jarak antara mobil Adya dan ruko tempat perempuan itu berdiri kini kurang dari 10 meter, sehingga Adya bisa melihat dengan jelas dan yakin bahwa itu orang yang sama. “Sepertinya dia pengacara, ya,” Adya bergumam dalam hati sambil menghapal papan nama ruko. “Benar kata Feri, ketemu lagi akhirnya.” Baru saja ia memutuskan untuk keluar dari mobil dan menyapa sang perempuan, tiba-tiba seorang balita perempuan berlari dan memeluk wanita misterius itu, yang disambutnya sangat hangat dengan langsung menggendongnya. Di belakang anak itu, seorang laki-laki muda bertubuh tinggi mengikuti, tersenyum lebar juga. Sang lelaki mengatakan sesuatu yang membuat wanita misteriusnya tertawa, dan mereka bertiga kemudian berjalan beriringan dan masuk ke mobil ford yang diparkir di depan ruko. Adya hanya bisa menonton dengan lidah kelu, dan langsung meminta pak Suroto tancap gas saat mobil Ford itu sudah keluar dari parkiran. “Ternyata dia sudah menikah..” Adya merutuki dirinya yang terlalu percaya pada kisah picisan ala Feri seperti yang biasa terjadi di film remaja. “Ya sudahlah.” Ia menggeleng lagi, berusaha melupakan semua yang terjadi dan kembali focus pada urusan kerjaannya. Dira POV Dira sedang mengunci pintu kantornya saat mendengar Tasya memanggil. “Tante!” “Eh, ada si cantik!” Dira tersenyum lebar sambil langsung menggendong Tasya. “Dia maksa mau ikut jemput tante,” Diro berkata di belakang Tasya. “Padahal udah kubilang tunggu di rumah aja.” “Ngga apa-apa, tante seneng ada Tasya. Tasya mau mampir minimarket dulu ngga beli eskrim?” “Tadi kata Bunda langsung pulang aja tante soalnya Bunda udah selesai masaknya,” jawab Tasya. Dira tersenyum, “Yaudah, ayo Ro,” Bertiga mereka berjalan beriringan ke mobil Diro yang terparkir di depan ruko. Kalau ada orang tidak dikenal yang melihat mereka, pasti mereka akan dikira sebagai suami istri satu anak, karena meski  kembar, wajah Diro dan Dira tidak mirip. Dira bermata agak sipit dengan kulit putih, seperti  ibu mereka yang masih ada keturunan suku Tionghoa. Sementara Diro bermata bulat besar, berlesung pipit dengan kulit kecoklatan, seperti bapak mereka yang asli Betawi. Tinggi badan Diro juga jauh di atas Dira, setinggi 185cm, meski Dira yang tingginya 165cm juga tidak pendek bila dibandingkan dengan rerata perempuan Indonesia. “Mobil lo kenapa lagi sih? Kok sering banget masuk bengkel akhir-akhir ini,” Celetuk Diro saat Dira mendudukkan Tasya di kursi belakang. “Servis rutin aja ah, ngga kenapa-kenapa,” Jawab Dira sekenanya. Ia lalu duduk di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman. “Masa sih? Yakin bukan gara-gara itu mobil udah tua?” Diro menyelidik. “Ngga setua itulah, baru juga 8 tahun usianya. Masih oke kok mesinnya,” “Ganti aja kalau emang udah sering rusak, swift keluaran baru kan ada juga yang warna itu,” Saran Diro, yang tahu kalau saudara kembarnya memang tipe yang sekali suka sesuatu, bakal tidak berubah sampai berapa dekade. “Ya, nantilah kalau memang udah gak bisa diselamatin,” Dira cepat-cepat mengiyakan, lalu mengganti topic pembicaraan supaya Diro tidak membahas kondisi mobilnya lagi, “Lo lagi santai ya? Kok bisa jemput gue hari ini,” “Gue lagi ngurangin jam kerja dari jumat sore sampe minggu dan pas hari libur nasional, jadi Cuma buat emergency aja. Lisa protes karena gue tiap tanggal merah gak ada di rumah,” “Namanya juga dokter.” Dira tertawa, “Jadi praktek lo kapan aja sekarang?” “Senin sampai jumat pagi di RSAB, siangnya gue ke RSBP. Sore senin sampai kamis di klinik,  jumat sore sampai minggu gue kosongin.” “Jadi weekday penuh ya dari pagi sampai sore? Jadwal operasi sama jadwal praktek ya itu lo penuhin di hari kerja?” “Yoi. Mendinganlah jadi sabtu minggu bisa barengan. Kecuali kalau ada pasien gue yang emergency di hari libur, nah itu baru gue datang. Tapi kalau operasinya terjadwal, sekarang gue jadwalkan weekday saja.” “Berarti nanti lo libur kan pas tahun baru? Gue udah book kamar di resort Mr. Matsumoto tuh, connecting door ama kamar gue.” “Pasti dong, Lisa udah ngomong dari dua minggu lalu. Tasya juga semangat banget mau liburan ke pantai lagi.” Diro mengangguk. Tak terasa mereka sudah hampir tiba di rumah Diro dan Lisa, yang memang tidak jauh dari kantor mereka. Setidaknya seminggu dua kali Dira memang selalu makan malam di rumah Lisa, karena Lisa bilang dia kasihan kalau melihat Dira makan sendirian, padahal Dira sendiri tidak masalah makan sendirian dan takut merepotkan kalau terlalu sering ke rumah Lisa. “Hmmm enak banget wanginya, masak soto betawi ya?” Dira berkomentar saat melihat Lisa sibuk di dapur rumahnya yang modern dan bernuansa putih. Meski memiliki dua asisten rumah tangga, untuk urusan  memasak Lisa lebih sering mengerjakannya sendiri karena dia memang suka berkutat di dapur, beda dengan Dira yang lebih suka jajan dan makan di luar. “Iya, kesukaan lo nih,” Jawab Lisa sambil memotong tomat. Dira tersenyum lebar. “Mau dibantu apa?” “Udah, duduk aja sama Diro dan Tasya. Udah selesai selesai kok ini.” Lisa meminta salah satu asistennya membawakan panci berisi soto ke meja, sementara ia sendiri membawa toples isi emping. “Makanan siaap!”  “Asiiik,” Tasya berteriak kegirangan sambil meminta Dira duduk di sampingnya. Berempat mereka makan malam sambil bercerita. “Bunda, Tasya udah kenyang.” Tasya berkomentar sambil mengelus perutnya yang membuncit. Dira dan Diro tertawa geli melihat tingkah balita ini. “Oke deh,” Lisa mengangguk, “Tasya sikat gigi ya sama bi Yeni, terus ganti bajunya jadi piyama. Bi, tolong Tasya ya,” yang langsung dijawab oleh ART Lisa, Yeni. “Nanti ayah bacakan buku ya sebelum tidur,” Ucap Diro. Tasya mengangguk sambil mengusap matanya, kelihatan mulai lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD