Chapter 6: Dira dan Arya

1687 Words
Diro, Lisa dan Dira lalu melanjutkan makan makan sembari mengomentari berita yang mereka tonton di stasiun TV lokal. “Ya ampun, ada lagi ya pejabat daerah ditangkap karena korupsi,” Lisa berkomentar, “Banyak juga jumlah uangnya, sampai 20 miliar,” Celetuk Diro. Dira hanya diam sambil menonton pembaca berita. “…. Tersangka saat ini sudah berada di kantor kepolisian sambil dimintai keterangan. Sementara itu, pengacara tersangka Arya Giandra menyebutkan bahwa kliennya hanya berstatus sebagai saksi…” Dira tersedak saat melihat seseorang yang sangat familiar muncul di layar televisi. Arya. Masih dengan rambut cepak dan hidung mancungnya yang khas, meski badannya sedikit lebih berisi tapi Dira masih mengenalinya dengan sangat baik. “Eh, ganti ganti,” Diro yang juga kaget melihat Arya muncul di tv dengan panik beranjak dari kursi dan mengambil remote tv. Lisa mendengus malas. “Iya, ganti aja. Males banget liat muka itu orang.” Kemudian tatapan matanya beralih ke Dira, yang sedang minum air putih untuk menghilangkan tersedaknya. “Lo ngga apa-apa kan?” “Ngga kok, santai. Cuma kaget aja tadi.” Dira tersenyum kecut. Lisa menatap iba, seperti tahu perasaan Dira. “Dia masih ada ngehubungin elo ngga sih?” Tanya Lisa. Dira menggeleng. “Ngga lah, terakhir yang pas gue baru pindah ke sini aja.” “Awas aja kalau berani ngontak elo, gue gebukin juga itu orang,” Komentar Diro dengan wajah serius. Dira tertawa.  Dia tahu kembarannya ini tipe yang anti kekerasan dan lebih suka mengalah, tidak seperti Lisa yang lebih suka konfrontasi.  Tapi kalau sudah membahas  Arya, Diro terasa jauh lebih berbahaya. “Lebay ah. Kejadian udah lama juga. Udah gue maafin kok dia.” “Lo sih maafin, tapi gue sama Diro nggak akan pernah maafin dia. Berani-beraninya dia selingkuh terus bilang elo yang salah, dan setelahnya masih minta balikan, udah gila kali itu orang,” Lisa mencecar sambil menusuk-nusuk daging di piringnya. Dira terkekeh. “Sabar bun,” Diro berkata sambil mengelus punggung Lisa. “Tapi udah lama gue gak denger kabar dia, sekarang dia udah jadi partner ya di law firm yang waktu itu?” Lanjut Lisa. “Mungkin, gue juga nggak pernah googling soal dia lagi sih.” Dira hanya mengangkat bahu. Dia memang sudah tidak pernah lagi mencari tahu soal Arya, takut luka lamanya terbuka lagi kalau terlalu banyak kepo soal mantannya ini. “Kalau inget jaman kita kuliah dia suka minta bantuan elo ngerjain tugas dan belajar, suka pinjam uang juga, terus lo juga dulu yang bantu dia kerja di law firm itu, masih ngga habis pikir gue ya kenapa dia dulu bisa setega itu.” “Gue malah bersyukur gue gak jadi nikah sama dia. Setidaknya gue tahu dia selingkuh sebelum nikah.” Dira menjawab santai. Lisa dan Diro mengangguk. “Udahlah, ngga usah bahas dia lagi.” Diro menutup pembicaraan. “Ra, lo mau nginap sini gak malam ini?” “Gue pulang aja ah, banyak kerjaan.” Tolak Dira. Diro mengangguk lalu beranjak untuk mengambil kunci mobilnya, yang kemudian dicegat Dira. “Gue naik taksi online aja, lo ngga usah anter, kan tadi lo janji mau bacain buku si Tasya,” “Serius?” “Iyaa. Belum terlalu malam juga kok.” Dira menjawab santai sambil membuka aplikasi taksi online di hapenya, kemudian memanggil taksi yang tersedia. Tidak butuh waktu lama, taksi tersedia dan sudah berada di dekat rumah. Dira lalu berjalan ke teras rumah ditemani Lisa dan Diro. “Makanya Ra, lo pindah juga dong kesini. Masih ada loh di jalan ini rumah yang belum ditempatin, bokap bilang emang belum dijual ke siapapun, disiapkan untuk elo supaya kita bisa deketan,” Komentar Lisa sambil menunjuk salah satu rumah di sebelah kanan rumahnya. Dira hanya tertawa. Sama seperti kompleks ruko mereka yang dimiliki oleh Sunland, kompleks perumahan tempat Lisa dan Diro juga dibangun oleh Sunland milik ayah Lisa. Kompleks ini adalah salah satu kompleks perumahan mewah paling tua di Batam, dan hampir seluruh keluarga besar Lisa tinggalnya tersebar di komplek ini. “Kan gue udah bilang, gue udah betah tinggal di ruko gue, ukurannya pas buat wanita single kaya gue, deket kantor juga, tinggal turun tangga udah sampe. Rumah disini besar-besar banget, buat gue belum perlulah.” “Kalo ngga lo tinggal di rumah gue aja sini, ada dua kamar kosong.” Bujuk Lisa, Diro mengangguk semangat. “Ogaahhh gue males lo cerewetin mulu,” Tolak Dira mentah-mentah sambil tertawa keras. Lisa ikut tertawa. “Sembarangan, gue gak cerewet kali, gue ini care sama elo.” “Iyee iye. Eh itu taksi gue udah datang. Gue pulang dulu yak. Makasih lho malem ini,” Ucap Dira sambil melangkah masuk ke mobil taksi onlinenya. Lisa mengangguk. “Hati-hati Dir,” Diro melambaikan tangannya, diikuti Lisa. Dira tersenyum lalu menutup jendela mobil. “Udah pak, jalan saja.” Mobil Avanza ini lalu bergerak menembus jalanan Batam di malam hari. Dira termenung menatap keluar jendela, pikirannya berputar ke Arya dan kejadian empat tahun lalu. Empat Tahun Lalu… “Selamat ulang tahun, sayang. Maaf ya aku ngga bisa ngerayain sama kamu hari ini. Dua hari lagi aku pulang, nanti kita rayain ya.” Dira berkata di telepon. “Ngga apa-apa sayang, aku tahu kerjaanmu kan sibuk. Kamu istirahatlah, ini udah jam 12 malam.” Jawab Arya di ujung telepon. Dira tersenyum geli. Dia sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah Arya yang pasti kaget saat tahu dia sebenarnya sudah pulang dari tugas luar kotanya dan ingin memberi surprise party pada Arya yang sedang berulang tahun ke 26 di apartemennya. “Iya, hoaaahm,” Dira pura-pura menguap. “Aku tidur duluan ya, selamat ulang tahun sayang. I love you.” “Ya, see you soon.” Ucap Arya, lalu mematikan telepon. Dira kemudian bersiap menyalakan lilin dan setelah menunggu beberapa saat, ia lalu keluar dari ruangan tangga darurat, tempatnya bersembunyi selama lima belas menit. Dira sebelumnya tidak pernah memberikan pesta kejutan seperti ini, tapi Dira merasa karena akhir-akhir ini dia dan Arya masing-masing terlalu sibuk sehingga jarang menghabiskan waktu bersama, dia ingin  memberikan sesuatu yang special untuk ulang tahun Arya ke enam yang telah mereka habiskan bersama. Selain menyiapkan kue ulang tahun bernuansa coklat kesukaan Arya, Dira juga sudah menyiapkan jam tangan mahal yang ia tahu diincar Arya dari lama.  Dengan hadiah jam tangan di tas ranselnya dan kedua tangan sibuk memegang kue tart, perlahan Dira berjalan ke kamar apartemen Arya. Baru saja ia ingin mengeluarkan kunci cadangan untuk membukanya, tiba-tiba ia tersadar pintu kamar Arya sedikit terbuka. “Wah, dia kayanya terlalu mengantuk sampai lupa mengunci pintu.” Komentar Dira dalam hati.  Dengan hati-hati, Dira mendorong pintu perlahan agar tidak membangunkan Arya. Kondisi ruang tamu gelap, tapi Dira bisa melihat ada cahaya dari kamar Arya, yang berarti Arya belum tertidur. Sambil mengendap, Dira berjalan dan lalu membuka pintu kamar Arya lebar-lebar. “Surprise!!!” Dira berteriak sambil tersenyum lebar. Ia mengira akan melihat Arya tersenyum bahagia, tapi yang ia lihat malah Arya sedang berciuman dengan perempuan lain di atas tempat tidurnya. “Dira?!!” Arya, berkata, shock. Langsung buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dira hanya bisa melongo, senyumnya berubah menjadi ekspresi yang tidak kalah terkejut saat ia menyadari bahwa Arya sedang bersama perempuan lain yang juga bersusah payah menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut. “Kirana?” Dira mengenali perempuan ini, salah satu rekan kerja terdekat Arya di kantornya. Dira pernah beberapa kali bertemu Kirana dan tidak pernah curiga atas hubungan Arya dan Kirana. “Kalian…” “Aku bisa jelaskan, Dir.” Arya memotong ucapan Dira. “Ini tidak seperti yang kamu kira,” “Nggak, ini persis seperti yang lo kira,” Kali ini Kirana yang memotong ucapan Arya. “Gue sama Arya udah pacaran selama setahun ke belakang,” “Hah?” Dira semakin melongo. Sungguh dia tidak bisa berkata apapun. “Kirana!” Bentak Arya, “Bukan Dir, bukan begitu, dia salah,”  “Salah darimana??” Semprot Kirana pada Arya. “Jelas-jelas kita emang pacaran. Lo sendiri bilang sama gue, lo mau putusin dia karena lo gak tahan sama dia yang terlalu cupu, gak mau diapa-apain kalau belum nikah. Cuma gue yang bisa muasin elo di ranjang kan?” “Hah?” kata-kata Kirana rasanya seperti palu godam menghantam hati Dira. Dira cuma bisa menunduk, susah payah menahan air matanya sambil menatap kue tart cokelat kesukaan Arya bertuliskan ‘Happy 26th Birthday, Sayang’. “Baguslah sekarang dia tau yang sebenarnya. Jadi gue saranin, lo sekarang pulang aja ya Dir. Lupain Arya. Dia udah jadi milik gue.” Kirana mengibas tangannya ke arah Dira. Seperti kerbau dicucuk hidung, Dira berputar balik dan melangkah keluar dari kamar Arya. “Dir, tunggu!” Dira bisa mendengar Arya mengejarnya keluar kamar, mengabaikan ancaman Kirana. “Dir, dengerin dulu penjelasanku,” Arya menarik tangan Dira hingga kue yang ia pegang terjatuh. Dira hanya bisa menatap kelu melihat kue tart yang sudah ia pesan dari jauh-jauh hari dan bayar mahal kini teronggok di lantai. “Kirana salah mengerti, aku selama ini cuma main-main sama dia. Calon istriku tetap kamu kok.” Arya memegang kedua tangan Dira, berusaha menenangkan Dira. Dira hanya bisa menatap kosong, masih tidak percaya akan apa yang terjadi. “Kamu pasti paham kan, kebutuhan biologis laki-laki? Aku nggak bisa nunggu kamu selama itu sampai kita menikah, dan aku juga gak mau maksa kamu. Jadi ya aku main sama dia. Tapi ini gak serius, orang yang kusayang, Cuma kamu Dir.” Bujuk Arya, yang berdiri di depannya hanya mengenakan handuk. Dira tertegun, masih tidak bisa tahu harus merespon apa. “Dir, coba lihat aku.” Arya berkata dengan suara lembutnya, sambil mengangkat dagu Dira hingga menatapnya.  “Kamu mengerti kan, perasaanku?” Tanya Arya lagi. Dira hanya diam, sambil bersusah payah menahan air matanya. Orang yang selama ini ia cintai, yang ia yakini adalah pria terbaik untuknya, calon suaminya, ternyata dengan mudahnya bermain api tanpa merasa bersalah. Tiba-tiba rasa sedih di hati Dira berganti menjadi amarah luar biasa. Tapi ia masih tidak kuasa untuk berkata apapun pada Arya. “Tolong…” setelah beberapa saat, akhirnya Dira mampu bersuara. “Tolong jangan hubungin aku lagi.” Dira berlari keluar kamar, meninggalkan Arya dan hubungan mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD