Chapter 7: Ternyata

1455 Words
Adya POV “Selamat pagi, selamat datang di Montigo Resorts, apakah sudah reservasi sebelumnya?” Resepsionis menyapa Adya dengan ramah. “Atas nama Adyatma Effendi, mba. Saya dari Paydo, undangan Jalantrip.” Jawab Adya sambil memberikan KTP-nya. “Selamat datang Pak Adyatma, baik pak, kamar sudah disiapkan, silakan duduk sambil menikmati welcome drink dan welcome snack ya pak, saya akan menyiapkan kunci kamarnya dahulu.” Adya mengangguk sambil berjalan ke arah sofa merah besar yang ada di tengah lobi resor. Suasana resor cukup ramai karena malam ini malam tahun baru. Sebetulnya Adya tidak terlalu tertarik menghabiskan waktu di tempat ramai saat liburan nasional, tetapi karena Jalantrip mengundang Adya dan Feri untuk bermalam dua hari di resor untuk menghadiri acara tahunan mereka bersama resor ini, jadi Adya tidak enak untuk menolak. Apalagi Feri memaksa menemaninya, padahal Adya juga disini sendiri, sementara Feri akan menginap sekamar dengan Elina, istrinya untuk bulan madu mereka yang kesekian. Adya meminum jus jambu yang disediakan resor sembari  melihat sekeliling. Sofa yang disediakan cukup banyak dan besar, dan ia duduk menghadap ke arah pintu masuk. Saat akan menaruh gelas di atas meja, pandangannya tertuju pada sepasang lelaki dan wanita yang baru saja masuk, berjalan menuju ke arah resepsionis. Adya mengenali lelaki itu, tapi dari mana ya ia pernah melihatnya? Sembari berpikir keras, Adya tanpa sadar memperhatikan lelaki itu. Kemudian ia tersadar, lelaki ini yang ia lihat dua minggu lalu bersama Sadira di depan kantor pengacaranya. Sadira, wanita misteriusnya. Meski sempat terkejut saat melihat Dira bersama suami dan anaknya,  Adya tetap tidak dapat menahan diri untuk mencari nama kantornya di internet, dan memang benar, Dira adalah seorang pengacara, dan ruko yang waktu itu ia lewati adalah kantornya. Tetapi Adya tidak dapat menemukan akun media sosialnya selain linkedin dan website kantornya, dan ini merupakan hal yang aneh di zaman yang serba social saat ini. Adya merasa Sadira sangat menjaga privasinya,  karena ia bahkan tidak dapat mengonfirmasi status pernikahan Sadira. “Bukannya dia suami Sadira? Siapa wanita itu?” Adya menggumam dalam hati, matanya fokus pada kedua sejoli yang sekarang berdiri di depan meja resepsionis, tangan si lelaki memeluk pinggang si wanita, sementara si wanita, yang bukan Dira, menjawab pertanyaan resepsionis sembari sesekali menoleh ke arah si lelaki dengan penuh cinta. Melihat kemesraan mereka, tanpa sadar Adya mengepalkan tangan, marah. Berani benar lelaki ini selingkuh? Sungguh rasanya Adya ingin melabrak lelaki itu, tapi ia menahan diri. “Tenang, Adya. Ini bukan urusanmu. Kamu bahkan nggak kenal sama Sadira.” Adya berkata dalam hatinya sambil menengguk  sisa jus jambunya, berusaha menenangkan dirinya. Perasaannya campur aduk, di satu sisi dia marah pada sang lelaki, di sisi lain dia bingung dengan perasaannya sendiri, kenapa terlalu terbawa perasaan dengan seseorang yang baru ia temui sekali dan tidak ia kenal langsung. Adya masih termenung sampai tidak mendengar panggilan Feri. “Dy!” Feri berteriak lebih keras sambil mendekati Adya. “Eh, Fer!” Adya terkaget, lalu mengalihkan pandangannya dari kedua sejoli tadi. “Udah check in?” Tanya Feri. “Udah, lagi disiapin kartunya.” “Ya udah, gue check in juga, cottage kita sebelahan kok.” Feri lalu berpaling pada istrinya, Elina yang memakai topi pantai dan gaun bunga. “Kamu tunggu sini ya, tolong ajak ngobrol Adya, kalau ngga dia bengong terus tuh kaya tadi,” sindir Feri sambil tersenyum jahil. Elina tertawa lalu duduk di sofa seberang Adya. “Enak jus jambunya?” Tanya Elina, mengambil gelas welcome drink yang tersedia di meja. “Lumayan,” Adya menjawab, berusaha menahan diri untuk tidak melihat kembali ke arah dua sejoli tadi. Baru saja Elina ingin meminum jusnya, tiba-tiba ada yang memanggil, “Mba Elin!” betapa terkejutnya Adya saat melihat lelaki dan wanita itu berjalan ke arah sofa tempatnya dan Elina duduk. “Lisa! Kamu sama Diro, mau menginap disini juga?” Elina berdiri dan tersenyum cerah. Ia lalu memeluk Lisa dan menyalami Diro. “Iya mba, kaget banget aku pas papasan sama mas Feri. Mba menginap dua malam juga kan? Aku juga loh, ih senangnya bisa rame-rame yaa..” perempuan itu menepuk tangannya gembira. Lelaki bernama Diro di sebelahnya pun ikut tersenyum lebar. Adya hanya bisa menatap keduanya bingung. Apa yang terjadi? “Oh iya!” Elina tersadar, “Kenalkan, ini bos sekaligus temennya Feri, Adya.” Elina berpaling pada Adya yang langsung berdiri. “Ini Lisa, sepupuku. Yang itu Diro, suaminya.” Meski penjelasan Elina tetap tidak menghilangkan rasa marah Adya, Adya tetap berusaha tenang. “Wah, akhirnya ketemu juga sama bos Paydo!” Lisa menyalaminya ramah. “Adya,” Adya berusaha tersenyum. Kemudian ia menyalami Diro. “Diro.” Diro tersenyum cerah, Adya hanya mengangguk sambil tersenyum kecut.  “Tasya mana? Ikut ngga?” Elina bertanya pada Lisa. “Ikut dong, tadi ketiduran di mobil makanya turun belakangan. Tuh dia,” Lisa menunjuk ke seorang anak yang memasuki pintu masuk resor. Betapa kagetnya Adya saat melihat anak perempuan yang waktu itu ia lihat, berjalan masuk bersama baby sitternya yang mengenakan seragam putih. “Bunda, kapan kita berenang?” sang anak bertanya pada Lisa sambil mengucek matanya. ”Oke, bentar lagi ya. Eh ini ada tante Elin, salam dulu tuh.” Kata Lisa. Balita itu menurut dan menyalami Elina, lalu Adya. Adya hanya diam, masih berusaha menerka dalam hatinya. “Lis, nih kunci kamar lo sama Diro dan Tasya.” Lamunan Adya dikagetkan oleh seorang wanita yang mengenakan jeans biru panjang dan kaos putih oversize serta sepatu keds warna biru. Matanya tertutup kacamata hitam. Sadira.   Dira POV “Thanks.” Jawab Lisa. “Dir, lo inget kan sama mba Elin? Mba Elin, ini loh Dira, kembarannya Diro, sobatku yang pengacara itu, dulu pernah ketemu loh sekali waktu syukuran lahirannya Tasya.” “Inget dong, halo Dira!” Elina memeluk Dira. “Kita kan sama-sama Belieber. Inget banget aku sempet ngobrolin Justin sama dia, Cuma lupa terus mau nanya nomor teleponnya sama Lisa.” “Mba Elin! Hai!” Dira tertawa. “Duh seneng bisa ketemu mba Elin lagi. Udah denger album baru Justin kan?” “Udaaaah. Eh sebelum lupa, Kenalin Dir, ini bos sekaligus temennya suamiku, Adya.” Elina menunjuk lelaki yang berdiri di sampingnya. “Dira,” Dira mengulurkan tangannya. “Adya,” Lelaki itu tersenyum ramah dan menggengam tangannya erat. Ntah kenapa, mukanya terlihat familiar, tapi Dira lupa pernah bertemu lelaki ini di mana. “Kok sepertinya kita pernah bertemu ya Pak?” Tanya Dira, penasaran. Dimana ya ia bertemu lelaki ini? Apakah ia bekerja di salah satu perusahaan kliennya? “Pernah.” Adya mengangguk, masih tersenyum lebar. “Sebulan lalu, mba Dira membantu menggantikan ban mobil di Nongsa,” “Oh iya!” Dira menepuk kepalanya. “Saya lupa banget pak, maaf. Mobilnya aman kan bannya sekarang?” “Aman, terima kasih banyak ya mba, atas bantuannya waktu itu. Senang bisa bertemu lagi. Sepertinya saya masih belum membalas jasa mba Dira waktu itu.” “Tidak apa-apa pak, benar, bukan hal besar kok.” Dira melambaikan kedua tangannya. Adya hanya tersenyum. “Loh, mas Adya yang waktu itu lo bantu ganti ban ya Dir?” Celetuk Lisa. “Bukannya kata lo bapak-bapak? Masih muda gitu kok bapak-bapak sihh.. aww!” ucapannya terhenti karena Dira mencubit pinggang Lisa, gemas atas sikap Lisa yang ceplas ceplos. Diro dan Elina tertawa. Adya hanya tersenyum, terlihat geli. “Wajar sih kalo Adya dipanggil bapak,” Tiba-tiba Feri datang sambil tersenyum lebar, “Halo, ketemu lagi ya Dira.” Dira mengangguk sambil melambaikan tangannya. “Ini kunci kamar lo Dy.” Feri menyerahkan kunci kamar pada Adya. “Cottage kalian dimana?” Elina bertanya pada Lisa. “Sea view mba nomor 15 dan 16,” jawab Lisa. “Ih, dekat dong! Kami di cottage nomor 17 dan 18.” Jawab Feri sambil mengecek kartu kamarnya. “Kalian diundang juga kan ya acara nanti malam?” “Iya dong, berkat Dira nih.” Jawab Lisa. “Resort ini kan klien dia. Jadi hampir tiap tahun kalau ada acara, dia pasti disuruh datang.” Dira hanya mengangguk. “Paydo juga ada acara disini ya?” Tanya Diro. “Undangan dari Jalantrip, kami baru saja finalisasi kerjasama dengan mereka.” Jelas Feri. “Wah, Jalantrip kan kalau tidak salah satu sponsor acara tahunan disini ya Dir.” Komentar Lisa. Dira kembali mengangguk. “Bunda, ayo berenang..” Tasya mulai merengek. “Lis, kalian ke kamar duluan deh. Kasian Tasya ingin berenang. Nanti malam kita ketemu kan di acaranya.” Elina berkata pada Lisa. “Oke deeh. Ayo mba Elin, mas Feri, kami pamit ke kamar duluan, Sampai bertemu nanti malam ya.” Lisa melambaikan tangannya, kemudian berjalan ke arah bellboy yang telah siap dengan troli barang mereka. Dira mengangguk pada Adya, yang sedari tadi terus menatapinya. Ada apa ya? Apa ada sesuatu di wajahku? Dira berlalu sambil memegangi wajahnya, heran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD