Adya POV
Adya meletakkan kopernya dekat pintu dan langsung berbaring telentang di tempat tidur, tidak menghiraukan pemandangan pantai Nongsa yang menghampar biru di jendela kamarnya.
“Haaah……” Adya menghela napas sembari menutup mata dengan punggung tangan kanannya. Ia masih tidak percaya atas kejadian barusan di lobi hotel. Perempuan yang akhir-akhir ini selalu muncul dalam pikirannya tiba-tiba hadir kembali. Sejak mengira bahwa Dira sudah menikah saat melihatnya bersama Diro dan Tasya, Adya sudah tidak terlalu penasaran dengan Dira lagi seperti sebelumnya. Tetapi mereka malah dipertemukan kembali secara tidak sengaja, dan bahkan bisa berkenalan resmi. Pertanda apakah ini?
“Nomor telepon!” Adya terbangun tiba-tiba. “Gue lupa minta nomor telponnya.. ARGHHHHH!!!” Erangnya. Meskipun bisa saja ia meminta nomor telpon Dira lewat Elina, tetap saja ia tidak enak kalau tiba-tiba menghubungi Dira tanpa sebab. Bisa saja Adya mengontak Dira melalui nomor telepon kantornya yang ada di websitenya, tetapi Adya urung, karena Adya tahu, Dira tidak memberi tahu nama lengkap dan alamat kantornya tadi saat berkenalan.
Kemudian Adya teringat bahwa nanti malam mereka sudah janji bertemu lagi bersama saat acara resor. “Oke, tenang Adya. Minta saja nanti pas makan malam.” Ucapnya pada dirinya sendiri. Adya mengangguk mantap, lalu tersadar saat menatap dirinya sendiri mengangguk di cermin kamar. “Gue udah gila kali ya. Segininya demi cewek yang gak gue kenal.”
Adya memalingkan muka dan berjalan ke arah jendela kamar lalu membukanya. Ia berdiri di balkon sambil menikmati pemandangan pantai di siang yang cerah. Suasana dari kamarnya sangat sunyi, hanya terdengar deburan ombak. Tiba-tiba telepon kamar Adya berbunyi.
“Dy, jangan lupa ya kita meeting 15 menit lagi sama direktur Montigo. Siap-siap ya.” Feri mengingatkan.
“Oke.” Jawab Adya lalu mematikan telepon. Pikirannya langsung terfokus dengan urusan pekerjaannya. Salah satu alasan lain mengapa Feri dan Adya diundang ke acara Montigo resort ini adalah karena resort ini juga ingin bekerja sama dengan Paydo untuk melayani pembayaran dalam website reservasi mereka. Resort ini memiliki banyak cabang di dalam dan luar negeri, dan karena Paydo adalah salah satu alat pembayaran digital yang digemari di Indonesia, untuk lebih memudahkan orang Indonesia mereservasi kamar di website mereka, maka resort ini juga menginginkan Paydo untuk integrasi dengan sistem mereka di website. Sehingga di masa depan, bagi wisatawan yang ingin reservasi kamar baik melalui aplikasi Jalantrip maupun melalui website resmi, bisa membayar menggunakan Paydo. Sebenarnya untuk urusan ini tidak perlu Feri atau Adya yang bergerak langsung dan meeting dengan potential user, tetapi karena kantornya telah libur dan kebetulan bertepatan dengan undangan Jalantrip hari ini, jadi sekalian saja.
Adya mengganti celana pendeknya dengan celana bahan berwarna abu panjang, dan menggunakan blazer di atas kaos polo biru dongker yang sudah ia kenakan. Setelah memakai sepatu, ia membawa tas laptopnya keluar kamar cottagenya untuk menunggu Feri di depan kamarnya. Resort ini berlokasi di pantai Nongsa, tidak jauh dari kantornya dan merupakan resort yang sering ia datangi dengan Feri untuk makan siang sebelumnya. Meski cukup akrab dengan suasana resort ini, Adya memilih datang bersamaan dengan Feri ke lokasi meeting di gedung utama, tempat meeting akan diadakan. Sambil menunggu, iseng Adya melihat ke cottage seberang, yang seharusnya merupakan kamar Dira. Tetapi cottage tersebut tampak sepi.
“Sori, kelamaan ya?” Ucap Feri sambil menutup pintu kamarnya. Adya hanya menggeleng. Beriringan mereka lalu berjalan ke arah gedung utama, melewati barisan cottage sea view. Resort ini memiliki beberapa jenis kamar, kamar yang standar hingga superior ada di gedung utama. Sementara yang Feri dan Adya tempati berbentuk bungalow, atau disini sebutannya cottage, yang berbentuk rumah-rumah kecil, dengan pemandangan langsung menghadap pantai. Masing-masing cottage terdiri dari dua kamar.
“Bener kan kata gue, lo pasti ketemu dia lagi.” Feri mengulum senyumnya. Adya tersentak. Ia tidak menyangka Feri akan mengingat ceritanya sebulan lalu tentang Dira. Karena setelah hari itu, Adya tidak pernah membahas apapun soal Dira, bahkan Adya juga tidak cerita kalau sebetulnya dia sudah pernah melihat Dira lagi dan berasumsi ia sudah menikah.
“Kok…” Belum selesai Adya bertanya, Feri sudah memotongnya.
“Gue dengar tadi kalian bicara, lo aja yang gak sadar ada gue disitu.” Feri tertawa lepas. Adya melengos. “Lo masih penasaran sama dia kan? Makanya lo ingat terus kapan pernah ketemu dia.”
“Kadang takjub gue sama ingatan lo, Fer. Bisa-bisanya lo inget cerita sekilas gue waktu itu. Giliran hal penting lain soal kerjaan , lo suka lupa.” Sindir Adya balik. Feri makin terkekeh.
“Ingat dong, kapan lagi gue bisa lihat lo dimabuk asmara.” Lanjut Feri tanpa dosa. Adya berkernyit mendengar bahasa Feri. Memang hanya Feri yang paling tidak tanggung kalau sudah mulai mengata-ngatainya.
“Asmara apaan sih? Lo kalo lebay melulu mending balik kamar deh, biar gue sendiri aja yang meeting.” Adya berkata gusar. Feri hanya tertawa sambil tetap berjalan di sampingnya. Tidak terasa mereka sudah mauk gedung utama dan berada di lorong dekat ruang meeting.
“Agendanya hari ini, finalisasi teknis dan penandatanganan kontrak ya.” Feri mengingatkan Adya sebelum melangkah lebih jauh ke arah pintu ruangan. “Draf kontrak yang minggu lalu lo setujui juga sudah di Ok sama lawyer kita, kalau masalah teknis, sama seperti biasa, tim IT mereka sama developer kita yang bakal join sampai benar-benar smoothless sistemnya.”
“Oke,” Adya mengangguk, lalu membuka pintu ruangan itu. Di dalamnya, duduk dua orang lelaki yang sedang mengobrol bersama seorang wanita berambut panjang yang mengenakan blazer abu dan celana abu. Salah seorang lelaki berusia cukup uzur dan sepertinya orang asing karena Adya mendengarnya berbicara menggunakan bahasa asing, Adya berasumsi beliau adalah Mr. Matsumoto, direktur perusahaan resort ini. Sementara lelaki satunya orang Indonesia yang usianya kira-kira 40 tahunan, mengenakan kacamata berwarna hitam dan sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya. Sepertinya lelaki ini adalah Pak Bagaskoro, manajer IT resort ini.
“Selamat datang Pak Feri, Pak Adya,” Pak Bagaskoro menyambut ramah sambil menyalami mereka. “Ini Mr. Matsumoto, direktur kami.” Mr. Matsumoto mengenggam tangan Adya dengan erat.
“Ha – ro, saya Matsumoto.” Katanya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata dan logat Jepang yang kental.
“Saya Adya, terima kasih atas waktunya, pak.” Adya tersenyum. Mr. Matsumoto mengangguk-angguk antusias.
“Ini pengacara kami, Ibu Dira.” Lanjut pak Bagaskoro. Adya tertegun. Dia bahkan baru sadar kalau perempuan tadi yang mengobrol dengan Mr. Matsumoto adalah Dira. Adya tidak mengenalinya karena Dira mengenakan baju dan gaya rambut yang berbeda dengan yang saat bertemu di lobi hotel.
“Baru saja tadi kenalan ya pak.” Dira menyalaminya sambil tersenyum cerah. “Ini pak, kartu nama saya.” Lanjut Dira sembari menyerahkan kartu namanya. Adya memperhatikan kartu nama Dira, hatinya membuncah saat melihat nomor telepon pribadi Dira terpampang jelas disitu.
“Ini, kartu nama saya juga.” Dengan sigap Adya mengambil lalu menyerahkan kartu namanya ke pada Dira, Mr. Matsumoto dan Pak Bagaskoro. “Mungkin nanti kita bakal sering kontak, Mba.” Adya tersenyum pada Dira, yang dibalasnya dengan anggukan.
“Wah iya, kita ketemu lagi ya Dira. Saya tidak menyangka, ternyata Dira akan ikut meeting ini juga.” Komentar Feri. Adya bisa melihat senyum penuh makna Feri di balik komentarnya itu.
“Saya juga tidak menyangka Mas, saya tahu soal kerjasama resort ini dengan Paydo tapi saya baru ngeh kalau ternyata CEO dan COO nya itu Pak Adya dan Mas Feri.”
“Loh, Ibu Dira kenal ya dengan Pak Adya dan Pak Feri?” Tanya pak Bagaskoro. Mr. Matsumoto hanya diam, mungkin tidak memahami obrolan yang terjadi.
“Mas Feri suami sepupunya ipar saya pak,” jelas Dira. Dira lalu berbicara sesuatu dalam bahasa Jepang pada Mr. Matsumoto, dan Mr. Matsumoto lalu mengangguk-angguk paham. Adya tertegun sambil memandangi Dira. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Dira secepat ini, untuk urusan professional lagi. Dan ntah kenapa, di setiap pertemuan Dira selalu memberikan kejutan dengan keahliannya yang tidak biasa. seperti saat ini, ketika Dira selain hadir sebagai pengacara juga sebagai penerjemah pribadi Mr. Matsumoto.
“Baik, mari kita mulai dengan agenda pertama…” Pak Bagaskoro membuka rapatnya. Rapat pun dimulai.
……………….
Dua jam berlalu, finalisasi teknis dan kontrak telah selesai ditandatangani. Rapat berjalan sangat lancar, sedikit banyak karena Dira yang dengan mudah menjelaskan isi perbincangan rapat kepada Mr. Matsumoto, serta menerjemahkan feedback Mr. Matsumoto kepada Adya dan Feri. Dira juga memahami benar isi kontrak antara resort dan Paydo, dan telah menegaskan beberapa isi ketentuan yang ambigu sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Dalam hati, Adya sangat bersyukur dengan kehadiran Dira hari ini. Kalau saja kantor mereka tidak memiliki perjanjian retainer dengan kantor pengacara mereka di Jakarta, mungkin Adya akan langsung meminta Dira menjadi pengacara Paydo. “Terima kasih banyak ya Pak Adya, Pak Feri.” Pak Bagaskoro menyalami Adya dan Feri.
“Terima kasih pak.” Ucap Adya. “Terima kasih, Mr. Matsumoto.”
“Terima Kashi,” Mr. Matsumoto menjawab dengan senyumnya yang hangat. “Maramu datang?” tanyanya lagi, tapi dengan aksen yang sulit dipahami Adya.
“Mr. Matsumoto bertanya apakah nanti malam Pak Adya jadi datang ke acara resort?” Dira menjelaskan. Adya mengangguk.
“Tentu saja,”
“Ada penampilan special dari artis ibu kota pak, jadi jangan sampai tidak datang ya pak.” Pak Bagaskoro menimpali. “Selamat menikmati liburan dua hari ini ya Pak Adya dan Pak Feri. Kalau ada perlu apa-apa, silakan kontak resepsionis ya pak. ”
“Terima kasih banyak, bapak-bapak, dan mba Dira, kami pamit dulu ya, mau istirahat sebentar di kamar sebelum acara nanti malam.” Feri undur diri, diikuti Adya. Sebenarnya Adya ingin menunggu Dira lalu berjalan kembali ke arah kamarnya bersama Dira, tapi ketika melihat Dira masih asyik berbincang dalam bahasa Jepang dengan Mr. Matsumoto, Adya mengurungkan diri.
“Sampai bertemu nanti malam ya Mas Feri, Pak Adya,” Dira melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Adya tanpa sengaja tersenyum juga. Duh, rasanya lututnya makin lemas dibuatnya.