Chapter 9: Dekat

1592 Words
Adya POV Malam yang dinanti telah tiba. Acara malam tahun baru di Montigo Resort diselenggarakan di ballroom hotel, dengan meja-meja bulat untuk tamu menikmati makan malam sambil menonton penampilan bintang tamu. Menurut Feri, acara ini sebetulnya bukan acara yang dibuka untuk umum, hanya untuk karyawan, pelanggan vip resort serta pihak kolega bisnis resort. Karena acaranya adalah acara resmi, malam ini Adya mengenakan jas coklat dengan celana pasangannya, dipadu baju kaos turtleneck lengan panjang warna hitam. Acara mulai jam 9 malam dan selesai jam 12 malam setelah bel tanda tahun berganti dibunyikan. “Dy, kita kumpul di depan cottage jam 9 kurang 15 ya.” Feri berkata melalui telepon hotel. “Elina sudah janjian sama Lisa dan Dira untuk berangkat ke ballroom barengan.” “Oke.” Jawab Adya pendek lalu menutup telpon, berusaha tidak terdengar salah tingkah karena akan bertemu Dira lagi. Adya mulai mengakui, setidaknya pada dirinya sendiri, bahwa dia memang tertarik pada Dira.  Seluruh kegugupan ini baru pertama kali terjadi padanya.  Adya pernah pacaran sebelumnya tapi dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Adya sedari dulu adalah tipe yang menerima yang datang dan tidak mengejar yang pergi. Biasanya, seorang perempuan duluan yang suka padanya dan terus-terusan berusaha mendekatinya hingga Adya menyerah dan mengiyakan ajakan pacarannya. Setelah pacaran pun Adya tidak pernah merasa repot-repot menjaga hubungannya dan hanya berperilaku seperti biasa, karena ia tahu, perempuan yang mendekatinya biasanya hanya tertarik karena hartanya, dan pada akhirnya mereka juga yang memutuskannya karena tidak tahan dengan sikap Adya yang dingin. Tapi kali ini berbeda. Adya penasaran, ingin tahu segala hal tentang Dira. Ingin berbincang lebih banyak dan ingin lebih dekat dengannya.  Adya merasa sangat beruntung hari ini karena ia mengiyakan ajakan Feri menginap di resort ini dan menghadiri rapat dengan direktur resort. Dia jadi bisa berkenalan dan bahkan sekarang memiliki kontak pribadi Dira, semuanya terjadi sangat alami. Ditambah lagi, setidaknya dua hari ke depan, dia bisa bertemu dengan Dira. Siapa tahu dengan upayanya selama liburan ini, dia bisa lebih menaikkan statusnya di mata Dira, dari yang sekedar kolega, menjadi seorang teman. Jam 9 kurang 15 teng Adya keluar dari kamarnya. Di saat yang bersamaan, Dira juga keluar dari kamar di seberangnya. Baru kali ini Adya melihatnya berdandan serapih itu, dan dia semakin terpesona. Dira mengenakan gaun pesta di bawah lutut berlengan pendek berwarna ungu tua dengan mutiara. Rambutnya digerai dan ia hiasi dengan bando bermutiara juga. Dira juga mengenakan aksesoris berupa anting dan kalung mutiara yang senada dengan bandonya. Tapi tentu saja, ia masih mengenakan sneakers, kali ini yang berwarna putih tulang. Make up nya juga sama seperti biasa, hanya make up tipis dengan lipstick berwarna nude. Adya tersenyum simpul, rasanya semakin salut dengan Dira yang selalu bisa mempertahankan ciri khasnya dalam situasi apapun. “Selamat malam, Pak Adya.” Sapa Dira sambil melangkah mendekatinya. Adya tersenyum. “Selamat malam, mba Dira. You look beautiful.” Puji Adya, reflex. Hampir ia menyesalinya, takut menyinggung Dira, tapi Dira hanya tersenyum. “Thank you, you too, Pak.”  “Maaf, jangan panggil pak bisa? Rasanya seperti di kantor saja.” Pinta Adya. Ia agak keberatan dengan cara Dira memanggilnya, karena merasa jadi ada dinding tebal di antara mereka. “Panggil nama saya saja boleh.” “Wah, bapak kan lebih tua dari saya.” Dira menggeleng cepat. “Saya panggil Mas Adya saja ya, seperti Mas Feri. Tapi mas Adya juga tidak perlu panggil saya mba, panggil nama saja. Saya kan lebih muda.” “Nah, gitu boleh. Much better.” Adya menghela napas lega. Satu dinding sudah mulai terlewati. “Sudah pada siap ya?” Feri memanggil dari depan pintu kamarnya, diikuti Elina. Di saat yang bersamaan, Diro dan Lisa juga keluar. “Maaf ya mba agak lama, nungguin Tasya tidur dulu.” Kata Lisa pada Elina. “Aku juga baru selesai dandan kok,” Elina tersenyum. “Ada yang nemenin Tasya kan?” “Ada baby sitternya kok, dia sekamar sama Dira, dan kamar kami ada connecting doornya.” Jawab Lisa. “Ya udah, yuk jalan,” Feri mengomandoi. Mereka berenam pun berjalan menyusuri pelataran cottage sea view menuju gedung utama. Feri menggandeng Elina, Diro mengaitkan lengannya dengan Lisa. Kedua pasangan asyik mengobrol santai.  Di belakangnya, Adya dan Dira berjalan mengikuti dalam diam. “Kok jadi kaya triple date ya,” Adya bergumam dalam hatinya, sambil menatap Dira yang berjalan santai di sampingnya. Tiba-tiba Dira menoleh ke arah Adya. “Ada apa mas? Ada sesuatu kah di muka saya?” Tanyanya pada Adya. Adya gelagapan. “Eh oh, ng, nggak kok nggak ada apa-apa!” Adya menggeleng cepat. Kaget karena ternyata Dira sadar diperhatikan. “Kirain ada apa,” Dira nyengir. “Penasaran saja, sudah berapa lama Dira bisa bahasa Jepang?” Adya bertanya untuk mengalihkan rasa gugupnya. “Sudah dari kuliah mas. Saya pernah dapat beasiswa pertukaran pelajar setahun di Jepang saat kuliah. Makanya saya lulusnya sedikit lebih lama.” Dira menjawab lugas. “Setahun di Jepang? Tapi bahasa Jepangnya terdengar lancar sekali, hebat lho.” Puji Adya tulus. “Saya sudah belajar bahasanya dari SMA mas, lalu setelah pulang dari pertukaran pelajar di Kyoto, saya teruskan belajar bahasa Jepang sampai dapat sertifikasi. Mayoritas orang Jepang di Indonesia tidak bisa berbahasa asing, jadi saya merasa perlu mengakomodasi mereka.” Jelas Dira. “Ooh, iya iya.” Adya mengangguk-angguk. “Mas Adya sendiri, kenapa kok dulu terpikir mendirikan Paydo?” “Biar memudahkan masyarakat saja, kan membuat rekening bank itu ribet ya. Terus kalau belanja online lebih sering ditanya kartu kredit, sementara tidak semua rakyat punya kartu kredit. Jadi saya kepikiran membuat pembayaran digital yang mudah, dapat diakses melalui handphone, diisi saldonya gampang, ditarik juga mudah, bisa transfer ke rekening bank bahkan bisa untuk bayar belanja online.” Tutur Adya. “Waah, keren sekali mas.” Komentar Dira. “Keren? Apanya yang keren? Perasaan biasa saja ah.” “Keren niatnya, memudahkan masyarakat. Dan memang tercapai kan mas, sekarang semuanya jadi mudah kalau mau transaksi cashless semenjak ada Paydo.” Lanjut Dira. Adya tersipu. Susah payah ia menahan senyumnya agar tidak terlihat terlalu terpengaruh. Padahal dia bahagia sekali rasanya, ketika mendengar Dira memuji niatnya membangun Paydo, bukan sekedar memuji valuasi,  dan keuntungannya saat ini. “Wah, sudah sampai. Sepertinya ruangannya sudah ramai. Ayo mas kita masuk, cari meja kita.” Ajak Dira. Tidak terasa mereka sudah tiba di ballroom gedung utama. Adya mengangguk, dia terlalu focus mengobrol dan memperhatikan Dira sampai tidak sadar kalau kedua pasangan di depan mereka sudah hilang ntah kemana. Ruangan ballroom ini besar, bernuansa putih dan bunga. Di dalamnya ada sekitar belasan meja bulat berisi kursi dengan nama-nama reservasinya. Atas permintaan Dira pada pihak resort, mereka berenam bisa duduk satu meja, yang lokasinya di pinggir tapi agak sedikit ke dekat panggung. Feri dan Elina duduk di sebelah kanan meja, Diro dan Lisa di sebelah kiri, menyisakan kedua kursi di bagian belakang meja untuk Dira dan Adya. Acara berjalan sangat meriah. Sembari menikmati full course meal yang disediakan hotel, tamu bisa menyaksikan acara yang terus berganti di panggung ballroom yang megah. Mulai dari sambutan Mr. Matsumoto dan perwakilan dari Jalantrip, pemberian penghargaan pada karyawan terbaik, stand up comedy dengan bintang tamu komedian nasional, acara pentas seni yang sudah disiapkan karyawan, hingga beberapa artis ibu kota. Tidak terasa, jam sudah memasuki penghujung tahun. “Meriah banget ya acaranya!” Komentar Lisa pada Dira. “Eh, bentar lagi udah mau jam 12, siapa ya artis utamanya? Penasaran banget!” Adya hanya diam memperhatikan. “Nggak tau, Pak Desmon bilang rahasia biar surprise, katanya artis terkenal banget!” jawab Dira. Matanya berbinar-binar terlihat sangat bersemangat. “Baiklah, mari kita mulai countdownnya!” MC Acara mengomandoi di atas panggung. Layar di panggung kini berubah  menampilkan angka.  “Kita mulai hitung bersama-sama ya, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1! Selamat Tahun Baru!” suara tamu ballroom riuh  membahana bertepuk tangan. Terdengar juga suara kembang api dan terompet dari pelataran resort, tanda perayaan tamu resort. Adya bertepuk tangan sambil memperhatikan wajah Dira yang tersenyum cerah. Hatinya terasa senang karena bisa mengawali tahunnya bersama Dira. Dia merasa, tahun ini akan menjadi tahun yang berbeda daripada sebelumnya. “Untuk menutup acara, mari kita sambut, penampilan utama yang sudah ditunggu-tunggu, Tristan!” Suara tamu ballroom bergemuruh makin kencang ketika penyanyi terkenal Tristan keluar dan memasuki panggung.  Lisa dan Elina, sudah sewajarnya, terlihat sangat senang, karena Tristan adalah solois muda, ganteng yang sudah lama terkenal dan digandrungi para wanita Indonesia. Lagu-lagunya juga selalu diputar di radio sehingga Adya cukup familiar dengan lagunya. Adya lalu menoleh ke arah Dira di sampingnya, dan betapa kagetnya ia saat melihat ekspresi Dira yang shock lalu berubah menjadi muram. Ada apa? “Ya ampuuun artisnya Tristan!! Gilaaa gak percaya bisa lihat Tristan langsung!” Seru Lisa senang pada Dira. Dira hanya mengangguk-angguk, terlihat berusaha tersenyum. Hanya Adya yang sadar bahwa Dira kini tampak tidak nyaman berada disana, sungguh beda dengan ekspresinya sebelum Tristan keluar. “Gue ke toilet terus balik duluan ya, asli udah ngantuk banget,” Kata Dira pada Lisa, saat Tristan menyanyikan sebaris lagu pertamanya. ”Serius? Ya udah hati-hati ya!” Jawab Lisa sambil melambaikan tangannya, terlihat tidak fokus karena sambil memperhatikan Tristan. Dira mengangguk pelan dan melambai pada Adya, sementara Diro, Feri dan Elina bahkan tidak sadar karena terlalu terpaku pada Tristan yang bernyanyi di panggung. Adya mengangguk sambil terus memperhatikan Dira yang berjalan keluar ballroom. Di saat semua orang asyik  dan senang bisa berkesempatan langsung menonton Tristan, Dira yang terlihat buru-buru keluar dengan ekspresi wajah yang muram sungguh terlihat kontras. Ada yang aneh, pikir Adya. Adya kemudian beranjak dari kursinya dan menyusul Dira.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD