Dunia Aneh

1709 Words
Dunia yang sangat menakutkan, sendirian tanpa bisa mengenali apa yang telah terjadi pada diriku sendiri. Berjalan sendirian hingga menemukan banyak ke anehan di dalamnya. Tanpa di sadari hingga akhirnya menemukan sebuah keajaiban yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Ternyata banyak cerita yang tidak pernah terlepas oleh ingatan yang menjadi nyata ketika di kehidupan yang sebenarnya. -Arthemis Amysthyst Matcha. "Bagaimana rasanya? Apakah sudah lebih enakan dari sebelumnya?" tanya wanita itu dengan sangat lembut. "Iya, rasanya lebih enak dari sebelumnya. Kau apakan tubuhku hingga bisa seperti ini?" tanyaku dengan bingung. "Aku hanya mengobatinya dengan perasaan cinta dan kasih sayang aaja, aku tidak melakukan apapun yang lebih dari itu, aku hanya mencabut rasa sakit yang ada di dalam diri kamu saat ini, hanya itu saja." "Tapi, karena kamu aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya di obati. Terima kasih sudah mengobati semua lukaku saat ini." Wanita itu tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Itu sudah menjadi kewajibanku. Kamu adalah anak yang baik tidak sepantasnya kamu mendapatkan hal yang seperti ini. Kamu juga anak yang manis. Tidak sepantasnya kamu mendapatkan perlakuan yang buruk saat ini." "Aku sudah biasa mendapatkan ini semua. Ini adalah sebuah hal yang biasa. Apalagi apa yang selalu mereka lakukan denganku. Rasanya semuanya benar-benar sudah biasa, bentakan, hingga cambukan sudah sering aku rasakan sampai tubuhku suka lupa bagaimana caranya menikmati kenyamanan dunia." "Tidak, mereka tidak seharusnya melakukan itu semua kepadamu. Karena kamu adalah orang yang sangat di butuhkan. Jika mereka selalu melakukan apa yang mereka inginkan dan menyakiti kamu secara terus menerus sama saja mereka membuang sebuah berlian demi sebuah hal yang semu di dalam dunia ini." "Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanyaku dengan sangat bingung. "Suatu saat kamu akan mengetahui semuanya. Karena seiring berjalannya waktu kamu akan mengetahui apa yang seharusnya kamu ketahui nantinya. Sekarang lebih baik kamu beristirahat terlebih dahulu agar semua kekuatan yang ada di tubuhmu pulih." "Kekuatan?" tanyaku dengan bingung. "Maksudku adalah staminamu. Jika kamu saja tidak beristirahat maka siapa yang nantinya akan merapikan rumah ini? Jika sekarang kamu tenang saja. Aku yang akan membantumu dalam mengerjakan semuanya. Sekarang istirahatlah." Aku menatap wanita itu dengan tatapan yang aneh. Menurutku wanita ini sangat cantik dan sangat baik. Ternyata masih banyak orang baik seperti malaikat seperti ini di dunia ini. Aku tersenyum dengan manis dan menatapnya dengan dalam. "Terima kasih sudah selalu ada dan selalu mengisi hari-hari kami semua. Aku gatau apa yang harus aku katakan lagi kepadamu selain kata terima kasih saat ini." "Kamu sudah mengatakan banyak hal yang sama. Tidak seharusnya kamu mengatakan hal itu kepadaku. Karena ini adalah tugasku. Tenang saja semuanya akan aman." "Kau wanita yang sangat cantik. Tidak seharusnya kamu merasakan semua ini, aku akan membawamu dan menjagamu dengan sepenuh hatiku. Kamu tenang saja," ucap wanita itu. "Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu datang di saat aku membutuhkanmu saat ini?" tanyaku dengan bingung. "Aku akan mengenalkan diriku setelah kita pergi dari sini. Sekarang kamu fokus membaca buku itu dan menghapalnya dengan baik." "Kenapa aku harus menghapal mantra yang ada di dalam buku ini?" tanyaku lagi. "Kau akan membutuhkan semua mantra itu, kau harus hapal di luar kepala semua mantra yang ada di dalamnya. Jika tidak, maka kau akan terjebak. Aku bisa saja membantumu, cuma jika aku membantumu kau tidak tahu siapa kamu sebenarnya." "Apa maksudmu? Bukannya ini adalah tempatku? Aku hanya seorang anak yatim piatu yang selalu menyulitkan orang lain?" tanyaku. "Tidak, kamu bukan orang seperti itu. Sudah ya, fokus membaca itu dan aku akan setia menunggumu di sini. Kalau kau membutuhkan apa-apa tinggal bilang kepadaku," ucap wanita itu. Aku langsung teringat belum mengangkat pakaian kering di atas jemuran. Aku langsung menutup buku itu dan bangkit dari sofa. Wanita itu menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. "Mau kemana?" tanya wanita itu. "Aku ingin membereskan rumah lagi," jawabku seadanya. "Untuk apa kau mengerjakannya? Bukannya di rumah ini memiliki banyak wanita? Kenapa hanya kau sendiri yang bekerja?" tanya wanita itu. "Aku hanya mengerjakan apa yang seharusnya aku kerjakan. Kalau aku tidak mengerjakannya aku akan terkena hukuman yang sangat kejam," jawabku dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita itu mendekat ke arahku dan memelukku dengan pelan. Aku membalas pelukannya dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukannya. "Kau tidak harus melakukan itu semua. Sudah cukup penderitaan yang harus kamu tanggung selama ini. Aku akan membawamu ke sebuah dunia yang sesungguhnya. Kau harus tersenyum, bangkitkan rasa kecewa, senang, bahagia, dendam, kasih sayang, menjadi satu kesatuan." Aku melepaskan pelukannya dengan pelan dan menatap wanita itu dengan tatapan yang berkaca-kaca. Wanita itu mengusap mataku dengan lembut dan tersenyum dengan manis ke arahku. "Untuk apa aku melakukan itu semua?" tanyaku. "Untuk kau bisa melakukan itu semua. Kamu harus menunjukkan jati dirimu yang sesungguhnya. Jangan sampai kau menjadi orang lain dan menyiksa apa yang ada di dalam dirimu saat ini." Aku mengusap air mataku yang menetes ke arah bawah dan menahan tangis di di hadapan wanita itu. Aku mencoba mengingat apa yang telah mereka semua lakukan kepadaku. Mengingat apa yang telah mereka lakukan aku mengepalkan tangan dengan sangat kencang dan bersumpah akan menghabisi mereka semua. "Suatu saat aku akan membalas semuanya kepada kalian, aku akan menunjukkan siapa aku sebenarnya. Jadi, jangan harap kalian bisa lepas dari tanganku." Aku mengepalkan tangan dengan kencang dan menatap ke arah depan dengan tatapan kebencian. Wanita itu hanya tersenyum senang ketika aku mengepalkan tangan dengan kencang dan mengeluarkan kebencian yang ada di dalam diriku kepada orang kejam. "Ucapkan kata-kata ini," ucap wanita itu dengan lembut. Aku mengambil buku itu dan membaca setiap kata demi kata yang ada di buku itu dengan cepat. "Sia portal lao pragmatiko kosmo hisbrada kriposyar," ucapku dengan lantang. Tak lama kemudian liontin yang ada di leherku mengeluarkan cahaya dan sebuah cahaya itu keluar memenuhi tubuhku. Cahaya itu sangatlah terang sehingga membuatku tiba di sebuah tempat yang sangat mirip dengan hutan. Di sinilah aku berada sekarang, aku berada di sebuah hutan yang benar-benar sangat aneh menurutku. Yah, meskipun penampilan hutan ini biasa saja sama seperti hutan pada umumnya namun suasana di hutan ini sangat tidak biasa. Aku memegang buku itu dengan pelan dan melihat sekelilingku mencari wanita yang bersamaku di ruangan tadi. Aku terus mencari wanita itu di sekelilingku namun nihil wanita itu tidak ada di sampingku saat ini. "Kemana wanita itu? Lalu, aku sekarang berada di mana? Kenapa suasana di hutan ini sangat berbeda dengan hutan pada umumnya?" gumamku dengan pelan. Aku berjalan menyusuri hutan ini, menurutku hutan ini sangat begitu luas. "Akhhhhh......." terdengar suara rintihan seseorang membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh dan mencari suara itu dengan rasa takut. Namun, rasa takut sangatlah kalah dengan rasa penasaran yang aku miliki. Aku ingin mengetahui siapa yang merintih dari arah belakangku tadi. Aku melihat semak belukar yang sedang bergoyang-goyang tidak jelas di depanku. Aku mendekat ke arah semak-semak yang sedang bergoyang itu untuk memeriksa apa yang terjadi di baliknya. Tiba-tiba seekor makhluk keluar dari semak-semak itu membuatku kaget sekaligus takut. Aku dengan reflek memukul kepalanya dengan buku yang aku bawa tadi. Aku memejamkan mataku dengan takut, aku tidak membuka mataku sama sekali dan membuat tubuhku gemetaran. "Hei apa yang sedang kau lakukan saat ini?" tanya binatang itu, aku langsung membuka mataku dengan cepat dan melihat makhluk yang sedang terbang di hadapanku saat ini. "Aetos?" ujarku sambil terkejut melihat burung rajawali peliharaanku berada di depanku saat ini. "Loh, Mysty? Akhirnya setelah sekian lama kita tidak bertemu. Akhirnya aku menemukanmu di sini," ujar Aetos, sehingga membuatku untuk memukul kepalanya kembali karena terkejut. "Ya! Tidak bisakah kamu menghentikan pukulanmu kepada kepalaku saat ini?" tanya Aetos sambil mengerang kesakitan. "Hmmmmm, b--ba---bagaimana bisa kau berada di sini? Dan b--ba---bagaimana kau?" tanyaku dengan gelagapan. "Berbicara? Itu maksudmu? Tentu saja, aku bisa berada di sini. Inilah tempatku yang sesungguhnya. Aku ini bukan Rajawali biasa. Aku ini Rajawali milik Chaos," ujar Aetos sambil mengelus kepalanya dengan pelan menggunakan sayapnya. "Chaos? Bukannya dia seorang yang sangat di takutkan di dunia fantasi. Kenapa kau bisa mengenalnya?" tanyaku dengan bingung. "Tentu saja, semua orang tahu tentang Chaos. Dia adalah orang yang paling kuat di dunia ini dan sangat terkenal dengan kekejamannya kepada orang yang melakukan kejahatan," ujar Aetos dengan kesal. "Tapi, bagaimana bisa?" tanyaku dengan heran. "Chaos membuat sebuah perjanjian dengan Ayahmu dengan bayaran Ibumu kembali hidup dan selalu berada di sebelahnya," ucap Aetos membuatku sangat bingung. "Bagaimana Ayah membuat sebuah perjanjian dengan dengan Chaos? Sedangkan Ayah sendiri meninggal dunia?" tanyaku sambil mengingat kejadian masa lalu yang membuatku sedih karena mengingat hal itu. "Aku tidak bilang jika itu Fransisko dan Arnemis, yang ku maksud adalah ayah kandungmu. Fransisko dan Arnemis adalah salah satu penasehat ayahmu. Ia bukanlah orang tua kandungmu yang sebenarnya," jelas Aetos. Pernyataan dari Aetos membuat aku terkejut bukan main dan memikirkan apa yang baru saja ia katakan. Aku langsung berdiam diri dan menelaah apa yang baru saja Aetos katakan. "Jadi, selama ini aku bukan anak kandung dari mereka? Berarti aku bukan salah satu dari keluarga Matcha? Kenapa mereka semua melakukan itu? Kenapa mereka menyembunyikan semua ini dariku?" tanyaku dengan nada yang kecewa. "Jangan salah sangka. Itu adalah memang nama aslimu, namamu itu Arthemis Amysthyst Matcha, dan bukan berarti nama belakangmu itu nama margamu di bumi. Mereka memang keluarga Matcha tapi kamu bukan dari marga itu. Namamu masih ada tambahan di belakangnya namun itu masih tidak di ketahui," jelas Aetos. Aku menelaah semua perkataan demi perkataan yang di saampaikan oleh Aetos. Tanpa terasa air mataku mengalir deras di kedua pipiku saat ini. Rasa kecewa dan rasa tidak enak sangat mendominasi di dalam kehidupanku saat ini. "Jadi, selama ini aku bukan anak kandung dari orang tua yang selama ini merawaku? Kenapa mereka menyembunyikan ini semua? Kenapa mereka menyayangiku seperti anak mereka sendiri?" tanyaku. "Mereka memiliki alasannya sendiri. Kau harus menerima semuanya. Lebih baik kamu jangan menangis dan memikirkan hal yang tidak-tidak terjadi." "Tapi, kenapa mereka melakukan itu?" tanyaku. "Sudahlah, lebih baik kita pergi ke IAS (Immortal Academic School), di sana kau akan tinggal. Naiklah ke punggungku kita akan terbang menuju sana," ucap Aetos sambil membungkukkan badan di hadapanku saat ini. "Tempat apa itu?" tanyaku dengan bingung. "Di sana kau akan mempelajari banyak hal. Cepatlah naik ke punggungku, aku akan mengantarkanmu ke sana sekarang juga." Aku naik ke atas punggung Aetos dan berpegangan dengan pelan di kepalanya saat ini. Aetos mulai mengepakkan sayapnya membuatku menggenggam erat bulunya agar tidak jatuh ke bawah. Kami terbang menuju Immortal Academic School, aku dapat melihat banyak sekali pepohonan yang ada di bawahku saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD