Sangat tersiksa dan sangat menyiksa kehidupan. Menjadi seseorang yang terasingkan dan di sakiti sangat bisa membuat kita lelah dan ingin meninggalkan semuanya. Terkadang melihat apa yang terjadi saat ini dan apa yang kita rasakan sama sekali terasa sangat nyata dan tidak adil. Izinkan aku untuk pergi tanpa kembali ke kehidupan yang seharusnya. Itu hanyalah sebuah permintaan kecilku saja akhir-akhir ini. Semoga Tuhan bisa mengabulkan semuanya.
-Arthemis Amysthyst Matcha.
Aku terdiam dan menatap datar ke arah depan. Rasa sakit sangat menjalar ke seluruh tubuhku, lemas. Itulah yang aku rasakan saat ini, seluruh tubuhku sangat lemas dan tak berdaya.
Mereka meninggalkan aku seorang diri di dalam kamar mandi. Setelah melihat mereka semua pergi dari kamar mandi aku memeluk lututku dengan pelan dan menangis di dalamnya.
"Salah apa aku? Kenapa mereka bisa sekejam ini?" tanyaku di dalam hati.
Aku mengepalkan tangan dengan kencang dan menahan semua amarah yang aku rasakan saat ini. "KENAPA!" teriakku dalam hati.
"Kenapa?! Kenapa?! Kenapa semuanya terjadi padaku? Kenapa mereka terlalu jahat padaku? Aku ada salah apa sama mereka? Aku melakukan kejahatan apa sampai mereka seperti ini kepadaku?"
Aku menangis sejadi-jadinya membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini kepadaku. Bukan hanya siksaan fisik yang mereka lakukan kepadaku melainkan sebuah siksaan batin juga mereka berikan langsung saat ini. Rasanya benar-benar sakit ketika semuanya terngiang di kepalaku saat ini. Banyak memori dan kejahatan yang benar-benar tidak masuk akal dan alasan yang klasik yang sudah sering di gunakan.
"Ayah, Bunda, aku sudah tidak kuat lagi. Aku sudah lemah saat ini. Izinkan aku menyusul kalian, izinkan aku memeluk kalian untuk kesekian kalinya. Di sini aku hanya di siksa seperti seorang binatang yang tak memiliki hati," ucapku dalam hati.
Aku menangis sambil memeluk lututku sendiri. Tak ada yang dapat membelaku saat ini, hanya Ayah angkat. Itu kalau ia ada di rumah, kalau tidak mereka akan tetap menghukum ku dengan sangat kejam.
Aku langsung bangkit dari tempat duduk dengan hati-hati. "Shhhhhh......... s----s-----s-akit sekali rasanya," rintihku dengan pelan.
"Shhhhh------"
Aku berjalan dengan tertatih-tatih menuju bathub dan membasuk mukaku dengan pelan. Tanpa terasa, hidungku keluar sebuah darah yang sangat kental. Rasa pusing sangat mendominasi saat ini.
"Shhhhh------ Kenapa ini sakit sekali? Rasanya aku sangat tidak sanggup melihat dunia lagi. Ayah, Bunda tolong bantu aku agar selalu bisa kuat menghadapi semuanya."
Aku terjatuh dan memegang kepalaku dengan sangat pelan. Pusing, itulah yang aku rasakan. Benar-benar sangat berat dan sangat sakit sekali kepalaku saat ini. Seperti di pukul menggunakan sebuah batu yang sangat besar.
Aku mencoba bangkit dari tempat duduk dan mencoba mengingat apa yang akan aku lakukan dan harus aku perbuat hari ini. Rasa itu semuanya hilang ketika aku harus membersihkan seluruh rumah ini dan melakukan pekerjaanku. Jika aku tidak melakukannya maka mereka semua menyiksaku lebih parah dari ini. Apalagi Ibu yang sangat kejam kepadaku ketika aku tidak mendengarkan apa yang ia katakan.
"Shhhhh...... Aku harus kuat, aku gak boleh lemah. Aku kuat!" tekatku dalam hati.
Aku membersihkan darah itu dan keluar dari kamar mandi dengan jalan yang sempoyongan menuju ke arah dapur. Setelah, sampai aku membereskan semua pekerjaan rumah sambil menahan rasa sakit yang aku rasakan.
Dari mulai mencuci piring hingga mengepel lantai aku kerjakan tanpa mengganti pakaianku yang sudah lusuh dan ada bercak darah di baju itu. Setelah selesai melakukan semuanya, aku langsung berjalan ke arah kamar untuk mengobati lukaku.
Aku mengambil kotak P3K dan membawanya ke dalam kamar. Aku membuka baju dan melihat banyak lebam yang ada di sekujur tubuhku. Lebam berwarna biru keunguan yang sangat sakit ketika di pegang. Aku mengambil sebuah salep khusus untuk luka lebam. Aku mengobatinya dengan sangat pelan dan menangis tertahan.
"Shhhhh....... Kenapa ini sangat menyakitkan?" tanyaku sambil menitihkan air mata.
"Apakah semenyakitkan ini jika ikut dengan orang? Apakah sesedih ini jika tinggal bersama orang lain? Apakah semenakutkan ini dalam melihat dunia luar? Kenapa banyak orang yang tega melakukan hal yang tidak berprikemanusiaan seperti ini?" gumamku dalam hati.
"Sikap mereka sangatlah berbeda. Ayah yang selalu baik dan selalu mengerti apa yang aku inginkan di tambah apa yang aku rasakan selalu Ayah pahami. Tapi, anak dan istrinya berbanding terbalik dalam sikapnya. Seperti langit dan bumi, surga dan neraka, atau bahkan seperti malaikat dan iblis. Mereka sangat berbeda 360 derajat."
"Jika bisa memilih semua sikap manusia yang ada di dunia ini maka aku akan memilih untuk selalu bersama orang-orang seperti Ayah saat ini. Namun, aku pikir gak akan mungkin bisa seperti itu. Karena semuanya gak akan berjalan semulus itu dalam sebuah kehidupan ini."
"Pasti ada yang namanya lika-liku dan jalan cerita lainnya agar bisa menjadi sebuah bumbu yang sangat sedap ketika di ceritakan di masa yang akan datang. Itulah yang aku rasakan saat ini."
Tes!
Satu tetes darah keluar dari hidungku dan terjatuh di atas celana. Darah itu terlihat sangat merah dan kental, aku terus menangis melihat darah itu dan luka lebam yang ada di atas tubuhku.
Selesai mengobati luka lebam yang ada di sekujur tubuhku, aku memakai pakaianku dan membersihkan darah yang terus keluar dengan deras dari hidungku. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur dengan pelan. Rasa nyeri sangat terasa ketika aku terbaring di atas tempat tidur.
"Shhhhhh, Ayah, Bunda, ini sangat menyakitkan. Aku sangat tidak kuat melihatnya dan merasakan semua ini," gumamku sambil menangis sesenggukan.
Aku memejamkan mataku dan terlelap di alam mimpi bersama rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Tiba-tiba ada seseorang yang membangunkan aku dengan kencang.
"Bangun!" teriak orang itu di samping telingaku.
Aku yang merasa kaget dengan teriakan itu langsung terbangun dan duduk di atas ranjang. "Shhhhhh......sakitnya," rintihku dengan pelan.
"Sakit?" tanya orang itu dengan datar.
Aku menoleh ke arah sumber suara dan betapa kagetnya aku melihat Andra dan Grilly yang menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
"Lo bilang sakit? hahahah mau nangis darah pun kita smeua gak peduli sama lo. Karena kita semua yang ada di rumah ini pada gak suka sama lo," ucap Grilly sambil tertawa kencang.
Andra menarik daguku dengan kencang dan menatapku dengan tatapan yang tajam. "Dengerin gue baik-baik, lo itu gak boleh mengadu apapun kepada Ayah. Damai ayah tau tentang kejadian ini, liat aja lo akan tanggung akibatnya. Bahkan kita bisa melakukan lebih daripada ini."
Aku terdiam dan tersenyum tipis mendengar ucapan dari Andra. Grilly berjalan mendekati aku yang sedang di cekam bagian dagu dengan keras.
"Jika satu kata keluar dari mulut lo yang enggak-enggak. Gue bisa motong kaki lo dengan cepat, atau gak tangan mulus lo ini akan menjadi baret-baret luka yang sangat banyak. Jadi, lo harus turutin semua perkataan kita."
Mereka berdua mengancam ku dengan tatapan yang sangat dingin. Aku yang merasa terpojokkan menggenggam tangan dengan kencang dan menanamkan kebencian kepada mereka semua.
"Gue sama Ibu akan pergi, di rumah gak ada orang. Jaga rumah baik-baik ya. Awas kalau sampai ada yang hilang, tanggung akibatnya."
Mereka semua pergi meninggalkan kamarku dan membanting pintu dengan sangat keras. Aku berjalan ke arah kaca yang ada di dalam kamar ini. Di depan kaca aku melihat mukaku yang sembab dan sulit di artikan saat ini.
Aku mengusap kaca tersebut dengan pelan sambil melihat wajahku di masa lalu. Wajah yang sangat berubah drastis dari yang wajah bahagia hingga berubah menjadi bengap dalam satu waktu.
Aku menangis melihat itu semua. Berjalan ke bagian lemari tempat menyimpan buku yang di berikan Ayah kandungku di dalam mimpi. Aku mengambil buku itu dan mengelus buku itu dengan pelan.
Setelah melihat cover buku itu dengan pelan dan membukanya. Aku membaca di bagian awal buku itu dengan pelan dan mempraktekkan semuanya dengan pelan. Aku mulai menghapal mantra yang ada di buku itu.
Setelah selesai menghapal mantra yang ada di situ aku mulai berjalan mengendap-endap ke lorong kosong yang tak pernah di temui orang lain di rumah ini.
Aku turun ke bawah dan mengintip bagian luar, apakah ada orang di luar yang sedang berkeliaran. Melihat kondisi semuanya aman, aku langsung keluar dan berjalan menuju lorong tersebut.
Sesampainya di sana.
"Huft, lega. Untung saja mereka semua sudah pergi dari rumah ini. Jadi, aku bisa membaca buku sambil bersantai di ruangan nyaman."
Aku berjalan mendekati arah pintu itu dan membukanya dengan mantra yang ada di tembok ruang. Pintu itu perlahan terbuka dan terlihat sebuah cahaya yang sangat terang, bahkan lebih terang dari sebelumnya.
"Kenapa ini sangat begitu terang? Bukankah kemarin tidak seterang ini?" tanyaku dalam hati.
Aku berjalan masuk ke dalam dan melihat ke sekelilingnya ruangan ini. Ruangan ini tampak seperti tidak ada yang aneh atau yang lainnya. Di sini hanya ada beberapa tambahan barang yang menurutku sangat asing.
"Sudahlah aku akan membaca buku ini saja. Untuk mengelilingi ruangan ini, nanti saja."
Aku berjalan duduk ke bagian sofa panjang yang ada di dalam ruangan itu sambil membaca buku mantra yang di berikan Ayah. Tiba-tiba ada seorang wanita cantik datang menghampiriku dan tersenyum manis.
Aku yang melihatnya langsung terkejut. "Siapa kamu?" tanyaku dengan nada panik.
"Tenang, jangan panik. Aku tidak akan mengganggu kamu. Aku orang baik ko, aku akan menjaga kamu di sini."
"Siapa kamu sebenarnya?" tanyaku dengan sangat bingung.
"Kau tidak perlu tau siapa aku sebenarnya. Karena aku akan selalu ada di samping kamu di saat apapun itu. Jangan merasa lelah saat ini. Pelajari ini dengan baik dan selalu pegang buku ini dengan baik. Karena, aku akan mengajakmu ke dunia yang sesungguhnya."
"Dunia yang sesungguhnya?" tanyaku dengan bingung.
"Iya, dunia yang sesungguhnya. Aku akan mengajakmu ke duniamu yang sesungguhnya. Karena kamu bukan asli dunia ini," jelas wanita itu dengan sangat lembut.
"Jika katamu aku bukan dari dunia ini. Maka, darimana asalku saat ini?" tanyaku dengan bingung.
"Aku akan mengajakmu ke sana. Sekarang, kau pejamkan matamu. Aku akan mengobati semua rasa sakit dan luka yang ada di sekujur tubuhmu."
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku dengan bingung.
"Tidak, aku tidak akan melakukan hal apapun yang menyakitimu. Karena tugasku di sini akan selalu menjagamu dengan sepenuh hati dan seluruh hidupku akan terus menjadi pengikutmu."
Aku memejamkan mataku dengan perlahan, wanita itu mendekat ke arahku dan menempelkan tangannya ke arah badanku. Rasa sakit dan dingin menjalar ke seluruh tubuhku saat ini.
"Shhhhhh........" ringisku dengan pelan.
Namun rasa sakit itu perlahan-lahan seakan mulai sirna dan mulai terjadi rasa nyaman dan nikmat. Rasa nyeri yang ada di seluruh tubuhku lama-lama terasa hilang seketika.
"Bukalah matamu dan lihatlah banyak kehidupan yang akan menanti kamu," ucap wanita itu dengan lembut.
Aku perlahan-lahan membuka mataku dengan pelan dan menatap sekelilingku dengan tatapan yang sangat terang. Wanita itu tersenyum dengan pelan dan mengelus puncak kepalaku dengan pelan.