Kekuatan Yang Sebenarnya

1715 Words
Kekuatan yang sebenarnya adalah rasa percaya diri. Jika kita semua merasa percaya diri dan mengumpulkan apa yang kita punya dan menunjukkan semuanya di depan orang lain. Maka di situlah nilai plus yang ada di diri kalian akan terlihat. Tapi, jika kalian selalu di hantui oleh rasa takut dan khawatir dengan apa yang akan kalian lakukan, maka kalian akan kehilangan banyak hal yang seharusnya kalian dapatkan. Teori baru, kehidupan baru, kekuatan, dan keadilan tidak akan selalu datang kepada kalian jika kalian tidak melakukannya secara terlambat. Maka, sering-seringlah melakukan banyak hal yang memang seharusnya karena itu adalah sebuah kewajiban kita. -Arthemis Amysthyst Matcha. Bintang delapan. Hanya di miliki raja dan ratu serta keturunannya. Biasanya mereka yang memiliki kekuatan ini adalah pewaris tahta, putri atau anggota kerajaan yang beneran darah asli atau keturunan asli dari mereka. Bintang sembilan. Inilah kekuatan yang paling tinggi di dunia ini dan sudah punah saat ini. Kekuatan ini hanya dimiliki oleh raja dan ratu mereka yang memimpin pada ratusan tahun yang lalu. Tidak ada yang memiliki kekuatan ini pada saat sekarang. Meskipun raja dan ratu yang memerintah. Author POV On. Semua orang menatap Arthemis dan Iznti secara bergantian. Iznti dengan santainya melihat mereka dan maju mendekat ke arah pertandingan. Arthemis juga yang berada di dekat Iznti memasuki tempat pertandingan itu. Semua orang yang ada di sekitar sana sangat gelisah dan takut dengan pertandingan ini. Karena Arthemis yang notabennya adalah anak baru melawan seorang prince yang terkenal di seantero Immortal. Tidak ada seseorang pun yang bisa melawannya sampai detik ini. "Apakah kau yakin akan menyuruh mereka berdua bertanding?" tanya Tuan Psyche pada Bu Armthe. “Saya beneran tidak sanggup melihat Arthemis yang akan kalah dengan kekuatan seorang Iznti. Kekuatannya tidak pernah tertandingi soalnya selama ini. Ia bisa di kalahkan dengan seseorang yang memiliki kekuatan yang rata dengannya.” “Hentikanlah Bu. Karena ini berurusan dengan nyawa nantinya, saya beneran tidak sanggup melihat kehancuran Arthemis nantinya.” "Saya tahu apa yang saya lakukan. Tenang saja, mereka tidak akan kenapa-kenapa," jelas Bu Armthe. "Saya bukan takut kalau Prince Iznti kenapa-napa, tapi yang saya takutkan adalah wanita itu. Wanita itu adalah anak baru. Ia tidak mengetahui apa-apa tentang dunia ini. Apalagi dia berasal dari bumi karena mengikuti kedua orang tuanya yang mendapatkan tugas di sana. Kalau terjadi apa-apa dengannya, maka mereka berdua yang sudah tiada akan menyalahkan kita semua yang berada di sini." “Tenanglah Tuan, Bu Armthe akan memberikan yang terbaik. Saya tahu kau adalah sosok penyayang yang benar-benar menyayangi semua anak-anak di sini. Tapi, kita lihat saja kekuatannya sebesar apa. Toh, Bu Armthe benar-benar sudah ahli dalam bidang ini.” "Biarkan saja. Saya tahu yang terbaik, diam dan nikmati saja pertandingan yang sangat panas ini. Kau akan merasa bangga nantinya," jelas Bu Armthe. Mendengar ucapan Bu Armthe, Tuan Psyche hanya terdiam dan menghela nafas dengan panjang. "Pertandingan terakhir di mulai!" teriak Tuan Psyche. Tuan Psyche membuat dinding semacam filter agar mencegah korban yang terkena elemen mereka. Semua orang menatap Arthemis dengan iba. Karena sangat sulit menaklukkan seorang Iznti. Bagi mereka semua ketika berhadapan bersama Iznti adalah sebuah malapetaka yang sangat besar. Ia bisa saja membunuh seseorang yang tidak seharusnya. "Gladius ignis," ujar Iznti sambil mengeluarkan beberapa bola api di tangannya. Arthemis yang melihat beberapa bola api di tangan Iznti menjadi sangat takut, ia memanggil Aetos yang berada di sampingnya. "Aetos! Aetos! Kau di mana?" "Aetos tolong aku cepatlah." Tiba-tiba seseorang datang di belakangku seperti selaput putih. Arthemi sangat kaget melihat selaput itu dan mencoba menjauh. "Siapa kau?" tanya Arthemis dengan takut. "Bisakah kau tidak mengucapkan itu dengan keras. Ini aku Aetos, Kita berbisik saja. Ada apa kau memanggilku?" tanya Aetos dengan bingung. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku dengan bingung. "Dasar bodoh, jika ia mengucapkan Gladius ignis kau harus mengeluarkan kekuatanmu yang bersumber dari matahari atau gak kau keluarkan api. Api melawan api, jangan malahan melongo seperti orang bodoh, cepat lakukan apa yang aku katakan." "Tapi, aku masih bingung dengan semua ini," jelas Arthemis. "Cepat lakukan apa yang aku perintahkan. Keluarkan busur matahari atau pedang apimu. Fokus ke kekuatanmu dan jangan memperdulikan sekitar. Cepat lakukan itu." "Untuk apa aku melakukan itu?" tanya Arthemis. "Cepat lakukan saja saat ini." "Sol et ar----akh----" "Itulah akibatnya jika kau sangat lamban dan bodoh. Lakukan apa yang aku perintahkan, jangan banyak bertanya dan berbicara. Fokus saja pada kekuatanmu saat ini," jelas Aetos. Belum sempat selesai mengucapkan mantranya Iznti sudah menyerang Arthemis dengan cepat. Serangan itu mengenai tangan dan kaki Arthemis. "Sol et ar----akh----" Lagi, lagi Arthemis di serang oleh Iznti tanpa hati. Tiba-tiba rambut Arthemis berubah menjadi merah dan manik mata yang memerah. Ia melototkan matanya ke atlrah Iznti yang ada di depannya saat ini. "Sol et arcus!" seru Arthemis. Banyak kabut yang menutup tubuh Arthemis dan menghilang membuat Iznti menutup matanya karena debu yang sangat tebal. "Arcus glaciers," ujar Arthemis. Terlihat beberapa anak panah berwarna kuning yang memerah keluar dari tangannya. Arthemis menyerang Iznti tanpa ampun saat ini. Orang-orang yang ada di sana hanya terkesima melihat kekuatan dari Arthemis. Tuan Psyche dan Bu Armthe melihat Arthemi dengan tatapan tidak percayanya. "Glaciers balls," ujar Iznti. "Arcus glaciers," ujar Arthemis. "Glaciers balls," ujar Iznti kembali menyerang Arthemis. Arthemis terus menerus menyerang Iznti, Iznti terus menghindar dari Arthemis. Terus menerus menghindari panah tersebut hingga akhirnya salah satu panah Arthemis melumpuhkan kaki Iznti. Mereka terus saling menyerang satu sama lain. Darah segar turun dari sudut bibir Arthemis, Iznti mengeluarkan jurus angin yang sangat besar, Arthemis yang tidak mau mengalah ia mengeluarkan jari bayangan yang sangat besar untuk menghancurkan angin itu dan menarik Iznti. Melihat mereka semua yang saling menatap. "Bu apakah tidak kita hentikan saja pertarungan mereka berdua? Mereka akan saling membunuh satu sama lainnya. Saya tidak mau ada korban di antara mereka berdua." "Nikmati saja mereka berdua. Tidak akan yang saling membunuh di sini. Saya akan mengawasi mereka semua." Mereka berdua saling serang menyerang satu sama lain. Iznti yang sudah di butakan oleh kemarahan menyerang Arthemis dengan sangat kejam. Begitu pula dengan Arthemis yang tidak ingin kalah di mata Iznti terus membalas serangan mereka menggunakan kekuatan yang mereka miliki. Arthemis terlempar kerkena kekuatan dari Iznti. Ia langsung bangkit kembali dan menyerang Iznti dengan tanpa ampun. Mengikuti aura yang di miliki oleh lawannya membuat Iznti mengeluarkan busur petir nya. Ia menarik busur itu dan menepatkan sasaran pada Arthemis. Tepat sasaran! Kaki dan bahu Arthemis terkena oleh anak panah itu. Namun, anak panah yang Iznti berikan tidak melumpuhkan Arthemis sekalipun. Semua orang yang ada di situ menatapnya secara tidak percaya. Arthemis mengeluarkan busur campurannya. "Mix glaciers!" Terlihat warna hitam pekat yang sangat membunuh dari busur itu. Semua elemen yang ada di sana tercampur menjadi satu di dalam anak panah itu, terlihat hanya dua anak panah yang ada di dalamnya. Arthemis melepaskan anak panah itu ke langit. Anak panah itu langsung berubah menjadi 20 anak panah yang akan menghujani Iznti. Srrrrr Syutttttt Duarrrrr! Terdengar suara ledakan yang keras hingga membuat asap mengepul. Mereka semua terbatuk-batuk melihat itu semua. Tiba-tiba terlihat seorang laki-laki bermanik hazel berdiri di tengah-tengah keduanya. Ia mengambil busur panah itu dan menghancurkan secara cepat. Laki-laki itu bertato rajawali, berparas indah, dan sangat tampan semua orang fokus menatap matanya. Ia mengeluarkan sebuah asap sehingga membuat Arthemis setengah sadar. Iznti sangat lemas saat ini karena ia banyak mengeluarkan tenaga saat melawan Arthemis. Penuh luka yang ada di sekujur tubuhnya saat ini. Ia menolong Iznti dan membawanya keluar dari luar arena. Aetos terduduk melihat keadaan Arthemis yang sangat lelah setelah bertanding saat ini. "Ck, dasar bodoh. Kau ini selalu saja menyusahkan aku. Kapan kau bisa mandiri saat ini? Tidak cape tah kamu selalu bergantungan padaku?" gumam Aetos dengan kesal. "Aetos?" tanya Arthemis dengan lemas. "Ck, emang kau memang bodoh. Selalu saja merepotkan aku," gumam Aetos dengan kesal. Tak lama kemudian, Arthemis menutup matanya dan pingsan. Aetos bangkit dari duduknya dan mengumumkan semuanya kepada mereka semua. Guru-guru yang ada di sana hanya terdiam dan melihat Arthemis dengan tidak percaya. Aetos mengkode mereka semua untuk tidak membuka suara tentang kekuatan Arthemis yang sebenarnya. "Saya di sini akan mengumumkan bahwa kekuatan yang di miliki Arthemis Amysthyst Matcha bintang......" Semua orang langsung kaget mendengar ucapan dari Aetos. Mereka semua langsung mendekat ke arah Iznti dan membantunya untuk ke ruangan ICU. Aetos kembali mendekati Arthemis dan menggendongnya hingga sampai ke ruangan kesehatan. Sesampainya di ruangan kesehatan, Aetos menaruh tubuh Arthemis dengan lembut. Ia mengelus kepala Arthemis dengan pelan. "Kau memang sangat bodoh, kau itu sebenarnya pintar. Namun, sayang orang tuamu tidak pernah memberitahukan apa yang sebenarnya yang terjadi. Sekarang tugas ku yang sangat berat saat ini." "Tugasku bukan hanya menjagamu saat ini. Namun, aku juga harus mengenalkan kamu kepada semua yang seharusnya kamu ketahui. Aku juga akan menemukanmu pada kehidupan yang sebenarnya." "Aku akan pergi. Jagalah dirimu dengan baik, aku akan memulihkanmu terlebih dahulu." Aetos memulihkan Arthemis dengan cepat dan pergi dari ruangan itu dengan cepat. Author POV Off. Arthemis POV On. Aku mengerjakan mataku dengan cepat. Aku melihat sekelilingku saat ini, cat putih sangat mendominasi ruangan ini membuatku sangat bingung. "A-a---aku ada di mana?" gumamku dengan lemah. "Arthemis kau sudah sadar?" tanya Metha dengan khawatir kepadaku. "Aku berada di mana?" tanya ku dengan bingung. "Kau berada di dalam ruang kesehatan." "Apa yang baru saja terjadi padaku?" tanyaku. "Kau baru saja bertarung dengan Iznti. Kau harus tahu ia adalah keturunan prince kekuatannya adalah bintang tujuh. Tapi, kau sangat hebat kau bisa mengalahkannya. Kau membuat banyak luka di sekujur tubuhnya." "Aku? Aku membuatnya terluka? Lalu apa tingkat kemampuanku?" tanyaku. "Kau level bintang satu." "Bintang satu?" tanya ku. "Iya, semangat lagi ya untuk belajar. Aku yakin kau bisa melakukan semuanya." "Baiklah terima kasih," ucapku dengan lemah. Aku terduduk lemas ketika mendengar tingkatan levelku. Berarti aku harus mengejar banyak orang untuk mengasah kemampuanku saat ini. Aku harus berjuang dengan keras untuk belajar saat ini. Aku melihat beberapa luka di tubuhku saat ini. Aku menatap Metha dengan lembut dan menanyakan siapa yang membawaku ke sini. "Siapa yang membawaku ke sini?" tanyaku dengan pelan. "Yang membawamu ke sini adalah seorang laki-laki tampan yang sangat menawan. Ia menggendongmu dengan penuh kekhawatiran." "Aetos?" tanyaku dengan pelan. "Ha? Siapa?" tanya Metha dengan bingung. "Engga ko, aku tidak berbicara apa-apa. Aku hanya kaget saja dengan seseorang yang membawaku ke sini." "Apakah kau tidak pernah mengenalnya?" tanya Metha dengan pelan. "Tidak, aku bahkan tidak pernah mengenal siapapun di sini." "Benerkah?" tanya Metha meyakinkanku. "Iya, aku tidak mengenal siapapun di sini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD