Menjadi seorang malaikat pelindung bagi seseorang yang hebat bukanlah sesuatu yang mudah. Maka dari itu, inilah saatnya aku untuk melindungimu dengan sepenuh hati. Meskipun kamu tidak mengetahui siapa jati diri kamu yang sebenarnya. Tapi, setidaknya saat ini aku yang wajib melindungi dan menjagamu dengan sangat baik agar kau tidak melepaskan kebencianmu dan amarahmu kepada orang yang tidak bersalah. Membuat negeri ini hancur dalam sekejap karena kekuatanmu yang sangat luar biasa itu.
- Aetos (Guardian)
Metha hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Baiklah sekarang kau lebih baik istirahat karena aku yakin kau mengeluarkan banyak tenaga untuk bangun setelah melawan Iznti."
"Aku bangga sekali padamu saat ini. Kau sangatlah hebat, kau bisa melumpuhkan seorang Iznti yang sangat kuat. Selama ini tidak ada yang bisa mengalahkannya di sekolah ini, tapi kau malah ingin membunuhnya ahahaha. Ternyata kamu lebih mengerikan di bandingkan apa yang aku bayangkan saat ini. Kamu berhasil melakukan apa yang kamu inginkan," ucap Metha sambil tertawa pelan.
"Aku hanya seorang anak baru yang belum mengerti apa-apa, jadi jangan terlalu mengagumiku. Aku hanya manusia biasa yang baru saja masuk ke dalam tempat ini. Jujur saja aku benar-benar tidak paham dengan apa yang telah aku berikan kepada Iznti tadi. Itu semua di luar kendaliku. Maka dari itu jangan pernah mengagumiku ya dalam hal apapun karena aku masih belajar," jawabku dengan sangat tidak enak hati.
"Aku paham dengan apa yang kamu rasakan, tenanglah lagi pula itu haya sebuah kecelakaan dan uji kekuatan, dari sinilah kita sudah bisa mengukur sampai mana kemampuan kita yang sebenarnya. Jika kamu masih di level terbawah sekalipun ketika kamu berusaha yang sungguh-sungguh dan mempelajari banyak hal maka kamu akan selalu bisa mendpatkan apa yang kamu inginkan. Baiklah aku akan pergi sekarang juga, kau jaga diri baik-baik ya dan beristirahatlah dengan baik karena setelah ini akan ada pembelajaran yang lebih besar lagi katanya. Aku akan secepatnya kembali," ucap Metha sambil meninggalkan ruangan ini.
Aku dengan pelan membatin memanggil Aetos. Sengaja aku memanggilnya dengan cara ini, karena tanpa aku ucapkan namanya Aetos paham dengan apa yang aku rasakan jika aku memanggilnya. “Aetos,” panggilku dengan sangat pelan di dalam hati.
Tak lama kemudian ada seekor burung rajawali yang datang menghampiriku dan berdiri di hadapanku saat ini. Aku melihat ke arah kanan dan kiri dan memastikan semuanya akan tetap aman dan tidak ada yang tahu tentang Aetos saat ini. Setelah aku rasa aman aku menatap Aetos dengan tatapan yang sangat datar. Aetos yang paham dengan tatapanku hanya terdiam dan mengabaikan aku yang sedang menatapnya dengan sangat datar.
“Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia menjadi seorang manusia saat ini? Kenapa dia bisa berubaah wujud dalam waktu yang sangat cepat?” gumamku dengan sangat kaget.
Jujur saja aku sangat kaget ketika melihat Aetos yang benar-benar bisa berubah menjadi seorang rajawali saat ini. Kenapa bisa dia melakukan itu? Padahal dia adalah seorang burung yang selalu berada di sebelahku. Aku memincingkan mata dan menatapnya dengan semakin intens. Aetos yang paham dengan tatapanku hanya membiarkan aku yang menatapnya dengan sanga intens saat ini.
“Ada apa memanggilku saat ini? Apakah ada masalah? Apakah ada yang sakit dari tubuhmu?” tanya Aetos dengan sangat khawatir. Aku menatapnya semakin datar dan memutar bola mataku dengan sangat malas.
"Kenapa kau bisa menjadi manusia seperti ini? Sebenarnya kau ini siapa?" tanyaku dengan datar.
"Kau kira aku ini Rajawali biasa apa? Aku ini bukan Rajawali biasa, tapi aku ini seorang guardianmu. Aku yang selalu menjagamu selama ini," jelas Aetos.
"Berarti kau adalah seorang manusia biasa di sini? Kenapa kau tidak pernah memberitahukan ini semua kepadaku?" tanyaku dengan kesal.
"Untuk apa aku memberitahukan ini semua kepadamu? Bukannya itu semua tidak penting bagimu?" tanya Aetos.
"Jelas itu semua sangat penting bagiku saat ini. Kenapa kau malahan berpikir kalau tidak penting bagiku? Ah, sudahlah. Aku tidak akan menanyakan itu semua padamu."
Aku merajuk dan mendiamkan Aetos. Aetos hanya tersenyum manis dan mendekat ke arah ku saat ini. Ia memegang lukaku dengan pelan dan melihatnya.
"Apakah ini masih terasa begitu sakit?" tanya Aetos.
"Tidak," jawabku dengan singkat.
"Sudahlah jangan selalu merajuk seperti ini. Aku akan menjelaskan semuanya padamu saat ini. Aku adalah seorang manusia yang menjelma sebagai Rajawali. Aku adalah utusan yang harus melindungi kamu dengan sepenuh hidupku. Tak hanya itu saja, aku akan mengajarimu tentang semuanya dan cara mengendalikan apa yang kamu miliki saat ini. Jangan takut jika berada di dekatku. Karena aku akan selalu menjadi selaput tipis yang melindungimu," jelas Aetos.
"Apakah hanya itu tugasmu? Menjagaku? Kenapa seperti itu?" tanyaku dengan bingung.
"Jika sudah waktunya maka kau akan mengetahui semua jawabannya. Maaf, untuk sekarang aku tidak bisa menjelaskan apapun kepadamu. Karena ini bukan waktunya untuk menjawabnya," jelas Aetos.
"Aku akan menunggu waktu itu dengan sabar. Tapi, jika sudah waktunya. Akan ku pastikan kau membuka mulutmu," ucapku.
Aetos hanya tersenyum dengan manis dan melihat ke arah ku dengan tatapan yang dalam. Ia kembali menjadi selaput tipis yang tidak terlihat saat ini. Ia mengunci tubuhku dari semua yang menyerangku tiba-tiba.
"Sekarang waktunya tertidur. Istirahatlah dengan baik, untuk makananmu nanti akan ada yang memberikannya ke sini. Jadi tenang saja," ucap Aetos dengan sangat lembut.
Aku mencoba menutup mataku sejenak dan mencoba untuk tertidur. Namun, saat ini aku tidak bisa menutup mataku. Aku sekarang kepikiran dengan keadaan Iznti. Metha bilang aku hampir saja membunuhnya, berarti ia terluka sangat parah. Aku terus memutar otakku dan membayangkan apa yang terjadi olehnya, tiba-tiba di dalam otakku terlintas satu kata saat ini.
"Apatis? Ah, tidak-tidak. Tidak mungkin orang sehebat Iznti menjadi Apatis di rumah sakit karena aku. Aku hanya seorang pemula yang tidak pernah menguasai ilmu dunia ini."
Aku terus menggelengkan kepalaku dan menepis semua pikiran negatif yang ada saat ini. Aetos menatapku dengan kesal, ia menatapku dengan tatapan yang sangat datar.
"Kenapa kau seperti orang yang kebingungan? Sudahlah tidak usah banyak pikiran. Fokus saja pada kesehatanmu saat ini. Jangan pikirkan orang yang tidak pernah menganggapmu atau orang yang menganggapmu seorang musuh," jelas Aetos.
"Bagaimana dengan keadaan Prince Iznti?" tanyaku pada Aetos.
"Tenang saja, dia tidak kenapa-kenapa. Sudah ada guardiannya yang menjaganya. Tinggal kau saja yang harus menjaga emosimu saat ini," jawab Aetos seadanya.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan, dan mulai mencoba memejamkan mataku saat ini. Numun hasilnya sama sekali tidak ada, karena di saat aku mulai menutup mataku. Banyak bayangan pertarungan dasyhat yang sedang ku lakukan saat ini.
"Apa yang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Aetos.
"Apakah aku akan mengalaminya nanti?" tanyaku dengan pelan.
"Apa yang kau bayangkan?" tanya Aetos.
"Aku melihat sebuah pertarungan yang besar di sini," jelasku.
"Tidak akan terjadi hal yang aneh, pejamkan matamu maka aku akan membuatmu tertidur."
Aku mengikuti perintah dari Aetos untuk memejamkan mata dengan pelan dan melupakan semuanya. Tak lama kemudian aku terlelap dalam mimpi.
Arthemis Pov Off.
Author Pov On.
Setelah bangun dari tidurnya Arthemis langsung bangun dan melihat sekelilingnya, ia melihat Metha yang sedang ketiduran di sebelahnya. Arthemis pelan-pelan bangkit dari tidurnya dan duduk di atas kasur. Aetos yang melihat Arthemis sudah bangun, langsung mengambilkan makanannya dan menyuapi Arthemis dengan lembut.
"Terima kasih," ucap Arthemis dengan lembut.
"Tidak perlu mengucapkan itu, ini adalah tugasku. Makanlah yang banyak agar kau cepat pulih," bisik Aetos sambil menyuapi Arthemis.
Setelah selesai makan, Aetos membawa piring itu keluar dan meninggalkan Arthemis seorang diri. Arthemis merasa bersalah mengingat apa yang Metha katakan. Ia terus memikirkan bagaimana keadaan dari Prince Iznti.
Arthemis langsung mencoba menarik tubuhnya dengan pelan dan menggerakkan kakinya yang sama sekali belum pernah di gerakkannya sendari tadi. Ia sangat merasakan rasa sakit yang teramat dalam, rasa nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhku saat ini. Arthemis mencoba kuat dan menahan rasa sakit itu semua dalam diam agar ia bisa tahu bagaimana keadaan dari Prince Iznti yang sebenarnya.
Jika ia tidak memastikannya sendiri maka, tidak akan yang memberitahu Arthemis tentang keadaannya. Arthemis mencoba perlahan-lahan turun dari tempat tidur, pada saat Ia turun dari tempat tidur. Arthemis merasakan nyeri ketika menginjak lantai yang dingin hingga akhirnya ia tetap mencoba untuk turun dan berdiri di samping tempat tidur. Arthemis mencoba perlahan berjalan rambatan menuju pintu keluar.
"Akhhh," ringis Arthemis dengan pelan.
Arthemis mencoba membekap mulutnya agar ringisannya tidak keluar dan terdengar oleh orang lain. Arthemis berhenti sejenak untuk menetralkan rasa sakitnya saat ini, Setelah Arthemis merasa baik, ia kembali berjalan menuju pintu utama ruangan ini. Arthemis berjalan pelan-pelan sampai akhirnya ia semakin merasakan lemas di kakinya, tubuh Arthemis rasanya ingin melayang ke belakang.
Arthemis meringis dengan pelan, rasa sakit yang ada di kakinya semakin dominan. "Akh," ringisnya dengan pelan. Ia terus mencari ruangan ICU untuk mencari keberadaan Iznti. Semakin lama kakinya semakin kebas dan rasa sakit terus dominan.
"Akh," ringis Arthemis dengan pelan saat ini tubuhnya sudah hendak jatuh ke lantai namun tidak ada yang menangkapnya.
Tiba-tiba------------
Author Pov Off.
Arthemis Pov On.
Kakiku sangat kebas sekali, rasa sakit sangat dominan. Aku memejamkan mata dengan pelan dan menetralisir rasa sakit yang aku rasakan. Tubuhku semakin melemas dan hendak jatuh ke arah lantai. Aku hanya memejamkan mataku dan pasrah jika harus jatuh. Tiba-tiba ada seseorang yang sigap untuk menangkap pinggangku dengan pelan. Aku menatap manik mata itu dengan lembut.
Manik mata itu tidak pernah aku lihat sebelumnya, laki-laki ini benar-benar memiliki muka yang sangat menawan. Rahangnya yang tegas, senyumanya manis, dan tatapan yang tegas membuatku langsung tersadar dari lamunanku.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut.
"Aku baik-baik saja, hanya saja kakiku sangat kebas saat ini. Terima kasih sudah mau menolongku" ucapkudengan manis.
Ia terus memegang pinggangku dengan pelan dan mehan tubuhku agar tidak jatuh. "Untung saja kau tidak jatuh tadi, ngomong-ngomong mau kemana kamu? Bukannya kamu sedang sakit?" tanya laki-laki itu dengan pelan.
"Aku ingin melihat keadaan dari Iznti. Semua orang menyembunyikan keadaannya padaku, aku merasa sangat bersalah kepadanya," jelasku.
"Oh ya, kau pasti Arthemis Amysthyst Macha? Murid peringkat paling rendah di sekolah ini?" tanya cowo itu sambil meledek ke arahku.
Aku mendengus dengan sebal mendengar ucapannya yang saat ini sedang meledekku. Ia tertawa dengan manis di hadapanku yang membuatku semakin jengah kepadanya. "Ternyata aku justru cukup terkenal ya di sekolah ini, belum ada sehari aku di sini semua orang telah mengenalku. Sungguh sangat hebat," ucapku sambil terkekeh pelan.
"Kau bermanik silver, aku ingin pergi ke ruangan ICU, di mana ruangannya?" tanyaku sambil tersenyum ke arahnya.
Laki-laki itu mendenguskan nafasnya dengan sebal dan menatap mataku dengan datar. "Aku memiliki nama ya, jangan memanggilku seperti itu," ujarnya dengan sebal.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Aku saja tidak mengetahui namamu," jawabku dengan lembut.
"Namaku--------"