Rasa bersalah saat ini sangatlah lebih besar kepadanya, aku tidak pernah merasakan rasa sedih dan bersalah seperti ini sebelumnya. Ntah kenapa melihatmu terbujur lemah seperti ini membuatku sangat menyesakkan d**a. Maafkan aku hanya itu yang bisa aku ucapkan kepadaMu. Maaf karena telah membuatmu lemah tak berdaya dan membuatmu sangat menderita karenaku. Terima kasih atas pembelajarannya yang sangat berharga ini dan sekali lagi aku meminta maaf karena ulahku yan benar-benar tidak sengaja.
- Arthemis Amysthyst Matcha.
"Namaku Horald Psindre Dyrnotous, panggil saja Horald. Aku berasal dari Dyrnatous," jawab Horald dengan kesal.
"Salken Horald," sapaku dengan sangat manis.
"Kau ingin melihat lawanmu yang sedang berada di ruang ICU?" tanya Horald dengan sangat sinis.
"Iya, bisakah kau mengantarkan aku ke sana?" tanyaku dengan lembut.
"Boleh saja. Tapi, tidak ada yang gratis di dunia ini. Ada syaratnya jika kau ingin aku mengantarkan kamu ke sana," ucap Horald dengan sangat santai
"Kau sangat pamrih ternyata. Aku kira kau akan membantuku dengan ikhlas ternyata ada niat terselubung di dalamnya," cibirku dengan kesal.
"Kau mau tidak aku anter ke sana? Ingat satu hal, di dunia ini tidak ada kata gratis. Jadi, aku akan mengajukan syarat padamu jika kau mau ku antarkan. Bagaimana? Apakaah kamu setuju dengan apa yang aku katakan? Jika kamu setuju maka akan aku langsung antarkaan bertemu dengan Iznti," ujar Horald sambil memberikan penawarannya kepadaku.
Aku memutar bola mataku dengan malas bisa-bisanya aku di dunia ini bertemu dengan manusia yang sangat menyebalkan seperti Horald, rasanya ingin sekali aku memaki dan menyemplungkannya di Sungai sss saat ini juga. Horald yang paham dengan kejengahanku saat ini langsung tertawa dengan pelan.
“Bagaimana? Apakah kau setuju dengan penawaranku barusan?” tanya Horald sambil terkekeh dengan pelan.
"Baiklahhhh, katakan saja apa syaratnya. Selagi memungkinkan akan ku turuti, jika itu nyeleneh tidak akan ku lakukan. Aku juga memilah apa yang di ajukan," ucapku dengan kesal.
"Hahahaha, syaratnya adalah kau harus mau menjadi temanku di sini."
"Hanya itu? Yang benar saja? Kau memaksa dan ngeselin cuma mau berteman denganku? Kalau itu tidak usah bertanya, kau bisa menjadi temanku mulai saat ini juga."
"Iya, aku hanya menginginkan hal itu. Semakin banyak teman semakin banyak pula yang bisa membantuku ketika aku sedih dan selalu ada di saat aku senang. Aku hanya menginginkan hal itu."
“Kamu benar-benar orang yang sangat menyebalkan. Mengajak berteman sama mengajak bertengkar sama saja. Ingin rasanya aku memukul dan membuangmu ke Sungai sss saat ini juga,” dumelku dengan sangat sebal.
“Ahahahaha ternyata kamu sangatlah galak. Ngomong-ngomong apa itu Sungai sss?” tanya Horald dengan sangat bingung.
“Oh itu, itu adalah salah satu sungai yang ada di bumi. Sudahlah lupakan saja dengan sungai itu.”
“Horald,” panggilku dengan sangat santai.
“Ya, ada apa?” tanya Horald dengan sangat bingung.
“Kenapa kamu ingin berteman denganku?” tanyaku dengan sangat bingung.
“Kan sudah aku katakan tadi, semakin banyak teman semakin banyak pula yang bisa membantuku ketika aku sedih dan selalu ada di saat aku senang. Aku hanya menginginkan hal itu. Aku selalu ingin bahagia bersama teman-temanku dan berbagi cerita bersama mereka semua. Karena aku merasa dengan temanlah aku bisa merasa lepas dan bahagia di setiap waktunya. Maka dari itu aku ingin menjadikanmu temanku. Toh, kamu juga baru di sini. Siapa tahu aku bisa membantumu nantinya.”
"Baiklah aku paham maksudmu. Aku juga ingin memiliki teman, sama halnya dengan apa yang kamu inginkan. Ketika aku memiliki banyak teman dan saudara, aku akan selalu merasa terlindungi dan merasa sangat memiliki hal yang berharga di dunia ini. Alasan aku agar tetap hidup dan tetap berjuang adalah salah satunya temanku. Itulah yang membuatku sangat bahagia di dunia ini."
"Jadi, mau tidak kamu menjadi temanku?" ajak Horald dengan lembut.
"Ya, aku bersedia menjadi temanmu. Kita berteman dari sekarang hingga selamanya," ucapku sambil mengajukan kelingkingku untuk pertemanan.
"Yes aku memiliki teman baru!" seru Horald sambil menautkan jari kelingkingnya ke arahku.
"Sudahlah, sekarang mari tunjukkan kepadaku di mana letak ruangan itu? Aku ingin melihatnya sekarang juga," ujarku bertanya pada Horald.
"Kau ini sangat terburu-buru dalam melihat Iznti. Tenang saja, dia tidak akan lari ko dari ruangannya. Aman dia pada saat berada di sana karena di sana memiliki banyak tempat dan banyak sekali penjaga. Kau harus melakukan perikraran perjanjian terlebih dahulu denganku saat ini. Baru akan ku antarkan ke sana untuk menemui Iznti."
"Ikrar apa lagi sih. Cepatlah katakan ikrarnya setelah itu kita harus bergegas ke sana. Karena aku ingin melihatnya sekarang juga," ucapku dengan sebal.
"Saya Horald Psindre Dyrnotous, berasal dari bangsa Dyrnatous berjanji akan menjadi teman dari Arthemis Amysthyst Matcha selama-lamanya. Lakukan itu juga," ucap Horald dengan sangat lantang.
"Oke, baiklah. Saya Arthemis Amysthyst Matcha, berasal dari bangsa Athena berjanji untuk menjadi teman dari Horald Psindre Dyrnotous selama-lamanya. Sudah puas?" tanyaku dengan kesal.
"Tunggu, kau anak dari bangsawan keluarga Matcha? Dari bangsa Athena? Tapi, kenapa rambut dan matamu berbeda dari yang lainnya? Bukannya mereka juga berada di bumi? Kenapa kau berada di sini?" tanya Horald secara berturut-turut.
"Kenapa kau tahu kedua orang tuaku? Apakah mereka seterkenal itu di negeri ini? Kenapa aku baru tahu tentang mereka yang sangat terkenal saat ini?" tanyaku dengan bingung.
"Ha? Kau tidak tahu kalau ayah dan ibumu sangat terkenal? Kemana mereka semua? Aku sudah lama tidak bertemu dengan mereka?" tanya Horald.
Aku menundukkan kepala dengan pelan dan menahan tangis. Horald yang melihat perbedaan dari diriku langsung panik.
"Apakah kau baik-baik saja? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kau sangat sedih seperti ini?" tanya Horald dengan panik.
"Mereka berdua sudah tidak ada di dunia ini. Jadi, sampai kapanpun kau ingin bertemu dengan mereka itu semua tidak akan bisa. Sudah lah lupakan saja, kita harus segera ke ruangan ICU. Jika sudah ada orang yang melihatku akan menjadi sebuah gosip nantinya," ucapku sambil tersenyum paksa.
"Baiklah ayo naik ke punggungku sekarang," ujar Horald sambil membungkukkan badannya di depanku.
"Eh, apa yang kau lakukan?" tanyaku dnegan bingung.
"Kau bilang, kau ingin segera ke ruang ICU secepatnya. Aku tidak yakin kau bisa berjalan dengan cepat ke sana. Maka dari itu manundukkan badanku di depanmu, agar aku bisa menggendongmu dan pergi ke sana," ujar Horald.
"Naik," ucap Horald dengan tegas.
"Tapi, aku sangat berat. Apakah kau yakin ini menggendongku?" tanyaku dengan tak enak hati.
"Kau ingin terus berbicara atau mengikuti apa yang aku perintahkan. Cepatlah ikuti semua apa yang aku katakan. Jika tidak kau ingin aku tinggalkan berarti," ujar Horald dengan kesal.
"Baiklah," aku langsung menaiki punggungnya dengan cepat.
Horald menggendongku dengan hati-hati, tiba-tiba terlintas sebuah kejadian di mana aku bersama dengan ayah. Jantungku berdegup dengan kencang, kali ini aku pertama kalinya di gendong oleh seorang pria selain ayah.
Aku mengingat semua kenangan bersama ayah, dimana aku tertawa, bercanda, menangis, bersedih, semuanya bersama ayah. Ayah selalu menghiburku dengan caranya sendiri.
"Ayah aku sangat merindukanmu. Apa kabar kau di sana? Aku sekarang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, aku sudah tidak merasakan sakit karena di pukuli lagi ayah. Ayah, bunda apa kabar kalian? Semoga kalian selalu baik-baik saja ya. Aku selalu merindukan kalian semua. Aku selalu ingin memeluk kalian semua."
"Namun, itu semua adalah hanyalah sebuah kenangan dan ilusi. Sampai kapanpun aku tidak bisa memeluk kalian dari jauh, aku juga tidak pernah bisa memegang kalian lagi. Sampai bertemu di keabadian," gumamku dalam hati.
Tak lama kemudian kami berdua sampai di depan ruangan ICU. Kami berdua masuk ke dalam ruangan itu.
"Nah sudah sampai, itu lawanmu. Iznti sekarang terbujur lemas karena di serang olehmu kemarin heheheh," ucap Horald sambil terkekeh dengan pelan.
Aku melihat seseorang yang terbaring lemas di balik surai berwarna silver yang mewah itu. Aku melihat banyak sekali alat kesehatan yang menancap di tubuhnya saat ini. Seketika tubuhku merinding melihat apa yang telah terjadi padanya.
Horald menurunkan aku pada sebuah kursi yang ada di sana. Aku langsung turun dan berjalan sedikit mendekat ke arah Iznti yang sedang terbaring lemah itu.
"Berapa lama Iznti akan tertidur pulas seperti itu?" tanyaku pada Horald.
"Entahlah, mereka bilang ia terluka parah di dalam. Ia juga kehabisan energi dan luka dalam. Jadi, membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk memulihkan kondisinya. Tapi, kau jangan khawatir ia adalah sosok yang kuat. Ia akan bangun jika waktunya tiba ko," ucap Horald menenangkan aku.
Aku merasa semakin bersalah ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh Horald. Aku memikirkan bagaimana reaksi orang tuanya melihatnya seperti ini? Bagaimana jika orang tuanya marah melihat anaknya terbaring lemah seperti ini?
Bagaimana jika orang tuanya menuntut aku untuk bertanggung jawab atas semuanya? Bagaimana jika memang orang tuanya menghukum ku saat ini? Ia adalah seorang pangeran dan ayahnya seorang raja. Tidak mungkin jika mereka akan menghukum ku dengan hukuman yang ringan.
Kenapa tidak aku saja yang koma? Kenapa harus dia yang koma? Lebih baik aku yang merasakan banyak rasa sakit di bandingkan harus melihat ia yang terbaring lemah seperti ini.
Aku membayangkan banyak hal yang tidak-tidak saat ini di benakku. Muncul banyak hukuman berat di dalam otakku yang akan aku terima dari orang tua Iznti. Aku memegang tangan Iznti dengan pelan.
Tiba-tiba air mataku menetes dan tak sengaja menyentuh tangan Iznti. Aku menangis sejadi-jadinya membayangkan apa yang aku rasakan selama ini dan hukuman apa yang akan di berikan padaku. Aku terus menangis membayangkan hukuman cambuk, penggal, minum racun, gantung, penjara.
Oh Tuhan, tolong bantu aku untuk menyadarkannya. Jika ia sadar aku akan berhenti bermain-main untuk sekolah, aku akan terus membaca, aku akan terus belajar, dan aku akan terus menjadi anak yang baik yang selalu nurut pada Aetos.
Bantu aku Tuhan untuk menyembuhkannya. Bantu aku untuk membuatnya sadar agar aku terlepas dari hukuman yang sangat mengerikan itu. Bantu aku Tuhan aku mohon.
"Bisakah kau melepaskan tanganmu dari tanganku? Dan jangan pernah menangis di tanganku karena aku tidak apa-apa," ucap seorang laki-laki yang bersuara berat berbicara padaku.
Aku langsung mendongakkan kepalaku dan melihat siapa yang menyuruhku untuk tidak menangis saat ini. Aku langsung terlonjak kaget melihat Iznti yang telah bangun dari tidurnya.
"K--kau sudah sadar?" tanyaku dengan bingung.
"Kau tidak lihat aku sudah baik-baik saja saat ini? Kau bertanya sesuatu yang tidak perlu. Lebih baik diam jika kau sudah mendapatkan jawaban dari apa yang kau lihat," ucap Iznti dengan sangat datar.
Aku langsung terdiam dan menghapus jejak air amatku dengan pelan. Horald melihatku dengan tatapan yang tidak percaya. Ia menatapku saat ini sekarang seperti orang yang ingin menerkamku.
"Apakah kau seorang healer? Kenapa kau bisa dengan cepat menyembuhkan penyakitnya? Sedangkan para tabib yang ada di sini sudah hampir frustasi untuk membuatnya sadar dalam waktu yang cepat."