Heboh

1755 Words
Aku tidak tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya di tempat ini banyak sekali kejadian aneh dan bahkan kejadian yang sangat mengganjal di dalam hatiku perihal tentang masa laluku. Kenapa semua orang menatapku seperti ingin memakan orang lain? Dan banyak hal yang mengganjal di otakku saat ini tentang apa yang aku rasakan di tempat ini. Siapa sebenarnya orang tuaku? Kenapa mereka semua takut dengan keberadaan aku pada saat aku datang? Dan bahkan mereka bertanya-tanya di mana keberadaan kedua orang tuaku saat ini? -Arthemis Amysthyst Matcha. "Iznti, Ferdinand, kalian tolong antarkan Arthemis ke kamar 389. Jangan sampai lecet, kalian harus jaga dia sebaik mungkin." "Baik Bu," ucap mereka berdua tanpa ekspresi sama sekali. "Sampai dia terluka sedikit saja maka kalian berdua yang akan Ibu hukum. Paham dengan apa yang Ibu katakan?" tanya Bu Armthe dengan sangat tegas. "Baik Bu, tenang saja. Anak baru ini akan sampai kamarnya dengan selamat. Dia juga sudah besar dan tidak perlu Ibu katakan lagi kepada kami bahwa kami harus menjaganya. Toh, dia yang wajib menjaga dirinya sendiri sekarang." "Benar apa yang di katakan oleh Iznti, dia sudah besar. Tidak perlu kami jaga juga dia tahu batasannya yang harus ia lakukan dan tidak ia lakukan. So jangan khawatir dengan apa yang akan dia lakukan saat ini." "Kalian ini selalu saja membantah apa yang Ibu katakan. Kerjakan semuanya atau Ibu akan mengatakan kejelekan kalian kepada kedua orang tua kalian?" tanya Bu Armthe dengan sangat kesal. Mereka berdua hanya mendelikkan matanya dengan tajam dan menghembuskan nafas dengan kasar di hadapan Bu Armthe. Aku hanya terdiam dan membiarkan mereka mengatakan apa yang mereka ingin katakan. Karena jika aku mengatakan yang tidak seharusnya maka mereka akan membenciku di suatu saat nanti. "Hayo, tunggu apalagi? Cepat sana keluar dari ruangan ini. Karena kami akan rapat untuk pembelajaran kalian semua. Sana antarkan Arthemis ke kamarnya. Jangan lupa pesan dari Ibu," ujar Bu Armthe. "Baik Bu," jawab mereka berdua dengan sangat kesal. Aku berpamitan oleh Bu Armthe dan Bu Hernyme. Bu Armthe memelukku dengan pelan dan menyuruhku untuk pergi mengikuti kedua lelaki yang ada di depanku saat ini. "Ikutlah bersama mereka. Mereka akan mengantarmu ke kamar asrama. Jika terjadi apa-apa kepadamu, laporan kepada satpam atau guru yang ada di sini." Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan dan mengikuti mereka dari belakang. Jangan bertanya apa yang aku lakukan saat ini pada saat berjalan bersama mereka berdua. Hanya ada keheningan semata dan hanya ada saling tatapan dingin di antara keduanya. Jujur aku, malahan berpikir kalau mereka ini adalah manusia yang tidak bisa bicara ataupun senyum kepada semua orang. Karena di sepanjang perjalanan mereka hanya memasang wajah datarnya dan menatap semua orang dengan tatapan tajam. Mereka semua yang di tatap oleh Iznti dan Ferdinand yang sangat tajam bukannya takut dengan tatapan itu malahan semakin mendambakan mereka berdua. Kami bertiga berjalan menuju kamarku, terdapat keramaian di lorong-lorong yang kami lewati. Ferdinand dan Iznti berhenti secara mendadak di hadapanku. Duk!! Jidatku terbentur punggung tegap milik Iznti. Iznti langsung menoleh ke arahku dengan tatapan datar. Aku yang merasa kesal karena mereka berhenti secara mendadak langsung mendelikkan mata dengan sebal ke arah mereka berdua yang benar-benar sangat menyebalkan. Seenaknya berhenti di tengah jalan tanpa mengatakan apapun terhadapku. Apalagi tidak ada kata maaf karena dia berhenti secara mendadak lagi di depanku saat ini. "Kalian bisa tidak jalan tidak berhenti secara mendadak?" tanyaku dengan kesal. Tanpa aba-aba, Ferdinand menarikku agar berjalan di tengah-tengah mereka berdua. Banyak wanita dan laki-laki yang menatapku dengan tatapan lapar dan mengagumi. Tak sedikit pula yang meneriakkan nama mereka berdua dengan nada yang manja. "Gak usah banyak bicara." Aku yang mendengar apa yang di katakan oleh Ferdinand hanya menghembuskan nafas dengan pelan dan mengikuti arah langkah kaki mereka berdua. Terdengar suara yang sangat menggelikan di sekitarku pada saat mereka berdua lewat di depan lorong yang sangat ramai. "Iznti sayang!" "Ferdinand!" "Cakep amat sih dua cowo itu!" "Pacar gue cakep banget!" "Halu Lo! Mana mau mereka sama lo!" teriak wanita yang di sebelahnya. Aku terus berjalan mengikuti langkah kaki mereka. Banyak sekali wanita yang menatapku dengan lapar, seolah-olah mereka ingin menerkamku saat ini. Entahlah, mungkin karena aku di antar ke kamar asrama dengan kedua cogan dari sekolah ini. Menurut pandanganku saat ini, Iznti dan Ferdinand memang memiliki paras yang rupawan, berbadan ideal, dan memiliki manik mata yang teduh. Siapapun yang menatap mata mereka bisa nyaman di sana tanpa berkedip. Selama perjalanan hanya terjadi keheningan di antara kami bertiga. Tidak ada satu orangpun yang membuka pembicaraan kecuali aku yang kesal karena mereka berhenti mendadak. Aku bingung dengan mereka, iya mereka memiliki nilai plus pada parasnya. Tapi, apa yang di lihat selain parasnya yang indah? Mereka terlihat seperti monster yang menyeramkan dan menakutkan. Ia bermata tajam dan berwajah datar, tidak peduli mau berwajah cakep sekalipun. Jika memang ia berekspresi seperti itu, menurutku itu menjadi sebuah nilai minus saat ini. Tak lama kemudian akhirnya kami bertiga berhenti di sebuah kamar yang sangat indah. Ferdinand menatapku dengan tatapan yang sangat datar. "Ini kamarmu," ucap Ferdinand dengan nada yang sangat dingin. "Teri-----" Belum selesai aku mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua, mereka sudah meninggalkan aku dengan cepat. "Dasar, laki-laki berwajah datar. Tidak bisakah mereka menghargai seseorang yang ingin mengucapkan terima kasih? Kenapa mereka langsung meninggalkan aku begitu saja?" gumamku dengan kesal. "Mungkin akhlak sopan santun tidak berguna saat ini," gumamku dengan pelan. Tok! Tok! Tok! Aku mengetuk pintu kamar ini dengan sopan, namun nihil tidak ada yang menjawab ketukan pintuku. Tidak ada respon dari dalam aku mencoba membuka pintu dengan pelan. Aku melihat kalau ruangan ini benar-benar sangat menakjubkan. Aku tidak mengedipkan mataku melihat keindahan yang sesungguhnya saat ini. Kamar ini, berbanding terbalik dengan kamarku yang berada di bumi. Kamar ini begitu sangat megah, indah, dan rapih. Meskipun tidak ada orang yang menempatinya ruangan ini tetap terjaga keindahannya. Aku berjalan masuk ke dalam kamar sambil membawa Aetos yang masih berada di pundakku. "Wow, ini beneran sangat indah. Aku sangat menyukai kamar ini Aetos," ucapku sambil mengagumi keindahan kamar ini. "Kamar ini sangat indah di bandingkan kamarmu yang di bumi. Berasa sedang di sebuah gudang aku ketika berada di dalamnya," jelas Aetos. Aku memutar mata dengan malas dan menatapnya dengan tatapan tajam. "Ya, memang itu sebuah gudang. Wajar saja kau bilang seperti itu. Karena itu sebuah gudang yang ku sulap menjadi sebuah kamar yang nyaman. Kalau tidak aku akan menjadi anak gelandangan di luaran sana." "Kau betah tinggal bersama orang-orang gila harta itu. Kalau aku pribadi, aku akan pergi meninggalkan rumah dan memanggil teman Ayahmu," jelas Aetos. "Oh ya, apa yang terjadi di bumi ya? Apakah Ibu angkatku akan mencariku? Aku sangat takut untuk kembali ke Bumi," jelasku. "Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan kamu kembali ke bumi dengan seorang diri. Aku akan selalu melindungi kamu dengan sepenuh hatiku," jelas Aetos. "Tapi, biasanya aku membantu mereka. Pasti mereka akan mencariku. Aku tidak peduli dengan saudara tiri dan ibu angkatku. Ayah? Ia pasti sangat khawatir denganku saat ini. Bagaimana jika ayah mengingatku dan menghawatirkan aku?" tanyaku dengan pelan. "Tentang ayah, aku akan menghandle semuanya. Jangan memikirkan hal itu, sekarang kau fokus dengan kehidupan di sini. Untuk di bumi sudah ku handle semuanya," ucap Aetos menenangkan aku. "Baiklah," ujarku. Aku mulai melihat-lihat apapun yang ada di sekelilingku saat ini. Terlihat sangat indah dan sangat menawan. Aku membuka lebar kaca yang besar dan melihat ke arah depan. Di depan asrama banyak hutan dan sungai yang mengalir deras. Sangat menawan dan menarik perhatian. Senyumanku tak lama tertarik melengkung indah ke atas. Sangat jarang sekali aku melihat keindahan yang seperti ini di bumi. Dan di sini kehidupanku berbanding sangat terbalik dengan keadaan yang sebenarnya. Di sini aku merasa menjadi seorang bangsawan yang selalu di hargai dan di sayangi. Berbeda di bumi, hanya ada siksaan dan kehidupan yang menderita di setiap harinya. Aku terdiam dan menelaah apa yang telah terjadi. Banyak sekali pertanyaan yang menghantui otakku saat ini. Siapa aku sebenarnya? Siapa sebenarnya orang tuaku? Bangsa yang seperti apa Athena itu? Kenapa semua orang kaget mendengar aku anak dari Keluarga Matcha? Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu menghantuiku saat ini. Aku terdiam dan mencoba mencari tahu dengan melihat sekelilingku dan cara perilaku semua orang. Dari kaget hingga tak percaya. Setelah selesai bergelut dengan semua pemikiran dan semua terkaanku aku mulai membereskan barang-barangku ke tempat yang telah di sediakan. Arthemis POV Off. Author POV On. Di Bumi, Ibu dan semua saudara angkat Arthemis tertawa kencang mendengar semua candaan dari Andra. Mereka semua merasa senang dan selalu bercanda tawa di dalam rumah tanpa menggubris keberadaan Arthemis selama ini. Selama itu terjadi, Arthemis hanya bisa menahan tangisnya melihat keakraban mereka semua tanpa mengabaikannya. Mereka selalu menghina, menyiksa, dan melakukan hal yang tidak adil pada Arthemis. Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk sambil menghempaskan diri ke atas sofa. "Emysssss buatkan kami minuman segar!" teriak Andra dengan sangat kencang. "Emyssss buatkan kami makanan yang enak!" teriak Grilly dengan sangat kencang. "Emyssss! Kau dengar tidak apa yang kami suruh! Kau ingin kami siksa lagi Ha?!" teriak Andra dengan sangat kencang. "Bu, kemana pembantu satu itu. Apa dia sedang bermalas-malasan di dalam kamar?" tanya Andra sambil menerka-nerka di mana Arthemis. "Emysssss, Cepat buatkan semua itu! Jangan membantah dan melawan apa yang kami perintahkan. Atau kau akan menerima akibatnya!" teriak Ibu angkat Arthemis. Tak ada sama sekali tanggapan dari Arthemis membuat mereka semua geram dan menghampiri kamar Arthemis. Mereka semua kaget melihat keadaan kamar yang kosong tidak ada satu orangpun di sana. "Coba cari Arthemis di setiap sudut rumah ini. Jangan sampai ia berleha-leha di ruangan lain," suruh Ibu angkat. Mereka semua mencari keberadaan Arthemis di setiap sudut rumah. Namun, nihil mau kemanapun mereka mencari tidak menemukan Arthemis. Mereka semua berkumpul di ruang tengah dan mengambil minuman soda yang ada di kulkas. "Arthemis gak ada di mana-mana. Apa mungkin sudah keluar dan melarikan diri dari rumah ini?" tanya Andra dengan senyuman yang mengambang. "Bisa jadi, kita bisa bilang ke notaris Ayah. Kalau ia melarikan diri dan kabur dari rumah tanpa memberi tahu kita semua. Kita bisa bersandiwara di depan ayah sambil menangis dan bersedih mengabarkan Arthemis hilang." "Setuju banget, gue suka sama ide cemerlang Kakak. Dari situ kita bisa menguasai semua harta yang Arthemis punya," ucap Grilly sambil menepuk tangannya dengan bahagia. "Ibu setuju. Bisa kita lakukan semuanya dan dari situ kita bisa mendapatkan semua hartanya dalam hitungan detik," ucap Ibu angkat Arthemis sambil tersenyum licik. "Inilah yang kita tunggu-tunggu selama ini. Kita selalu menunggu, ia pergi dari rumah ini dan semua hartanya jatuh ke tangan kita. Tidak ada siapapun yang berani mengambil semua uang yang ia miliki." Mereka semua tertawa puas dan mulai menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di sofa panjang yang ada di rumah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD