Sekolah Baru

1732 Words
Mendapat sekolah baru yang sangat indah membuatku betah di negeri ini. Rasanya ingin sekali tidak kembali selamanya ke bumi. Karena jika di bumi aku tidak akan mendapatkan apa yang aku sukai saat ini. Akan banyak kekejaman dan kekerasan yang akan selalu aku terima pada saat di bumi. Berbeda dengan di tempat ini. Aku mendapatkan banyak kasih sayang dan banyak cinta di dalamnya dari saat aku pertama kali datang ke dalam negeri ini. -Arthemis Amysthyst Matcha. "Berapa Tuan semuanya?" tanyaku sambil mengeluarkan beberapa mata uang dari kota ini. "Tidak usah, saya sudah membayar semua makananmu. Lebih baik kita berjalan ke Immortal Academic School. Saya akan membawamu dan mengenalkan kamu kepada guru-guru yang ada di sana." "Terima kasih Tuan. Saya sangat berhutang budi padamu," ucapku sambil membungkukan badanku di depannya. Tuan Psyche berjalan mendahuluiku meninggalkan tempat makan ini. Aku dan Aetos mengikutinya dari belakang dan berjalan dengan lambat. "Jangan berkata seperti itu. Santai saja, lagi pula aku hanya membantumu hanya sedikit saat ini. Tugas seorang manusia kepada manusia yang lainnya adalah saling membantu satu sama lain yang membutuhkan. So, ini sudah menjadi tugasku." "Tetap saja, suatu saat nanti saya akan membalas semua apa yang telah kau lakukan selama ini kepadaku Tuan Psyche. Terima kasih sudah selalu ada dan selalu memberikan banyak hal kepadaku selama aku datang ke sini." Tuan Psyche hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya dengan pelan ke arahku. Aku hanya bisa membalas senyumannya dan berjalan di belakangnya bersama Aetos. Merasa risih dengan aku yang berjalan di belakangnya. Tuan Psyche langsung menoleh ke arahku dan menatapku dengan sangat lembut. "Berjalanlah di sampingku. Kau bukan pengikutku saat ini, kau itu anak muridku. Jadi kau harus menunjukkan jati dirimu sebagai seorang murid bukan sebagai pengikutku," jelas Tuan Psyche dengan sangat sopan. "Baik Tuan, aku akan berjalan di sebelahmu saat ini." Aku berjalan mendekat ke arahnya dan beriringan jalan di sampingnya. Aku melihat bangunan-bangunan yang ada di sekelilingku saat ini. Rumah-rumah yang ada di sini sama seperti rumah yang ada di negeri Fantasi yang aku baca selama ini. Tuan Psyche yang merasa aneh dengan sikapku hanya mengernyitkan dahinya bingung. "Apakah kau sebelumnya tidak pernah melihat lingkungan seperti ini?" tanya Tuan Psyche. "Tidak Tuan, sebelumnya saya tidak pernah melihat hal-hal seperti ini. Maka dari itu saya sangat asing dan senang melihat negeri ini." "Oh seperti itu. Baiklah," jawab Tuan Psyche. Tak lama kemudian kami sampai di depan pintu gerbang Immortal Academic School. Aku melihat gerbang yang megah dan mewah selayaknya istana di negeri fantasi terlihat indah di depanku. Aku melihatnya sambil mengagumi gerbang itu. "Gerbang yang sangat indah sangat berbeda dengan apa yang aku suka lihat di bumi. Di sini semuanya terlihat sangat mewah dan sangat berkelas," gumamku dengan sangat pelan. Tuan Psyche langsung meoleh ke arahku dan menatapku dengan sangat bingung. "Apakah kau mengatakan sesuatu?" tanya Tuan Psyche. "Tidak Tuan," jawabku dengan nada yang sangat kaget. "Baiklah, mari masuk ke dalam sekolah. Kita akan mendaftarkanmu di dalam sekolah ini. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada orang lain, selagi kau bersikap baik maka semua orang akan selalu membantumu dalam hal apapun." "Terima kasih atas semuanya. Kau adalah penolongku saat ini. Tidak tahu lagi aku jika tidak bertemu denganmu saat ini. Mungkin aku sudah jadi gelandangan di kota ini bersama Aetos," ujarku dengan sangat sopan. "Aetos? Burung rajawali mu?" tanya Tuan Psyche dengan sangat sopan. "Ah itu, iya dia adalah binatang peliharaanku." Tuan Psyche hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mengajakku masuk ke dalam ruangan yang berada di dalam sekolah ini. "Masuklah jangan takut karena aku akan ada di samping kamu sampai kamu mendapatkan tanda pengenalmu. Tenang saja mereka memang terlihat sangat mengerikan tapi mereka semua sebenarnya baik ko kepada semua orang yang baru saja datang," ujar Tuan Psyche dengan sangat ramah. Aku mengangguk dan berjalan di belakangnya. Tuan Psyche mengeluarkan kartu tanda pengenalnya kepada seorang penjaga yang menjaga sekolah ini. Setelah melihat kartu itu sang penjaga membukakan pintu gerbang sekolah itu dengan cepat dan menundukkan kepala, seraya memberi hormat kepada Tuan Psyche. Tuan Psyche langsung masuk ke dalam dan membalas tundukkan kepala para penjaga itu. Aku dengan cepat mengikuti langkah kaki Tuan Psyche yang berjalan mendahuluiku dan Aetos. Kami menyusuri lorong sekolah yang terlihat sangat sepi. Badanku merinding ketika melihat sekeliling lorong itu sangat sepi. "Maaf Tuan, apakah lorong ini sangat sepi seperti ini? Rasanya tidak seperti sekolah pada umumnya? Biasanya banyak orang yang berlalu lalang dan banyak orang yang berada di pinggir sini meskipun hanya untuk bercengkrama?" tanyaku dengan pelan. "Iya, ini memang sangat sepi kalau hari ini. Khusus hari ini saja, karena mereka banyak sekali mata pelajaran yang harus mereka kejar kalau hari ini. Biasanya sih ramai koridor ini dengan anak-anak yang duduk di pinggirnya ya meskipun hanya bercengkrama santai dengan rekannya, cuma hari ini mereka sedang melakukan pembelajaran di luar, maka dari itu lorong sangat sepi." Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan dan mengikuti jejak Tuan Psyche menuju ruang guru. Kami berjalan hingga menuju ruang guru, lalu Tuan Psyche di sambut dengan hangat oleh orang-orang yang ada di sana. "Selamat pagi Tuan Psyche sudah lama tidak kelihatan beberapa hari ini," ucap salah satu guru di sana. "Pagi, Bu Armthe. Iya, saya ada tugas di luar kota ini kemarin mangkanya saya jarang terlihat berada di dalam sekolah." Sapa balik Tuan Psyche sambil tersenyum dengan manis.Aku hanya menundukkan kepala dan berdiri di samping Tuan Psyche. Tuan Psyche menarik tanganku mendekat ke arah seorang guru yang sedang berkutat pada bukunya yang berada di pojok sana. "Pagi Bu Hernyme," sapa Tuan Psyche dengan ramah. Ibu itu langsung menoleh ke arah kami yang sedang berdiri di depannya dengan senyuman manis. "Pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Hernyme dengan ramah. "Saya mendapat seorang murid baru. Ini anaknya dan ini biodatanya," ucap Tuan Psyche sambil menyodorkan buku yang ia tulis tadi. "Baik, saya baca dulu ya Tuan. Siapa namamu sayang?" tanya Bu Hernyme. "Namaku Arthemis Amysthyst Matcha, Bu." Bu Hernyme langsung terdiam dan melihatku dari atas hingga bawah. Bu Hernyme langsung menatap Tuan Psyche seperti meminta penjelasan. Bu Hernyme langsung menetralkan wajahnya dan menatapku dengan senyuman manisnya. "Oh, iya. Arthemis perkenalkan ini Bu Hernyme dia guru elemen es di sini. Jadi, kalau kau kesulitan dalam elemen es kau bisa bertanya padanya." "Ibu Armthe adalah guru elemen bumi atau tanah. Jika kau kesulitan kau bisa bertanya padanya." "Baik terima kasih, Pak atas penjelasannya." "Baiklah, kalau begitu kau di sini bersama Bu Hernyme dan Bu Armthe. Saya keluar terlebih dahulu, permisi." Tuan Psyche meninggalkan aku di ruang guru bersama dua guru yang ada di sini. Bu Armthe menghampiriku dan tersenyum dengan manis. "Halo anak cantik. Siapa namamu?" tanya Bu Armthe dengan ramah. "Namaku Arthemis Amysthyst Matcha. Aku dari bangsa Dyrnatous," jawabku seadanya. Bu Armthe langsung kaget melihatku. Ia menatapku dari atas hingga bawah sedetail-detailnya dan memutar tubuhku dengan pelan. "Arthemis Amysthyst Matcha? Anak dari seorang penasehat kerajaan terkenal, Fransisco Amysthyst Matcha dan Arnemis Matcha? Bukannya mereka berasal dari bangsa Athena? Kenapa kau bilang berasal dari bangsa Dyrnatous?" tanya Bu Armthe dengan nada kagetnya. "Ha? Maksudnya apa ya Bu? Kenapa Ibu kenal dengan kedua orang tuaku?" tanyaku dengan bingung. "Duduklah dulu. Jelaskan pada kami yang sebenarnya," jelas Bu Hernyme menengahi kami berdua. Aku duduk di bangku yang telah di sediakan bersama Bu Armthe. Bu Hernyme mendekat ke arah kami berdua dan duduk di sebelah kananku. "Jelaskan semuanya pada kami, Nak?" tanya Bu Hernyme. "Aetos! Kau........" geramku dengan kesal. Aetos yang melihatku dengan kesal hanya tertawa kecil. "Sekarang jelaskan kepada mereka semua agar kau bisa menelaah apa yang mereka tanyakan," jelas Aetos. Aku menghela nafas dengan kasar dan menatap mereka dengan senyuman manis. "Sebenernya aku bukan berasal dari sini. Aku berasal dari bumi." "Tunggu Bumi?" tanya Bu Armthe. "Iya Bu, kau ingat yang pemindahan mereka ke bumi?" tanya Bu Hernyme. "Okey, baiklah aku ingat kejadian itu. Lalu bukannya mereka di kabarkan tidak memiliki anak? Tapi, kenapa Arthemis ada?" tanya Bu Armthe dengan bingung. "Bumi lebih hebat dari kita di sini. Sudah tidak pantas mengulik lebih dalam. Kalau boleh tahu, kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Bu Hernyme dengan senyuman manisnya. "Aku menemukan sebuah lorong di bawah tanah, aku tidak sengaja masuk ke dalam sebuah ruangan dan menemukan sebuah kalung liontin dan buku. Aku tidak sengaja mengucapkan mantra yang ada di buku itu. Setelah itu aku sudah berada di sebuah hutan yang sangat rimbun." "Aku menyusuri hutan tersebut hingga bertemu dengan binatang peliharaanku ini." Huft baiklah, setelah ini aku akan di hukum karena masuk ke sini tanpa izin. Kemungkinan aku akan di siksa lebih kejam daripada di rumah, aku termasuk seorang penyusup yang masuk ke sini tanpa izin seseorang yang aku kenal. "Kau tenang saja, kami tidak akan menyiksamu di sini. Kami akan mengajarkanmu dan menerimamu dengan lapang dada." "Eh, Ibu bisa membaca apa yang aku pikirkan?" tanyaku dengan kaget. "Itu adalah kelebihan ku. Selain aku guru elemen es, aku juga seorang guru yang dapat membaca apa yang di pikirkan oleh anak muridnya. Jadi, kalian tidak bisa berbohong kepadaku dalam hal apapun." "Wah, sangat hebat. Ibu sangat hebat bisa membaca pikiran orang," ucapku dengan kagum. "Boleh kami lihat liontin yang kau pakai?" tanya Bu Hernyme. "Boleh Bu," ucapku sambil mengeluarkan liontin yang sedang ku pakai. Bu Hernyme dan Bu Armthe sangat kaget melihat apa yang aku pakai. Tapi, mereka langsung tersadar dan menetralkan muka mereka yang kaget itu. "Baiklah, Arthemis Amysthyst Matcha. Kau di kamar 389 sekamar bersama Metha Alious Selena. Ia adalah seorang gadis yang asli Dyrnatous. Kau bisa belajar darinya," jelas Bu Hernyme. "Jaga diri baik-baik anak cantik. Kami selalu ada di belakangmu," jelas Bu Armthe sambil memelukku dengan pelan. Aku yang kaget dengan pelukan itu hanya terdiam dan membalas pelukan itu dengan pelan. Pelukan yang hangat membuat aku rindu dengan sosok bunda. Aku menahan air mataku dan mencoba tersenyum dengan hangat. Aku terus menikmati pelukan hangat ini dengan pelan. Setelah puas memelukku Bu Armthe melepaskannya dan tersenyum dengan manis. Bu Hernyme yang melihat kami berpelukan hanya tersenyum dan berjalan ke arah ruang pengumuman. "Panggilan kepada Siswa bernama Ferdinand Primson Quarte dan Iznti Dyloious Primson harap ke ruang guru sekarang juga," ucap Bu Hernyme. Tak lama kemudian dua orang cowo bertubuh besar tinggi dan bermanik indah. Yang satunya bermanik emas dan sebelahnya bermanik biru. Aku terpaku melihat mereka berdua dan kembali menundukkan kepalaku. "Ada apa Bu?" tanya mereka berdua tanpa ekspresi. "Arthemis ini adalah Iznti Dyloious Primson dari bangsa Primson dan Ferdinand Primson Quarte berasal dari bangsa Dyrnatous. Kau bisa berteman dengan mereka. Karena mereka teman sekelasmu," jelas Bu Hernyme.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD