Cukup lama wanita itu terdiam, sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Ini adalah kali kedua semenjak pergumulan panas yang terjadi di antara mereka dua minggu yang lalu.
Wanita itu tidak lagi menerima pekerjaan sebagai penyanyi di desa. Karena terikat perjanjian kerja dengan lelaki yang kini berada di dalam kamar tersebut. Membuat para penggemarnya kecewa atas keputusan yang diambil Rosa.
Rosa, wanita cantik yang sangat dengan terpaksa harus menerima kenyataan pahit, ditinggal mati suaminya setelah satu bulan pernikahannya. Seorang penyanyi desa, yang mengandalkan kepandaiannya dalam dunia tarik suara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Semenjak dia ditinggal mati suaminya lima tahun silam.
Dengan sangat terpaksa wanita itu menjalani profesinya yang menurutnya sangat berisiko.
Bau wewangian menyeruak dari dalam kamar yang terbuka. Membuat hati terasa nyaman bila menghirupnya.
“Tante.” panggilan manja menyambut kedatangan wanita seksi itu.
Senyum menawan nan memikat terlukis di bibir merah Rosa. Membuat lelaki berbadan tegap itu langsung menelan salivanya berulang.
“Aku merindukanmu, Tante,” bisik Memet ke telinga Rosa. Membuat wanita itu mendesah pelan.
“Geli, Sayang.” Rosa menyandarkan kepalanya pada d**a bidang Memet yang berbulu tipis.
‘Dadanya saja berbulu, apalagi bawahnya, pasti lebih menggoda,' batin Rosa nakal.
“Benarkah?” tanya lelaki itu sambil tersenyum hangat pada wanita dalam dekapannya.
‘Asyik, kali ini aku pasti berhasil,' batin Memet girang.
“Memet ...!” Rosa mendesah pelan saat lelaki itu menyusuri lekukan lehernya.
"Iya, Sayang."
‘Ternyata benar petunjuk buku itu, buktinya Tante Rosa sekarang mendesah,’ batin Memet lagi dengan senyum yang terlukis indah di sana.
“Manjakan aku!” pinta Rosa kemudian.
‘Apa? Secepat inikah reaksi dari ilmu itu, mantap,’ gumam Memet dalam hati.
Lelaki itu langsung membopong tubuh semok Rosa dan merebahkannya di atas tempat tidur.
“Sayang, jangan buat aku kecewa seperti waktu itu,” bisik Rosa saat Memet mulai mencumbunya.
Gerakan tangan lelaki itu terhenti seketika, netranya menatap lekat wanita cantik yang mulai terbuai oleh permainannya. Pikirannya menerawang, mengingat peristiwa asyik tapi memalukan dua minggu yang lalu.
***
Di satu senja yang dingin. Berdiri sosok wanita cantik nan seksi di depan lelaki gagah dan tampan. Wanita itu memakai baju kebaya berwarna merah dengan belahan d**a yang lebar. Memperlihatkan gundukan kembar yang montok berisi.
Wanita itu adalah Rosa. Dia memenuhi ajakan dari wanita berumur yang berdalih ingin mencarikan jodoh untuk anaknya.
Rosa lalu berjalan pelan, menghampiri sosok pria tampan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Perlahan wanita itu menanggalkan bajunya dan hanya menyisakan celana dalam juga Bra, yang menutupi benda kenyal yang menggantung besar di dadanya.
Memet menelan salivanya berulang. Dulu, lelaki itu hanya bisa membayangkan tanpa bisa menjamahnya. Dan kini, semua ada di depan mata.
Tubuh seksi itu, d**a montok itu, lengkap dengan semua onderdil yang lainnya. Yang mampu memuaskan hasrat lelakinya yang meronta.
“A—aku mau lihat semuanya,” ucap Memet dengan bibir bergetar.
“Ok, Sayang.” Rosa melepas kait pada penutup daging kembar itu lalu membuangnya asal.
‘Perasaan apa ini? Kenapa jantungku semakin mempercepat denyutnya?’ batin Memet semakin gugup.
Pemandangan luar biasa di depannya membuat lelaki itu tidak bisa mengendalikan diri. Memet jadi gelisah, belingsatan tak menentu.
‘Kenapa lelaki ini tidak bisa diam? apa dia tidak pernah dekat dengan cewek selama ini? Tingkahnya sungguh aneh. Hah, biarlah. Ini malah akan mempermudah pekerjaanku,’ batin Rosa dengan senyum sumbang.
Rosa mulai mendekat, wanita itu perlahan duduk di atas tubuh kekar Memet. Membuat lelaki itu sedikit kaget.
“A—apa yang akan kamu lakukan?” sergah Memet sedikit berundur. Membuat Rosa hampir terjungkal.
“Bukankah ini yang kamu mau, Sayang?” Rosa membenarkan posisinya sambil membelai d**a bidang lelaki di hadapannya.
“B--benarkah?” Memet mendelik tak percaya.
Rosa mengangguk, tersenyum manja. Ups! Tunggu dulu. Itu senyum manja atau senyum geli, ya? Kok sedikit aneh.
Sementara itu Memet semakin tidak terkontrol. Antara ingin berontak juga ingin menikmati tubuh seksi wanita yang menindihnya saat ini.
Tangannya terangkat lalu dihempaskannya lagi, lagi dan lagi. Hatinya galau.
Perlahan netranya mulai terpejam, enggan menyaksikan apa yang akan Rosa perbuat atas tubuhnya.
Rosa. Wanita itu selalu melakukan pekerjaannya secara baik meski dalam situasi hati yang sulit.
Rosa, terpaksa menyanggupi dan melakukan perjanjian aneh yang mengharuskannya berbuat demikian. Mengajari Memet dalam hal percintaan. Karena selama ini lelaki itu selalu menghindar dan menjaga jarak dengan para kaum hawa. Trauma yang selama ini dia pelihara, membuat lelaki itu harus berpikir banyak kali sebelum mendekati wanita.
Kekerasan yang dia alami saat duduk di bangku SMA, menciptakan luka dan trauma yang mendalam. Dan, berdampak pada kepribadian Memet yang sulit menerima rasa yang tercipta saat berdekatan dengan lawan jenisnya.
Meskipun demikian, Memet tetap harus melakukannya demi memenuhi permintaan terakhir dari ayahnya dan juga untuk masa depannya sendiri.
Begitu pun Rosa. Wanita itu tetap harus melakukan perjanjian yang menurutnya sangat aneh dan sulit.
Semua itu dia lakukan karena dia harus segera melunasi semua hutang milik almarhum suaminya kepada rentenir yang sangat kejam, bernama Jamari.
Yang setiap hari datang dan selalu memaksanya untuk menuruti permintaannya, menjadi istri ke-5.
Namun, karena Rosa yang tetap gigih dalam pendiriannya itu, membuat dirinya berada dalam posisi yang sangat sulit dan membahayakan dirinya sendiri.
Dia harus berurusan dengan sang rentenir berbadan gempal setiap hari. Karena lelaki itu sangat menginginkan dirinya.
***
Saat ini Rosa tidak mempermasalahkan apa yang Memet lakukan. Wanita itu mulai membuka kain sarung yang dikenakan Memet.
Hatinya berdegup kencang kala mendapati alat kelamin lelaki yang kini berada di depannya.
‘Besar dan panjang. Mantap,’ batin Rosa nakal.
Tangannya mengusap alat vital itu pelan, membuat tubuh Memet menggelinjang beberapa kali.
Rosa mendekatkan wajahnya, melakukan tugasnya, memberikan sentuhan-sentuhan kecil di area sensitif lelaki itu yang terlihat pasrah.
Lagi, tubuh kekar Memet merespon, membuat Rosa semakin gencar mendaratkan serangannya.
‘Perasaan apa ini? Apakah rasanya memang seperti ini?’ batin Memet tak menentu.
Sementara itu Rosa mulai merasakan gairah yang semakin membuncah, denyut pada daging kecilnya semakin kencang.
Perlahan Rosa menaikkan tubuhnya yang seksi. Menuntun ke posisi yang pas dan asyik.
Ini pasti sangat memuaskan. Batin Rosa dengan senyum manisnya.
Liang sanggama miliknya yang telah lama tidak terjamah itu kian basah, mengharapkan pentungan itu segera masuk dan memenuhi hasratnya.
Rosa mulai menggesekkan pentungan itu pada muara miliknya perlahan. Membuat rasa yang kian tak menentu untuk Rosa maupun Memet.
“Ah ...!” Desahan menggoda Rosa mulai terdengar.
Dengan sangat hati-hati Rosa melanjutkan aksinya yang semakin panas.
Dan.
Tidak ...!”