Nikmat Yang Aneh

1025 Words
“Tidak ...!” Lelaki itu mendorong tubuh wanitanya hingga terjungkal ke belakang, membentur ubin kayu. “Aw ...!” teriak Rosa sambil memegangi punggung dan kepalanya bergantian. Netranya memerah menahan sakit. Menit berikutnya wanita itu bangkit dan langsung memberondong banyak pertanyaan pada lelaki yang kini sibuk menutupi tubuhnya dengan kain sarung. “Apa kamu sudah gila, hah? Kalau aku cedera bagaimana? Apa kamu mau bertanggung jawab? Pikir!” bentak wanita itu sambil bangkit tanpa memedulikan tubuh polosnya yang menantang. “Kita hanya sebatas rekan kerja, bukan milikmu seutuhnya,” timpal wanita itu lagi dengan tatapan tajam ke arah lelaki yang sudah mendorongnya hingga terjatuh. Anehnya lagi, bukannya meminta maaf, lelaki itu malah pergi begitu saja sambil memakai kain sarungnya asal. “Memet ...!” teriak wanita itu lantang. Namun, lelaki yang dipanggilnya terus berlalu meninggalkannya sendirian. Dalam hati yang bergemuruh penuh amarah. Memet (29 tahun) adalah lelaki berperawakan gagah dan tampan. Lelaki itu sangat ingin menikmati kencan pertamanya, tapi dia takut akan rasa yang tercipta saat ia bersentuhan dengan wanita. Dia takut bila nanti terjadi apa-apa dengan juniornya. Takut dengan rasa aneh yang tercipta saat bercinta. Pusinglah. "Sayang!" Panggilan Rosa membuat Memet terjaga dari lamunannya. "Maafkan aku, kamu pasti sangat tersiksa waktu itu," bisik Memet ke telinga Rosa. Membuat wanita itu tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya pada leher lelaki di depannya. "Aku ngerti kok, Sayang. Kamu pasti belum siap melakukannya," balas Rosa sambil menatap lekat lelaki itu. Membuat desiran aneh kembali menjalari pikiran Memet tanpa henti. "Tante, kita belajarnya pelan-pelan saja, ya?" Memet mengucapkannya ragu. Rosa mengangguk dan mencoba bangkit, tapi tangan kekar Memet mencegahnya. Lelaki itu menggeleng saat wanita di pangkuannya menatapnya penuh tanya. "Tetaplah di sini," bisik Memet sambil merekatkan tubuhnya. Lelaki itu mulai menekan tubuh Rosa hingga tercipta gesekan pelan pada kulit mereka. Rosa hanya diam, wanita itu bingung harus berbuat apa. Dia takut melakukan kesalahan yang sama yang membuat dirinya terjungkal tempo hari. Gundukan besar itu membuat d**a Memet menghangat. Menciptakan sengatan yang luar biasa pada tubuhnya. Perlahan Memet merenggangkan pelukannya, lelaki itu menatap ke arah juniornya yang kini menegang tak terkendali. "Tante, bisakah kau membuatnya kembali tertidur?" Rosa tercengang, wanita itu tidak menduga Memet akan mengatakan hal itu. Pentungan itu berdiri tegak di balik celana bokser yang dipakainya. Ukurannya yang besar membuat Rosa berimajinasi liar. 'Andai Memet sudah siap dengan rasa itu, mungkin aku akan sangat kewalahan melayani ular pitonnya yang super besar' batin Rosa sambil menatap gumpalan daging milik lelaki di hadapannya. "Tante? Kok melamun, sih. Bisa gak, Tan?" Memet menaikkan dagu Rosa hingga membuat mereka saling pandang dalam kebisuan. Mata itu terasa hangat dan sangat nyaman untuk dibiarkan begitu saja. Rosa tanpa sadar mulai mendekatkan wajahnya dan berusaha menyatukan bibir mereka. Membuat Memet tergagap dengan tindakan wanita itu. Karena dia merasa belum siap untuk menerima sentuhan yang akan Rosa lakukan. Di saat bibir Rosa mulai terbuka hendak melumat bibir seksi miliknya, tiba-tiba tangan lelaki itu terangkat dan mencegah bibir Rosa untuk menyentuh bibirnya. Wanita itu terdiam sesaat, ada rasa kesal juga malu yang perlahan menjalari pikirannya. Ingin rasanya dia memaki Memet saat itu juga, karena telah membuat dirinya terlihat kacau. Namun, segera dia buang rasa itu saat dia kembali tersadar bahwa Memet adalah seorang lelaki yang memiliki kepribadian yang unik. “Tante, kita lanjutkan saja permainan yang tadi. Bagaimana?” lirih Memet dengan tatapan yang sulit diartikan. Rosa mengangguk, wanita itu kemudian turun dari pangkuan, duduk di sebelah Memet. "Kita coba, ya?" kata Rosa lirih. Wanita itu mulai membelai ular piton yang tengah bersembunyi di dalam sana. Ingin segera membuka celana bokser yang dipakai Memet. Rosa terlihat sangat kesusahan menelan air liurnya berulang, menahan hasrat yang ingin segera disalurkan. 'Sampai kapan aku harus seperti ini, menahan hasrat yang sudah membuncah. Sungguh, keadaan ini sangat menyiksaku,' batinnya meronta, Rosa merutuki diri sendiri. Wanita itu terpaksa menahan diri demi upah yang telah dijanjikan. "Tante, apakah tante juga menginginkannya?" Memet mengeluarkan pertanyaan yang sangat konyol. Rosa mengangkat kepalanya, menatap lelaki di sampingnya sinis. "M--maksudku, aku juga menginginkannya.” Memet meralat ucapannya. Dia merasa sepertinya Rosa mulai tersinggung. Dilihat dari tatapan matanya yang tajam. Rosa kembali memainkan jarinya pada si piton manja, tangannya bergerak naik turun penuh penghayatan. Dadanya berdebar disko merasakan getaran yang menjalar liar hingga ke area bawahnya. Menciptakan denyutan yang membuat celananya basah. Andai dia tidak meneruskan perjanjian itu, mungkin dia tidak tersiksa seperti saat ini. Rosa mendekatkan wajahnya dan mulai menyusuri lekukan ular piton itu mesra dari balik kain yang menutupinya. Membuat Memet menggelinjang beberapa kali disertai desahan yang tertahan, terlihat jelas lelaki itu masih sangat malu untuk menunjukkan perasaannya. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang kian memerah. Dengan sedikit keberanian Memet mencoba menutupi kepolosannya itu dengan melakukan hal yang sebenarnya sangat dia takuti. "Tante, boleh aku menyentuhnya," tanya Memet ragu, takut Rosa marah. "Tentu saja, Sayang." Rosa kemudian menuntun tangan kekar Memet untuk menekan muara berumput hitam miliknya. Namun, anehnya Memet langsung menahan tangan wanita itu, dia menggeleng saat Rosa menatap wajah tampannya yang memerah. Rosa pun semakin bingung dengan sikap yang ditunjukkan oleh lelaki di hadapannya. Kadang mau, kadang tidak. Terkadang memancing tanpa menginginkan hasilnya. Membuat hati Rosa geram. Perlahan Memet menarik tangannya, memegang kedua pundak wanita di sampingnya, seolah akan melakukan hal yang lebih dari itu. Memet memandang wajah cantik itu intens lalu merebahkan tubuh Rosa perlahan. Netra yang saling terkunci membuat keduanya merasakan getaran yang sama. Getaran yang sudah lama tidak Rosa rasakan semenjak suaminya meninggal lima tahun silam. 'Astaga ... apakah Memet sudah siap dengan pitonnya? Dan akan segera melampiaskan hasratnya padaku.' Rosa mencoba menguatkan dirinya, bersiap-siap jika lelaki itu menusuknya dengan piton perkasa. "Tante sungguh cantik dan memesona," bisik Memet sambil mengecup telinga Rosa, membuat wanita itu memejamkan matanya, mendesah nikmat. Merasakan geli saat kumis tipis lelaki di sampingnya menyentuh kulit mulusnya perlahan. Sementara Memet hanya tersenyum melihat reaksi Rosa yang berlebihan saat mendapatkan sentuhan lembut darinya. Memet merasa bahwa kini dirinya sudah mulai bisa beradaptasi dengan rasa aneh yang selalu ditakutinya itu. Maklum, selama ini Memet belum pernah dekat dengan seorang wanita seperti yang dia alami saat ini. Apalagi sampai melakukan adegan ciuman dan sejenisnya. Memet yang masih terpaku menatap wajah ayu Rosa, kemudian mencium kening wanita itu dan ... gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD