Pengkhianatan

1225 Words
Xhavier memberhentikan mobil yang di kendarainya tepat di sebuah parkiran hotel mewah, pasalnya ada pertemuan di restoran hotel mewah itu yang harus di hadiri Nhosa. "Kau ingin ikut ke dalam?" Tanya Nhosa menawarkan dengan cepat Xhavier menggelengkan kepalanya. Lelaki itu tau kastanya, saat ini Nhosa akan bertemu teman-teman alumni kampusnya jadi Xhavier tak ingin kehadirannya akan mencuri perhatian teman-teman majikannya yang notabennya berasal dari keluarga terpandang semua. "Baiklah, kalau begitu tunggulah disini. Aku tidak akan lama." Ucap Nhosa membuka sabuk pengamannya lalu meraih bingkisan berisi undangan pernikahannya bersama Alex yang nantinya akan ia bagikan pada teman-temanya di dalam. Nhosa berjalan memasuki restoran, tak beberapa lama melangkah wajah yang sangat familiar langsung mencuri perhatiannya dengan segera Nhosa menghampiri meja tempat para teman seangkatannya saat kuliah dulu duduk berkumpul. "Wees!... Ini dia calon pengantin kita." Ucap salah seorang dari rekan Nhosa menyambut kedatangan Nhosa membuat Nhosa sedikit malu. Nhosa dengan segera ikut bergabung, duduk bersama mereka "Ngomong-ngomong, kenapa datang sendiri? Calon suamimu dimana? Apa kau tidak ingin memperkenalkannya pada kami?" Sambar salah seorangnya lagi. Mendengar perkataan temannya itu, Nhosa nyaris tertunduk sedih, benar seharusnya Alex bersamanya mengantarnya menyebarkan undangan tapi yang dilakukan calon suaminya itu justru sebaliknya, Alex tak perna memiliki waktu untuk Nhosa padahal sebelum mereka mempersiapkan acara pernikahannya Alex seakan enggan membiarkan Nhosa sendiri, bahkan meski Nhosa meminta Alex pergi Alex tidak akan pergi tapi kali ini berbeda disaat penting seperti ini Alex justru terlihat sibuk dengan sesuatu yang entah Nhosa sendiri tak tahu. "Woii!..." Seorang teman Nhosa menepuk pundak Nhosa membuat gadis itu terhenyak dari lamunannya. "Apa yang sedang kau pikirkan Nhosa?" Tanya gadis berambut keriting itu "Tidak ada," jawab Nhosa lalu memasang senyuman palsu di wajahnya. "Sebaiknya kau telpon calon suamimu, minta dia untuk datang dan perkenalkan dia pada kami. Kami juga ingin mengenalnya." Pinta gadis berambut keriting itu. "Baiklah, tunggu sebentar aku akan menelponnya." Jawab Nhosa seraya beranjak keluar dari kumpulan teman alumninya itu. Nhosa mengeluarkan ponsel pintarnya lalu menelpon nomor milik Alex, beberapa kali berdering Nhosa masih menunggu hingga ia harus mendapatkan kekecewaan karena Alex tak menjawab panggilan telponnya. Nhosa berusaha kembali menelpon Alex hingga Nhosa terhenyak begitu ia melihat di loby hotel ada Alex sedang melintas. "Alex?" Gumam Nhosa sembari terus berusaha menelpon Alex. Di kejauhan nampak Alex meraih ponsel yang ada di sakunya mengetahui telpon itu dari Nhosa, Alex terlihat mengabaikan panggilan telpon itu, alih-alih menjawab ia justru memasukan kembali telpon itu dalam sakunya. Nhosa terdiam melihat reaksi Alex saat menerima panggilan telponnya. Bergegas Nhosa mengikuti Alex hingga langkah Nhosa terhenti begitu Alex bertemu dengan Leana. "Leana?"gumam Nhosa "Bagaimana mungkin?" Pikirnya, mata Nhosa terlihat melotot ketika mendapati interaksi antara Alex dan Leana begitu akrab dan seperti sudah lama saling mengenal padahal sebelumnya keduanya bertingkah seolah-oleh kemarin adalah pertemuan pertamanya saat Nhosa memperkenalkan mereka berdua. Dengan tubuh gemetar, Nhosa diam beberapa saat sebelum akhirnya ia menghampiri bagian resepsionis hotel. "Mmh!.. permisi." Ucap Nhosa yang langsung direspon baik oleh bagian resepsionis itu. "Iya Nona, ada yang bisa kami bantu?" "Aku melupakan kunci kamarku di kamar, bolehkan aku mendapatkan kunci yang lain?" Tanya Nhosa. "Tentu saja, bolehkah aku tahu nomor kamarnya dan atas nama siapa pemesan kamarnya? Serta ID dari si pemesan kamar?" Pinta bagian resepsionis itu. Nhosa berpikir sejenak lalu ia menyebutkan nama Leana serta ID Leana sebagai pemesan kamar "Untuk nomor kamarnya, maaf aku lupa." Ucap Nhosa. Bagian resepsionis itu tersenyum memeriksa dalam compurternya dan menemukan nama dan ID pemesan yang disebutkan oleh Nhosa. "Ini Nona, kamar Nomor 9 yang ada di lantai 3." Ucap resepsionis itu. "Terimakasih." Nhosa meraih kunci yang diberikan resepsionis lalu menuju lift, segera memasuki lift lalu menekan tombol 3 untuk menuju ke lantai 3. Sementara dalam kamar hotel, Alex dan Leana nampaknya terlibat dalam suasana yang cukup serius. "Sekarang kita sudah memiliki waktu berduaan Leana, katakanlah apa yang kau inginkan hingga mengajakku untuk bertemu secara private seperti ini?" Tanya Alex memandang tajam kearah Kakak dari calon istrinya itu. Alex tertawa pelan melihat sorot mata Leana memandangnya kini penuh dengan kebencian "Sorot matamu kini berubah Leana, sorot matamu sekarang penuh kebencian, padahal kemarin sorot mata itu penuh ketakutan ketika aku bersama dengan keluargamu dan Nhosa." Leana tak menggubris ucapan Alex "Kenapa? Apa kau takut aku akan mengungkap masa lalu kita?" Leana menarik nafas pelan lalu dihembuskannya secara berlahan mengumpulkan keberaniannya untuk berbincang dengan Alex. "Apa yang kau lakukan pada Adikku? Apa motifmu mendekati Nhosa?" Tanya Leana langsung to the point, Alex lagi-lagi hanya tersenyum tipis wajah Alex bahkan terlihat tenang. "Punya motif apa kau mendekati Nhosa?" Tanya Leana kembali kali ini dengan nada sedikit keras dan suara gemetar menahan emosi melihat tingkah Alex di hadapannya. "APA YANG KAU INGINKAN HINGGA KAU MENDEKATI NHOSA?!" Teriak Leana setelah tak dapat menahan emosinya karena kesal pada Alex yang masih enggan menjawab pertanyaannya. Alex kini melangkah kearah sofa mendudukan dirinya disana kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sementara tatapan matanya terfokus pada Leana "Menurutmu sendiri, apa motifku mendekati Nhosa yang lugu?" Alex bertanya balik membuat Leana terhenyak "Kau butu uang? Apa kau ingin uang?" Tanya Leana kali ini pertanyaan Leana sukses membuat Alex tertawa terbahak-bahak namu tidak menjawab pertanyaan dari Leana "Aku akan memberikanmu 2 juta dolar bagaimana?" Tak ada respon dari Alex "Baiklah, akan ku berikan kau 5 juta dolar tapi jangan ganggu kehidupanku lagi, keluargaku terutama Nhosa. Bukankah uang 5 juta dolar cukup untuk membuatmu hidup kaya raya." Tawa Alex seketika hilang, wajahnya yang tadinya selalu tersenyum kini berubah serius saat Leana menyebut uang. "Apa uang 5 juta dolar masih kurang cukup untukmu? Kalau itu masih kurang, sebutlah berapa yang kau inginkan maka aku akan memberikannya padamu." Masih sama tak ada respon dari Alex, sorot mata Alex kini mendadak tajam penuh kemarahan memandang Leana membuat Leana tersentak kaget karena menyadari sesuatu, dengan nada terbatah Leana berusaha menanyakan satu pertanyaan lagi pada Alex "Apakah motifmu mendekati Nhosa karena ingin balas dendam padaku, karena aku mengkhianatimu setelah kau berkorban untukku?" "Binggo." Jawab Alex "Memangnya apa yang akan kau peroleh dari balas dendam padaku dengan menggunakan Nhosa?" Tanya Leana "Ayolah Alex, jangan bersikap bodoh realistislah sedikit, akhiri balas dendammu dan terima saja uangku setidaknya dengan uang itu kau dapat hidup enak." Ucap Leana seakan menghina kehidupan miski dari Alex hal itu membuat Alex kesal Dengan mata memerah dan barair karena menahan emosinya yang menggebu-gebu merasa terhina akan ucapan Leana, Alex meraih pergelangan tangan Leana "Aku merindukan kehangatan tubuhmu Leana." Bisik Alex membuat Leana naik pitam dan langsung menampar Alex. Alex tertawa menerima tamparan dari Leana, ia menarik pergelangan tangan Leana lagi, membawa gadis itu dalam dekapannya, lalu menyentuh d**a dan buah kacang yang ada di d**a milik Leana. Sentuhan Alex membuat Leana tegang, Alex mengetahui betul bagian sensitif yang ada di tubuh Leana membuat gadis itu tak bisa berkutik. Alex mencium leher Leana, menjalar hingga bagian d**a dan berhenti disana untuk waktu yang lama. Tangan Alex masuk dari balik baju yang digunakan Leana, mencari letak posisi pengait bra milik gadis itu dan dalam sekali sentak bra itupun terlepas membuat tangannya semakin leluasa bermain di bagian d**a milik Leana. Ketika Leana telah larut dalam permainan Alex, lelaki itu membawa Leana kearah tempat tidur membaringkan tubuh yang mulai merespon sentuhan itu diatas tempat tidur dalam posisi terlentang dan tanpa busana sehelaipun. Sebenarnya Alex merasa jiji melalukan hal itu pada Leana, tapi rasa benci yang masih bersarang di hatinya akibat perbuatan Leana membuatnya mengesampingkan rasa jijinya dan mulai menikmati tubuh segar milik Leana. Bersambung!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD