Bab 15

1070 Words
Tak terasa hari pernikahan ku dengan Bagas sebentar lagi hanya tinggal seminggu lagi. Namun entah kenapa aku masih saja ragu untuk pernikahan ini, bukan karena aku masih berharap sama Reyhan namun aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Bagas dari aku dan keluargaku namun entah apa. "Ra, lo lagi mikirin apa? " Tanya mamah. Lamunanku buyar karena tiba-tiba mamaku datang. "Enggak apa-apa kok mah, aku cuman lagi mikirin nanti kalo aku sudah menikah harus jauh dari mamah dan papah" Ucapku berbohong. "Kamu tenang saja, mamah sama papah akan baik-baik saja kok" Ucap mamah sambil mengusap kepalaku. "Iya mah, mamah belum tidur? " Tanya ku. "Tadi sudah, cuman barusan mamah haus jadi ambil minum tapi liat kamu masih duduk disini" Ucap mamah. Aku hanya tersenyum. "Kamu tidur sana, besok kan harus kerja sekalian minta cuti kan? " Tanya mamah. "Iya mah, ya sudah aku tidur mah" Pamit ku. Mamah pun mengangguk. Aku pun segera pergi ke kamar untuk tidur karena sudah ngantuk jadi tidak ada drama melamun lagi aku langsung terlelap ke alam mimpi. Esok nya seperti biasa aku bekerja dan saat jam istirahat aku menyerahkan surat cuti ku untuk berapa hari karena akan menikah. Setelah selesai semuanya aku langsung ke kantin untuk makan. Namun entah kenapa semua orang selalu menatapku dengan pandangan entah lah apa jijik atau kesel aku tak tahu karena selama aku kerja aku tidak memiliki teman yang dekat. Jam istirahat pun selesai aku pun melanjutkan pekerjaanku. Sampai sore hari saat pulang kerja tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang menghampiriku. "Eh mbak, maaf saya boleh bicara sebentar? " Tanya sang ibu. "Em boleh bu, mau bicara apa ya? " Tanya ku. "Mbak beneran mau menikah sama pak bagas? " Tanya sang ibu lagi. "Iya bu kenapa? " Tanya ku. "Mbak pernah bertemu sama orang tuanya? " Tanya si ibu lagi. "Belum sih bu, tapi kata pak Bagas orang tuanya sudah tidak ada" Ucap ku. Si ibu malah melotot saat aku jawab seperti itu. "Kenapa bu? " Tanya ku. "Enggak apa-apa neng, ya sudah ibu duluan ya" Pamitnya sambil berlalu. Aku sampai bingung kenapa ibu-ibu tadi bertanya seperti itu. Namun karena tidak mau ambil pusing akhirnya aku pun pulang dan selama seharian ini aku tidak melihat Bagas bahkan mengirim pesan pun tak ada. Saat sampai rumah aku langsung ke kamar untuk membersihkan badan ku karena seharian bekerja terasa lengket. Setelah beres aku langsung rebahan karena capek juga. Namun tiba-tiba mamah manggil. "Ra, Nara" Panggil mamah. "Iya mah ada apa? " Jawabku sambil bangun dari rebahan ku. Ku buka pintu dan di balik pintu sudah ada mamah. "Ra, di depan ada Reyhan" Beritahu mamah. Aku langsung syok dan mematung. "Sana kamu temui" Titah mamah. "Ngapain dia kesini mah? " Tanya ku sama mamah. "Ya mana tau mamah, di bilang juga tidak" Ucap mamah. Akhirnya aku pun menemuinya. Namun saat bertemu dengan nya hati dag dig dug nggak karuan. Saat dia melihatku, ku lihat senyuman nya yang menggoda iman kalau tidak ingat batasan udah aku cium deh. Eh kok gitu. "Ra, apa kabar? " Tanya nya sambil mengajak jabat tangan. Akhirnya ku Terima jabatan tangan nya. "Aku baik-baik saja" Jawabku. "Aku dengar kamu kamu mau menikah ya" Tanya nya. Aku hanya mengangguk. "Selamat ya" Ucapnya lagi. "Makasih" Jawabku. Entah kenapa ni bibir kok kaya kaku ya mau ngomong di hadapan dia. Aku benar-benar grogi deh kalo udah berhadapan sama ni cowok. Namun untung nya Al keburu datang jadi aku tidak merasa canggung karena Al sepertinya lumayan dekat dengan Reihan karena melihat mereka berbicara saja sudah pakai elo gue. Aku sampai jadi nyamuk saja mendengarkan mereka ngobrol. Aku hanya bisa mengangguk saja jika Al bertanya padaku. Sampai akhirnya Reyhan pamit pulang dan saat bersamaan Bagas datang ke rumah. Namun karena Bagas tahunya Reyhan sebagai atasan maka dia pun ramah dan menyapanya. Namun setelah kepergian Reihan sikap Bagas langsung berubah dia bahkan mengintrogasi ku. "Ngapain dia kesini? " Tanya nya. "Ya aku tidak tahu karena dia ngobrol sama Aldian." Ucap ku sedikit berbohong. "Beneran kamu" Tanya nya lagi. "Iya aku tidak bohong" Jawabku sedikit kesal. "Oya maaf seharian tadi aku ngurusin pengiriman barang jadi aku tidak sempat mengabari kamu" Ucapnya. "Iya tidak apa-apa kok, aku ngerti" Jawabku. Cukup lama Bagas di rumah bahkan dia ikut makan malam bersama. Dia pulang dan dia akan datang saat hari pernikahan kami. Hari berjalan dengan begitu cepat karena tak terasa besok aku akan menikah dengan Bagas dan malam ini aku sedang di lulur untuk acara besok. Pagi nya aku sudah didandani oleh tukang hias kalo di kampung di sebut nya. Acara ijab nya pukul sembilan pagi. Namun aku sudah siap tinggal menunggu kedatang Bagas. Jam sudah pukul delapan namun Bagas belum datang juga, tapi di luar aku mendengar ada suara perempuan yang mencari ku. "Dimana perempuan sialan itu" Ucap nya. "Kamu siapa dan kamu cari siapa? " Ucap orang yang di luar. "Saya cari pengantin perempuan nya"ucap perempuan di luar sana. Karena penasaran aku pun datang. Namun perempuan itu langsung menghampiriku dan tiba-tiba tangan nya melayang ke pipiku dan itu sangat sakit namun yang lebih sakit bukan tamparan nya tapi ucapan nya. "Dasar cewek perebut laki orang ya" Ucapnya. "Maksud mbak apa saya tidak mengerti" Tanya ku. "Laki-laki yang akan menikahimu itu suami ku dan kami sudah punya 2 anak" Ucapnya Dan saat itu kaki ku merasa lemas karena mendengar ucapan nya. Namun karena aku tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi akhir ya Al yang maju. "Maksud mbak apa, mas Bagas suami mba gitu, mana buktinya? " Tanya Al. Perempuan itu mengambil ponselnya dan menunjukan sebuah foto mereka. Saat itu pun aku tidak tahu kelanjutan nya karena aku sudah tidak sadarkan diri karena sungguh ini membuat aku malu dan hanya aku tapi semua keluarga ku. Saat ku bangun ku melihat mamah, papah. "Mah, pa, maafkan Nara" Ucapku. "Sudah Ra kamu nggak salah kita saja yang mudah di bohongi." Ucap mamah. "Iya Ra tapi dari kejadian itu ada berkahnya sayang" Ucap papah. "Berkah, maksud papah? " Tanya ku bingung. "Kamu akhirnya bisa menikah dengan laki-laki yang sangat kamu cintai" Ucap mamah. Jujur aku masih bingung dengan perkataan papah tadi. Sampai akhirnya papah menceritakan kalo setelah aku pingsan dan penghulu datang dan menanyakan mempelai laki-laki nya Reihan langsung maju dan menceritakan pada ke semua orang yang ada di sana kenapa pengantin prianya ganti. Aku terkejut dengan cerita papah karena saat papah selesai berbicara tiba-tiba Reyhan datang ke kamarku. 'Ya Allah apa ini yang disebut kalau jodoh tidak akan kemana' ucapku dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD