Paginya setelah aku tau kalo ada orang yang datang ke rumah untuk memperingati kami lagi. Aku mulai merasa resah, jadi selama ini i kami masih belum bebas dari pengawasan orang-orang yang tidak menyukai ku dekat dengan Reyhan. Aku berangkat kerja bersama Bagas karena sekarang dia sudah jadi pacar ku jadi wajar kalo aku pulang pergi bareng dia. Namun entah kenapa aku merasa orang yang dekat dengan Bagas melihatku seperti tidak suka. Saat aku bicara sama Bagas dia cuman bilang jangan hiraukan mereka.
Hubungan ku dengan Bagas sudah berjalan tiga bulan dan malam ini datang ke rumah dia ingin melamarku pada papah dan itu semua disambut papah dan mamah dengan senang hati. Sekarang kami sedang berada di ruang tamu.
"Maaf om, tante saya cuman bisa bawa ini saja, dan orang tua saya juga tidak bisa kesini" ucap Bagas.
"Enggak apa nak Bagas, ini juga udah cukup" kata mamah.
"Em... ginni om, tante saya kemari mau melamar Nara buat jadi istri saya, apa om dan tante tidak keberatan? " Tanya Bagas.
Entah kenapa hatiku masih ragu dan merasa tidak senang saat Bagas datang melamar bahkan yang ku harapkan adalah Reyhan.
Aku tidak tau lagi apa yang mereka bicarakan karena aku tidak fokus. Aku cuman tau kalo bulan depan aku dan Bagas akan menikah.
Ku lihat wajah mamah dan papah betapa bahagianya aku jadi tidak bisa untuk menolak lagi karena melihat mereka begitu bahagia.
Setelah berbicara kami semua makan dan setelah makan Bagas dan teman nya pulang aku pun pergi tidur dan di kamar lah aku menangis dan entah apa yang membuat aku menangis.
sudah seminggu setelah acara lamaran tersebut hubungan ku dengan Bagas baik-baik saja tapi tidak dengan hatiku karena hari ini aku berapa terkejut saat melihat orang yang jadi tamu di pabrik.
Untung nya tempatku bekerja mengharuskan memakai masker jadi wajahku tidak terlihat semuanya.
"Nara lo disuruh ikut rapat sama pengawas tuh" beri tahu temanku.
"Kok aku sih kak? " Tanyaku.
"Ya mana aku tau lah"Ucapnya.
Padahal aku sengaja menghindari dia tapi kok malah sekarang aku di suruh ikut Meeting sih.
Mau tidak mau akhirnya aku pergi ke ruangan meeting di gedung ini. Aku masuk dan aku mencoba duduk di belakang karena tidak mau langsung kelihatan oleh Reyhan.
Ya tamu yang datang ke pabrik tempat ku kerja adalah Reyhan. Aku tidak tau kenapa dia bisa datang ke pabrik ini dan entah apa yang akan terjadi kedepan nya nanti.
Semua orang sudah masuk dan kulihat orang yang punya pabrik dan Reihan masuk dan meeting pun dimulai namun entah kenapa aku merasa Reihan memperhatikan ku.
Meeting pun berakhir dan aku segera keluar karena tidak mau berpapasan dengan nya.
Aku masuk ke gedung tempatku bekerja, karena aku tidak fokus aku di kagetkan oleh Bagas.
"Ra, gimana meeting nya? " tanya Bagas.
"masya Allah Bagas aku kaget tau" Ucapku.
"Kamu melamun? " tanya nya.
"Meeting nya lancar kok" Ucap ku.
"Ra kamu kenapa kok seperti tidak fokus gitu? " tanya Bagas.
"Aku nggak apa-apa ko" jawabku.
Aku pun pergi tanpa menghiraukan Bagas.
Aku pun mulai mengerjakan pekerjaan yang harus aku kerjakan, sampai jam pulang aku di sibuk mengerjakan semua pekerjaan ku. Aku seperti itu agar tidak memikirkan Reihan.
Namun aku betapa terkejutnya saat aku mau pulang tiba-tiba Reihan menghampiriku.
"Nara, bisa bicara sebentar? " ucap Reihan.
Aku meliriknya dan belum sempat aku menjawab tiba-tiba Bagas memanggil.
"Ra ayo pulang" panggil Bagas.
"Maaf, aku harus pulang, pacarku sudah menunggu" ucapku.
Aku sengaja berucap begitu supaya Reihan tau. Ku lihat Reihan tersenyum.
"silahkan, maaf kalo aku mengganggu" ucap nya.
Aku pun pergi dan saat di jalan Bagas bertanya kenapa Reihan samperin aku dan mau tidak mau aku berbohong.
Sesampai nya di rumah aku meminta Bagas untuk tidak mampir karena saat ini hatiku sedang tidak baik-baik saja.
Mamah masuk ke kamar sepertinya dia tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja.
"Ra kamu kenapa, kok pulang bt begitu? " tanya mamah.
"Mah, aku sedang banyak pikiran mah" ucapku.
"pikiran apa sayang? " tanya mamah lagi.
"Mah tadi ada tamu di pabrik" ucapku.
"Terus kamu kena marah? " tanya mamah lagi.
"Engga mah, tapi tamu nya yang bikin aku dia adalah Reihan" ucapku.
Ku lihat mamah kaget.
"Mah jujur aku masih belum bisa berpaling dari Reihan, saat aku akan mencoba melupakan nya, tapi dia malah datang dihadapanku" ucapku dengan suara menahan tangis.
Mamah segera memelukku.
"Mamah tau kalo kamu sangat mencintai Reihan, tapi mamah hanya ingin yang terbaik buat kamu" ucap mamah.
Aku tidak menjawab ucapan mamah karena aku sudah menangis di pangkuan mamah.
Setelah aku puas menangis aku tertidur dan saat aku bangun aku sudah berada di posisi yang nyaman. Mungkin mamah yang memberikan nya. Aku bangun karena perutku lapar saat ku lihat jam sudah pukul sepuluh malam. Aku pergi ke dapur dan saat aku sedang mencari makanan tiba-tiba Al datang.
"Kakak lagi cari apa? " tanya nya.
"Gue laper Al, jadi cari makanan yang bisa dimakan" ucapku.
"Bikin mie instan aja kak" titah nya.
"Engga ah, udah malam masa makan mie instan" ucapku.
"Emang kenapa kalo makan mie? " tanya nya lagi.
"Takut gemuk gue" ucapku.
"Ya bagus dong kakak gemuk biar kak Bagas jadi nggak suka sama kakak" ucapnya.
"Kamu ini" ucapku
Akhirnya aku putuskan membuat telur dadar saja. Ternyata Al nungguin ku.
"Kenapa lo masih disini? " tanya ku.
"Ada yang mau gue tanyain sama Kak" ucap nya.
"Lo mau tanya apaan? " tanyaku.
"Kakak udah ketemu sama kak Reyhan? " tanya nya.
"Ngapain lo tanya seperti itu? " ucapku.
"Ya enggak apa, pengen tau saja, karena tadi pagi aku melihat kakak Reihan masuk tempat kakak kerja" ucap Al.
"Lo tau" tanya ku.
"Gue tau karena dia sempat tersenyum ke gue" ucap Al.
"Kak, gue tau lo masih suka kan sama dia, kalo emang lo tidak bisa lupain dia jangan di lupain tapi biarkan semuanya begitu saja" ucap nya bijak.
"Mungkin di balik kedatangan kak Reihan di sini pasti ada satu hal yang Allah rencanakan buat kakak"ucap nya lagi
Aku hanya diam karena entah kenapa ucapan Al ada benarnya juga. Karena seberapa besar usahaku buat lupain Reyhan namun tetap tidak bisa, maka biarkan berjalan begitu saja.