Tak terasa aku kerja di pabrik sudah sebulan dan hari ini, hari pertama aku gajian dan ternyata gaji ku lumayan lah buat makan sebulan kalo aku tidak boros. Sorenya aku pulang sebelum pulang aku mampir di sebuah minimarket untuk membeli kebutuhanku dan keluarga ku. Saat aku sedang memilih barang tiba-tiba aku bertemu dengan teman ku seorang cowok dia bernama Bagas.
"Ra, kamu lagi belanja? " tanya Bagas.
"Eh bagas, iya nih, kamu sendiri? " tanya ku balik.
"Engga ko cuman mampir buat beli minum aja" jawab Bagas.
"Oh... ya udah kalo gitu aku duluan ya? " Pamit ku.
"Eh Ra, bareng aja, sekalian aku antar balik, nggak apa kan? " tanya nya.
Karena merasa nggak enak akhirnya aku mau juga di antar Bagas, aku tau sepertinya Bagas ada perasaan pada ku. Namun selama ini aku tidak menghiraukan nya karena hati ku masih tetap sama Reyhan.
Saat sampai rumah aku menawarkan Bagas untuk mampir dan aku pikir dia tidak mau tapi ternyata dia mau dan akhirnya mau nggak mau aku pun membawa dia masuk. Saat sampai depan rumah ternyata sudah ada papah.
"Ra kamu baru pulang,ini siapa? " Tanya papah.
"Iya pak, ini Bagas temanku di pabrik" jawabku.
"Oh... suruh dia masuk Ra" titah papah.
Aku dan Bagas pun masuk dan ku persilahkan dia duduk dan menunggu.
Setelah menyimpan semua barang bawaan ku aku pun mengobrol dengan Bagas. Setelah lama mengobrol Bagas pun pulang dan aku pun masuk kamar untuk mandi setelah mandi aku makan bersama keluarga ku. Setelah makan papah mengajak berbicara.
"Ra, Laki-laki tadi sepertinya menyukaimu" ucap papah.
Aku hanya diam saja.
"Papah harap kamu bisa buka hati kamu buat yang lain jangan terus berharap yang tidak pasti nak" ucap papah.
Aku pun menarik napas panjang.
"Aku tau pah, mungkin kalo aku juga akan mencobanya mah, pah, kalo ada yang mau ke Nara" ucap ku.
"Papah tau pasti sulit buat kamu untuk melupakan nya, tapi dengan cara kamu dekat dengan yang lain pasti kamu akan melupakan nya" ucap papah lagi.
"Iya pa" jawabku.
Setelah mengobrol dengan papah aku pun pergi tidur.
Pagi nya aku sangat terkejut karena saat aku keluar untuk berangkat kerja ternyata sudah ada Bagas menunggu ku.
"Bagas, kamu sedang apa di sini? " tanya ku.
"Aku mau jemput kamu, biar bareng berangkatnya" ucap nya.
"Kenapa nggak masuk atau ngasih kabar dulu" tanya ku.
"Gimana mau ngasih kabar, nomor kamu aja aku nggak tau" jawabnya.
Aku hanya tersenyum, karena selama ini nggak semua orang bisa punya nomorku. Ya seperti Bagas ini padahal aku udah kenal dia tapi aku tidak memberinya nomorku.
"Makasih ya kamu udah repot-repot jemput aku" ucap ku.
"Engga apa-apa ko, justru aku senang kamu mau bareng aku" ucap nya.
Akhirnya aku pun berangkat bareng Bagas.
Bagas ini orang nya baik ramah dan tidak terlalu banyak tingkah, namun entah kenapa aku merasa nggak cocok saja sama dia. Tapi demi melupakan Reyhan kalo misalnya Bagas pengen menjalin hubungan yang serius mungkin aku akan mencobanya.
kedekatan ku dengan Bagas lumayan berjalan dengan lancar dan tanpa terasa itu semua sudah dua minggu dan hari ini Bagas ingin ke rumah dia bilang ingin main saja, akhirnya aku setuju saja. Namun saat sampai rumah ternyata Bagas menanyakan papah dan ternyata Bagas minta izin sama papah buat menjalin hubungan yang bukan sekedar pacaran atau mungkin pendekatan kalo jaman sekarang tuh pacaran, karena ini di kampung jadi tidak seperti di kota, kalo di sini harus izin dulu sama orang tuanya.
Papah pun mengizinkan namun dia tetap ngasih aku pilihan karena di sini yang akan menjalani nya aku.
"Ra gimana kamu mau kan jadi pacar ku?" Tanya Bagas saat kami sudah di beri waktu berdua.
"Aku, akan mencobanya Gas" jawabku.
"Jadi maksud kamu, sekarang kita pacaran gitu? " tanya nya.
Aku pun hanya mengangguk, aku menjawab begitu karena sudah banyak pertimbangan walau sebenarnya hatiku masih milik Reyhan.
Setelah resmi kami pacaran Bagas jadi sering datang ke rumah dan aku baru tau kalau sebenarnya Bagas disini tinggal sendiri karena awalnya dia di Bandung karena di pindah tugaskan ke sini jadi dia tinggal di sini sendiri.
Sekarang kami sedang di jalan pulang.
"Ra mau mampir makan dulu nggak? " tanya Bagas.
"Makan, nggak usah deh langsung pulang aja" jawabku.
"Kenapa ngga mau? " tanya Bagas.
"Entah lah aku cuman ingin cepat pulang saja" jawabku.
Perasaanku nggak enak entah kenapa karena aku merasa gelisah saja.
Akhirnya aku pun pulang dan saat sampai rumah ternyata benar di rumah ada sesuatu.
"Ada apa ini mah? " tanya ku pada mamah.
"Ini Ra, Al jatuh dari motor" jawab mamah.
"Kok bisa sih Al, lo bawa motornya gimana? " tanya ku.
"Ya bawa motor gitu kak, yang bawa mobilnya aja nggak lihat" ucap Al.
"Lo jatuh sendiri kan? " tanya ku lagi karena aku takut dia bawa orang.
"Ya sendiri lah kak" jawab Al.
"Udah Ra Istirahat aja sana" titah mamah.
Aku pun masuk ke kamar dan di kamar aku duduk di kasur dan langsung melamun memikirkan Al, aku takut dia bukan jatuh biasa tapi ada seseorang yang ingin bikin dia celaka. Seperti kejadian berapa bulan lalu.
Malam nya setelah makan aku di panggil mamah dan papah ke ruang tamu Al sama Nenek sudah masuk kamar duluan.
"Ra, apa selama ini kamu masih berhubungan dengan orang-orang yang kenal dengan mu? " tanya Papah.
"Enggak ko pa, bahkan dengan Ayu saja aku tidak pernah menghubunginya lagi" ucap ku.
"Kemarin papah melihat orang-orang yang pakai seragam satpam datang ke rumah kita." ucap papah.
"Ngapain pa? " tanya ku.
"Mereka cuman memperingatkan saja, jangan pernah ada yang tau kita tinggal di sini" ucap papah.
Aku hanya diam mengapa segini nya aku harus berpisah dengan Reyhan padahal apa susah nya aku melupakan Reyhan padahal aku tidak pernah punya kenangan indah bersama nya. Kalo bukan dulu saat aku pertama masuk sekolah dan saat itu aku di bully dan orang pertama yang menolong adalah Reyhan cowok ganteng yang jadi idam-idaman para murid di sekolah tersebut tapi entah kenapa dia malah minta semua orang agar tidak bully aku.
"Di sana lah aku mulai suka Reyhan.