Rumah bergaya Tudor yang begitu indah di masanya, berdiri megah dengan sentuhan modern minimalis di beberapa titik. Kesan modern tak mengurangi sama sekali jejak masa lalu di mana rumah itu adalah rumah yang sangat indah di masa lampau.
Rumah dengan lebih dari 200 kamar tidur tamu lengkap dengan fasilitasnya. Di tambah dengan hal - hal modern yang akan membuat orang langsung tahu, betapa kejayaan rumah itu justru makin gemilang di abad ini.
Gempita para pekerja dalam rumah itu terasa di pagi akhir musim panas kali ini. Sungguh bukan hal yang mengherankan bila sang Tuan rumah pemilik kerajaan itu harus mempekerjakan lebih dari 200 orang untuk mengurus seluruh propertinya. Bahkan bukan hal yang mengherankan pula bahwa sebagian besar para pekerja di rumah luas itu adalah satu keluarga turun temurun.
Siapapun...wajib dicatat dengan tinta tebal...siapapun di dunia ini, tak akan mau meninggalkan kekayaan dan kemakmuran melimpah seperti itu. Hanya orang yang sangat idealis dengan prinsip teguh nya sendiri yang mampu melakukannya.
Rumah itu begitu hidup dan semarak terlihat dari luar...
Namun tidak di dalamnya. Tidak ketika kau menyelami bahwa ternyata rumah sebesar itu terasa sunyi bagi penghuninya.
Telah hilang gegap gempita yang seharusnya mengisi rumah megah itu. Seiring bertumbuhnya putra kebanggaan yang beranjak dewasa. Meninggalkan celotehnya dan berganti tekadnya untuk menjadikan dirinya mandiri.
Antonio Colonna
Adalah generasi ke 4 dari Baron Turissi Collona. Seorang aristrokrat Italia di masanya yang berdiri di tengah dua kubu yang sebenarnya berlawanan. Parlemen dan Mafioso.
Pada masanya, kakek dari kakek buyutnya adalah seorang pejabat penting parlemen di Sisilia, lebih tepatnya kota Palermo, yang merupakan tempat lahirnya organisasi Mafia.
Saat itu Baron Turissi Colonna yang pertama begitu disegani oleh dua kubu yang bertentangan yaitu para anggota aristokrat dan para anggota mafia karena mampu mengendalikan mereka yang notabene sering sekali bersinggungan.
Kepribadiannya yang berwibawa dan tegas membawanya di hormati dan di takuti di berbagai kalangan parlemen dan anggota mafia di Sisilia, apalagi saat itu mafia tengah merajai sebagian besar wilayah di Sisilia bagian barat. Dari tangan dinginnya, dua pihak berbeda undang - undang itu mampu bekerjasama dengan baik dengan dasar saling menguntungkan.
Para mafia memberikan perlindungan kepada para lander alias tuan tanah yang sebagian besar dari mereka adalah para aristokrat yang menjadi anggota parlemen Palermo dan Italia. Begitu juga sebaliknya, para tuan tanah itu memberi akses keuntungan yang besar pada para anggota organisasi mafia dari segi keuangan dengan mempekerjakan mereka sebagai pengawal - pengawal handal dan mudahnya perijinan jaringan bisnis para mafia.
Di situlah peran besar Baron Turissi Colonna yang pertama sangat di butuhkan. Dialah pria yang berdiri di tengah-tengah mereka untuk meredam konflik yang sewaktu-waktu bisa meletus di antara dua kubu itu. Baron Colonna mampu berteman dengan para pejabat parlemen sekaligus berkawan baik dengan para Capo, sebutan untuk Bos Mafia di Sisilia. Namanya bergaung seantero Italia seiring dengan perkembangan pemerintahan dan bertumbuhnya organisasi mafia di negara itu. Namanya di sebut sebagai orang yang jenius dan menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya karena dia juga bisa bertindak tegas pada seseorang yang melakukan kekejian.
Tak heran, hingga berabad setelah beliau mangkat, anak keturunannya masih menyandang gelar kehormatan itu dan tetap menjalankan fungsinya sebagai penengah antara kubu tuan tanah dan mafia di Palermo. Bahkan kemasyurannya merambah hingga ke daratan Amerika bersamaan dengan masuknya organisasi mafia ke benua itu bersama dengan para imigran.
Antonio Colonna berjalan di sepanjang koridor istananya. Koridor berpilar khas rumah Tudornya di Georgia, Amerika Serikat.
Tangan tuanya yang tak lagi sekuat dulu menekan sebuah tongkat yang menjadi teman melangkahnya sejak setahun terakhir.
Beberapa pekerjanya, para maid pria yang sedang membersihkan kebun mawar milik istrinya sejenak menghentikan kegiatan mereka. Membungkuk begitu dalam ke arah Tuan mereka yang berjalan pelan dengan dua pengawal pribadi di belakangnya.
Langkah pelannya terhenti sejenak. Menatap hamparan petak mawar yang luas dan menjadi kesayangan istrinya itu. Tersenyum pada para maid dan melanjutkan langkahnya lagi menyusuri koridor dan berbelok menuju lapangan tenis.
Dua pengawal pribadinya berhenti di sisi gerbang berbatu. Berdiri tegak siaga saat Antonio Colonna menghampiri seorang pria yang tampak mencolok dengan mantel hitam panjangnya. Sungguh bukan cara berpakaian yang pas mengingat ini adalah penghujung musim panas.
Pria itu adalah Giuseppe Gelardino. Pria yang menjadi sahabat dan kepercayaan keluarga besarnya.
Antonio mengayunkan tangannya. Mempersilahkan Giuseppe duduk lagi di salah satu kursi yang tertata rapi di pinggir lapangan.
Mereka terdiam begitu lama. Tak saling mengusik.
Dua orang maid wanita datang dengan nampan berisi kopi dan camilan. Mereka meletakkan dengan hati - hati cangkir kopi di atas meja. Menatanya sedemikian rupa dan nyaris tanpa suara.
Secangkir kopi hitam dengan satu setengah blok gula untuk Tuan mereka Antonio Colonna dan satu kopi dengan s**u di tambah dua blok gula untuk pria kepercayaan keluarga Giuseppe Gelardino.
Kebiasaan itu seakan sudah menjadi lagu kebangsaan bagi para maid di istana Tudor yang di beri nama Burung Besar berwarna Merah itu.
Selalu ada rasa khawatir saat para maid membereskan bekas minum Antonio Colonna. Kalau gelasnya kosong maka mereka akan bersorak gembira. Tapi kalau gelasnya tersisa setengah atau bahkan masih utuh isinya, maka mereka akan dengan lapang d**a menerima kenyataan bahwa kepala pelayan istana megah ini yang bernama Giribalno Pietro akan memberi mereka kelas tambahan cara membuat kopi kesukaan Tuan mereka.
Sesuatu yang harus di kerjakan dengan kecermatan yang tinggi agar kopi hitam yang mereka sajikan sesuai dengan citarasa Tuan Besar mereka.
Suasana hening masih menyergap. Semilir angin dan suara gesekan pohon bambu dari Jepang yang berjajar rapi di sisi jauh lapangan tenis mengisi hening pagi itu.
Helaan napas berat Antonio tak membuat seorang Giuseppe menoleh. Dia masih setia menekuri deretan pohon bambu yang menjadi salah satu titik favoritnya di istana ini selain kebun mawar Nyonya Eva Colonna tentunya.
Antonio menyesap kopinya lalu meletakkan cangkir itu kembali ke meja. " Apa anak nakal itu sehat?"
"Dia sehat dan masih menolak untuk kembali kemari." Suara Giuseppe terdengar hati-hati.
Antonio mengangguk. Kembali mengangkat cangkir kopinya dan menyesapnya sepenuh hati.
Dalam hati Giuseppe bersyukur untuk para maid yang hari ini membuat kopi untuk kawan sekaligus bosnya ini. Setidaknya mereka tidak akan menerima wejangan dari kepala pelayan berperut besar berdisiplin tinggi bernama Pietro itu.
"Bahkan dia memilih menggunakan nama kecilnya dan nama keluarga istriku di banding menggunakan nama belakang keluargaku. Oh...Gigs...begitu marahkah dia padaku?"
Antonio menghela lagi napas beratnya.
"Dia tidak marah, Antonio. Dia hanya ingin di mengerti. Dia dua puluh lima tahun. Hal yang sama kau lakukan saat umurmu dua puluh lima, kalau kau lupa."
"Aku sudah tua, Gigs. Dan aku membutuhkannya untuk meneruskan semua ini."
"Dia akan kembali di saat yang tepat nanti, Antonio. Aku akan terus membujuknya."
Antonio mengangguk.
"Bagaimana keadaan Eva?"
"Dia menangis walaupun tak bilang padaku. Kau pasti mengerti. Charles adalah anak kami satu - satunya. Eva begitu merindukannya. Walaupun Charles hampir pasti menelpon Eva, namun pasti kau juga mengerti bahwa itu tidaklah cukup untuk seorang Ibu, Gigs."
Giuseppe mengangguk. Sangat mengerti betapa Evangelista Dagwood atau Eva Colonna, sangat merindukan putra satu - satunya itu.
"Charles sepertinya sedang jatuh cinta pada seorang gadis muda berumur 19 tahun. Dan mereka ada di Milan sekarang ini."
"Apa yang bisa di lakukan gadis berusia 19 tahun, Gigs?"
Giuseppe terkekeh pelan.
"Gadis seumuran itu pasti hanya akan merepotkan bukan? Kita berpengalaman dalam hal itu." Antonio ikut terkekeh.
"Tidak kalau kau mengenal seorang Summer Grace Leandro, Antonio."
"Wow..." Antonio mengusap rahang dagunya yang bercambang rapi.
Dia mengenal kakek gadis itu tentu saja. Dan sedikit banyak mengetahui gen superior keluarga itu.
"Charles seharusnya tak perlu melakukan pekerjaan itu, Gigs. Tidakkah itu aneh? Dia yang seharusnya di kawal kemanapun dia melangkah."
"Oh...Antonio. Hentikan segala pikiran itu. Charles sedang mencari jati dirinya. Kau harus tetap percaya, suatu hari nanti dia akan kembali dan meneruskan dinasti Colonna."
Antonio menghela napasnya lagi. Berulang kali. Menegakkan badannya. Mencoba meyakinkan diri.
"Darah Colonna mengalir kuat dalam dirinya, Gigs. Jadi sudah seharusnya aku tidak khawatir, bukan?"
Giuseppe mengangguk setuju.
"Eva membutuhkannya, Gigs. Teruslah membujuknya untuk kembali walau sejenak."
Giuseppe kembali mengangguk. Mengangkat cangkir kopinya dan menyesap isinya yang tinggal sedikit hingga tandas. Walaupun tak pas sesuai dengan seleranya, dia tetap menghabiskan kopinya itu. Toh dia tak rewel seperti Antonio.
Antonio melakukan hal yang sama. Menghabiskan kopinya dan mau tidak mau dalam hati Giuseppe kembali bersyukur. Selamatlah pelayan itu hari ini dari omelan ketua pelayan mereka. Giuseppe tertawa dalam hati.
"Kau tertawa dalam hati, Gigs. Apa karena kau bersyukur aku menghabiskan kopi ku?"
Tawa keduanya meledak. Membuat beberapa maid pria yang sedang membersihkan pohon bambu menoleh.
"Aku membiarkan tradisi konyol itu berlangsung sejak kakek Charles, Gigs. Hanya agar mereka disiplin akan semua hal. Termasuk konsisten dalam satu citarasa yang baik dan pas. Dari sana mereka akan belajar memegang teguh sebuah kebenaran."
"Tentu, Antonio. Aku tidak meragukan itu."
Mereka kembali tertawa. Dan kemudian membicarakan musim panen buah lemon dan jeruk segar di seantero Palermo dan Georgia yang akan berlangsung secara bersamaan minggu depan.
Perayaan yang selalu membuat Charles kecil berbinar. Dan Antonio berharap bahwa Charles bisa hadir tahun ini untuk merayakannya.
--------------------------------------
"Apa kau tidak bosan hanya bisa saling tindih seperti ini, Chase?"
Summer tertidur di d**a Chase dengan posisi yang bena-benar serampangan. Tiduran dengan posisi tubuh menindih sempurna tubuh Chase benar-benar tidaklah manis!
"Aku yakin aku kuat menahannya."
Summer mendengus pelan. Bahkan setelah mereka berciuman dan saling sentuh dengan panas dan liar. Saling menginginkan dan mendamba, Chase tetap saja teguh tak akan memasukinya sampai mereka menikah nanti. Dan itu masih 345 hari lagi! Belum lagi ditambah beberapa bulan persiapan pernikahan?
Summer berguling tanpa melepaskan pelukannya pada Chase.
"Aku curiga." Summer berbisik lirih di telinga Chase.
"Apa? Milikku cukup besar dan panjang dan juga kuat untuk membuatmu menjeritkan namaku berulang kali, Nona Muda yang tak sabaran!"
"Kenapa tidak kau buktikan?!" Summer memekik kesal.
"Hmm...aku lebih senang semua sesuai dengan jalurnya."
Summer mengusap d**a Chase lembut.
"Baiklah." Summer berbisik pasrah dan itu membuat Chase terkekeh. Summer terlihat lucu kalau sedang seperti itu. Seperti anak balita yang tidak mendapatkan mainan kesukaannya. Marah namun tak sanggup berbuat apapun.
Hening menyergap malam ke lima mereka di Milan. Mereka memutuskan akan kembali esok pagi dengan penerbangan pertama ke New York. Meninggalkan Derek yang malam kemarin bahkan tak berkutik saat di hajar oleh Chase karena mencoba mencium paksa Summer ketika mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah club.
Chase mengusap lengan Summer yang masih menyandarkan kepalanya di d**a Chase dan kakinya yang membelit pinggangnya.
"Aku harus menemui Momku di Georgia. Dan aku ingin kau ikut."
Summer mendongak. Menatap Chase tak mengerti.
Chase mengangguk. Sudah saatnya dia pulang dan membuat gadis ini tahu siapa dia sebenarnya. Sebelum semua bertambah erat, Chase ingin Summer memilih nantinya. Mundur atau terus? Setelah nanti dia tahu.
Tahu bahwa seorang Chase Dagwood adalah seorang Charles Colonna. Sang Pewaris.
Seorang Pewaris, calon pemimpin dunia bawah nan gelap.
La Cosa Nostra.
------------------------------------