Summer dan Chase tiba di New York setelah 9 jam penerbangan yang mereka isi dengan lelap tertidur.
Mereka memasuki mansion Leandro dan Chase mengantarkan hingga pintu teras belakang di mana orangtua dan saudara kembar dan juga adik-adik Summer sedang berkumpul untuk minum teh.
Chase membungkuk hormat pada Ayah Summer, Zachary Leandro yang menghampirinya.
"Istirahatlah dan temui kami setelah makan malam." Zachary mengatakan hal itu tegas dan di balas anggukan dalam oleh Chase.
Zachary berbalik dan menatap anak gadisnya yang terlihat curiga dengan pembicaraannya dengan Chase.
"Istirahatlah dulu, Sayang." Kali ini Skyla Leandro mengatakan hal yang sama pada Summer. Ibunya itu merangkul Summer dan mengajaknya ke kamar.
Summer mencium Ibunya. Menjulurkan lidah menggoda pada Ava Grace dan Shopia Grace adik kembarnya yang sedari tadi menanyakan oleh-oleh untuk mereka.
Skyla segera menghalau dua gadis kecil berisik itu dari hadapan Summer.
Summer masuk ke kamarnya. Menuju kamar mandi dan mandi dengan cepat. Setelah itu, hanya deru halus pendingin ruangan yang meningkahi deru napas halus Summer yang segera terlelap.
------------------------------------
Suasana ruang keluarga di mansion Leandro cukup lengang. Mengingat sebagian besar anggota keluarga tengah berlibur ke Ibiza.
Hanya menyisakan Zachary dan Skyla istrinya. Sementara anak sulung mereka Caleb sedang menemani kedua adik perempuannya belajar.
Setengah jam lalu, Summer terbelalak ketika membaca pesan singkat dari Chase bahwa mereka akan menghadap kedua orangtua Summer setelah makan malam.
Summer bahkan tidak berani menatap Dadnya yang terdiam selama makan malam berlangsung.
Dan menjelang menghadap Dadnya, Summer masih mendebat Chase di sepanjang koridor menuju ruang keluarga. Tentang betapa ini terlalu cepat...maksudnya tentang memberi tahu kedua orangtua Summer mengenai hubungan mereka.
Celotehan Summer hanya di balas senyuman dan genggaman tangan hangat Chase di tangan Summer.
"Apakah kalian bergandengan tangan?" Skyla Leandro berteriak nyaring membuat Summer menatap tangannya sendiri.
Bahkan dia tidak menyadari sudah sampai di ruang keluarga karena terlalu asyik mendebat Chase!
Summer mencoba menarik tangannya, namun Chase justru meremasnya lembut sambil menatap wajahnya.
Summer menatap Mommynya dan segera saja menggeser tubuhnya hingga setengah tersembunyi di belakang tubuh Chase.
"Summer Grace Leandro...." Mommynya memanggil seluruh namanya. Dan itu menjadi pertanda sesuatu yang serius tengah dipikirkan Mommynya.
"Skyla. Sayang...duduklah. Chase akan menyampaikan sesuatu." Zachary menyelamatkan suasana.
Summer melongok dari balik tubuh Chase dan kembali tenggelam setelah matanya bertatapan dengan mata Ibunya.
"Saya mencintai putri Anda, Tuan..Nyonya." Nada suara Chase terdengar tegas.
Gumaman berbeda terdengar bersamaan membuat Summer kembali melongok dan tenggelam lagi secepat kilat begitu melihat wajah Momnya yang terlihat terkejut.
"Zachary! Dia 19 tahun dan ceroboh sekali! Dan kenapa kau justru berucap syukur pada Tuhan?" Skyla terlihat mendelik pada suaminya yang duduk bersandar di sofa dengan tenang.
"Mereka saling mencintai. Lalu aku harus bilang apa, Sayang?"
"Kasihan Chase! Lihatlah anak gadismu itu. Dia hanya akan membuat Chase kurus kering memikirkan tingkahnya yang kekanakan! Oh ya Tuhan...aku butuh Mommy Cherry secepatnya...Zachary!" Skyla berteriak nyaring sambil memijit keningnya.
Summer mendesis marah dengan sikap Momnya yang justru menjelekkan dirinya. Sejenak dia berpikir...mungkin saja dia tertukar dengan bayi lain di rumah sakit hingga Momnya begitu keji padanya!
"Lalu, apa rencanamu untuk anak gadisku Chase?"
"Saya akan membawanya pulang ke Georgia dan mengenalkannya pada kedua orangtua saya."
"Setelah itu?". Zachary memandang Chase tajam.
"Saya akan menikahinya begitu Summer berusia dua puluh tahun, Sir."
Skyla kembali terpekik. Kali ini dia menggeleng dan menghampiri Summer.
Skyla mencubit b****g Summer. "Apa kau memaksa Chase menidurimu hingga Chase begitu pasrah dengan keadaan ini?"
Zachary tertawa keras. Chase berusaha menahan tawanya sebisa mungkin. Sedangkan Summer hanya bisa mencebik dan menghentakkan kakinya kesal.
"No, Mom. Aku memaksanya dan dia tidak mau. Dia bodoh sekali." Summer menjerit karena Skyla menjewer telinganya.
"Sudahlah, Sayang...biarkan mereka. Kita akan bicara lagi lagi besok pagi Chase." Zachary memeluk pinggang Skyla dan membawanya duduk lagi.
"Dia berharga untuk kami Chase. Kau pasti sangat tahu kami mencintainya. Sangat mencintainya. Dan aku harap dia bukan musibah untukmu."
Skyla kembali memijit keningnya. Sementara Summer kembali mencebik keras.
"Saya permisi, Tuan, Nyonya."
Zachary mengangguk. Chase berbalik dan Summer mengikutinya.
"Apa yang kau pikirkan, Young Lady? Kembali ke kamarmu!" Skyla memekik lagi dan membuat Summer menghentikan langkahnya.
"Aku akan menyelinap." Summer berbisik sangat pelan pada Chase yang melepas genggaman tangannya.
Chase bahkan tak ber ekspresi apapun.
Chase mengangguk sekali lagi pada Zachary dan Skyla sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruang keluarga.
"Masuk ke kamarmu, Summer."
Zachary berkata pelan dan itu cukup membuat Summer secepat kilat berjalan keluar dari ruang keluarga.
"Kau akan tetap cantik walau kau mempunyai banyak cucu nanti, Sayang."
Zachary memeluk Skyla yang hanya terdiam. Mereka berdua akhirnya hanya terdiam. Menyadari satu hal. Betapa waktu berjalan sangat cepat. Mereka akan sebuah lamaran sebentar lagi.
------------------------------------
Mobil yang menjemput Summer dan Chase ke Bandara Hartsfield - Jackson Atlanta, Atlanta, Georgia membawa Summer dan Chase ke arah tenggara Ibukota Georgia, Atlanta selama 1 jam 12 menit. Perjalanan menyusur hiruk pikuk kota berganti dengan ritme kota-kota kecil bagian Georgia City yang biasa di sebut county.
Mereka sampai Monticello, yang terletak di Jesper County, Georgia. Kota dengan popolasi penduduk 2 juta jiwa lebih ini tak begitu jauh dari Oconne National Forest.
Daerah Monticello juga merupakan daerah pegunungan dan perbukitan yang menjadi sektor penting daerah pertanian dan perkebunan di Amerika, seperti halnya beberapa daerah di North Dakota dan South Dakota, Texas, Alabama dan Louisiana. Keberadaan sektor pertanian dan perkebunan di Georgia sama penting dengan keberadaan perkebunan jagung atau yang di sebut dengan corn belt di daerah Ohio, Iowa, Minnesota, Missouri dan Indiana juga perkebunan tembakau yang menjadi komoditas utama sebagian besar daerah Tennessee dan Virginia juga sama penting dengan keberadaan perkebunan tebu dan sayur mayur di muara sungai Mississippi.
Mobil berbelok pelan dan melaju di sepanjang jalan kecil yang di kanan kirinya di tanami pohon bambu yang terlihat seragam. Sama warna dan sama tinggi. Lalu mobil itu berhenti di di depan sebuah pagar yang sangat lebar dan tinggi. Sang supir melakukan pembicaraan dari dalam mobil dan beberapa saat kemudian pintu gerbang terbuka secara otomatis.
Mobil melaju di jalanan mulus dengan atmosfer hampir sama dengan di luar tadi. Pohon bambu masih merajai jalanan. Tertata rapi namun agak pendek di banding yang di luar.
Summer melirik Chase ketika mobil membutuhkan beberapa detil untuk memutari setengah lingkaran sebuah airmamcur dengan patung seekor burung besar berwarna merah.
Lalu mobil melaju lagi cukup jauh melintasi padang rumput yang sangat rapi, hingga akhirnya tiba di depan sebuah rumah bergaya Tudor yang sangat besar.
Seorang pelayan datang tergopoh dan membukakan pintu untuk Chase dan Summer.
Wajar terlihat keterkejutan karena Chase memberitahukan bahwa mereka akan berkunjung ke rumah itu sesaat sebelum mereka naik ke dalam pesawat.
Summer turun mengikuti Chase dan menaiki tangga rumah yang terdiri dari lima undakan.
Pelayan tadi mengangguk pada dua orang penjaga dan dua orang penjaga itu membuka pintu besar dan tinggi menjulang yang terlihat sangat berat.
Summer mengira mereka akan segera bertemu dengan ruang tamu tapi kenyataannya, di balik pintu besar itu adalah sebuah hall luas yang terhubung dengan koridor panjang yang menuju satu pintu besar dan tinggi lain di ujung sana.
Summer berhenti. Membuat Chase yang menggandeng tangannya ikut berhenti.
"Apa ini rumahmu?"
"Ini rumah Tuan Antonio Colonna."
"Dan siapa itu Tuan Antonio Colonna?"
"Ayahku."
Chase menarik tangan Summer. Mereka melangkah lagi. Namun Summer kembali berhenti membuat Chase menghela napas pelan.
"Aku ini bodoh atau apa? Milik Ayahmu? Berarti ini rumahmu!"
Chase tertawa pelan.
Mereka kembali melangkah hingga pelayan yang sudah membuka pintu besar dan menjulang tinggi ke dua mempersilahkan mereka masuk.
Ya Tuhan. Mansion Leandro juga seluas dan semegah ini, tapi prosedur untuk masuk ke mansion tak serumit ini. Ini...layaknya cara masuk ke kerajaan mafia!
Summer hanya bisa membatin dalam hati dan tetap mengikuti Chase yang tiba - tiba berhenti di depan meja dengan vas bunga di tengah ruangan.
"Berjalan-jalanlah keluar lewat pintu itu. Aku akan menemui Ibuku sebentar. Nanti aku akan menelponmu untuk masuk."
Tanpa menunggu jawaban Summer, Chase melangkah menaiki tangga. Summer menoleh pada pelayan yang ternyata menunggunya di pintu yang tadi di tunjuk oleh Chase.
Summer mengangguk dan keluar. Koridor berpilar tinggi menyambutnya. Dia berjalan pelan sambil mengedarkan pandangannya. Andai saja cara berpakaiannnya seperti di jaman Raja Henry ke VIII dari Britania Raya, tentu dia akan merasa seperti Anne Boleyn yang berjalan di sepanjang koridor rumah bergaya Tudor. Seperti dalam film The Tudors yang di tontonnya beberapa waktu lalu.
Summer menoleh. Pelayan pria tadi sudah berganti dengan pelayan wanita yang mengangguk hormat padanya saat Summer menatapnya.
Summer terus berjalan pelan. Menghirup rakus udara segar yang tiba - tiba saja di penuhi aroma mawar yang kuat.
Summer berbelok. Turun dari koridor dan berjalan pelan di sepanjang kebun mawar yang terpetak - petak dengan apik.
Pelayan tadi sedikit bingung.
"Tak usah di antar. Istirahatlah minum teh."
Pelayan itu nampak bingung tapi mengangguk dalam saat melihat senyum ramah menghiasi bibir Summer.
Summer berbalik dan meneruskan langkahnya menyusuri kebun mawar. Sesekali langkahnya terhenti karena kupu - kupu indah yang hinggap di kelopak mawar.
Beberapa maid berseragam tukang kebun terlihat sedang merapikan beberapa pokok mawar. Mereka segera berdiri dan mengangguk pada Summer.
Summer membalas mereka dengan senyuman.
"Maaf Uncle, apakah kalian tidak beristirahat untuk minum teh?" Summer bertanya pada seorang pria yang hanya memakai celana pendek dan sebuah kaos putih yang tengah memotong beberapa pokok mawar dan meletakkannya di keranjang di sampingnya.
Pria itu berdiri dan Summer mengernyit saat pria itu menatapnya. Tatapan mata...entah siapa?
"Maaf Nona. Sebentar lagi kami akan beristirahat. Lima menit lagi." Pria itu berujar sambil melihat jam tangannya.
Jam tangan mewah! Summer tahu itu. Seorang pekerja dengan jam tangan mewah? Pasti tuan rumah di sini menggaji karyawan di sini dengan sangat murah hati.
"Maaf Nona, apakah tidak apa-apa Anda berbincang dengan kami? Kami hanya pelayan, Nona", tanya pria itu lagi.
Summer menoleh. Mengedarkan pandangannya pada lima orang pekerja yang bersama dengan pria itu.
Dan entah mengapa Summer merasa wajah-wajah mereka terlihat pucat, seperti menahan takut!
"Well. Momku akan menjewer telingaku sampai memerah kalau aku membeda - bedakan antara kami dan para maid di rumah. Aku tidak pernah melakukan itu...maksudku...tentang perbedaan status sosial...kita sebenarnya sama, Uncle. Dan Momku akan segera berubah menjadi monster kalau aku melakukan hal bodoh itu. Maksudku...tentang membedakan status sosial." Summer menekankan kata-katanya tegas.
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu tertawa pelan. Tawa yang sangat ramah namun berwibawa layaknya seorang pemimpin.
"Apa Tuan Rumah di sini galak dan sombong?" Summer bertanya sambil berbisik dan menatap para maid lainnya. Badannya condong ke arah pria tua itu. Lalu bahunya menyenggol bahu paman tua di depannya itu menggoda. Seakan dia sedang berbisik dan menertawakan keburukan Tuan rumah di sini.
Wajah mereka, para maid itu terlihat semakin pucat dan bahkan ada yang sampai menyeka keringat di pelipisnya. Ada apa ini?
" Well...beliau agak sedikit galak. Tapi...sombong? Tidak. Beliau tidak sombong."
Summer mengangguk.
"Baiklah. Senang bertemu denganmu, Uncle. Dan yang lain juga. Sebaiknya segera istirahat minum teh. Ini sudah sangat terlambat."
Summer mengangguk dan berbalik.
Melangkah pelan kemudian naik lagi ke koridor yang memang letaknya agak sedikit tinggi.
Summer menatap lagi kumpulan pekerja di petak mawar yang cukup luas tadi. Dan dia heran kenapa para maid itu membungkuk begitu dalam pada Paman tua yang di ajaknya bicara tadi sebelum mereka membubarkan diri?
Summer menggeleng.
Mungkin pria itu kepala pelayan atau semacamnya Atau kepala tukang kebun? Entahlah.
Summer berjalan lagi hingga seorang pelayan menyapanya. Mempersilahkan dia beristirahat di kamar tidur tamu.
Summer masuk ke kamar tidur yang di bukakan pintunya oleh pelayan wanita tadi.
Kamar ini terbilang mewah untuk di sebut kamar tidur tamu. Ini seperti kamar tidur utama. Mewah dan berkelas.
Summer menatap koper berwarna hijau tuanya yang ternyata sudah ada di dekat ranjang.
Summer memutuskan untuk mandi dan mengganti bajunya dengan sebuah dress berpotongan sederhana. Setelahnya, Summer merebahkan tubuhnya di ranjang. Kasurnya sangat lembut. Sejenak Summer teringat dongeng sebelum tidur yang sering dibacakan oleh Daddynya. Tentang seorang putri baik hati yang bisa merasakan keberadaan kacang polong di bawah tumpukan berlapis-lapis kasur. Dan itu membuat tidur sang Putri tak nyenyak.
Entah berapa lama Summer terlelap ketika sebuah ciuman mendarat di bibirnya.
Summer membuka matanya dan mengerjap. Terlihat Chase tersenyum geli.
"Cuci mukamu. Kita akan makan malam. Dad dan Mom sudah menunggu."
Summer bangkit.
"Kau cantik." Chase berbisik dan mencium bibir Summer sekali lagi lalu mengangkat Summer ke kamar mandi untuk mencuci muka dan memberikan sedikit riasan pada wajahnya.
----------------------------------------
Chase menggandeng tangan Summer memasuki ruangan yang Chase bilang adalah ruang makan.
Pemandangan elegan menyergap. Teriakan bergema sambutan seorang wanita membuat Summer yang setengah menunduk, mengangkat tegak kepalanya.
"Kau cantik sekali, Summer Grace. Secantik namamu. Oh...beruntungnya wanita kesepian ini. Kenalkan, Nak...aku Eva, Ibu Charles. Maksudku...Chase." Wanita itu memeluk hangat Summer. Summer membalas pelukan Ibu Chase dan wanita itu mengusap punggungnya hangat.
Seorang pria di ujung meja panjang ruang makan berdiri. Tersenyum ramah.
Summer tersedak. Eva, Ibu Chase memekik khawatir.
Summer menatap pria itu tak percaya.
Bukankah pria itu? Paman tua tukang kebun?
"Halo, Summer Grace. Selamat datang...."
---------------------------