Summer menunduk cepat. Paman tukang kebun mengulurkan tangannya pada Summer. Dan Summer menyambutnya dengan sangat canggung.
"Selamat datang. Duduklah. Setelah makan malam kita akan mencocokkan jam tangan kita agar aku tidak terlambat untuk acara minum teh kita besok sore."
Chase dan Ibunya berpandangan heran. Apa hubungannya semua ini dengan jam tangan?
Antonio Colonna tertawa dan menarik sebuah kursi. Mempersilahkan Summer duduk tepat di samping Chase.
Makan malam telah di siapkan dengan sempurna. Hidangan khas Italia.
"Dad. Dia berasal dari Palermo, Italia. Kita akan menikah di sana suatu hari nanti." Chase berbisik tepat di telinga Summer.
Summer menginjak kaki Chase membuat Chase meringis. Sekarang bukan saatnya membicarakan pernikahan. Saatnya menanti, apakah Paman tukang kebun...maksudnya...Tuan Antonio Colonna menerima Summer dengan lapang d**a atau sebaliknya. Mendepaknya ke sekolah tata krama dengan asrama mirip asrama biarawati.
Antonio Colonna mengulurkan tangannya. Mereka ber empat saling mengaitkan tangan. Antonio Colonna berdoa dengan suara berat dan lantang. Bersyukur atas rejeki dan kesehatan yang nyata melimpah di rumah ini.
Mereka makan dengan diam. Antonio terlihat sesekali menatap Summer dan Chase bergantian. Ooh...andai pria tua menawan itu tahu, tatapannya bagaikan menelisik. Apakah anak laki - lakinya ini sekiranya sudah meniduri gadis cantik di sampingnya atau belum?
Makan malam lezat berlangsung hampir satu jam hiingga mereka berpindah ke ruang keluarga. Ruangan bergaya klasik modern yang bahkan menyuguhkan home theater dengan kapasitas puluhan orang.
Chase terlihat berbincang pelan dengan Ibunya. Sedikit mengabaikan Summer.
Lalu Tuan Antonio Colonna, terlihat berdiri dari duduknya. Menghampiri Summer dan menawarkan lengannya. Summer terlihat sedikit bingung namun menyambut lengan pria itu.
Antonio Colonna membawa Summer berjalan pelan. Sambil mengusap punggung tangan Summer sesekali.
"Apa yang kau sukai? Maksudku, tentu kau mempunyai hobi?"
Summer mengangguk.
"Aku suka membaca, Uncle. Itu yang paling utama. Lalu aku juga suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan menembak. Maksudku...aku selalu penasaran dengan senjata. Mom sangat khawatir dengan hobiku itu. Tapi sungguh...aku benci merajut dan berbelanja. Kedua hal itu membuatku mengantuk. "
Antonio Colonna tergelak. Menatap gadis mungil di sampingnya ini dengan penuh rasa penasaran.
Seorang putri dari keluarga Leandro. Dan dia membenci berbelanja? Benarkah? Tapi, menatap Summer yang terlihat serius, Antonio yakin gadis ini tak sedang berbohong.
"Kau mau melihat sesuatu?" Antonio berbisik sangat lirih di telinga Summer.
"Hmm...apa?", tanya Summer lirih. Mencondongkan tubuhnya pada Antonio seakan tahu bahwa mereka sedang menjaga sebuah rahasia.
Antonio mengajak Summer berbelok ke arah sayap kiri bangunan rumah. Menyusuri lorong yang di kanan kirinya terdapat begitu banyak lukisan terpajang di dinding. Lorong itu ber pencahayaan tak terlalu terang. Sedikit redup bila di banding ruangan lain.
Mereka terus melangkah.
Antonio berdiri tegak di depan sebuah pintu besar berukir indah. Tangannya menekan sebuah kombinasi sandi yang terdengar sangat panjang di telinga Summer. Dan sesaat sesudahnya, pintu terbuka. Antonio membawa Summer melangkah. Terdengar pintu tertutup secara otomatis.
Summer menahan napas saat mereka berdua di hadapkan pada sebuah pintu besar dari baja. Sekali lagi Antonio terlihat menekan sandi yang panjang pada tombol di samping pintu. Lalu Antonio sedikit bergeser dan merunduk. Menatap sebuah layar kecil di atas tombol. Alat itu memindai iris mata Antonio dan Antonio kembali berdiri tegak. Mengusap sekali lagi punggung tangan Summer.
Pintu terdengar terbuka dengan gerakan yang sangat berat.
Antonio membawa Summer masuk. Dalam ruangan itu sama temaramnya dengan lorong menuju kemari. Terdengar suara jentikan jari dan ruang temaram itu segera saja berubah benderang.
Summer mengerjap. Menyesuaikan matanya dengan ruangan yang tiba-tiba benderang itu.
Hati Summer tercekat. Ruangan dengan dinding hitam dan merah itu ternyata adalah ruang khusus menyimpan senjata dalam berbagai merk dan tipe.
"Uncle..." Summer berbisik sambil menoleh pada Antonio Colonna.
"Aku yakin kau mengenali sebagian besar senjata milikku ini."
Summer melangkah. Menatap tajam pada deretan senjata yang tertata rapi di beberapa lemari kaca dengan pengamanan khusus.
Summer mulai menujuk satu persatu dan menyebutkan nama senjata yang di tunjuknya. Lengkap dengan ukuran senjata itu, kaliber pelurunya, tahun pembuatan, bahkan penciptanya.
Antonio Colonna duduk di sebuah sofa berwarna merah darah sambil menyimak penjelasan Summer. Gadis itu terlihat menjelma menjadi perempuan yang sangat tangguh yang keluar dari dunia indah dan rapuh yang mengelilinginya selama ini.
Antonio Colonna mengusap janggutnya. Dia begitu menikmati cara Summer yang terlihat antusias mengurai setiap jenis senjata yang di tunjukknya. Bahkan di sertai contoh-contoh peristiwa ikonik yang menyertai senjata itu. Menguatkan pengakuan Summer bahwa gadis itu telah mengenal seluruh dunia dari tempatnya duduk hanya dengan banyak membaca.
Summer menoleh pada Antonio.
"Uncle...apakah kau seorang Capo? Godfather? Oh...kau keren sekali!" Summer menatap Antonio tak percaya.
Antonio tertawa keras. Summer tetaplah gadis manis yang membuatnya jatuh hati sejak pertama melihatnya.
"Well...aku akan menceritakan sebuah cerita sambil kita keluar dari sini. Cerita tentang panen raya buah jeruk dan lemon."
Summer mengernyit. Menyambut lengan Antonio yang segera menuntunnya keluar.
Setelah beberapa tahapan menutup pintu, mereka kembali menyusuri lorong temaram.
Antonio Colonna...menceritakan tentang sebuah perayaan di negeri asalnya. Tanah kelahirannya, Palermo, Italia.
Mereka terus berjalan dan akhirnya duduk di sebuah sofa di ujung ruangan rumah Tudor megah itu.
Summer menyimak apa yang di ceritakan oleh Antonio. Tentang betapa indahnya Palermo. Tentang betapa meriahnya perayaan panen buah jeruk dan lemon di sana.
Tentang cikal bakal Charles Colonna yang seorang penerus. Penerus bagi Antonio Colonna yang adalah lebih dari seorang Capo atau Godfather sekalipun. Antonio Colonna adalah pusat kepemimpinan antara dunia mafia dan dunia parlemen. Berdiri tegak di antara keduanya. Penyeimbang antara keduanya.
Summer tertawa geli saat Antonio Colonna sampai pada bagian di mana Chase senang berlarian di antara pohon jeruk dan pernah tersangkut di atasnya tanpa bisa turun lagi. Dan saat itu Chase menangis karena ranting jeruk yang rimbun membelitnya hingga tangannya penuh luka baretan.
"Jadi...hidup Chase berbahaya, Summer Grace. Apakah kau siap mendampinginya?"
"Aku selincah rusa, Uncle. Dan aku mencintai putramu. Aku harap itu cukup."
Antonio tertawa. Menatap Summer lembut. Dia sangat percaya Summer selincah rusa. Dengan keberanian seekor singa.
"Kau akan tinggal untuk pesta perayaan bukan?"
Summer mengangguk.
"Dengan senang hati, Uncle. Aku akan tinggal."
"Baiklah. Sekarang ceritakanlah tentang sekolahmu dan alasanmu tak suka berbelanja. Well...merajut? Tak apa kalau kau tak suka. Tapi berbelanja? Benarkah?"
Summer tertawa pelan. Mulai menceritakan segalanya tentang dirinya. Antonio Colonna yang hangat, hampir pasti sama dengan Dadnya yang begitu hangat padanya.
Mereka berbincang hingga larut. Hingga Chase menghampiri dan meminta Summer beristirahat.
"Tidurlah. Kita akan berangkat pagi-pagi ke kebun besok".
Summer beranjak. Mencium pipi Antonio Colonna dan membisikkan betapa dia meminta maaf pada Ayah Chase itu tentang kesalahpahamannya, berkaitan dengan paman tukang kebun. Antonio terbahak dan mencium kening Summer dalam sebelum gadis itu melangkah menyusuri lorong menuju kamarnya.
Chase menghampiri Ayahnya yang berdiri di dekat jendela kaca besar dengan pemandangan hamparan rumput hijau di depannya.
Chase memasukkan kedua tangannya ke kantung celananya. Hal yang juga di lakukan oleh Antonio Colonna.
"Ada sedikit kerusuhan di Castelventrano. Kau pasti sudah tahu itu. Dad sudah mengatasinya. Tapi...bukan tidak mungkin akan timbul lagi letupan lain nantinya."
"Istirahatlah, Dad. Aku akan mengatasinya."
Antonio Colonna terpaku.
"Aku akan menggantikanmu, Dad. Sudah waktunya."
Antonio Colonna mengangguk. Menepuk bahu Chase dan beranjak. Melangkah menuju ke sayap kanan bangunan rumah Tudornya.
Memang sudah waktunya.....
------------------------------------------
"Bangunlah, putri tidur."
Bisikan lembut Chase hanya sanggup membuat Summer menggeliat dan merapatkan selimutnya tanpa mampu membuka mata.
"Summer..." Chase menarik selimut yang membungkus Summer seperti kepompong.
"Dingin, Chase. Sebentar lagi, okay? Aku yakin pagi masih berkabut."
Chase naik ke ranjang. Menggeleng karena Summer kembali menarik selimutnya.
"Memang dingin. Tapi kita harus pergi. Mom dan Dad bahkan sudah pergi setengah jam lalu."
Summer menyibak selimutnya. Membuka matanya pelan. Chase menyibak rambut Summer yang terlihat awut-awutan.
"Dingin..." Summer kembali mengeluh.
Chase menyibak selimut Summer dan mendorong selimut itu ke ujung ranjang dengan kakinya. Sebelum Summer mengeluarkan protes, Chase mencium bibir Summer. Melumatnya lembut membuat Summer menahan napas.
Tangan Chase meraih pinggang Summer. Membawa tubuh Summer semakin merapat padanya. Telapak tangan besar Chase menyelusup dan mengusap punggung Summer.
"Apa sudah lebih hangat?"
Summer menatap Chase. Mengusap sudut bibir Chase perlahan. Melenguh pelan saat tangan Chase menangkup bokongnya dan meremasnya lembut.
"Sampai kapan kau akan bertahan, Charles Colonna? Apa senjata dan tembakan lebih menarik dari tubuhku?" Summer bergerak merangsek. Naik ke atas tubuh Chase.
Chase terdiam. Menatap keindahan di atasnya. Summer yang baru bangun tidur dengan hanya menggunakan lingerie yang bahkan tak mampu menutupi seluruh tubuhnya. Wajah dengan bibir yang terlihat seksi, rambut acak-acakan dan...kedua paha mulus di samping tubuhnya? Adakah yang lebih indah dari itu semua?
Chase mengerang saat sesuatu yang hangat dan...basah menggesek perutnya. Tangan Summer dengan nakal sudah menyibak kaos yang di pakainya hingga sebatas d**a.
Summer menunduk. Mencium bibir Chase dan Chase dapat melihat...payudara mulus yang ter ekspos semena-mena di depan wajahnya.
Sapuan halus rambut Summer membelai pipi Chase. Membuat Chase bergerak memerangkap tubuh Summer di bawahnya.
Summer mendesah. Menggigit bahu Chase saat Chase bergerak di atasnya. Menekan kuat inti tubuhnya dengan miliknya yang pasti sudah terbangun sejak tadi.
Summer menjerit saat milik Chase menggeseknya berulangkali. Rasanya sungguh menyiksa.
"Mandilah." Chase mengangkat tubuhnya dan bergerak turun dari ranjang.
Summer terkekeh melihat Chase yang menyugar rambutnya keras. Oh... Chasenya yang sekuat tenaga menahan gairah....
"Kau yakin kau baik - baik saja, sayang?" Summer bertanya sambil memeluk Chase. Sengaja menempelkan dadanya di punggung Chase.
"Aku tidak baik-baik saja, Nona. Jadi..pergilah mandi...atau..." Chase menggeram dan Summer merangkak cepat turun dari ranjang dan melangkah cepat ke kamar mandi.
Chase mengatur napasnya. Meredam gairahnya dalam-dalam. Summer benar-benar membuatnya lupa daratan. Hampir saja...
Chase melangkah keluar dari kamar Summer. Memastikan tidak ada bagian tubuhnya yang akan mempermalukannya di hadapan para maid!
Chase menelan ludahnya susah payah.
Summer Grace...entah berapa lama lagi Chase sanggup menahan diri...
----------------