CHARLES COLONNA

1585 Words
Summer menatap keluar melalui tirai jendela yang disibak nya sedikit. Terlihat Chase sedang memainkan sebuah tongkat panjang. Memutar mutarnya dengan gerakan energik. Setahu Summer, Chase memang menekuni olahraga martial art seperti itu. Melihat Chase yang bertelanjang d**a seperti itu hati Summer bergidik. Ada sesuatu yang membuatnya berdesir. Bahwa selama ini dia begitu mengabaikan keberadaan Chase dan silau akan ketampanan seorang womanizer seperti Derek McClain. Lalu saat dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Derek dan hatinya tak merasa sakit sedikitpun...saat itulah dia menyadari satu hal. Dia sakit mengingat dia meninggalkan Chase di hotel sendirian. Terlalu cepat menyimpulkan itu cinta, tapi sebuah ciuman membuat Summer meneguhkan keyakinannya. Bahwa dia harus berakhir dengan Chase Dagwood...Charles Colonna hingga nanti hidup membawanya berakhir meninggalkan dunia ini. Gairah nya yang meletup saat berdekatan dengan Chase adalah sebuah efek dari kepemilikan yang sudah saling mereka ucapkan. Dan Summer berpikir bahwa dia adalah wanita yang gila seandainya gairah nya tak tersulut saat berada di dekat Chase yang sangat...seksi? Chase terlihat duduk di sofa di halaman belakang rumah perkebunan ini. Matanya menatap kosong pada hamparan kolam berenang di hadapannya. Di kejauhan para pekerja melanjutkan acara panen mereka. Dan bahkan Antonio Colonna bergabung langsung dengan para pekerja nya itu. Summer sendiri bangun terlambat karena dia menghabiskan malam bersama Antonio di ruang pengepakan buah jeruk sebelum di kirim ke pasaran. Mereka berbincang hingga sangat larut. Dari Antonio Colonna, Summer menjadi tahu banyak tentang Chase. Salah satunya adalah bahwa Chase akan menggantikan Antonio mengurus sebuah organisasi yang menengahi antara kelompok mafia dan anggota parlemen. Tugasnya tak akan pernah mudah karena Chase akan turun langsung menangani letupan-letupan kerusuhan dan kemarahan yang acapkali terjadi antara kedua belah pihak yang saling berseberangan namun saling membutuhkan dan saling menguntungkan itu. Antonio dengan sangat ringan memperlihatkan luka tembak di bahunya saat dia harus berjibaku dengan tembakan antara para mafia dan pemerintah beberapa tahun lalu. Antonio, hanya ingin Summer bersiap akan segala kemungkinan saat memutuskan untuk bersama Chase. Termasuk luka dan rasa khawatir setiap saat. Summer tersentak saat sebuah lengan melingkari perutnya. Bukankah Chase... Summer menatap lagi sofa di belakang rumah. Chase tak ada di sana dan... "Mencariku?" Chase menyusur leher Summer dengan bibirnya dan membuat Summer otomatis mendongak. "Aku belum mandi." Summer berbisik tapi Chase mengabaikannya. "Ooh...come on. Aku butuh sarapan." Chase melanjutkan kesibukan nya. Mencium leher Summer. Menggoda. Summer tergelak dan lalu tersentak saat Chase menggigit lehernya keras. Summer menghempaskan b****g nya di sofa dan bersandar di sandaran sofa saat Chase menghampiri dan mencium bibirnya lembut. Tubuh Chase mengungkungnya. Menatap geli pada bibir Summer yang akhirnya memberengut. Summer mengangkat tubuhnya. Meraih pinggang Chase dan membuat Chase ambruk ke tubuhnya. Dan Summer berakhir dengan mengaduh kesakitan. Namun akhirnya terbahak karena wajah Chase justru pias kebingungan. Chase terpaku. Summer benar - benar cantik saat tertawa lepas seperti itu. Chase mendaratkan bibirnya ke bibir Summer membuat gadis itu berhenti tertawa. Ciuman yang tak bisa berhenti begitu saja seiring tubuh mereka yang saling bertaut. "Aku pria yang tidak bercinta sebelum menikah." Chase berkata lirih di sela erangannya dan desahan Summer. Summer terpaku. Menghela napasnya pelan berulang kali akibat gairah yang baru saja membakarnya. Bahkan dia tadi bisa merasakan sesuatu yang keras menggesek perutnya. Posisi mereka juga sangat intim sekarang. Summer beringsut. Beranjak dari kungkungan tubuh Chase yang merenggang. Dia melangkah ke kamar mandi dan menguncinya. Meninggalkan Chase yang menyugar rambutnya. Terhempas duduk di sofa dan menetralkan napasnya. Pandangan Chase terpaku pada pintu kamar mandi. Hatinya berkecamuk penuh pertanyaan. Marahkah Summer padanya? Apa pendapat gadis itu tentang prinsipnya, sedangkan Chase selalu merasa tersulut gairahnya saat berdekatan dengan Summer? Dan apakah bijak membiarkan gadis itu gerah dengan gairahnya sendiri yang di sulutnya seperti yang baru saja terjadi? Chase memutuskan untuk keluar dari kamar Summer. Setidaknya dia tidak ingin mengganggu gadis itu. Membicarakan hal serius tentang pernikahan setidaknya ada dalam pikirannya. Chase tak ingin menunggu lama, tapi saat teringat betapa Summer masih berusia 19 tahun...membuat Chase menyugar rambutnya frustrasi. Apalagi sekarang disaat Ayahnya memutuskan segera lengser dari tampuk kepemimpinan organisasi nya, juga seluruh bisnis keluarga Colonna. Sepertinya akan sulit mewujudkan pernikahan secepatnya. Lalu... Sarapan berlangsung hening dengan Summer yang memilih duduk bersama dengan Ibu Chase. Berbaur dengan para wanita pekerja lainnya. Berkali-kali Chase menatap Summer. Dan gadis itu mengabaikannya. Chase merasa dia memang kuno, dan Chase merasa Summer tidak bisa menerimanya. Buktinya Summer bahkan tidak menatapnya saat makan pagi berlangsung. Chase hanya bisa menatap Summer yang berlalu mengikuti Ibunya untuk membantu memetik buah lemon bersama dengan para pekerja lain. Hingga makan siang menjelang, dan Summer masih saja dengan pengabaian nya. Membuat Chase menghela napasnya keras. Bahkan Summer seperti sengaja mengunci kamarnya saat tidur siang. Atau menghindar saat mereka tak sengaja bertemu di ruang tengah. Hingga malam menjelang. Makan malam pun akhirnya mereka saling terdiam. Summer justru terlihat mengobrol banyak dengan Ibu Chase dan beranjak ke kamarnya setelah selesai membantu Ibu Chase membenahi bekas makan malam mereka. Chase sendiri memilih masuk ke dalam perpustakaan di ujung ruangan yang harus di turuninya dengan undakan lima tangga. Ayahnya memang sengaja membangun sebuah ruang luas untuk perpustakaan di bawah bangunan utama rumah perkebunan. Letaknya yang di ujung ruangan dan terletak di bawah memungkinkan seseorang tak terganggu oleh apapun dan bisa menikmati bacaannya dengan tenang. Chase menarik sebuah buku tentang pedagang yang berlayar hingga ke negeri seberang. Menghempaskan bokongnya pelan ke sofa di dekat rak buku. Seseorang pasti telah menyalakan perapian. Ruangan menjadi hangat dan Chase memilih membuka lembar demi lembar buku di tangannya. Chase memilih mengandalkan cahaya lilin dan perapian saat menekuni bukunya. Sesekali Chase berdeham saat merasa tenggorokan nya agak tidak beres sejak tadi pagi. Saat satu jam berlalu Chase berpikir dia tidak keberatan tidur di perpustakaan ini. Toh sofa nya juga lebar dan ada selimut di ujung sofa. Chase menoleh saat mendengar seseorang menuruni tangga dan terpaku di ujungnya. Summer berdiri terdiam. Menatapnya dan akhirnya memilih berbalik. Chase berdiri cepat dan meraih tubuh Summer untuk dipeluknya. Chase memang belum pernah tahu seperti apa itu neraka. Tapi Summer yang mengabaikannya seharian dan semalam ini sanggup membuatnya menggeram menahan rasa yang entah apa namanya. Summer mendorong Chase pelan. Namun Chase mengeratkan pelukannya. "Jangan mengabaikanku seperti ini." Chase menatap Summer yang menggeleng. "Aku gadis 19 tahun dengan gairah yang mudah tersulut. Itu akan merepotkanmu dan menyiksaku, Chase. Sebaiknya..." Ucapan Summer disambut ciuman Chase di bibir Summer. Summer bahkan tidak membalas. Tubuhnya gemetar menahan diri agar tak terhanyut cumbuan Chase. Bagaimanapun...ini semua hanya akan membuatnya merasa bersalah. Bersalah telah menodai prinsip Chase. "Balas ciumanku. Mintalah sebanyak yang kau mau. Persetan dengan prinsip. Aku bahkan merasa aku akan mati saat kau mengabaikan aku." Summer masih terdiam. Membiarkan Chase mencium seluruh wajahnya. Sensasi meremang itu masih terasa, sekuat apapun dia melawannya. "Mintalah Summer Grace. Mintalah sebanyak yang kau mau." Chase berbisik sekali lagi. Kesadaran Summer tersentak. Tidak sepatutnya dia membuat Chase mengingkari prinsip yang dipegangnya. Chase mencium bibir Summer dengan agak kasar. Menangkup pipi gadis itu. Mendorong tubuh gadis itu ke sofa. Tiba- tiba saja Chase tersentak. Summer membalik keadaan dengan menindih tubuhnya bersandar di ujung sofa. Dengan gerakan sangat pelan Summer membuka baju tidurnya. Memperlihatkan tubuh polosnya yang tak menggunakan dalaman apapun. Chase menelan ludahnya susah payah. Menatap kulit Summer yang tertimpa cahaya lilin dan perapian terlihat begitu menggoda. Chase menggeram saat dengan nakal Summer menggesek perutnya sambil mencium bibirnya. Tangan Chase terulur meraih pinggang Summer dan menarik tubuh gadis itu mendekat padanya. Mencium p******a gadis itu bergantian sanggup membuatnya merutuki dirinya sendiri. Ini luar biasa dan... "Sebanyak inilah aku meminta padamu, Chase." Summer berbisik lembut di telinga Chase sebelum akhirnya mengangkat tubuhnya dan mengikatkan tali baju baju tidurnya cepat. Chase terpaku. Menatap Summer yang berdiri dan menatapnya dengan binar geli di kedua belah matanya. "Kau menghukumku, sayang." Itu sebuah pernyataan bukan sebuah pertanyaan. Summer tak merasa perlu menjawabnya. Sekali-kali membuat Chase menderita itu perlu! Menghukumnya karena telah berulangkali membawa Summer pada pusaran gairah yang nyaris tak sanggup ditanggungnya dan tiba-tiba saja menghempaskannya pada kesadarannya. Tahukah Chase kalau itu sangat menyiksa? Demi apapun di dunia. Dia gadis 19 tahun yang mudah meledak karena penasaran. Gadis 19 tahun dengan gairah yang sedang panas - panasnya! Summer merunduk. Mencium hidung Chase kecil dan mencubit nya sedikit keras. "Aku tidak menghukum mu, sayang. Aku mencintaimu." Summer berbalik cepat melangkah menuju tangga. Menaikinya tanpa menoleh lagi. Chase mengumpat pelan. Menatap ke bawah tubuhnya. Bukti gairah nya masih mengeras. Meminta pelepasan yang tak akan akan di dapatkan nya. Dan ini tengah malam dan dia tak mungkin berenang malam-malam untuk meredam gairah nya ini. Chase beranjak. Keluar dari perpustakaan dan melintasi ruang tengah menuju kamar Summer. Chase mengetuk pintu kamar Summer. Berulang kali dan mendapatkan geraman Summer dari dalam kamar. Chase mencoba mendorong pintu namun terkunci. Chase menyugar rambutnya kasar. Summer benar- benar menghukumnya. Chase menghela napasnya keras dan melangkahkan kakinya ke teras belakang. Sepertinya berenang tengah malam adalah satu-satunya jalan. Atau dia tidak akan bisa tidur hingga pagi. Chase benar-benar melakukannya. Berenang beberapa kali putaran hingga dia lelah dan terduduk di tepi kolam. Chase tertawa. Sudah seharusnya dia dihukum bukan? Sudah berulang kali Chase menggoda Summer dan menghempaskan nya begitu saja dalam gairah. Chase menoleh. Menatap kamar Summer yang sudah gelap gulita. Namun matanya menangkap bayangan tubuh Summer yang berdiri di balik jendela. Chase tersenyum. Dia tidak akan keberatan meminta Summer secepatnya pada Zachary Leandro. Dan meminta Ayahnya untuk pergi ke New York bersamanya adalah agendanya besok. Chase beranjak dari bibir kolam renang. Melepaskan bajunya begitu saja dan menggantinya dengan lilitan handuk. Senyum simpul tercetak di bibirnya saat dia tahu, Summer masih memperhatikannya.... Summer tetaplah Summer...yang mudah tersulut karena dia masih begitu muda... -----------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD