Summer duduk terpaku di sofa di ruang kerja Zachary, Ayahnya. Terlihat Chase juga duduk dengan kaku di depan meja kerja Zach.
Sore hari yang sudah berubah warna menjadi jingga. Dan baru saja tadi pagi mereka berdua tiba kembali ke New York setelah kunjungan mereka ke keluarga Chase di Georgia.
Summer melirik ke arah Ayahnya dan mengumpat pelan.
Kenapa Tuan Zachary ini selalu suka membuat sesuatu tampak mencekam?
"Jaga bicaramu, Summer Grace." Zachary berujar tanpa menoleh pada putrinya.
Summer menutup mulutnya dan menunduk secepat dia bisa hingga dia merasakan lehernya sedikit berbunyi dan dia berpikir bisa jadi dia terkilir.
"Baiklah. Bagaimana Chase?" Zachary menatap Chase tajam.
"Saya akan menikahi Summer Grace ketika usianya 20 tahun, Sir."
Zachary terlihat manggut manggut.
"Kau yakin? Lihatlah dia." Zachary menoleh ke arah Summer Grace bersamaan dengan Chase yang juga menatap Summer.
Summer menaikkan kedua alisnya.
"Dia akan selamanya seperti itu. Ceroboh, manja, belum bisa bertanggung jawab, tak bisa menjaga dirinya sendiri...bla...bla...bla."
Summer melotot pada Ayahnya dan siap melayangkan sebuah...bukan...ribuan protes. Tapi semua urung dan hanya tersangkut di tenggorokannya saat melihat Chase menggeleng dan mengedipkan sebelah matanya.
Summer berpikir tentang sebuah formula racun yang tidak terlalu mematikan...
"Saya tidak bisa menjanjikan akan bisa secepatnya menjadikan dia sesuai standar wanita sesungguhnya, Sir. Tapi saya bisa menjanjikan bahwa saya akan berusaha."
Summer mencebik lirih membuat Zachary menoleh dan menatapnya tajam. Dalam hati dia berpikir, sikap keluarga Leandro yang selalu membela dan memanjakan Summer berdampak buruk pada anak gadisnya ini.
"Baiklah. Lalu apa yang akan kau lakukan dalam waktu dekat ini?"
"Seperti yang sudah kita bicarakan beberapa waktu lalu, Sir. Saya harus kembali ke Georgia secepatnya untuk selanjutnya menuju ke Palermo. Ada beberapa hal yang harus saya urus."
Summer berdiri. Mulutnya ternganga sempurna.
Apa-apaan ini semua? Chase akan pergi?
"Summer Grace..." Zachary terdengar menggeram pelan membuat Summer menghempaskan bokongnya lagi ke sofa.
"Hanya sampai urusan selesai. Setelah itu saya akan berada di Georgia."
Summer menggeleng. Chase bahkan tak pernah membicarakan hal ini dengannya. Dan tentu saja dia kaget. Dan Ayahnya melarang dia kaget.
Terlintas lagi tentang formula racun yang tidak terlalu mematikan...
"Baiklah, Chase. Lakukan apa yang seharusnya menjadi hak dan kewajiban mu. Hubungi aku kalau kau membutuhkan bantuan ku. Dan kembalilah secepatnya agar tidak terjadi kerusuhan di rumah ini dan...berhenti menguping Skyla Leandro!"
Chase tertawa pelan dan berdiri saat Zachary berdiri. Chase bahkan dapat melihat Skyla Leandro berdiri di depan pintu ruang kerja Zachary sejak pembicaraan baru di mulai. Zach menepuk bahu Chase dan melangkah keluar. Mencubit b****g Skyla keras hingga Skyla mengaduh dan mengumpat keras. Summer menatap pintu yang masih terbuka dan heran dari mana Chase mengetahui Ibunya menguping? Chase yang melihat keheranan Summer menunjuk sebuah bandul Newton yang bergerak konstan di meja Zachary. Summer melangkah ke arah pintu dan menatap kedua orangtuanya yang terlihat berjalan dan beradu angumen sambil menyusuri ruang keluarga. Summer berbalik tanpa menutup pintu. Dari wajahnya Chase bisa tahu, Summer butuh banyak sekali penjelasan dan bujukan.
"Kemarilah." Chase mengulurkan tangannya. Summer hanya menatap tangan Chase dan akhirnya memilih duduk kembali ke sofa. Wajahnya masih tertekuk marah.
Chase berdiri dan menghampiri Summer. Duduk di samping gadis itu dan terdiam hingga beberapa menit selanjutnya.
"Kau tahu ini akan terjadi. Kau pasti sudah mengkondisikan dirimu untuk semua ini. Sedikit banyak Dad sudah bercerita bukan? Aku harus mengurus semuanya mulai sekarang. Organisasi, perusahaan, keluarga..."
"Tapi, kupikir tidak akan secepat ini." Summer berbicara teramat lirih.
"Aku akan pergi besok pagi-pagi sekali."
Bahu Summer luruh.
"Kau bahkan tidak bilang." Summer memekik sambil menegakkan lagi bahunya. Dia tampak marah dan terguncang.
"Summer." Chase meraih bahu Summer namun Summer menepis tangannya.
" Pergilah". Summer berkata dengan sangat ketus.
" Aku akan mengajakmu andai situasinya tidak berbahaya, Summer Grace".
Summer menatap Chase tak percaya. Dia mengatakan situasi berbahaya?
" Oh...bagus sekali". Summer berujar sinis.
" Aku akan kembali".
Suasana hening mencekam. Bahkan bunyi detak jam antik yang ada di ruang kerja Zachary terdengar begitu nyaring.
Summer beranjak.
"Pergilah sebelum aku bangun."
"Summer." Chase terlihat putus asa.
Summer terdiam dan melangkah keluar dari ruang kerja Zachary. Menyisakan Chase yang menghempaskan lagi bokongnya ke sofa. Akan sangat sulit berbicara pada Summer sekarang ini dan menyerahkan semua urusan Summer kepada Ayahnya adalah hal yang bijak. Sesuai permintaan Zachary...jangan pernah menuruti apapun rajukan Summer mulai detik ini. Summer harus belajar menerima, bahwa tak semua kehendaknya harus dituruti. Chase beranjak. Berjalan keluar ke arah teras belakang mansion dan berbelok menuju bangunan di samping mansion yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Chase menebalkan telinga, mematikan hatinya. Sesuai permintaan Zachary dan dia tak berniat melanggarnya. Percaya pada Zachary adalah jalan satu-satunya dan urusan genting dari Ayahnya memang tak bisa menunggu lebih lama lagi.
----------------------------
Hari ketiga setelah kepergian Chase ke Georgia...atau sekarang dia sudah ada di Palermo seperti rencananya? Summer terlihat bersikap biasa saja, namun menolak membicarakan hal apapun dengan Ayah dan Ibunya. Dia hanya akan mengatakan bahwa dia baik-baik saja dan berlalu. Skyla begitu khawatir dengan putrinya, namun Zach meyakinkan bahwa semua akan membaik dan Summer akan terbiasa dengan keadaan ini.
Lalu hari berlalu...ketika semua tak terasa sudah berjalan lebih dari seminggu. Hari ini keluarga Leandro sedang menjamu beberapa pejabat penting dari parlemen Amerika untuk makan malam di mansion. Makan malam ini penting untuk perusahaan keluarga Leandro karena pemerintah telah mempercayakan beberapa proyek besar pada keluarga Leandro. Semua tampil dengan sempurna. Baik dari penampilan keluarga ataupun jamuan yang mereka berikan. Begitu juga dengan Summer. Sejak seharian tadi Summer terlihat lebih banyak tersenyum dan menurut apapun kemauan Skyla. Dengan gaun malam berwarna hitam berpotongan pendek Summer berulangkali meladeni gurauan salah seorang anggota parlemen yang nampak masih muda. Summer juga bersikap layaknya tuan rumah yang sopan.
Skyla mengerutkan keningnya. Seperti ada yang lain dengan Summer sejak seharian tadi dan malam ini saat perjamuan makan berlangsung tepat pukul tujuh. Namun Skyla berusaha menepis pikiran buruknya. Dan menjadi cukup sibuk mempersiapkan semua dan akhirnya, mengobrol dengan para istri pejabat ketika makan malam tiba. Makan malam selama satu jam itu berlangsung cukup sukses dilanjutkan dengan duduk santai sambil melakukan lobi di sana-sini.
Summer juga terlihat mengobrol dengan beberapa orang. Pembicaraan para orang tua yang berlangsung lama, membuat Summer mendekati Skyla dan meminta pamit untuk beristirahat lebih dulu. Skyla masih mengekor langkah Summer dengan ujung matanya saat Summer berjalan menaiki tangga menuju kamarnya hingga dia harus mengobrol lagi dengan para tamu.
Sementara itu, Summer menatap ranjangnya. Bibirnya tersenyum tipis.
"Hmm...trik kuno kadang cukup efektif." Mata Summer menatap sekali lagi bantal dan guling yang telah di bentuknya menjadi tubuh dirinya yang tertutupi selimut.
Summer menyambar tas ranselnya dan mengendap keluar setelah mematikan lampu tidur. Dia sendiri sudah berganti baju. Sebuah celana jeans hitam dengan kaus dan jaket. Juga sepasang sneakers. Summer mengendap di sepanjang koridor lantai dua. Memastikan tidak ada siapapun di lantai dua. Dia tidak berbelok menuruni tangga utama di dalam mansion. Namun dia berjalan lurus, menyusuri koridor menuju ke arah sayap kanan bangunan. Summer membuka pintu yang mengarah pada sebuah tangga di luar bangunan mansion. Dengan gerakan perlahan Summer menuruni tangga dan berjalan lagi di sepanjang dinding mansion.
Summer bersyukur, mansion ini sangat luas. Bahkan ruang tamu terletak sangat jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Sejenak Summer merapat ke dinding bangunan mansion dan menghela napas. Menatap pintu samping bangunan mansion yang terlihat jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Dia harus melintasi sebuah bangunan bagi para pekerja dan kemungkinan di ketahui keberadaannya sangat besar. Besar kemungkinan sebagian pekerja di mansion ini belum tidur. Belum lagi para penjaganya. Summer menggeleng. Lalu dia memutuskan untuk keluar pagar melalui pintu kecil yang biasa dipakai oleh para maid mengeluarkan sampah. Letaknya tepat di samping ruang kaca tanaman sayuran dan obat-obatan.
Summer mulai mengendap ke arah bangunan tempat tinggal para pekerja. Beruntung atau apa? Summer tidak melihat siapapun di tempat itu. Summer berjalan cepat menuju ke arah samping bangunan itu. Dia masih harus melintas kebun tanaman obat yang sangat rapi dan melintas sepanjang kebun tanaman sayuran yang sengaja di buat oleh Ayahnya beberapa tahun silam.
Summer tersenyum tipis saat melihat pintu yang biasa di lewati para pekerja untuk mengeluarkan sampah. Summer berjalan cepat dan menaiki sedikit undakan. Senyuman miring terbit di bibirnya, sambil tangannya merogoh saku.
Sebuah kunci dengan desain kuno dia keluarkan dari saku jaket. Boleh jadi Dad nya bilang dia sangat ceroboh...tapi Summer boleh berbangga bahwa dia merencanakan sesuatu dengan matang dalam diam. Seperti mengambil kunci pintu di hadapannya ini sore tadi di gantungan kunci di dekat dapur mansion. Summer menyelinap cepat dan mengunci pintu lagi. Dia berjalan tenang menyusuri jalan setapak di samping pagar mansion. Berjalan beberapa saat sebelum akhirnya menemukan jalan raya dalam komplek Water Mill.
Sejenak Summer berhenti di pojok pagar, sebelum akhirnya berbelok kanan menyusuri pedestrian. Summer berjalan tanpa menengok. Suasana tak terlalu ramai. Namun jelas, masih banyak mobil yang keluar dan masuk komplek. Summer terus berjalan sebelum akhirnya bunyi klakson membuatnya menoleh.
"Summer Grace. Kau perlu tumpangan?" Seorang pemuda menyapa Summer sambil merunduk dalam mobilnya.
Summer langsung teringat. Pemuda itu Jeremy Welington, tetangganya di komplek ini dan teman sekolah minggunya dulu saat masih anak-anak. Seingat Summer, terakhir bertemu dengan Jeremy adalah saat acara amal yang di selenggarakan oleh komplek beberapa minggu lalu.
"Terimakasih, Jeremy." Summer membuka pintu dan menghempaskan bokongnya di jok mobil.
"Aku baru saja merencanakan mengunjungimu dan keluarga. Aku akan menikah tiga minggu lagi. Kuharap kalian mau datang menghadiri pernikahanku."
"Oooh...tentu saja kami akan datang Jeremy. Kami menunggu kedatangan mu ke rumah dengan surat undangan..." Summer tersenyum.
Kalau urusanku selesai dalam dua minggu....
Perjalanan keluar dari komplek akhirnya diisi pembicaraan tentang saling menanyakan dan memberikan kabar tentang keluarga masing-masing.
"Kau yakin aku tidak perlu mengantarmu?" Jeremy bertanya pada Summer sambil menyerahkan id card nya pada petugas keamanan. Petugas keamanan memindai sejenak sebelum akhirnya mempersilahkan mobil melaju keluar.
Jeremi membelokkan mobilnya dan melajukan nya pelan sebelum akhirnya berhenti di sebuah halte bis sekitar 200 meter dari gerbang komplek.
"Terimakasih Jeremi. Aku hanya akan menginap ke rumah temanku. Kau tahu...pembicaraan para gadis?"
Jeremi manggut manggut dan menatap Summer yang membuka pintu mobilnya. Berdiri sejenak sambil melambai pada Jeremy. Summer masih berdiri dan beruntung...sebuah taksi berwarna kuning mengkilat berhenti di hadapannya dan secepat kilat Summer memasuki taksi itu. Summer menyebutkan tujuannya. Dia akan mengejar penerbangan paling akhir menuju suatu tempat di mana dia pikir dia harus berada.
---------------------------------------
Rumah peristirahatan yang sangat besar di kota Palermo.
Seorang pria menghisap cerutu di tangan kirinya. Tangan kanannya sibuk menggoyangkan gelas anggur. Sejenak pria itu menyesap anggurnya dengan decapan tak kentara sebelum akhirnya dia meletakkan gelas anggur setengah kosong di meja kayu besar berwarna hitam.
"Bagaimana hasil pengamatanmu, Simone?"
Pria itu mendongak sambil mengerucutkan bibirnya. Dia bersandar pada sandaran kursinya yang tinggi. Tangan kanannya menyeka ujung gelas anggurnya dengan gerakan memutar. Pria yang dipanggil Simone itu mengangguk.
"Antonio menyerahkan secara resmi gelar dan kepemimpinannya empat hari lalu kepada Charles anak laki-lakinya dan bisa aku pastikan anak itu sedang berada di Palermo sekarang. Suara geraman muncul dari bibir pria itu.
"Baiklah. Kumpulkan semua orang-orang yang setia kepadaku, Simone. Suruh mereka hadir di tempatku ini nanti malam."
Simone mengangguk penuh hormat. Undur diri dan menutup ruang kerja sang bos pelan. Keheningan ditingkahi decapan suara pria itu menyesap lagi dan lagi anggurnya yang hampir setengah kosong. Tatapannya menerawang. Kembali dia meletakkan gelas anggurnya dan beranjak menuju jendela kaca besar dengan tirai tinggi rumah peristirahatannya. Dia terlihat termangu, lalu membenarkan letak jubah tidurnya. Helaan napas jelas terdengar begitu berat.
"Seharusnya Antonio...tampuk kepemimpinan itu jatuh pada anak laki-lakiku. Yang sudah jelas berdarah murni Palermo. Darah kita Antonio. Darah dari La Cosa Nostra. Bukan darah campuran seperti putramu".
Amerigo Colonna.
Mengepalkan tangan dan menghantamkannya ke kaca jendela tebal di hadapannya. Gigi gemerutuknya menyiratkan betapa dia murka dengan keputusan Kakaknya.
Dan sebuah rencana telah tersusun di benaknya.
--------------------------------
Kegaduhan pasti telah terjadi di mansion Leandro di New York.
Summer menghirup kuat udara di tempat baru yang baru beberapa jam di injaknya. Dia membuka jendela kamar hotelnya dan menatap kejauhan. Di sinilah tempatnya. Tempat di mana dia seharusnya berada. Mata Summer mengerjap. Salah satu bagian dari benua Eropa ini selalu mampu menghipnostisnya seperti kebanyakan kota di negara ini yang sudah beberapa dikunjungi nya. Bangunan bangunan eksotis memanjakan mata Summer. Kota ini seindah yang pernah diceritakan oleh Paman Tukang Kebun, Antonio Colonna.
Palermo
-----------------------------------