Summer berjongkok. Membenahi tali sepatunya. Mengikatnya kencang dan beranjak lagi. Dengan baju tanpa lengan dan celana pendek Summer berjalan di sepanjang jalan yang ramai lalu lalang penduduk lokal ataupun turis asing. Tampilan Summer yang tak mencolok tak sanggup membuatnya tersamar. Masih saja ada pria yang menatapnya dengan tatapan nakal penuh minat.
Summer membenarkan letak tas selempang nya. Melangkahkan kaki jenjangnya dengan senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.
Summer berdeham dan memasuki sebuah restoran untuk makan siang. Seorang waiter mengantarnya ke sebuah bangku kosong dan menarik kan sebuah kursi untuknya.
Summer menyebutkan pesanannya dan waiter mengangguk. Mempersilahkan Summer menunggu sesaat.
Summer mengeluarkan ponselnya. Menekuri sebuah alamat yang baru di kirim oleh Evangelista Colonna tadi pagi. Dengan sedikit bujukan agar Eva menutup mulut dan tidak memberitahukan kedatangannya pada Chase. Summer berbisik di telepon bahwa dia ingin memberi Chase kejutan.
Dua orang waiter datang dan meletakkan pesanan Summer.
Summer menyuapkan makan siangnya dengan pelan. Begitu menikmati dan menghayati cita rasa makanan yang kaya rasa.
Dalam hati Summer membatin. Nikmati saja dulu hari ke duanya di Palermo sebelum nanti sore dia berkunjung ke rumah...Chase. Summer tersenyum simpul. Apa kabar Chase sekarang. Dia bahkan menolak panggilan telpon dari pria itu karena terlalu jengkel. Dan sekarang dia ingin tahu seperti apa wajah Chase saat melihatnya.
Summer hendak menyuapkan bola-bola daging yang ada dalam pastanya, saat matanya bertemu pandang dengan mata seorang pria dengan rambut panjang sebahu yang duduk berselang tiga meja dari meja makannya. Tatapan pria itu begitu dalam dan entah mengapa Summer merasa tatapan pria itu sangat tajam dan wajahnya penuh seringaian. Kecuali wajahnya yang sangat tampan...selebihnya adalah sosok misterius yang membuat Summer bergidik.Summer menepis pikirannya dan kembali menekuri makan siangnya. Menyesap jus jeruknya hingga tandas dan mendorong piringnya yang telah kosong.
Summer mengedarkan tatapannya dan melambai pada seorang waiter yang bergegas menghampirinya. Dia meminta bill dan melebihkan beberapa euro untuk tip. Summer beranjak melangkah. Melewati pria yang menatapnya tadi yang nyata hanya memainkan sendok garpunya pada pastinya tanpa berniat memakannya. Aroma maskulin bercampur tembakau menyeruak saat Summer melewati pria itu. Summer menghela napasnya pelan dan menekan perasaan gelisahnya. Perasaan bahwa suatu hari nanti dia akan berurusan dengan pria yang belum dikenalnya itu, entah untuk urusan apa?
Summer membuka pintu dan berhenti sejenak. Menoleh ke arah pria itu dan tatapan mereka kembali bertemu. Summer bergidik ngeri dan bergegas melangkah sepanjang jalan. Menggeleng keras dan semakin cepat melangkah.
---------------------------------------------
Summer berdeham dan meliukkan badannya. Membuat badannya lebih rileks. Summer baru saja turun dari taksi di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi dengan tembok khas rumah peristirahatan. Tembok batu yang terlihat kasar namun klasik. Summer menghampiri gerbang dan menekan bel. Dari layar monitor di tembok terlihat seorang penjaga pos keamanan dan menanyakan keperluannya. Summer menjawab dengan sopan dan seorang petugas keamanan terlihat menemuinya lewat sebuah gerbang kecil di samping gerbang utama. Dia menyerahkan kartu identitasnya dan sesaat kemudian di persilahkan untuk mengikuti petugas itu. Mereka menyusuri jalanan menuju rumah besar bergaya klasik yang terlihat gagah dengan perpaduan taman yang feminin.
Pintu terbuka dan sorang wanita setengah baya menyambut Summer dengan bahasa Inggris yang fasih. Mengangguk pada petugas keamanan yang segera berbalik dan melangkah ke pos jaga.
"Silahkan. Nyonya besar sudah memberi tahu saya bahwa Nona akan datang hari ini. Dan kamar Anda telah siap."
"Terimakasih, Aunty..."
"Saya Rosalia." Maid itu membungkuk dalam.
"Terimakasih Aunty Rosa. Hmm...apakah Chase ada?"
Maid bernama Rosalia itu mengernyit heran.
"Charles..." Summer meralat panggilannya.
"Tuan Muda belum pulang. Tapi dia selalu pulang tepat. Pukul 08:00. Sebaiknya Nona beristirahat sekarang. Saya akan memberitahukan saat makan malam tiba."
Summer mengangguk dan mengikuti Rosa berbelok menyusuri koridor menuju sebuah kamar. Rosa terlihat membuka lebar pintu sebuah kamar dan mempersilahkan Summer masuk. Summer mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Rosa mengangguk hormat dan tersenyum ramah sebelum berlalu.Summer menutup pintu. Mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Sebuah ranjang klasik berada di tengah ruangan. Sebuah lemari yang tak kalah klasik dan juga meja dan kursi klasik ada di ruangan itu.
Tinggal memakai baju abad pertengahan dan Summer akan resmi menjadi seorang Lady. Summer tersenyum simpul.
Summer duduk di sofa dengan posisi menyamping. Menatap ke jendela dan menemukan halaman belakang rumah dengan kebun mawar. Matahari semburat jingga turun dan menghilang di balik tembok gagah di kejauhan. Summer beranjak dan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya. Menunggu mungkin membosankan, tapi tidak bila itu untuk Chase.
--------------------------------------------
"Nona..."
Summer tersentak. Beranjak cepat dan temaram lampu menyambutnya.
"Makan malam Anda, Nona."
Rosalia mempersilahkan Summer menuju sofa. Sebuah nampan penuh dengan makan malam terlihat. Rosa dengan cepat menyiapkan handuk. Summer melangkah cepat ke kamar mandi. Memutuskan untuk mandi dan berakhir kebingungan karena dia meninggalkan semua bajunya di hotel. Rosa tertawa pelan saat Summer keluar dari kamar mandi dan terlihat bingung.
"Nona bisa memakai baju ini. Nyonya besar tadi menelpon saya untuk menyiapkan keperluan Anda. Semoga berkenan."
Summer tersipu dan mengangguk. Mengambil baju dari tangan Rosalia dan memakainya cepat.
"Tuan Muda pulang lebih cepat dan Nona bisa menemuinya di kamarnya." Rosalia berbisik tentang letak kamar Chase dan Summer mendengarkan dengan seksama.
"Nona makanlah dulu, baru menemui Tuan Muda."
"Terimakasih, Aunty."
Rosalia mengangguk dan melangkah keluar.
Summer makan malam dalam diam. Menggosok giginya setelah selesai makan. Dia berdiri di depan kaca membenahi riasannya. Juga rambutnya. Summer mengendap keluar dari kamar dan melangkah menaiki tangga. Bagian depan rumah ini terlihat benderang dengan banyak penjaga bersiaga.
Summer sampai di depan sebuah pintu dan mendorongnya pelan. Temaram lampu tidur menyambut Summer. Terlihat tubuh seorang pria membelakangi Summer.
Tak perlu bertanya, Summer hafal itu jelas Chase.
Summer mendekat. Memperhatikan Chase dari dekat. Summer duduk di depan Chase dengan sangat pelan. Terpaan lampu tidur membuat Summer leluasa menatap wajah Chase. Wajah yang dirindunya itu terlihat sangat lelah. Beberapa kali mengernyit dan menautkan alis. Summer tersentak ketika Chase bergerak dan berbalik membelakanginya. Deru napas halus terdengar dan Summer yakin Chase sangat pulas dan lelah.
Summer menghela napasnya. Tidak mungkin membangunkan Chase kalau sudah seperti ini. Summer tidak akan tega. Tapi...keinginan untuk memeluk pria yang bertelanjang d**a itu sangat kuat. Summer merindunya hingga tubuhnya gemetar.
Summer merebahkan tubuhnya di samping Chase pelan. Merasai deru halus napas Chase yang tetap membelakanginya.
Cukup.
Biarlah Chase bangun. Summer sangat ingin memeluknya. Dan...Summer memeluk Chase dari belakang. Merasai aroma Chase yang memabukkan. Wangi sabun mandi pria jelas tercium dari punggung Chase. Chase hanya menggeliat dan terdiam lagi. Tak melakukan pergerakan apapun. Summer menghela napas pelan dan membiarkan kantuk menguasainya. Dia juga sangat lelah setelah seharian menikmati hari.
Rasanya...memeluk Chase dalam diam seperti ini membuatnya sedikit terobati. Walaupun dia belum tahu bagaimana reaksi Chase saat tahu bahwa dia kabur dari mansion. Kalaupun Chase marah...setidaknya memeluknya sebanding dengan itu.
Summer terlelap bersama aroma Chase yang memabukkan.
------------------------------------------------------
Chase mengusap bahu mungil Summer berulangkali. Dia yakin sedang bermimpi sesaat sebelum akhirnya dia yakin yang meringkuk dalam pelukannya ini adalah Summer. Summer yang terlihat semakin cantik, tiba-tiba saja sudah tidur dalam pelukannya. Sesaat Chase merutuki kewaspadaannya yang mengendur hingga tak menyadari kehadiran Summer di ranjangnya. Tapi semalam Chase memang memimpikan gadis nakal di pelukannya ini dan alam bawah sadarnya menerima pelukan Summer karena memang dia tengah bermimpi Summer memeluknya erat.
Ada banyak yang harus dijelaskan oleh gadis itu nanti. Kenapa dia sampai ada di kota ini. Sendirian.
Chase baru saja mendapat laporan dari salah satu anak buahnya bahwa memang benar semua barang-barang Summer masih ada di salah satu hotel di pusat kota. Chase segera meraih ponselnya tadi saat merasakan kehadiran Summer di sisinya. Dia memerintahkan salah satu orang kepercayaannya untuk melakukan penyelidikan kecil.
Chase masih menatap gadis yang bahkan terlihat nyaman dalam pelukannya ini. Gadis yang dia tinggalkan dalam kemarahan. Gadis yang menolak mengangkat telpon dan membalas pesannya. Gadis yang pasti sudah membuat Ayah dan Ibunya kalang kabut karena kenekatannya. Chase mengusap lengan Summer dan gadis itu menggeliat pelan sebelum akhirnya membuka malas matanya.
"Selamat pagi." Chase berbisik sambil menatap Summer lekat.
Summer terpaku. Mencoba bergerak menjauh dari Chase namun Chase menggeleng.
"Kau lapar?"
Summer mengangguk.
"Bolehkah aku memakanmu?" Summer bertanya tanpa ekspresi membuat Chase gemas.
Jelas ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.
"Aku akan menelpon Dad dan Mom...nanti." Summer berkata pelan saat melihat mata Chase yang menyiratkan bahwa pria itu butuh banyak penjelasan.
"Aku merindukanmu! Apalagi yang kau mau tahu? Aku..."
"Kau boleh memakanku."
Summer terpaku. Tangannya terulur mengusap rahang Chase yang telah berubah. Jelas sekali Chase tak bercukur cukup lama. Chase terlihat lebih tampan.
"Aku merindukanmu, Chase. Dan..."
"Kau boleh mencium ku." Chase menggoda.
Summer tertawa pelan. Lalu cemberut membuat Chase ikut tertawa.
"Sudahlah. Aku yang akan bicara pada Dad kalau kau di sini. Selamat datang...aku merindukanmu gadis nakal."
Summer tersenyum dan terkesiap saat Chase mencium bibirnya lembut. Summer mengusap lengan Chase dan menekannya lembut saat Chase memperdalam ciumannya. Chase beranjak. Mengungkung tubuh Summer di bawahnya. Menautkan telapak tangan mereka dan berciuman dengan sedikit tawa. Tubuh Chase bergerak membuat Summer terkejut namun akhirnya terlena dengan sensasi nikmat yang tertahan.
"Ini seperti gerakan dua orang yang sedang bercinta...Chase...aaah..." Summer melenguh.
Chase menggeram lalu mencium bibir Summer dalam setelah memutus pandangan mata mereka yang jelas akan membuat Chase rela bertindak lebih jauh. Summer terlihat begitu mendamba. Chase bergerak ke samping membuat Summer menghela napas kecewa.
"Summer...kau bisa membuatku gila."
"Lalu kenapa kita tidak melakukannya saja?"
Chase menggeram karena Chase yakin Summer tahu jawabannya. Chase mengusap bahu Summer pelan.
"Baiklah...aku tidak akan memaksa. Aku bisa menunggu."
Chase terkekeh.
"Kau nakal sekali. Mansion pasti sangat gaduh. Dan...Mommy mu pasti berteriak kencang."
Summer mengangguk dan membenarkan. Dia bahkan tidak berani mengangkat telpon dari Mommy nya!
"Mandilah. Kita sarapan."
Summer menggeleng. Mengeratkan pelukannya pada Chase.
"Apakah kau pergi hari ini?"
"Aku harus bekerja nanti pukul 09-00. Kenapa?"
"Aku pikir kau bisa libur hari ini."
Summer berguling. Membelakangi Chase. Menarik selimut hingga ke dadanya. Berniat tidur lagi karena Chase pasti akan pergi sebentar lagi.
"Ubah semua jadwal pertemuan hari ini, Fillipo. Aku ada tamu penting hari ini..."
Summer tersenyum simpul. Mendengarkan dengan seksama Chase yang melakukan panggilan telpon pada seseorang bernama Fillipo.
"Kau senang?" Chase memeluk pinggang Summer dan mencium leher Summer lembut. Aroma gadis itu membuat Chase tersentak. Menelusuri dan tak sanggup berhenti.
"Zachary Leandro akan membunuhku kalau aku tak berhenti..."
Summer tertawa dan berbalik. Menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Chase.
"Kau sudah tidak marah...ini...akan sedikit lebih berat dari dugaan ku."
"Aku akan marah kalau kau memintaku kembali ke Amerika. Aku...ingin di sini."
"Bagaimana kuliahmu?"
"Aku mengajukan cuti."
Chase menghela napasnya keras. Sulit untuk mengatakan tidak pada seorang keturunan Leandro termasuk Summer Grace.
"Baiklah..."
Mereka terdiam. Saling membelai tanpa kata-kata dan memilih untuk terlelap lagi dan melupakan sarapan mereka.
--------------------------------------
Rosalia berdeham canggung saat Chase meminta secangkir kopi dan segelas teh untuknya dan Summer dan memintanya untuk mengantarkannya ke teras belakang. Rosalia menawarkan sarapan dan Chase menggeleng. Senyum simpulnya membuat Rosalia agak tenang, mengingat dia selalu menemukan Chase dalam kondisi yang hampir selalu tegang.
Chase melangkah ke ruang kerjanya sementara Rosalia meminta seorang maid untuk mengantarkan kopi dan teh ke teras belakang.
Chase sendiri masuk ke ruang kerjanya dan melakukan beberapa panggilan telepon. Termasuk mendengarkan ceramah Skyla Leandro selama beberapa menit. Selebihnya adalah mendengarkan ceramah dari Evangelista Colonna yang mengatakan dia sudah terlalu tua dan membutuhkan cucu yang banyak dari anak tunggalnya. Chase menghela napas saat lelah saat keluar dari ruang kerjanya. Menemui Summer yang tengah menyesap tehnya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu? Atau kau ingin keluar berjalan-jalan?"
Summer menggeleng.
"Aku mau di sini saja. Bawa aku berkeliling rumah ini dan...kita bisa b******u di beberapa sudut rumah ini...menarik bukan?"
Summer berdiri dan melangkah masuk. Chase menyesap kopinya dan menyusul Summer setelahnya. Tawaran gadis itu selalu menarik hati...
--------------------------------------
Pria berambut sebahu di sebuah rumah peristirahatan.
Menatap lembaran foto di tangannya dengan gerakan pelan satu persatu. Dia baru saja menerima foto itu dari seorang anak buahnya.
"Gadis Amerika yang menarik dengan silsilah keluarga yang menarik. Kenapa keberuntungan selalu menghampiri anak itu?"
"Sedikit bermain menggunakan gadis itu sepertinya akan sangat menarik."
Pria itu menyesap wine-nya.
Menggeram pelan dan menyelipkan rambut hitam se bahunya dengan gerakan dramatis. Matanya berkilat saat dia melangkah mendekati jendela.
Sebuah kebetulan bukan ketika kau menyelidiki seorang gadis yang menarik hati dan kau menemukan kenyataan bahwa gadis itu adalah milik saudaramu...yang menjadi seteru mu dalam diam?
Benigno Colonna
Menggenggam erat tirai jendela jingga, hingga buku jarinya memutih. Dia menggeram dan tubuhnya bergetar karena amarah yang terpendam.
Tbc