Sakit hati

1541 Words
Malam ini Nadia tak mampu memejamkan matanya. Ia ingin sekali menelepon suaminya, namun apa daya, rasa sakit di dalam dadanya teramat dalam sehingga ia tak ingin berdamai dengan keinginannya tersebut. Yang ada di pikiran Nadia saat ini adalah kenangan-kenangannya bersama Satria 10 tahun terakhir. Nadia masih terisak dalam tangisnya, ia benar-benar merasa frustrasi. Bahkan ada setitik keinginan baginya untuk mengakhiri hidupnya. Namun ia mengurungkan niat buruknya itu ketika melihat Bobi, buah hatinya. Nadia tak ingin Bobi memiliki kehidupan yang sama dengannya, hidup bergelimang harta namun tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Satria adalah pria yang menemani Nadia sejak Nadia duduk di bangku SMA. Yang Nadia tahu, Satria tak pernah melirik wanita lain. Yang Nadia tahu, hanya dialah wanita yang ada di hati Satria. Satria mampu mengubah Nadia yang pendiam menjadi sosok yang ceria. Ada banyak hal baru dan positif yang Satria ajarkan pada Nadia. Kasih sayang Satria selama ini memang bukan main. Nadia merasa dialah wanita yang paling beruntung, selama ini, sampai akhirnya ia tahu kalau suaminya main gila di belakangnya. Ketika matahari mulai memancarkan pesonanya, Nadia beranjak dari tempat tidurnya, semalaman ia terjaga dengan air mata yang kunjung henti. Nadia menuju kamar mandi, ia kaget setengah mati melihat matanya yang bengkak dan ada lingkar hitamnya. Nadia panik, ia tak ingin Bobi nelihat kondisinya yang tampak buruk itu. Nadia akhirnya memutuskan mandi lalu mengenakan make up tebal demi menutupi mata pandanya. "Mama tumben dandan cantik banget pagi-pagi. Mau ketemu sama papa apa sama om Dika?" tanya Bobi sambil menikmati sarapannya. Bobi merasa ibunya memiliki hubungan khusus dengan Dika, dan ia tak menyukainya. Bobi tidak mau hubungan orang tuanya hancur karena hadirnya Dika di tengah-tengah keluarga mereka. "Mama mau ketemu sama temen-temen arisan. Gimana? Mama cantik kan?" tanya Bobi, tentu saja Nadia hanya berbohong. Demi meyakinkan anaknya, Nadia harus pandai bersandiwara. Yang Nadia pedulikan saat ini adalah menjaga perasaan Bobi, agar Bobi tak mengetahui kebusukan ayahnya yang telah menyakiti perasaan ibunya. "Nanti mama mau ke Geprek Master lagi?" tanya Bobi lagi, Nadia menyuapi Bobi dengan sesendok sayur, penuh. "Enggak, kenapa sayang?" sahut Nadia berbohong, ia sengaja berbohong karena tahu anak laki-lakinya itu tak menyukai kedekatannya dengan Dika. Selama ini hubungan Dika dan Bobi sangat baik, mereka sangat dekat. Namun mungkin Bobi berpikir kalau kedekatan Nadia dengan Dika akan merusak hubungan kedua orang tuanya. Itu sebabnya Bobi tidak suka ibunya dekat-dekat dengan pria yang masih single itu. "Mama jangan selingkuh dari papa. Papa kerja keras buat kita, mama jangan nakal ya." ucap Bobi yang membuat Nadia membelalakkan matanya, tak percaya. Nadia tak mengira kalau anaknya akan berpikiran seperti itu. Padahal, kenyataannya, ayahnyalah yang mengkhianati cinta suci mereka. "Bobi kok bisa mikir seperti itu? Mama sama om Dika temenan dari dulu, Bobi kan tahu mama cuma temenan sama om Dika." ucap Nadia terdengar gemetar karena menahan isak tangisnya. Andai saja Bobi tahu kelakuan ayahnya, Bobi mungkin akan membenci ayahnya, selamanya. "Habis kemarin mama pergi berdua sama om Dika. Kata temen-temen Bobi kalau perempuan sama laki-laki berdua itu namanya pacaran. Mama kan pacarnya papa, jadi jangan pacaran sama om Dika juga." ucap Bobi yang tampak menggemaskan, membuat Nadia tersenyum kecil. "Iya, mama pacaran sama papa, kalau sama om Dika, mama cuma temen aja sayang." terang Nadia. "Bener ya ma? Janji?" ucap Bobi sambil mengulurkan jari kelingkingnya, Nadia mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking putranya tersebut. "Iya sayang, mama janji cuma temenan sama om Dika." sahut Nadia tegas. *** Di tempat lain, Satria tengah mandi ditemani gelak tawa Sofia. "Sayang, aku puas banget malam ini. Aku maunya tiap malem kita tidur bareng." ucap Sofia yang memeluk Satria yang sedang diguyur air shower. Satria tampak diam, sebenarnya di dalam lubuk hatinya, ia memikirkan Nadia. Bagaimana kalau Nadia tahu kelakuannya yang seperti itu, mungkin Nadia akan meminta cerai. Satria sungguh tak ingin hal itu terjadi, terlepas dari rasa takutnya kehilangan posisi di kantor sebagai direktur, Satria sangat mencintai Nadia. Satria tidak ingin berpisah dengan Nadia, namun ia juga tak ingin mengakhiri hubungannya dengan Sofia. Sofia adalah wanita muda yang memberinya kepuasan tersendiri, terutama urusan ranjang. "Sayang... Kok diem?" ucap Sofia yang merasa diabaikan oleh bos sekaligus kekasihnya itu. "Ayo buruan mandi, pagi ini kita ada meeting penting." ucap Satria yang kemudian buru-buru menyelesaikan mandinya. "Kamu merasa bersalah sama istri kamu?" tanya Sofia ketika ia sudah selesai mandi, sementara Satria sedang memakai bajunya dengan wajah datar. Satria hanya diam, tak menanggapi pertanyaan Sofia. Satria memang sangat gelisah memikirkan Nadia, semalam adalah kali pertamanya tidur terpisah dengan Nadia. Sementara apa yang ia lakukan adalah bersenang-senang dengan perempuan lain. "Jadi bener? Kamu mikirin bu Dia? Kamu nggak mikirin aku sayang?" teriak Sofia yang kesal dengan sikap Satria yang tiba-tiba berubah. Semalaman Satria bersikap liar, mengerjai Sofia dengan semangat, saling bertukar keringat. Namun ketika pagi menjelang, Satria tampak murung, membuat Sofia kecewa. "Buruan, kalau kamu lama, aku akan tinggalin kamu." ucap Satria tegas, Satria kemudian keluar dari kamarnya tersebut dan buru-buru menuju tempat parkir. Sejak Satria keluar dari kamar sampai memasuki mobil, detektif swasta yang dibayar Dika sudah mengambil banyak foto sebagai bukti. Tak lama kemudian, keluar Sofia dengan rambutnya yang masih banyak, dari kamar yang sama dan masuk ke mobil Satria. Semua foto yang kedua laki-laki itu dapatkan, segera ia kirim ke Dika. Sesaat setelah menerima foto-foto itu, Dika yang baru saja selesai sarapan di rumahnya, menelepon Nadia untuk mengajak bertemu. Selain karena ingin menunjukkan bukti-bukti itu, Dika juga ingin melihat kondisi Nadia saat ini. Dika yakin kalau Nadia sedang frustrasi menghadapi kenyataan kalau suaminya selingkuh. Nadia sedang duduk manis di sebuah kafe yang tak jauh dari sekolah Bobi. Nadia sedang memandangi layar ponselnya yang berisi foto-fotonya bersama dengan Bobi dan juga Satria. Walaupun tak ada air yang keluar dari mata Nadia saat ini, di dalam lubuk hatinya, ia sedang menangis histeris. Tak akan ada yang percaya kalau Nadia masih memiliki harapan pada suaminya yang sudah jelas-jelas menyelingkuhinya. Dika datang ke kafe sesuai permintaan Nadia, ia melihat Nadia yang tampil sangat cantik pagi ini dengan kerutan di dahinya, heran bercampur bingung. "Apa kamu begitu stres memikirkan suami kamu? Sampai berpenampilan seperti itu?" tanya Dika yang baru beberapa detik duduk di depan Nadia, Nadia terkekeh. "Apa dandananku jelek? Aneh?" tanya Nadia sambil bercermin. "Kamu cantik, Dia, cantik banget malahan. Hanya saja kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya, aku takut kamu..." ucap Dika terputus, "Takut aku frustrasi lalu bunuh diri?" tanya Nadia sambil tersenyum kecut, Dika hanya diam menatap sendu wanita di depannya. "Tenang aja Dik, aku nggak akan mati sampai aku balas dendam sama mereka berdua." ucap Nadia yakin, matanya seperti memancarkan api membara. "Jangan lakukan hal bodoh, aku akan selalu ada buat kamu." ucap Satria sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Nadia. Nadia dengan cekatan langsung menyambar ponsel temannya tersebut lalu menatap layar ponsel itu dengan deru nafas yang semakin cepat. "Mereka berdua keluar tadi pagi, seperti buru-buru. Mereka langsung ke kantor, mobil mereka juga melaju kencang, mungkin ngejar meeting penting dengan client." ucap Satria menyampaikan informasi yang ia dapat dari orang-orang yang ia bayar untuk mengikuti Satria. Nadia menggenggam tangannya, mengepal sambil menutup matanya rapat-rapat. "Dasar brengs*k!!!!" teriak Nadia sambil melempar gelas di depannya, mengenai tepat di tembok yang tak jauh darinya. Untung saja kondisi kafe masih sepi, jadi tak ada orang lain yang terkena pecahan gelas itu. Namun Dika terkena serpihan kaca ,tepat di pipi kanannya, ada goresan kecil yang diikuti darah yang mengalir, hanya sedikit. Pelayan kafe berhamburan datang, Dika segera menemui mereka dan memberi sejumlah uang pada mereka. "Saya akan ganti rugi, tolong maafkan kami. Saya akan bawa teman saya pergi dulu. Tolong bersihkan jika kami sudah pergi." ucap Dika dengan tenang, para karyawan kafe mengangguk lalu kembali ke tempat mereka sebelumnya. "Dia, ayo kita pergi dari sini, aku akan bawa kamu pergi ke tempat di mana kamu bisa meluapkan kemarahanmu dengan lebih leluasa. Ya?" ajak Dika yang kemudian menggandeng tangan Dia, Dia menurut saja. Dika membawa Dia pergi ke sungai kecil, namun tampak indah. "Berteriaklah, sesukamu, di sini nggak ada orang." ucap Dika santai ketika ia dan Nadia turun dari mobil. Nadia hanya diam, ia kemudian duduk di tumpukan kayu yang tampak usang namun masih kokoh. "Kenapa? Kamu malu? Haruskah aku yang mulai?" tanya Dika yang mencoba membuka obrolan, sedari tadi Nadia hanya terdiam, menangis pun tidak. "Dasar Satria bajing*n!!!! Brengs*k!!!! Pergi aja ke laut! Biar ditelan ombak, nggak usah balik!" teriak Dika, Nadia tersenyum melihatnya. Dika bernafas tersengal-sengal karena ulahnya barusan, namun ia lega karena Nadia mau tersenyum karenanya. "Ayolah, teriaklah, ungkapin semua kemarahanmu, kekecewaanmu." ajak Dika, Nadia akhirnya berdiri lalu mengikuti gaya Dika dan berteriak. "Dasar pria brengs*k! Kamu bilang aku cinta sejatimu, sampai mati? T*ik! Dasar b*angke! Bau busuk!!!" teriak Nadia, Dika tertawa puas. "Arrrrgggggghhhhh, aku akan balas dendam sama kamu! Dasar wanita jal*ng!! Sofia kegatelan! Nggak tahu diri!" teriak Nadia lagi, ia kemudian menangis, jongkok sambil menyembunyikan wajahnya di lututnya. Tangisannya sangat keras, terisak-isak, Dika hanya duduk menunggu wanita yang sedang patah hati itu mengeluarkan semua kegundahannya. *** Selesai meeting, Satria yang sejak tadi pagi merasa gundah, berinisiatif menemui Nadia. Satria meminta sopir pribadinya mengantarnya ke sekolah Bobi karena ia tahu Bobi pulang cepat hari ini. Satria sengaja ingin memberi kejutan untuk anak dan istrinya dengan menunggu di depan gerbang sekolah, ia bahkan keluar dari mobil dan berdiri dengan tampannya. Banyak ibu-ibu wali murid lain yang terpesona dengan ketampanan Satria dan berbisik di belakangnya. Tak lama kemudian, muncullah mobil Nadia, Satria tersenyum melihat mobil istrinya tiba. Namun senyum itu hilang setelah ia melihat Dika yang menyetir untuk istrinya, sementara istrinya berpenampilan sangat cantik hari ini. Hati Satria hancur, ia berpikir Nadia juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan dengan Sofia. Satria menghampiri Dika yang baru saja turun dari mobil, lalu, bug! Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Dika, darah menetes begitu banyak dari hidung Dika. Nadia terkejut melihat aksi gila suaminya, kenapa? Tanya Nadia dalam hati. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD