Pria yang menyandang status sebagai suami sah dari Nadia itu sepertinya sudah dikuasai api cemburu, cemburu buta.
Hanya dengan melihat istrinya ditemani teman prianya, membuat pria yang tak lain Satria itu kembali melayangkan pukulan pada Dika.
Nadia yang ketakutan segera menarik tangan Satria, menghentikan aksi gila suaminya.
"Mas, cukup!!!" teriak Nadia yang terdengar frustrasi. Nadia benar-benar menyesal karena telah melibatkan Dika dalam urusan rumah tangganya.
Nadia takut Dika akan menerima banyak pukulan dari suaminya.
Satria tampak belum puas, ia masih ingin memukul Dika yang saat ini tersungkur di tanah.
Dika memang dalam kondisi yang tak siap menerima pukulan, oleh sebab itu satu pukulan dari Satria mampu membuatnya tersungkur.
"Kamu!!! Berani kamu ya jalan sama pria lain saat suami kamu kerja? Jadi ini kerjaan kamu saat aku nggak ada?" teriak Satria pada Nadia yang memancing perhatian orang-orang.
Dika berdiri, ia hendak menolong teman wanitanya itu, namun Satria buru-buru melempar tatapan mautnya pada Dika.
"Dika, kamu pulang aja ya." ucap Nadia pelan, Satria melirik istrinya kesal, ia tak suka mendengar perhatian istrinya pada Dika.
Dika sebenarnya ingin mendampingi Nadia, hanya saja status Nadia yang masih menjadi istri sah Satria, membuatnya di sini sebagai orang ketiga.
Dengan terpaksa, Dika pulang menggunakan jasa taksi. Sementara Satria yang masih dikuasai emosi, menyeret Nadia masuk ke dalam mobil.
Satria menyuruh sopir pribadinya menunggu Bobi pulang, sementara Satria mengajak Nadia pulang lebih dulu menggunakan mobil Nadia.
Di sepanjang perjalanan, baik Nadia dan Satria sama-sama diam. Sepasang suami istri ini sama-sama sedang dikuasai emosi.
Sesampainya di rumah, Nadia langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Satria.
Satria mengejar langkah cepat Nadia, menahan lengan Nadia yang saat ini sudah sampai di ruang tamu.
"Apa?" teriak Nadia, ini adalah kali pertama Nadia berteriak pada Satria sejak pertemuan pertama kali mereka 10 tahun yang lalu.
Satria terkejut, seharusnya ia yang marah karena melihat istrinya berduaan dengan pria lain dan dengan penampilan yang sangat cantik.
"Kamu bentak aku?" teriak Satria tak percaya,
"Kamu juga bentak aku mas, di depan para wali murid tadi!" teriak Nadia lagi.
Nadia sudah memutuskan akan menceraikan Satria, ia akan melawan Satria dan membuat pria yang sudah menduakan cintanya itu menyesali perbuatannya.
"Suami mana yang nggak marah lihat istrinya dandan cantik dan jalan sama pria lain?! Ha? Apa aku salah kalau aku cemburu pada istriku sendiri?" teriak Satria, perkelahian sepasang suami istri ini menggema di rumah megah bernuansa putih itu.
Para asisten rumah tangga bahkan mencoba menguping perkelahian yang tak pernah terjadi sebelumnya itu.
Keluarga Nadia dan Satria memang tampak harmonis, tak ada perdebatan berarti sampai hari ini.
Para asisten rumah tangga tak menyangka kalau majikan mereka yang terlihat saling menyayangi satu sama lain akhirnya berkelahi walaupun cuma adu mulut.
"Istri? Baiklah, aku akan segera meminta cerai dari kamu mas. Aku bukan lagi istri kamu!" teriak Nadia yang membuat Satria bingung tak karuan.
"Maksud kamu apa Dia? Kamu cinta sama pria tadi? Kamu... Sejak kapan hubungan kalian Dia?!" teriak Satria tak percaya, Nadia yang ia kenal adalah wanita baik-baik yang sangat mencintainya.
Kecurigaannya pada Dika tadi di sekolah adalah hal pertama yang Satria alami, rasa cemburu pertama yang ia rasakan, karena selama ini Nadia pandai menjaga kehormatannya dengan menjaga jarak dengan pria manapun.
Nadia berdecak kesal, ia menatap tajam mata pria yang selama 10 tahun ini menjadi pria yang paling dicintainya.
"Apa aku kurang cantik mas?" tanya Nadia lirih, deru nafas Satria terdengar lebih cepat.
"Kamu bener mau minta cerai? Karena laki-laki tadi?" Satria juga melayakan pertanyaan untuk Nadia.
"Apa kamu nggak puas dengan pelayananku mas?" lanjut Nadia, Satria mulai menyadari arah kemana pertanyaan Nadia.
Satria membulatkan matanya, ia mulai menerka-nerka, apa mungkin istrinya mengetahui perselingkuhannya dengan Sofia.
"Dia sayang..." ucap Satria yang terdengar gemetar, Nadia menyeringai mendengarnya.
"Sayang? Bullshit mas! Sayangmu itu palsu!" ucap Nadia tegas, mata Nadia sudah berkaca-kaca, ia tak menyangka kalau hari ini akan terjadi, hari di mana ia memutuskan berpisah dari pria yang telah menemaninya setiap hari, selama 8 tahun ini.
Satria hendak meraih jemari tangan Nadia, namun Nadia buru-buru menepis tangan suaminya tersebut.
"Sebenernya kamu ngomong apa sih? Aku sayang sama kamu tulus!" teriak Satria yang sudah tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap istrinya.
Ini adalah kali pertama Nadia marah pada suaminya, Satria tak tahu harus bersikap bagaimana demi merayu istrinya yang sedang merajuk itu.
"Jangan pura-pura bodoh mas. Aku tahu hubungan kamu dengan Sofia. Aku tahu semalam kamu menghabiskan malammu dengan wanita itu. Aku tahu kalian udah bermain gila di belakangku selama ini." ucap Nadia, di setiap akhir kalimatnya, ia selalu menaikkan nada bicaranya.
Satria tampak bergetar, ia tampak tak percaya diri melawan istrinya. Satria dengan sadar mengakui kalau semua itu adalah kesalahannya, walau hanya di dalam hatinya.
"Maafin aku Dia.." ucap Satria yang kini berlutut di depan Nadia. Namun Nadia sudah tak ingin lagi menjadi wanita bodoh di hadapan Satria.
Nadia masih terdiam, menatap suaminya yang berlutut di depannya dengan isak tangis yang baru pertama kali ia dengar.
Nadia sendiri mencoba melawan keinginan hatinya yang ingin meraung, menangisi takdirnya yang pilu.
Nadia menggigit bibirnya kuat-kuat agar ia tak menangis.
Belum usai perkelahian di antara pasangan suami istri ini, Nadia mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya.
Dia tahu kalau itu suara mobil suaminya, yang artinya Bobi, anaknya, sudah pulang.
"Jaga sikap kamu di depan anakku." ucap Nadia yang kemudian berjalan menjemput putranya di depan rumah.
"Sayang..." ucap Nadia pada Bobi sambil mengangkat kedua tangannya demi memeluk putranya, hartanya yang paling berharga.
"Mama kenapa nggak jemput Bobi?" protes Bobi dengan wajah yang ditekuk dan bibir yang sengaja dimajukan.
"Tadi mama sama papa udah di sana sayang, terus karena ada urusan penting, mama sama papa pulang duluan." ucap Nadia mencoba meyakinkan putranya yang sedang kesal itu.
"Papa juga jemput? Mana sekarang papa, ma?" teriak Bobi antusias, mungkin ia sangat merindukan ayahnya walau hanya semalam saja tak bertemu.
"Ada, di dalem." ucap Nadia pelan, hatinya mulai teriris sembilu.
Keputusannya untuk meminta cerai dari Satria sedikit goyah, mengingat Bobi sangat dekat dengan ayahnya.
Nadia takut kalau Bobi mungkin akan memilih tinggal dengan Satria ketika mereka resmi bercerai nanti.
Belum lagi Nadia harus memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk menjelaskan pada putranya tentang keputusannya untuk berpisah dari ayah putranya, Satria.
Bobi segera berlari masuk ke dalam rumah, Nadia mengikuti langkah putranya.
Nadia berharap, Satria sudah bangun dari posisinya sebelumnya, ia tak ingin Bobi melihat Satria yang berlutut.
Ketika sudah di dalam rumah, Nadia bernafas lega karena Satria menyambut Bobi dengan pelukan hangat dan senyuman lebar.
"Papa habis nangis?" teriak Bobi, mata Satria memang masih terlihat sembab.
"Ah, enggak, papa pilek. Makanya hidung papa basah, papa lagi nggak enak badan sayang." kilah Satria, ia melirik ke istrinya sesaat lalu menatap kembali Bobi yang saat ini ada pada gendongannya.
***
Ketika Bobi sudah tidur siang, Satria mengajak Nadia berbicara lagi, di kamar mereka.
"Dia, aku bener-bener minta maaf. Aku akui aku salah. Tapi tolong pikirkan Bobi, apa kamu nggak kasihan sama dia kalau kita sampai bercerai?" ucap Satria dengan lemah lembut, membuat hati Nadia sedikit goyah.
Nadia sendiri masih belum tahu bagaimana cara meyakinkan Bobi nanti kalau ia dan Satria harus bercerai.
Bobi pasti akan mencari Satria kalau Satria tak pulang ke rumah.
Namun keputusan Nadia untuk bercerai seperti sudah tak bisa ditawar lagi. Kepercayaan 100 persen yang ia berikan pada suaminya sudah hancur berkeping-keping.
"Harusnya kamu yang mikirin itu sebelum kamu menikmati tubuh Sofia mas." jawab Nadia dengan deru nafas semakin cepat.
"Kamu bisa menikmati tubuh moleknya, tapi nggak bisa mikir gimana perasaan Bobi punya ayah seperti kamu." lanjut Nadia, Satria menunduk sambil menjambak rambutnya, keras.
"Aku bener-bener minta maaf Dia. Maafin aku..." ucap Satria dengan suaranya yang terdengar serak, Satria kembali menangis.
Satria sangat mencintai Nadia selama ini, ia tak ingin berpisah dari wanita yang telah memberinya segalanya.
Nadia cantik, kaya raya dan setia, Satria menyesali keputusannya karena telah menduakan cinta Nadia.
"Aku nggak akan menceraikan kamu mas, kalau kamu bisa memutar waktu dan menjaga kepercayaan yang aku beri." ucap Nadia yang bagaikan panah menusuk jantung Satria.
Satria benar-benar ada pada titik frustrasi, dengan bercerai dari Nadia, secara otomatis, ia bukan lagi seorang direktur yang memiliki kekuasaan seperti yang selama ini ia nikmati.
"Aku nggak mau bercerai dari kamu Dia. Aku cinta sama kamu." ucap Satria lirih, ia terus-menerus menangis, meratapi kesalahan fatal yang telah ia buat.
"Tenanglah, aku nggak akan menceraikanmu hari ini juga. Jadi hari ini kamu bisa bersiap-siap, menyiapkan segala sesuatu yang kamu perlukan, untuk keluar dari kantorku." ucap Nadia, ia sengaja menekankan kata 'kantorku' untuk membuat Satria semakin sakit.
Kenyataan bahwa Nadia yang lebih berkuasa, membuat Satria semakin tak rela harus berpisah dari wanita cantik itu.
Kemarahan Nadia mungkin tak hanya berhenti dengan memecat Satria dari posisinya sebagai dkrektur. Namun Nadia bisa melakukan hal yang lebih nekat yaitu dengan meminta beberapa perusahaan rekanan untuk tidak menerima Satria sebagai karyawan.
Hidup Satria hancur, setelah ia memutuskan menduakan Nadia yang sangat mencintainya.
Luka Nadia sangat dalam, sama dalamnya dengan perasaan cintanya pada Satria. Apa yang akan Nadia lakukan selanjutnya adalah membalas rasa sakitnya pada Satria dan juga pada Sofia karena sudah berani menggoda suaminya.
"Aku akan melakukan apapun yang kamu minta Dia. Asalkan bukan bercerai. Aku tulus mencintaimu, coba pikirkan kembali apa yang akan Bobi alami setelah perceraian kita." ucap Satria yang masih berusaha mempertahankan pernikahannya dengan Nadia.
"Kamu merasakan sendiri bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang ibu. Apa kamu mau, Bobi juga merasakan hal yang sama? Bobi mungkin bisa merasa lebih kesepian dari kamu jika harus hidup dengan salah satu saja orang tuanya." lanjut Satria.
Nadia tiba-tiba melemas, ia mengingat kembali hidupnya yang sangat kesepian karena tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Bertahun-tahun Nadia hidup dengan rasa depresi, sampai akhirnya ia bertemu dengan Satria.
Nadia tak ingin hidup Bobi sama dengannya, kali ini ucapan Satria mampu menggoyahkan keputusan Nadia.
Bersambung...