Nadia duduk di sofa dengan kedua tangannya yang memegangi kepalanya sambil menjambak pelan rambut bagian depan kepalanya tersebut.
Nadia terus memikirkan apa yang Satria ucapkan barusan. Apa yang Satria ucapkan benar, Bobi mungkin akan menjadi seperti dirinya jika ia memaksa bercerai dan berpisah.
Belum lagi masalah Bobi nanti akan ikut siapa setelah mereka bercerai. Besar kemungkinan Bobi lebih memilih ikut ayahnya dibanding ibunya, melihat sikap Bobi yang sering manja kepada ayahnya itu.
Satria ikut duduk di samping Nadia, tangannya membelai lembut punggung Nadia.
"Jangan sentuh aku mas." ucap Nadia tegas, Satria menarik tangannya dan meletakkannya di atas pahanya sendiri.
"Coba pikirkan kembali apa yang akan kamu lakukan. Jangan hanya mementingkan emosimu sesaat." tutur lembut Satria, Nadia menatap sinis pada wajah tampan yang selama ini ia cintai itu.
"Harusnya kamu mas yang mikir berulang kali sebelum melakukan perbuatan tercelamu itu!" teriak Nadia.
"Aku? Mentingin emosiku?" lanjut Nadia, ia berdecak kesal.
"Lalu kamu apa mas? Kamu bahkan mentingin nafsumu dari pada keluargamu. Apa kamu nggak puas dengan tubuhku?" ucap Nadia lagi yang semakin kecewa pada lelaki pilihannya tersebut.
"Kamu minta apa aja, aku akan turutin Dia. Tapi tolong jangan minta cerai. Silakan kamu pecat aku dari jabatanku sekarang, tapi jangan pisahin aku dari Bobi." sahut Satria lirih, Nadia menatap wajah sendu Satria lekat.
"Aku nggak akan misahin Bobi dari ayahnya, tapi maaf mas. Keputusanku untuk bercerai dari kamu nggak bisa diganggu gugat." ucap Nadia yang bagai petir menyambar Satria di siang bolong.
Satria menutup matanya, air matanya melesak keluar perlahan.
"Menangislah mas, aku senang kalau kamu tersiksa. Ini balasan kamu karena udah menghancurkan kepercayaan yang aku beri ke kamu." ucap Nadia tegas.
"Dia.. Aku sayang sama kamu." ucap Satria, Nadia yang sudah tak bisa menahan air matanya, pergi meninggalkan Satria di kamar mereka yang penuh dengan kenangan itu.
***
Di waktu yang sama, Dika gelisah memikirkan Nadia. Dika takut kalau Satria bisa saja memukul Nadia.
Dika tak tahu kalau sebenarnya Satria adalah sosok penyayang. Namun Satria membuat kesalahan fatal dengan menduakan cinta Nadia.
Dika berulang kali mencoba menelepon nomor Nadia, namun tak kunjung ada jawaban dari wanita berparas ayu itu.
Dika menelepon detektif yang ia sewa, informasi yang ia terima malah semakin membuatnya khawatir.
"Pak Satria dan Bu Nadia masih di dalam rumah." ucap salah seorang yang senantiasa mengintai pergerakan Satria.
"Baiklah, kabari aku kalau salah satu di antara mereka keluar rumah." ucap Dika yang kemudian menutup teleponnya.
***
Nadia menangis sesegukan di kamar tamu, ia benar-benar tak pernah mengharapkan perpisahannya dengan Satria.
Namun apa yang sudah dilakukan Satria tidak bisa lagi ia maafkan.
Nadia mengambil ponsel yang sedari tadi ia pasang mode senyap di saku celananya.
Dia melihat panggilan tak terjawab puluhan kali dari Dika, begitu juga pesan yang masuk, ada banyak sekali dari Dika.
Nadia tersenyum kecil, setidaknya ada Dika yang ada untuk dijadikan tempat bersandar.
Nadia langsung kembali menelepon Dika.
"Halo, Di? Kamu nggak kenapa-napa?" tanya Dika di seberang sana, Nadia tersenyum dalam tangisnya.
"Aku mau cerai Dik. Bisa bantu aku cari pengacara terbaik? Aku ingin segera pisah dari mas Satria." ucap Nadia sambil terisak, di tempat yang berbeda, Dika senang mendengar keputusan Nadia.
Namun Dika tetap khawatir kalau Satria memukul Nadia karena perkelahian mereka.
"Dia, berhenti menangis. Aku mau bicara." titah Dika, namun tangisan Nadia malah semakin kencang.
"Dia!!!" teriak Dika, Nadia akhirnya menghentikan tangisannya. Yang Dika dengar saat ini hanya segukan Nadia yang terdengar samar-samar.
"Dia, denger, aku bicara ini bukan karena aku mau mencampuri urusanmu atau mengguruimu. Aku hanya peduli sama kamu dan Bobi." ucap Dika, Nadia hanya diam mendengarkan.
"Lupain Satria, Dia." lanjut Dika,
"Lupain Satria! Dia nggak pantas buat kamu, dia udah main gila di belakang kamu. Nggak menutup kemungkinan dia akan kembali melakukannya jika kamu memberinya kesempatan." ucap Dika lagi.
"Tapi Dik, gimana Bobi? Gimana aku bisa jelasin ke Bobi tentang perceraian kami? Dan gimana kalau Bobi milih tinggal sama mas Satria? Aku nggak sanggup Dik kalau harus pisah sama anakku." ucap Nadia yang kembali menangis, air matanya benar-benar sudah tak dapat ia kontrol.
"Dia, sekarang kamu harus memantapkan niatmu. Bercerai. Kasih pelajaran buat orang-orang seperti Satria. Untuk urusan Bobi, aku akan cari pengacara handal agar kamu bisa menangin hak asuh kamu. Di kasus kamu, kamu akan mudah menang karena suami kamu selingkuh." ucap Dika mantap.
"Bukan masalah hak asuh Dika. Sekalipun aku menang, gimana kalau Bobi nanyain papanya terus? Atau bahkan Bobi milih tinggal sama papanya dari pada sama aku. Aku nggak mau itu terjadi, Dik." ucap Nadia yang suaranya terdengar semakin serak dengan isak tangis yang semakin sering.
"Kita rayu Bobi, kita... Pokoknya aku akan bantu kamu sebisa aku, Dia." ucap Dika meyakinkan Nadia.
***
Malam ini, Nadia dan Satria mencoba bersikap biasa agar Bobi tak curiga pada mereka. Ini adalah permintaan Nadia jika Satria ingin tinggal di rumah ini malam ini, Satria menyanggupinya.
"Bobi jagoan papa, ayo makan sayur juga sayang. Jangan makan ayam terus, papa nggak mau jagoan papa sakit." rayu Satria pada anak laki-lakinya.
Seperti itulah kasih sayang Satria selama ini pada Nadia dan Bobi, selalu lembut dan perhatian.
Siapa sangka dibalik perhatiannya, Satria menyembunyikan wanita yang entah sudah berapa kali melakukan hubungan terlarang itu.
Nadia merasakan sakit yang teramat di d**a, ia bahkan tak nafsu makan. Nadia mengingat kembali kenangan-kenangan manisnya bersama Satria.
10 tahun bukanlah waktu yang singkat, dan selama ini mereka berdua menjalin hubungan dengan sangat harmonis.
Tak akan ada yang menyangka, dibalik sikap baik Satria, ia tega menduakan Nadia yang rela memberikan segalanya untuknya.
Tanpa penolakan, Bobi memakan sayur sesuai permintaan ayahnya. Nadia yang melihat keakraban anaknya dengan Satria membuatnya semakin tak tega jika harus memisahkan keduanya.
Jika dengan Nadia, Bobi sering manja padanya, namun jika dengan ayahnya, Bobi akan selalu menurutinya. Terlihat jelas kalau Bobi sangat menyayangi ayahnya, melebihi sayangnya kepada Nadia.
"Makanlah Dia sayang, aku nggak mau kamu sakit." ucap Satria yang membuat Nadia terkejut, sesaat, namun Nadia tak tinggal diam.
Nadia nekat ingin membicarakan perpisahannya dengan ayahnya Bobi pada buah hatinya tersebut.
"Bobi sayang, mama sama papa akan pisah rumah mulai besok." ucap Nadia yang membuat Satria membelalakkan matanya, tak percaya.
"Dia! Kamu yang minta aku bersikap biasa di depan Bobi. Kenapa kamu ngomong seperti itu sekarang?" teriak Satria, Bobi tampak terkejut, seketika saja Bobi langsung menghentikan makannya karena takut melihat ayah yang sangat ia kagumi marah dan meneriaki ibunya.
"Mas, aku udah bilang kan, jaga sikap kamu di depan Bobi." ucap Nadia yang juga menaikkan volume suaranya.
Satria tampak frustrasi dengan kenekatan istrinya itu.
"Mama sama papa kenapa?" tanya Bobi yang kini mulai menangis, Satria segera memeluk Bobi, mencoba menenangkannya.
"Mama sama papa cuma capek aja sayang. Jangan takut, maafin papa ya." ucap Satria sambil memeluk Bobi, ia beberapa kali mencium kening anaknya itu.
"Kenapa mama sama papa mau pisah?" tanya Bobi lagi yang saat ini semakin mengeraskan tangisannya.
"Sayang, Bobi, anak mama, mama sama papa udah nggak pacaran lagi sekarang. Mama sama papa cuma beda rumah aja. Nanti kalau Bobi mau ketemu sama papa, mama akan anterin, kapan pun sayang." rayu Nadia yang kini duduk jongkok di samping tempat duduk Bobi sambil menggenggam tangan anaknya itu.
"Apa mama sekarang pacaran sama om Dika?" tanya Bobi yang masih menangis, membuat Nadia ikut menangis, sesak sekali perasaan Nadia saat ini.
"Bukan sayang, mama sama om Dika nggak pacaran. Mama..." ucap Nadia terputus karena ia sudah tak bisa menahan isak tangisnya.
"Kalau begitu jangan pisah. Bobi nggak mau mama sama papa pisah!" teriak Bobi yang kemudian berlari, masuk ke kamarnya.
Bobi marah pada wanita yang sudah mengandungnya dan melahirkannya tersebut. Bobi bahkan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Bobi menangis keras, Nadia dan Satria mengejar Bobi. Pasangan suami istri yang sedang dirudung masalah itu saling bergantian mengetuk pintu kamar anaknya.
"Bobi sayang, tolong buka kuncinya. Mama mau bicara sayang." rayu Nadia, ia menangis semakin keras. Nadia takut Bobi depresi akibat keegoisannya ini, Nadia bersimpuh di depan pintu kamar Bobi.
Sementara Satria masih berusaha merayu anaknya, ia terus-menerus mengetuk pintu kamar Bobi.
"Bobi sayang, buka pintunya nak. Jagoan papa kan pinter, papa sama mama enggak akan ninggalin Bobi. Buka pintunya sayang." rayu Satria, namun Bobi tak kunjung membuka pintu kamarnya.
Satria ikut duduk di samping Nadia.
"Apa ini yang kamu mau?" tanya Satria yang terdengar frustrasi.
"Lalu kamu mau aku diam aja saat kamu menduakan aku, mas?" balas Nadia tak terima, Satria mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya secara kasar, berulang kali.
"Aku udah minta maaf, Dia. Aku harus bagaimana lagi agar kamu mau memaafkan aku?" teriak Satria.
"Ceraiin aku mas, dan biarin Bobi tinggal sama aku. Aku akan memaafkanmu." ucap Nadia tegas.
"Kamu nggak lihat, Bobi nggak mau kita pisah Dia. Kamu masih nggak ngerti juga?" sahut Satria yang membuat Nadia menggigit bibirnya.
"Aku akan mencari cara agar Bobi mau mengerti keputusanku." ucap Nadia, Satria terkekeh kecil.
"Jangan akan, carilah sekarang juga. Bobi mungkin akan mengurung dirinya selamanya di dalam sana." sahut Satria.
"Kamu tertawa mas? Ini semua terjadi karena ulahmu! Dasar br*ngsek! Nggak punya malu!" teriak Nadia kesal, ia kemudian beranjak dan meninggalkan Satria.
Nadia menghubungi ayahnya, ia menceritakan secara singkat apa yang terjadi. Ayah Nadia mencoba menenangkan putrinya dan berjanji akan segera datang ke rumah putrinya tersebut, segera.
Nadia kembali ke kamar Bobi, ia melihat Satria masih berusaha merayu Bobi namun tak ada hasil.
"Bobi sayang, kakek sebentar lagi ke sini. Ayo keluar, kita siap-siap ya, kakek bilang mau ajak Bobi jalan-jalan." rayu Nadia.
Baik Nadia dan Satria sama-sama khawatir pada anak laki-laki mereka itu. Terlebih saat ini sudah tak terdengar lagi suara tangisan Bobi.
Pikiran Satria dan Nadia sudah menerka hal yang tidak-tidak.
Tiba-tiba, prank!!! Terdengar suara pecahan kaca, Nadia dan Satria saling melotot dengan mulut yang terbuka lebar-lebar.
"Bobi... Ada apa sayang?" teriak Nadia,
"Minggir, biar aku dobrak!" teriak Satria.
Satria segera mengambil posisi untuk mendobrak pintu kamar putranya tersebut.
Bersambung...