Satria dengan sekuat tenaga mendobrak pintu kamar anaknya, sekali, dua kali, tiga kali, namun tak kunjung terbuka.
Rumah mewah yang dibeli oleh ayahnya Nadia itu memang memiliki struktur bangunan yang kuat. Bahkan untuk mendobrak pintu kamar saja harus berjuang sekuat tenaga.
Nadia memanggil satpam untuk membantu suaminya mendobrak kamar Bobi.
"Kita sama-sama, dalam hitung ketiga, kita dobrak." pinta Satria pada satpam di rumahnya tersebut.
"Baik Pak." sahut satpam itu.
Satria mulai menghitung, jantungku sudah berdegub kencang, tak karuan.
Tepat ketika Satria akan menyebut kata 'tiga', Nadia mendengar suara kunci pintu yang terbuka.
Satria dan satpam tak jadi mendobrak ketika melihat Bobi membuka pintu kamarnya.
"Bobi sayang.." teriak Nadia yang langsung memeluk putra semata wayangnya tersebut.
Satria ikut berjongkok, memeluk Bobi, bergantian dengan Nadia.
Tak lama, Satria kembali berdiri lalu mengecek barang apa yang pecah di kamar putranya tersebut.
"Itu pecah, Bobi nggak sengaja." ucap Bobi lirih, sepertinya Bobi juga terkejut. Tangan mungil Bobi menunjuk pada vas bunga yang ada di pojok kamarnya.
Nadia menengoknya sesaat, lalu kembali memeluk Bobi.
"Nggak apa-apa, yang penting Bobi baik-baik aja." ucap Nadia yang masih terdengar gemetar, ia membelai lembut rambut putranya.
"Mama, Bobi nggak mau pisah sama papa." ucap Bobi yang semakin menorehkan luka pada hati Nadia.
Nadia langsung saja mengeluarkan banyak air matanya, ucapan Bobi barusan adalah ketakutan terbesarnya. Nadia tak ingin hidup terpisah dari Bobi, putra semata wayangnya.
"Mama jangan pisah sama papa. Bobi akan ikut papa kalau mama pisah sama papa. Bobi nggak mau lihat mama sama om Dika pacaran. Bobi benci om Dika." ucap Bobi lagi, perasaan Nadia semakin hancur, ia bahkan semakin melemas.
Bobi melepas pelukan Nadia lalu berlari ke arah Satria, lagi, semakin deras air mata Nadia yang keluar.
"Mama sama om Dika nggak pacaran Bobi sayang. Mama juga akan berjanji kalau Bobi bisa ketemu papa setiap hari." rayu Nadia yang masih berlutut di depan pintu kamar Bobi.
Bobi sendiri saat ini sudah berada di gendongan ayahnya, Bobi mengaitkan kedua tangannya di leher ayahnya dan membiarkan kepalanya bersandar di sana.
"Dia, bangunlah, kita bicarakan ini lagi nanti. Bobi masih syok, tolong jangan paksa Bobi buat mengerti." ucap Satria, Nadia mau tak mau akhirnya menuruti permintaan Satria.
Nadia pergi ke ruang tamu, duduk dengan gelisah, menunggu ayahnya datang. Sementara Satria bersama Bobi, di kamar Bobi.
Setelah menunggu lama, pria yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Nadia langsung berhambur pada pria yang sudah nampak memiliki beberapa uban di kepalanya itu.
"Ayah... Dia harus gimana? Dia sakit.. Sakit..!" adu Nadia yang kali ini menangis di pelukan ayahnya.
Ayahnya mengetatkan dagunya, mencoba menahan rasa amarahnya. Nadia adalah putri satu-satunya yang ia punya. Bahkan pria yang kerap dipanggil Pak Jaya ini memilih hidup menduda karena tak ingin putrinya merasakan kasih sayang ibu tiri yang kebanyakan orang bilang kejam.
"Dia sayang, ayah akan lakuin apa aja buat kamu." ucap ayahnya Nadia.
***
Setelah Bobi tidur, Jaya memanggil Satria dan mengajaknya berbicara empat mata di ruang tamu.
"Apa yang sudah kamu lakukan Satria? Ayah selama ini sangat mempercayai kamu." ucap Jaya yang sebenarnya sedang menahan rasa amarahnya.
"Maafin Satria ayah.." ucap Satria lirih.
Jaya yang sudah tak bisa menahan emosinya berdiri lalu melayangkan sebuah tinju di pipi kiri Satria. Satria tak melawan, ia menerimanya begitu saja karena sadar kalau dirinya yang salah di sini.
"Kalau kamu udah nggak cinta lagi sama anakku, bilang baik-baik padaku, aku akan menjemputnya tanpa beban. Jangan kamu sakiti hatinya ataupun fisiknya, akulah orang yang pertama mencintainya. Tapi aku berharap besar kalau kamu bisa mendampingi Dia sampai maut memisahkan kalian." ucap Jaya yang disambut dengan tangisan seorang wanita, siapa lagi kalau bukan Nadia.
Nadia menguping pembicaraan ayahnya dan suaminya itu.
Nadia sangat tahu, perasaan ayahnya mungkin lebih hancur darinya, selama ini ayahnya selalu memanjakannya.
Nadia berkali-kali menggigit bibirnya, membuat darah keluar karena saking kerasnya Nadia menggigit.
Nadia kemudian duduk bersandar di dinding ruang keluarga.
"Maafin saya. Saya masih mencintai Dia sama seperti dulu ayah. Tolong maafin Satria.." ucap Satria yang terdengar gemetar.
"Luka yang kamu gores pada hati anakku, terlalu dalam Satria. Aku akan mengurus perceraian kalian secepatnya." ucap Jaya yang langsung pergi meninggalkan Satria.
Jaya hendak menuju kamar Bobi, namun ia melihat putrinya sedang meringkuk, menangis dengan suara yang tertahan.
Jaya segera menghampiri putrinya, lalu memeluknya erat.
"Ayah...." teriak Nadia yang saat ini sudah tak ingin menahan suara tangisnya. Tangisnya semakin pecah ketika Nadia mengingat kembali betapa bahagianya ayahnya ketika Nadia dan Satria menikah.
"Dia anak ayah yang kuat. Dia harus kuat menghadapi semua ini, demi masa depan Dia dan Bobi. Ayah akan lakuin apa saja untuk anak dan cucu ayah." ucap Jaya sambil memegang rambut Nadia.
"Dia sakit.. Dia nggak sanggup ayah.. Dia nggak kuat.." rengek Nadia, tangisannya membuat ayahnya ikut meneteskan air matanya.
"Kalau saja menikahi putri sendiri boleh dilakukan, aku nggak akan biarin pria manapun menikahimu sayang. Biar ayah yang jadi suamimu, ayah nggak mau kamu terluka seperti ini." ucap Jaya yang saat ini merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.
Putri yang ia jaga sepenuh hati sejak masih bayi, akhirnya terluka oleh kejamnya dunia. Selama ini Jaya sudah berusaha sebisa mungkin agar putrinya hidup bahagia, namun usahanya seperti sia-sia karena pada akhirnya Nadia harus menderita seperti ini.
***
Nadia meminta Satria pergi dari rumahnya, rumah yang mereka tempati selama ini memang dibeli oleh ayahnya Nadia.
"Kalau Bobi nanyain aku, tolong hubungi aku. Jangan buat dia menangis terlalu lama Dia. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan Bobi." ucap Satria tulus.
Satria membawa 2 koper besar, keluar dari rumah mewah yang selama ini ia tempati. Rumah yang meninggalkan banyak kenangan manis bersama wanita yang ia cintai, dan buah hatinya.
Satria bahkan tak membawa mobil, apapun yang Satria nikmati selama ini adalah milik Nadia. Satria dengan sadar diri keluar dari rumah mewah itu tanpa membawa apapun.
Satria menggunakan taksi meninggalkan rumah yang telah ia tinggali selama kurang lebih 8 tahun. Dengan berat hati, Satria pergi meninggalkan wanita yang ia cintai dan putranya, karena kesalahannya sendiri.
Satria memilih tidur di hotel malam ini, malam memang sudah larut, udara yang begitu dingin menambah rasa sakit di d**a Satria.
Satria benar-benar menyesal karena telah menduakan Nadia, hanya demi bisa menikmati tubuh wanita muda yang menjadi asistennya.
***
"Papa mana ma?" tanya Bobi pada Nadia yang sudah berjuang keras agar tak menangis di depan putranya itu.
Pagi ini Nadia berusaha bersikap normal di depan anaknya. Nadia akan memberi penjelasan pada Bobi secara perlahan.
"Papa ada kerjaan sayang. Nanti mama telepon papa ya." ucap Nadia berbohong. Jalan satu-satunya yang bisa Nadia pilih adalah dengan berbohong pada Bobi.
Nadia takut jika Bobi akan marah lagi seperti tadi malam jika Nadia jujur kalau dia dan Satria telah berpisah.
"Bobi pengen ketemu papa." rengek Bobi yang terdengar seperti ingin menangis.
"Iya sayang, nanti mama telepon papa ya. Kita sarapan dulu." rayu Nadia pada Bobi, Bobi menuruti ibunya demi bisa mendengar suara ayahnya walau hanya via telepon.
Bobi makan dengan lahap, setelah itu ia menagih janji ibunya.
"Ayo ma, telepon papa." rengeknya sambil menarik tangan Nadia berkali-kali.
Nadia menelepon Satria, sebelumnya Nadia sudah mengirim pesan pada Satria kalau dirinya sudah mengatakan pada Bobi bahwa dia ada pekerjaan.
"Papa..." teriak Bobi setelah telepon Nadia diangkat oleh Satria.
"Jagoan papa udah sarapan belum?" tanya Satria yang terdengar seperti sedang menahan tangis.
"Udah pa, Bobi makan buanyaaaak. Papa kenapa nggak sarapan di rumah?" tanya Bobi antusias.
"Papa kerja sayang, nanti kalau papa udah nggak sibuk. Kita jalan-jalan ya, ke kebun binatang. Bobi udah lama lihat gajah kan?" ucap Satria yang saat ini terdengar serak.
"Papa menangis?" tanya Bobi yang saat ini sudah memasang wajah cemas.
"Enggak sayang, papa lagi pilek, Bobi lupa?" sahut Satria, Bobi menekuk wajahnya.
"Ya udah, papa kerja dulu ya sayang. Papa sayang sama Bobi." lanjut Satria yang langsung menutup telepon dari Nadia itu setelah Bobi bilang kalau Bobi juga menyayangi ayahnya.
Di tempat lain, Satria menangis sambil menggenggam gawainya. Satria benar-benar menyesal, karena ia tak pandai menahan hawa nafsunya, ia harus berpisah dengan darah dagingnya sendiri.
Saat ini Satria tak lebih dari seorang pengangguran yang tak memiliki masa depan. Jika ia nekat ingin mengajak Bobi tinggal dengannya, ia tak tahu harus mencukupi kebutuhan mereka dengan apa.
Saat ini Satria harus memikirkan bagaimana caranya agar ia segera mendapatkan pekerjaan.
***
"Apa? Saya dipecat? Apa salah saya Pak? Di mana Pak Satria?" teriak Sofia di ruang kerja Satria.
Orang suruhan Jaya akan mengganti posisi Satria. Jaya juga menyuruh orang tersebut untuk memecat Sofia.
"Iya, tidak hanya dipecat, kamu juga akan dimasukkan dalam daftar hitam. Carilah pekerjaan di perusahaan yang tidak bekerja sama dengan Jaya Group." ucap pria tersebut, membuat Sofia melemas seketika.
Jaya Group merupakan perusahaan fashion yang sangat besar, ada banyak perusahaan yang bekerja sama dengannya. Jika Sofia sudah masuk dalam daftar hitam, sudah dipastikan ia akan sulit mencari pekerjaan.
"Tapi saya nggak salah apa-apa." ucap Sofia yang mencoba membela dirinya sendiri.
Orang suruhan Jaya melempar beberapa lembar foto bukti perselingkuhan Satria dan Sofia, membuat mata wanita muda dengan wajah ayu dan tubuh molek itu membulatkan matanya.
"Ta-tapi..." ucap Sofia terbata, ia tak percaya kalau keputusannya menggoda Satria harus berakhir tragis. Keinginannya untuk mendapatkan uang dari bosnya malah berakhir dengan dimasukkannya namanya dalam daftar hitam.
"Silakan pergi dari kantor ini segera, kemasi barang-barang Anda saat ini juga." ucap pria itu tegas.
Sofia berlutut, "Saya mohon jangan pecat saya. Atau setidaknya jangan masukan saya ke daftar hitam. Saya mohon.." ucap Sofia yang terdengar lemah.
"Keputusan ini sudah bulat, ini adalah konsekuensi dari perbuatan anda karena sudah mengganggu hidup Bu Nadia, pewaris tunggal Jaya Group." ucap pria itu yang tak peduli pada Sofia.
"Silakan pergi. Atau mau saya panggilin satpam untuk menyeret Anda?!!" teriak pria itu, ia seperti tanpa ampun mengusir Sofia.
Bersambung...