Sofia dengan wajah yang sudah ditekuk dan penampilan tak karuan keluar dari kantor di mana ia bisa mengenal Satria.
Kali ini Sofia benar-benar menyesal karena telah menggoda dan berhubungan dengan Satria.
Bukannya hidup mewah yang ia dapatkan, Sofia malah bernasib buruk. Setelah ini, mungkin ia akan jadi gembel karena tak bisa mendaftar kerja di perusahaan besar.
Sofia kemudian menelepon Satria, ia berharap kekasihnya itu dapat membantunya.
Di tempat lain, Satria sedang mencari tempat tinggal untuknya. Satria mencari rumah petak yang bisa ia bayar per bulan mengingat saat ini uangnya tinggal menipis.
Kalau Satria tidak pandai menghemat uangnya, ia akan malu setengah mati pada Bobi jika Bobi bersamanya dan minta dibelikan ini-itu.
Telepon Satria bergetar, Satria segera mengangkat teleponnya yang tak lain dari Sofia itu.
"Sayang, kamu dimana sekarang? Aku dipecat..." rengek Sofia manja ketika ia sedang naik taksi.
"Sama aja, aku juga dipecat. Aku bukan lagi pria yang banyak uang. Kamu silakan cari pria lain yang bisa beri kamu uang yang banyak." jawab Satria santai.
Satria sudah menerima dengan ikhlas hati, apapun yang ia alami sekarang adalah karena ulahnya sendiri. Sementara Sofia, ia menangis tak percaya.
"Dasar brengs*k! Tahu gitu aku nggak mau jadi selingkuhan kamu! Dasar pria kere!" teriak Sofia yang langsung menutup teleponnya.
Satria menyeringai mendapati Sofia marah-marah. Yang ada di pikiran Satria saat ini adalah bagaimana caranya agar ia segera dapat pekerjaan yang layak. Dengan begitu ia tidak akan malu jika harus berhadapan dengan putra semata wayangnya, Bobi.
"Bagaimana mas? Uang sewanya sangat murah, walaupun tempatnya nggak terlalu luas." tanya wanita, pemilik kontrakan.
"Baiklah Bu, saya akan bayar untuk 3 bulan ke depan." ucap Satria mantap.
Satria kemudian menyerahkan uang sewa kamar selama 3 bulan ke wanita yang kira-kira berumur 50-an tahun itu.
Satria kemudian membawa barang-barangnya masuk lalu membersihkan kamar.
Satria sibuk menyapu, mengepel, membersihkan dinding, dan lain sebagainya. Banyak debu beterbangan, membuat Satria bersin-bersin berkali-kali.
Selesai merapikan kamar, Satria merebahkan tubuhnya yang penuh keringat itu di lantai tanpa alas. Tubuhnya yang kelelahan dan pikirannya yang dipenuhi Nadia dan Bobi membuat matanya meneteskan air mata.
Kali ini Satria menangis dengan suara keras, mirip anak kecil. Satria bahkan tertawa dan menangis secara bergantian. Ia tak menyangka hidupnya akan berakhir tragis hanya karena nafsunya pada tubuh asistennya.
Satria tak hanya kehilangan jabatan dan kekuasaannya, tapi juga kehilangan wanita yang ia cintai selama ini beserta kebersamaannya dengan Bobi, anaknya, menjadi berkurang.
***
Nadia terus menangis di rumahnya, ayahnya bahkan membatalkan semua jadwalnya hari ini demi menemani putrinya itu.
"Dia, menangislah kalau itu bisa membuat kamu merasa lebih baik." ucap Jaya yang setia menemani Nadia.
"Tapi jangan terlalu lama, kamu juga harus memikirkan Bobi. Apa yang akan dia pikirkan kalau melihat mama dan papanya berpisah, sementara kamu terus-menerus menangis?" lanjut Jaya, Nadia menatap wajah pria yang sudah banyak keriputnya itu dengan lekat.
"Ayah, Dia masih cinta sama mas Satria." ucap Dia di sela-sela tangisannya.
"Apa yang kamu harapin dari dia? Ayah akan mengurus perceraian kalian segera." sahut Jaya kesal, ia kemudian pergi meninggalkan Nadia sendiri.
Jaya kemudian menghubungi pengacara yang ia kenal untuk mengurusi perceraian Nadia dan Satria. Jaya tak ingin Nadia terus-menerus menangisi Satria, Jaya benar-benar tak tega melihat putrinya menangis dan tersiksa.
Sementara di tempat lain, Dika terus-menerus memantau perkembangan Nadia lewat orang-orang yang ia sewa. Dika sangat khawatir pada Nadia, namun rasa khawatirnya sedikit berkurang sejak ia tahu Jaya menemani Nadia sepanjang waktu.
Nadia hari ini tak menjemput Bobi, Jaya yang menjemput cucunya tersebut. Nadia sendiri memilih tidur sesuai perintah ayahnya agar ia merasa lebih baik.
Karena menangis tanpa henti, mata Nadia tampak sembab dan Jaya tak ingin Bobi melihat hal itu. Bobi mungkin akan curiga dan menanyakan keberadaan ayahnya lagi. Oleh sebab itu Jaya meminta agar Nadia lebih bisa mengontrol perasaannya di depan Bobi.
"Kakek...." teriak Bobi ketika Bobi keluar dari gerbang sekolah dan mendapati Jaya menjemputnya.
"Cucu kakek yang ganteng udah pulang ya?" sahut Jaya yang kemudian memeluk Bobi.
"Mama mana kek? Kenapa kakek yang jemput?" tanya Bobi polos,
"Hm.. Bobi nggak tahu, kakek kangen sama Bobi. Hari ini waktunya...." ucap Jaya yang langsung disahut Bobi, "Jalan-jalan. Yeeee." sorak Bobi.
Sudah dipastikan kalau Jaya menemui Bobi, Jaya akan mengajak Bobi jalan-jalan kemana saja Bobi mau. Dengan alasan jalan-jalan, Jaya berharap Bobi tak buru-buru ingin pulang agar ibunya bisa istirahat yang cukup.
Jaya sendiri meminta para asisten rumah tangga untuk memantau Nadia. Jaya takut Nadia akan berbuat nekat untuk mengakhiri hidupnya.
Jaya tahu betul bagaimana perasaan Nadia saat ini, pria yang dipanggil kakek oleh Bobi itu tahu persis seberapa besar cinta Nadia kepada Satria. Satria adalah orang yang mampu merubah Nadia yang pendiam menjadi Nadia yang ceria.
Satria adalah cinta pertama dan satu-satunya bagi Nadia. Jaya sendiri tak menyangka, Satria bisa sekejam itu menduakan Nadia. Jaya yakin Satria adalah pria yang cocok untuk anaknya karena selama ini Satria selalu sayang dan perhatian kepada Nadia.
Jaya mengajak Bobi mengunjungi mall dan menuju ke game center. Bobi sangat senang, ia bahkan tak mengingat kalau hari ini ia belum bertemu dengan ayahnya.
Jaya mengajak Bobi pulang ketika hari sudah sore, itu pun Bobi masih belum puas bermain.
"Besok lagi ya Bobi sayang. Sudah sore, mama nungguin kamu." rayu Jaya pada Bobi.
Jaya memang sedikit gelisah meninggalkan Nadia, ia takut Nadia kesepian dan semakin menangisi takdirnya.
Sesampainya di rumah Nadia, kegelisahan Jaya hilang seketika melihat Nadia yang tampak segar bugar menyambut kedatangannya dengan Bobi.
"Aduuuh, ini dari mana aja? Jam segini baru pulang." ucap Nadia menggoda Bobi,
"Bobi tadi habis main mobil-mobilan ma, seru..." teriak Bobi dengan senyum lebar di wajahnya.
Nadia ikut tersenyum, senyum di wajah Bobi adalah obat dari segala rasa sakitnya selama ini. Nadia bertekad akan membahagiakan Bobi apapun yang terjadi. Nadia tak ingin Bobi merasa kesepian seperti dirinya ketika ia masih kecil.
***
Nadia sedang memasak untuk anak dan ayahnya, sementara Bobi dan Jaya masih bercanda dan bergurau di ruang keluarga.
"Makanannya udah siap, ayo makan." teriak Nadia sambil mempersiapkan makanan di meja makan, dibantu oleh asisten rumah tangganya.
Senyum melengkung indah dan tampak di wajah cantik Nadia ketika melihat Bobi asyik bermain dengan kakeknya. Tak akan ada yang percaya kalau Nadia saat ini sedang sakit hati dan banyak pikiran.
Nadia mampu menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik.
Bahkan para asisten rumah tangga di rumah Nadia keheranan, hanya saja mereka tak berani menanyakannya pada majikannya.
Bobi dan kakeknya segera menuju ke meja makan.
"Papa mana ma?" tanya Bobi lugas,
"Papa mungkin lembur sayang, mau mama teleponin papa?" sahut Nadia santai, Jaya menatap putrinya dengan salut. Jaya tak menyangka kalau Nadia sudah sangat dewasa menghadapi masalah yang ada.
"Iya. Mau!" teriak Bobi,
"Tapi... Makan dulu, makan yang banyak, sayurnya juga harus dihabisin. Kalau enggak..." goda Nadia pada Bobi.
"Bobi akan makan yang banyak ma." teriak Bobi antusias, Nadia tersenyum sembari membelai lembut rambut Bobi.
Selesai makan, sesuai dengan janji Nadia, ia menelepon Satria.
"Halo." sapa Satria dengan suara datar di telepon,
"Papa.." teriak Bobi semangat.
"Jagoan papa, udah makan belum?" sahut Satria yang langsung mengubah nada bicaranya, ceria seketika.
Nadia memilih pergi meninggalkan Bobi dan ayahnya berbicara lewat telepon. Nadia percaya kalau Satria akan berbohong tentang keadaannya demi kebaikan Bobi.
Ketika Nadia memilih duduk di ruang keluarga sembari menonton TV, air matanya keluar begitu saja mewakili perasaannya sekarang. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
Pria yang sudah ia cintai selama 10 tahun ini akhirnya pergi dari hidupnya, dengan meninggalkan luka yang teramat dalam di hatinya.
Jaya yang melihat putrinya menangis lagi, mendatanginya lalu merangkulnya sambil membelai lembut lengan putrinya itu.
Nadia langsung menyandarkan kepalanya di d**a sang ayah, sangat nyaman pikirnya.
"Yang sabar, kamu harus kuat demi Bobi sayang. Ayah salut sama kamu." ucap Jaya lirih.
"Apa ayah sering menyembunyikan tangisan ayah dulu? Di depan Dia?" tanya Nadia, Jaya tersenyum.
"Untuk apa ayah menangis? Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup ayah. Itu sebabnya ayah tak pernah ingin menikah lagi, memilikimu saja sudah cukup." sahut Jaya tegas.
"Aku juga nggak akan menikah lagi, menyakitkan, ayah." ucap Nadia tegas, Jaya langsung memeluk putrinya erat.
"Pikirkan pelan-pelan, untuk sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan Bobi." sahut Jaya.
Malam ini Jaya menginap lagi di rumah Nadia, Jaya bahkan berniat tidur bersama Bobi dan Nadia, bertiga.
Ketiganya saling bercanda, gelak tawa Bobi yang paling dominan mengisi ruang kamar Bobi malam ini.
Walaupun Nadia tampak ceria dan sesekali keluar tawa dari mulutnya, jauh di dasar hati Nadia, ia sedang menangis.
Nadia masih belum bisa menerima kenyataan kalau ia dan Bobi kehilangan sosok suami dan ayah yang perhatian.
"Datanglah besok pagi untuk sarapan. Bobi akan senang melihatmu." Nadia mengirim pesan ke Satria ketika Bobi dan Jaya sudah tertidur pulas, sementara ia masih belum bisa memejamkan mata.
Sebenarnya Nadia sudah sangat merindukan Satria, pria yang ia cintai selama ini. Nadia ingin melihat Satria walau hanya untuk sarapan bersama saja.
"Aku akan ke sana sebelum Bobi bangun. Tolong buka pintunya untukku." balas Satria, tiba-tiba saja Nadia menaikkan ujung bibirnya, tersirat sedikit kebahagiaan di hatinya.
Keesokan paginya, Nadia sudah mengatakan pada Jaya dan asisten rumah tangga untuk menerima Satria demi Bobi.
Pagi ini, mereka sarapan bersama, Bobi senang karena bisa sarapan dengan ayahnya. Yang Bobi tahu, semalam ayahnya pulang larut karena urusan pekerjaan.
Nadia sendiri memasang wajah datar pada Satria sejak Satria datang. Sementara Satria terus-menerus menatap pada wajah ayu yang ia sakiti itu ketika ia sedang tak mengobrol dengan Bobi.
Jaya sendiri bersikap normal demi menjaga perasaan cucunya. Yang paling penting bagi Jaya adalah kebahagiaan Nadia dan Bobi.
Ketika sedang makan, baru beberapa suap saja, Nadia sudah merasakan mual yang berlebih. Bahkan saking hebatnya, Nadia hampir muntah di meja makan.
Syukurlah Nadia dengan cepat berlari ke toilet di dekat dapur dan muntah di sana.
Jaya dan Satria segera berlari menyusul Nadia di toilet, namun Jaya meminta Satria menemani Bobi saja.
"Biar aku yang mengurus anakku. Kamu bukan lagi suaminya. Temani Bobi." ucap Jaya yang menghentikan langkah Satria.
Satria dengan berat hati kembali duduk di meja makan dan menemani Bobi sarapan.
Bersambung...