Hamil

1568 Words
Nadia membasuh wajahnya berkali-kali, mencoba mengumpulkan kembali kekuatannya. Ia merasa lemas dan masih ada sisa-sisa rasa mual yang ia rasakan. "Mau ayah panggilin dokter sayang?" tanya Jaya pada putrinya, namun dengan lemah Nadia menggeleng. "Nadia paling cuma kecapean dan kurang tidur aja yah. Nadia mau tiduran di kamar aja, Bobi biar papanya yang anter." ucap Nadia yang kemudian pergi keluar toilet. Nadia juga ingin memberi waktu Satria untuk menghabiskan waktu bersama Bobi. Nadia sangat tahu Bobi rindu dengan ayahnya tanpa tahu permasalahan di antara kedua orang tuanya. Ketika keluar toilet, Nadia disambut dengan tatapan sendu dari Satria, namun keduanya hanya saling adu tatap dalam diam. "Mas, nanti anterin Bobi ya. Naik mobilku aja." ucap Nadia kepada Satria dengan suaranya yang terdengar lemas. "Kamu sakit, Di?" tanya Satria lirih, namun Nadia hanya diam karena kesal. Nadia merasa kalau sakitnya ini akibat ia kurang istirahat dan stres, memikirkan Satria beberapa hari terakhir. "Bobi, hari ini berangkat sekolah sama papa ya sayang. Mama lagi nggak enak badan." ucap Nadia pada Bobi sambil membelai lembut kepala anaknya. "Iya ma. Mama minum obat ya, biar cepet sembuh." sahut Bobi tegas, Nadia hanya mengangguk lalu melangkah masuk ke kamarnya. Jaya ikut kembali bergabung di meja makan dan menghabiskan sarapannya yang sempat tertunda. Selesai makan, Jaya meminta asisten rumah tangga membuat bubur untuk Nadia. Sementara Satria langsung pamit untuk mengantar Bobi berangkat sekolah. *** Dari pagi sampai siang, Nadia hanya tidur di kamar. Ia merasa malas dan mual, yang ingin dia lakukan adalah bermalas-malasan di kasur. Nadia meminta Satria menjemput Bobi, Nadia meminta sopir pribadinya menjemput Satria terlebih dahulu baru menjemput buah hatinya. Sementara di tempat lain, Dika sibuk memikirkan Nadia yang jarang berkomunikasi dengannya. Nadia memang sibuk dengan perasaan sakit hatinya dan Bobi, ia tak punya waktu untuk membalas pesan-pesan Dika. "Dia, kalau ada waktu, kita bisa ketemu? Aku mau kenalin kamu sama pengacara yang akan membantumu bercerai dari Satria." isi pesan Dika yang baru saja diterima Nadia. Kali ini Nadia langsung membalas pesan sahabatnya tersebut. "Maaf Dik, nggak perlu, ayah sudah membantu mencari pengacara untukku. Aku menyerahkan semuanya pada ayah. Terima kasih atas bantuanmu selama ini." isi pesan Nadia untuk Dika. Di tempat lain, Dika merasa resah karena Nadia menolak bertemu dengannya. Mengenalkan pengacara pada Nadia hanyalah alasan baginya agar ia dapat bertemu dengan Nadia. Namun Nadia secara terang-terangan menolaknya. Dika tak tahu lagi harus mencari alasan apa agar ia bisa bertemu dengan Nadia. Tiba-tiba, suara Bobi terdengar samar-samar di telinga Nadia, membuat Nadia beranjak seketika dari tempat tidurnya. Nadia segera menuju sumber suara putranya tersebut, ia mendapati Bobi sedang bercanda dengan Satria. "Mama...." teriak Bobi yang langsung berhambur memeluk Nadia, Nadia membalas pelukan anaknya tersebut. "Maafin mama ya sayang, mama nggak bisa jemput Bobi." ucap Nadia lirih, "Iya... Bobi senang karena papa jemput Bobi. Mama udah sembuh?" tanya Bobi dengan suaranya yang menggemaskan. "Udah sayang, mama cuma butuh istirahat aja. Sekarang Bobi ganti baju ya, mama bikinin makan siang." ucap Nadia, Bobi mengangguk lalu berlari menuju kamarnya. "Kamu sakit apa Di?" tanya Satria lirih, namun Nadia mengabaikan Satria lagi dan melangkah pergi ke dapur. Satria mengikuti Nadia, Nadia kemudian menatap Satria sinis. "Sana bantuin Bobi ganti baju. Kalau kamu di sini cuma bikin aku nggak nyaman, silakan pergi dari sini." ucap Nadia sinis, Satria dengan berat hati meninggalkan Nadia di dapur dan menuju ke kamar anaknya. Nadia yang berniat memasakkan makanan untuk anaknya, terpaksa berhenti dan meminta asisten rumah saja yang memasak. Nadia merasa lemas dan bahkan mual mencium aroma masakan. Ketika Bobi dan Satria muncul dan duduk di meja makan, Nadia berlari ke toilet lagi dan muntah seperti tadi pagi. Satria segera menyusul Nadia lalu membantu memijat pundak Nadia dengan pelan. "Di, kamu hamil?" tanya Satria ketika Nadia selesai membasuh wajahnya. Sebenarnya Satria ingin sekali memanggil Nadia dengan sebutan sayang. Namun Satria takut Nadia akan marah dan mengusirnya. Nadia menoleh pada Satria, pria yang masih menjadi suaminya itu. Nadia tiba-tiba memikirkan apa yang barusan Satria katakan. Mungkin benar kalau ia sedang hamil, ia dan Satria memang sedang melakukan program kehamilan sebelum Satria ketahuan berselingkuh dengan Sofia. Ciri-ciri hamil sama persis dengan apa yang Nadia alami saat ini, mual dan hanya ingin bermalas-malasan. "Bukan urusanmu mas." ucap Nadia setengah berbisik, ia tak mau Bobi mendengarnya bertengkar dengan Satria. "Bagaimana bukan urusanku, kalau kamu hamil, itu anakku Di." sahut Satria tegas, namun suaranya juga terdengar lirih. Sementara hari ini Jaya pergi bekerja, Nadia tak bisa meninggalkan Bobi begitu saja. Ia ingin sekali mengusir Satria saat ini juga, tapi dengan kondisinya sekarang, Nadia membutuhkan Satria untuk menemani Bobi. "Temani Bobi, aku mau tidur di kamar." ucap Nadia yang kemudian pergi meninggalkan Satria. Nadia juga pamit ke Bobi, anak laki-laki berusia 7 tahun itu hanya mengangguk. Sesampainya di kamar, Nadia bukannya tidur malah berjalan mondar-mandir tak karuan. Tangannya saling meremas satu sama lain, ia bahkan menggigit bibir bawahnya berkali-kali. Nadia takut apa yang Satria katakan tadi benar. Nadia dengan sekuat hati ingin menerima kenyataan kalau dirinya dan Satria tak bisa bersatu. Namun, jika di dalam perutnya hadir janin buah cintanya dengan Satria, Nadia ragu bisa menceraikan Satria dengan ikhlas hati. Nadia masih ingat betul bagaimana Satria memanjakannya dan memperhatikannya ketika ia hamil Bobi 8 tahun yang lalu. Satria selalu menemani Nadia dan tak membiarkannya kelelahan barang sedetik. Lagi, Nadia menangis mengingat semua kenangan manisnya bersama Satria. Nadia bingung harus bagaimana, ia berdoa semoga saja ia tak benar-benar hamil. Nadia tak tahu apa ia sanggup hamil sendiri tanpa Satria. Namun jika harus kembali bersama Satria, Nadia masih belum bisa memaafkannya. Nadia kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas meja, ia menelepon sahabatnya, Dika. "Dik, bisa jemput aku sekarang?" tanya Nadia langsung ketika Dika mengangkat teleponnya. Sementara di tempat lain, Dika bersorak gembira karena Nadia mengajaknya bertemu. Ia sedari tadi memikirkan cara untuk bertemu dengan Nadia. Sekarang malah Nadia yang lebih dulu meneleponnya dan mengajak bertemu. Dika memang sedang mengharapkan Nadia, berharap wanita cantik itu bisa membuka hati untuknya setelah perceraian Nadia berjalan lancar. "Iya, di rumah kamu?" tanya Dika, Dika memang sudah menghentikan aksi paparazinya karena Jaya selalu menemani Nadia. "Iya, nanti nggak usah masuk, aku tunggu di luar." sahut Nadia. Nadia tak ingin Bobi melihat Nadia pergi bersama Dika, karena Bobi akan marah padanya. Sementara Nadia sangat membutuhkan Dika sekarang karena hanya Dika yang tahu kondisinya saat ini. Nadia tak lagi sungkan jika harus meminta tolong pada Dika. Nadia kemudian mengirim pesan ke Satria kalau ia ingin pergi ke rumah sakit. Nadia meminta Satria mengajak Bobi tidur siang agar ia tak perlu pamit pada Bobi. Satria hanya menurut, kalau tidak, Nadia akan marah dan melarangnya bertemu dengan Bobi. *** "Selamat bu, anda sedang hamil." ucap dokter wanita yang baru saja memeriksa kondisi Nadia. Nadia membelalakkan matanya, ia benar-benar terkejut, tak percaya dengan takdirnya saat ini. "Kenapa hidupku harus begini? Ketika aku dikhianati oleh suami yang sangat kucintai dan kupercayai, aku harus hamil anaknya. Apa yang harus aku lakukan?" batin Nadia, bukannya senyuman bahagia yang terpasang di wajah Nadia. Namun Nadia masih bengong dan memejamkan matanya, cukup lama. Dika dengan setia menunggu Nadia di luar ruangan, ia sangat cemas ketika Nadia membicarakan kekhawatirannya di mobil tadi. Entah apa yang Dika pikirkan, Dika bertekad akan menjadi ayah bagi anak yang dikandung Nadia jika Nadia benar-benar hamil. Dika saat ini sedang dimabuk cinta pada Nadia. Kondisi Nadia yang sedang patah hati tak ingin disia-siakan Dika begitu saja karena perasaannya pada ibunya Bobi itu masih saja sama. Dika berharap dialah yang akan jadi ayah sambung bagi Bobi, walau ia tahu kalau sekarang Bobi masih tak menyukainya jika dekat-dekat dengan Nadia. Pintu ruangan yang didominasi warna putih dengan aroma khas rumah sakit itu terbuka, Nadia keluar dengan wajah yang sudah bisa ditebak. Nadia menangis, Dika secepat kilat memeluk Nadia, menenangkannya dalam dekapannya. "Aku hamil, Dik. Aku hamil..." ucap Nadia yang semakin hanyut dalam isak tangisnya. Dika mengeratkan pelukannya, "Tenang Di, jangan nangis lagi. Kita cari solusinya bareng-bareng ya. Aku akan selalu ada buat kamu, kamu nggak sendiri." ucap Dika mencoba menenangkan Nadia. Dika kemudian mengajak Nadia keluar dari rumah sakit, namun ia tak langsung mengantarkan Nadia pulang. Dika mengajak Nadia mampir di rumah makan yang mengusung tema tradisional. "Kita makan di sini dulu ya, suasananya enak, semoga kamu nggak mual ya. Perut kamu jangan dibiarin kosong." ucap Dika, Nadia memang menceritakan kalau sejak pagi ia belum makan. Nadia menurut, ia bahkan makan beberapa suap sampai akhirnya telepon masuk di ponselnya, dari Satria. "Apa?" jawab Nadia sinis, "Kenapa lama sekali? Bobi nanyain kamu." ucap Satria di telepon, "Aku pulang sekarang." sahut Nadia yang langsung menutup telepon Satria. Sementara di tempat lain, Satria merasa khawatir pada Nadia yang tak kunjung pulang. Bobi sendiri masih tertidur dengan pulas, Satria berbohong tentang Bobi agar Nadia cepat pulang. Satria tahu kalau Nadia pergi bersama dengan Dika karena ia mengintip kepergian Nadia. Satria tak ingin Nadia berlama-lama dengan Dika, rasa cemburu menguasainya walau saat ini ia tak ada hak untuk itu. "Ayo pulang, Dik. Bobi nyariin aku." ajak Nadia yang langsung menghentikan kegiatan makannya. "Sampai kapan Satria ada di rumah kamu? Kamu harus tegas sama dia, Di." ucap Dika yang tak suka mengetahui Satria masih ada di rumah Nadia. "Kamu tahu sendiri aku begini, aku mana bisa ngurus Bobi dengan kondisiku seperti ini?" teriak Nadia kesal, ia sendiri tak suka ada Satria di rumahnya. Jauh di lubuk hati Nadia, ia ingin berpisah dari Satria karena jika berlama-lama dengan Satria, perasaannya pada Satria akan kembali seperti dulu lagi. "Kamu kan bisa nyari pengasuh buat Bobi. Atau aku, aku bisa.." ucap Dika yang segera disela Nadia. "Kamu tahu kan, Bobi nggak suka kalau kita deket?". "Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang? Kamu mau ngaku sama Satria kalau kamu hamil? Kamu mau batalin rencana perceraian kalian? Kamu yakin kamu bisa kembali sama dia dan melupakan semua kesalahan dia? Bagaimana kalau sampai detik ini juga Satria masih berhubungan dengan Sofia?" tanya Dika yang seperti tak memberi Nadia ruang untuk berbicara. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD