"Lo kenapa deh, Simi? Gue perhatiin akhir-akhir ini murung mulu lo," ujar Jayanti saat melihat wajah Simi yang tidak ada senyum-senyumnya.
"Gue lagi kesal tahu, Jay, masa iya sampai sekarang email gue nggak dibalas-balas juga." Simi membalas sambil membantu Jayanti membungkus novel cetak dengan plastik khusus.
"Itu lagi yang lo bahas, Sim." Jayanti menggelengkan kepalanya.
"Tadi lo yang nanya, Jay, sekarang giliran gue jawab. Lo malah bilang gitu, nyebelin banget deh lo." Jayanti malah terkekeh, seakan senang dengan penderitaan Simi.
"Usaha lagi aja, Simi, gue yakin nanti pasti dibales kok." Hanya itu yang bisa Jayanti katakan karena pada kenyataannya, ia tidak bisa menjamin kalau email yang Simi kirimkan akan dibalas oleh CEO tampan itu.
"Daripada lo murung gitu, buruan yuk berangkat nganterin buku-buku ini ke toko yang pesan," ujar Jayanti sambil menunjuk buku-buku yang sudah ditaruh rapi di dalam kardus.
Simi mengangguk, keduanya sama-sama mengangkat kardus berisi novel cetak dan menaruhnya di belakang sepeda mereka. Niatnya mereka yang akan mengantarkan buku-buku ini ke toko buku yang memesan, semua ini mereka lakukan untuk mencari uang tambahan. Karena tak mungkin hanya mengandalkan dari perusahaan platform dan penerbit itu saja, mereka harus berusaha sendiri.
"Lo nganterin ke tempat biasa ya, biar gue aja yang nganterin ke tempat baru," ujar Jayanti.
"Iya." Simi mengangguk hingga akhirnya mereka mengayuh sepeda dan pergi ke tempat yang dituju masing-masing.
Simi yang sedang galau memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, gadis itu mengeluarkan headset dan ponselnya di saku bajunya kemudian mulai memasang headset itu di telinganya dan menyetel lagu untuk memecah keheningan. Simi mengayuh kembali sepedanya di pinggir jalan aspal sambil bersenandung mengikuti lagu dangdut yang saat ini ia setel keras-keras. Gadis itu sengaja menyetel lagu itu keras-keras agar tidak mendengar kebisingan kendaraan beroda itu.
Di sisi lain, seorang CEO tampan yang menjadi target jodoh Simi saat ini tengah berada di dalam mobilnya. Pria itu sedang menyetir sambil menjawab telepon dari sang mama yang mulai cerewet perihal jodoh.
"Kamu kapan bawa calon menantu Mama ke rumah?" tanya Syafira di seberang telepon.
"Ma, bisa nggak Mama jangan bahas hal itu sekarang?" tegur Remix yang mulai lelah dengan pertanyaan mamanya.
"Memangnya kenapa? Kalau bukan sekarang Mama nanya terus kapan? Kamu itu Mama paksa pulang nggak mau, tiap mau ditemuin juga pasti sok sibuk. Mumpung kamu angkat panggilan dari Mama, nggak ada salahnya Mama nanya hal itu," ujar Syafira.
"Sekarang Remix masih sibuk, Ma, Remix nggak mau nikah dulu karena Remix mau fokus sama perusahaan. Kalau nanti nikah, pasti pikiran Remix terbagi-bagi. Remix nggak mau begitu, Ma." Mendengar itu membuat Syafira berdecak kesal.
"Itu Papa kamu nikah sama Mama pas seumuran kamu, nggak ada dia bilang itu bisa mempengaruhi urusannya dengan perusahaan. Usia kamu itu bentar lagi sampai kepala tiga, sampai kapan kamu memilih buat sendiri? Kamu nggak kasihan sama Mama yang dari dulu pengen punya cucu?" tanya Syafira.
"Mama tuh mau rumah kita dipenuhi dengan suara tangisan bayi lagi."
"Kalau Mama mau ada tangisan bayi di rumah, kenapa nggak Papa dan Mama aja yang usaha lagi bikinin adik buat Remix?" tanya Remix asal.
"Sembarangan kamu kalau ngomong, Mama udah tua gini disuruh melahirkan. Harusnya kamu sebagai anak yang harus cari istri supaya keinginan Mama itu terkabul. Pokoknya kamu harus segera cari karena kalau nggak, jangan salahin Mama kalau Mama yang akan cariin kamu jodoh," ujar Syafira.
"Ma, tolong jangan paksa aku. Aku nggak mau, aku bukan anak kecil lagi yang bisa Mama paksa. Aku nggak akan mau menikah dengan orang yang Mama paksakan, stop memaksakan hal yang nggak aku sukai." Remix menghela napas, berusaha untuk tidak meninggikan suaranya di depan mamanya.
"Saat ini aku sedang ada dalam perjalanan ke kantor, aku mau fokus nyetir. Aku tutup dulu teleponnya, bye Mama." Remix segera mematikan sambungan telepon itu secara sepihak ketimbang harus mendengarkan suara mamanya yang membuatnya sakit kepala ketika sang mama sudah ngotot mau diberi calon menantu.
Remix melempar asal ponselnya karena kesal, berkali-kali ia menghela napas sambil berusaha fokus menyetir. Hingga tiba-tiba ponselnya kembali berdering membuat ia menoleh ke bawah di mana ponselnya berada, ternyata ada panggilan dari sekretarisnya. Kalau sekretarisnya sudah menelepon, ia yakin ada hal penting yang sedang terjadi. Dengan satu tangannya, Remix berusaha menjangkau ponselnya. Hingga tatapannya kini malah lurus ke bawah dan tidak memerhatikan jalanan depan, hingga saat ia mendapatkan ponselnya dan kembali ke posisi semula, matanya membelalak ketika melihat di depannya ada seorang gadis yang sedang bersepeda.
Remix membunyikan klakson, meminta agar gadis bersepeda itu bisa minggir, tetapi tidak didengar. Remix menginjak pedal rem, matanya terpejam ketika terdengar benturan yang cukup kencang.
BRAKKK!
"Astaganaga, alamak!" Refleks Simi berteriak ketika terdengar benturan cukup keras di belakangnya hingga tak terduga, ia dan sepedanya terjatuh ke pinggir jalanan.
"A-aduh." Simi mengeluh kesakitan ketika sepedanya menimpa kakinya, sepeda semakin bertambah berat dengan beban banyaknya buku novel yang tadi dibawa.
"Emak! Kaki Simi sakit Mak! Huhuhu ... kaki Simi mau diamputasi!" teriak Simi sambil menangis karena sungguh rasanya sangat sakit sekali.
Remix yang merupakan pelaku dari kejadian yang terjadi ini pun langsung turun dari mobilnya, ia panik melihat gadis yang sepedanya itu tabrak terlihat kesakitan. Remix langsung menghampiri Simi dan membantu gadis itu dengan mengangkat sepeda Simi yang saat ini sangatlah berat, ia berusaha tetapi sama sekali tidak berhasil.
"Heh! Lo gimana sih? Ngangkat kayak gitu aja nggak bisa. Lo laki apa bukan? Buruan angkat, kaki gue mau putus ini. Tanggung jawab lo kalau sampai kaki gue kudu diamputasi, huhuhu! Emakkkk!" teriak Simi lagi karena tak melihat wajah pria yang membantunya itu, ia hanya memperhatikan kakinya saat ini yang mengenaskan sekali.
Orang-orang yang melihat itu pun langsung membantu Remix untuk mengangkat sepeda Simi hingga akhirnya kaki Simi berhasil selamat. Walaupun ada luka memar yang cukup terlihat membiru di kakinya, kedua sikunya pun terluka dan mengeluarkan darah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Remix sambil menghampiri Simi. Pria itu berniat menyentuh lengan Simi yang terluka, walaupun saat ini ia sedang perjalanan menuju kantor dan pastinya akan telat jika berhenti, tetapi menyelamatkan orang lebih penting apalagi ini adalah kesalahannya.
"Nggak apa-apa gimana? Lo nggak lihat kalau kaki gue biru gini? Terus tangan gue juga luka parah gini. Mana gue harus nganterin buku-buku ini, habis gue dimarahin Jaya gara-gara lo. Lo tahu nggak kalau—" Simi menghentikan kata-katanya ketika mendongak dan melihat wajah orang yang menyebabkan semua hal yang terjadi padanya ini ternyata adapun Remix! Si CEO tampan yang berhari-hari ini membuatnya galau.
"Eh jambret!" Tanpa sadar Simi kembali tergagap.
"Jambret? Mana? Kamu dijambret?" tanya Remix kebingungan.
"Lo yang udah ngejambret gue, jambret ci—" Simi langsung tersadar, akan aneh jika ia langsung mengatakan kalau pria itu lah yang menjambret hatinya sampai tak karuan begini.
"Malu banget gue, tadi teriak-teriak kagak jelas di depan gebetan." Simi memukul kepalanya sendiri, image-nya sudah hilang di hadapan pria yang menjadi gebetannya itu.