5. Gulana (Gundah, Galau, Merana

1064 Words
Simi galau karena email yang sudah ia kirimkan tak mendapat balasan juga oleh si CEO tampan. Padahal, Simi sudah tak sabar menunggu balasan ituz tetapi nyatanya beberapa hari berselang, ia sama sekali tak mendapat notifikasi kalau ada email balasan dari sang CEO tampan. Notifikasi email terkadang suka PHP dan memberinya harapan, ia pikir kalau itu balasan dari sang CEO tampan, tetapi begitu dicek nyatanya itu notif dari sosmednya yang tak penting-penting amat. Simi saat ini sedang duduk di kursi teras depan rumahnya dengan wajah cemberutnya, tiada henti gadis itu mengecek ponselnya barangkali sang CEO sudah membalasnya. Namun, seberapa sering ia mengecek, nyatanya tak ada balasan yang ia harapkan. "Simi! Tolongin Emak sini!" teriak Emak Meriam dari dalam rumah. "Males, Mak! Simi lagi galau. Emak sendirian aja, jangan minta tolong Simi!" Simi balas berteriak seenak jidat membuat Emak Meriam yang mendengarnya berdecak kesal. Emak Meriam yang kesal pun berjalan keluar rumah, ia mendapati Simi yang tengah duduk santai di kursi teras depan rumah. Tanpa aba-aba, Emak Meriam menarik telinga Simi sampai gadis itu berdiri. "Ini anak emang bandel ya, sok sibuk banget nggak mau bantuin Emak. Padahal dari tadi cuma duduk santai doang," ujar Emak Meriam mengencangkan jewerannya. "A-aduh, sakit, Mak. Lepasin ...." Simi berusaha melepaskan tangan emaknya dari telinganya, tetapi bukan Emak Meriam namanya kalau mau menuruti kata-kata Simi. "Emak tega banget ih sama Simi, telinga Simi jadi merah ini," keluh Simi sambil mengusap-usap telinganya yang merah dan perih setelah Emak Meriam melepaskan jewerannya. "Salah sendiri malah duduk di sini ngelamun, dipanggil Emak tuh langsung nurut bukannya ngebantah. Kamu itu harusnya ngelakuin hal-hal yang penting aja, kenapa sih hal nggak penting gini dilakuin? Daripada duduk diam di sini nggak jelas mendingan kamu bantuin Emak di dapur. Hari ini kita ada banyak pesanan, itu Bu Ashanti pesan nasi uduk tiga puluh bungkus buat arisan di rumahnya." "Emak salah kalau bilang aku sama sekali nggak ada kerjaan, Mak tahu nggak kalau ini tuh antara hidup dan mati. Simi lagi menunggu jodoh masa depan, Mak, emangnya Emak nggak mau kalau Simi cepat-cepat nikah? Katanya Emak pengen punya mantu lagi, ini lagi usaha." Mendengar ucapan Simi, Emak Meriam mencibir. "Gimana bisa kamu dapat jodoh kalau kerjaannya duduk doang tanpa keluar rumah, lama-lama Emak lempar kamu ke laut sekalian ya kalau terusan ngebantah ucapan Emak," ujar Emak Meriam membuat Simi cemberut. "Kamu—" "Mak, katanya Emak ada pesanan besar. Kok dari tadi malah santai di sini, Mak? Nggak takut kalau Bu Ashanti datang ke sini nagih pesanan?" Simi langsung memotong perkataan emaknya. "Ada benarnya juga kamu, ayo bantuin Emak. Ajakin sekalian tuh teman kamu si Jaya, kayaknya kita kekurangan tenaga kerja. Kakakmu itu sih pakai nginap segala ke rumah temannya, lagi repot gini juga." "Makanya Emak harusnya jangan manjain tuh si kartu As, jadi ngelunjak 'kan dia. Simi mana pernah minta izin nginap ke rumah teman, Emak juga belum tentu izinin Simi pergi." "Kalau kamu itu gimana bisa nginap di rumah teman, teman kamu aja cuma si Jaya doang. Lagian rumah Jaya tuh dekat, buat apa berniat nginap segala di rumahnya." Simi hanya menyengir. "Ya udah kalau gitu Simi ke rumah Jaya bentar ya, Mak." "Ingat, cepat pulang. Awas aja kalau sampai sana kamu malah ngegosip sama si Jaya. Emak datang ke sana, habis kamu sama Emak." Emak Meriam memperingati Simi ketika gadis itu sedang memakai sendalnya. "Iya, Emak jangan khawatir." Sebelum emaknya kembali menyerocos, Simi bergegas pergi menuju rumah Jayanti. "Selamat pagi, Bestai gue si Jaya! Assalamualaikum! Simi cantik datang nih!" teriak Simi di depan rumah Jayanti. "Nggak usah teriak-teriak gitu, sengaja banget ya lo bikin kuping gue budeg," ucap Jayanti saat keluar dari rumahnya "Hehehe, gue pikir lo masih tidur, makanya gue teriak manggil nama lo, Babí." "Simi, gue aduin ke Emak lo ya kalau lo sebut lagi Nana binatang itu," ujar Jayanti. "Ye maaf, gue cuma mau coba-coba bahasa gaul aja, Jaya. Lo tega banget kalau bilang ke Emak gue, bisa-bisa gue diceramahi panjang lebar sama Emak gue lagi." "Salah lo sendiri, kalau nggak bisa, nggak usah sok-sokan gaul gitu deh. Nggak cocok!" Simi cemberut, Jayanti tega padanya. "Oh iya, ngapain lo pagi-pagi ke rumah gue?" tanya Jayanti. "Emak gue tuh, nyuruh gue manggil lo ke rumah buat bantuin bungkus nasi. Hari ini ada tiga puluh bungkus pesanan Bu Ashanti yang harus selesai," jawab Simi. "Oh gitu, ya udah ayo!" Jayanti menghampiri Simi, gadis itu memakai sendalnya dan berjalan bersisian bersama Simi. "Gimana sama email yang lo kirim? Udah ada balasan?" tanya Jayanti. "Mana ada balasan, gue sampai berdebu tahu nungguin balasan email itu," jawab Simi dengan wajah masamnya. "Lo ngirimnya cuma sekali sih, mungkin aja keselip karena kata Mbak Dira kan tuh CEO kerjaannya banyak. Pasti banyak juga email yang masuk," ujar Jayanti. "Lo nggak tahu aja, Jaya, kalau gue tuh udah kirim lebih dari seratus email tiap hari ke dia." Mendengar itu membuat Jayanti langsung menoleh ke arah Simi, gadis itu geleng-geleng kepala tak menyangka kalau Simi bisa sesemangat itu dalam mengirim email. "Kenapa lo geleng-geleng?" tanya Simi sensi. "Nggak, gue ngerasa takjub aja. Kayaknya gue tahu deh kenapa dia nggak balas email lo, Sim." "Kenapa? Apa alasannya?" tanya Simi. "Dia mikir kalau email yang dikirim itu dari orang gíla, makanya dia nggak mau balas. Bisa jadi email yang lo kirim dilaporin spam sama dia," jawab Jayanti. "Jaya! Kok lo tega banget sih sama gue!" Simi memukuli lengan Jayanti karena kesal. "Aduh, sakit, Simi. Apaan sih lo!?" "Salah lo nyebelin, teganya lo bilang gue gíla." "Bukan gue ya, tapi si CEO itu." "Tahu dari mana lo kalau dia ngira gue, lo jangan ngadi-ngadi. Lo bikin gue jadi gulana aja deh, nyebelin." Simi cemberut, merasa kesal dengan perkataan Jayanti yang malah menghancurkan semangatnya. "Ya mau gimana lagi, Simi, kenyataannya 'kan emang begitu." Beberapa saat kemudian akhirnya mereka tiba juga di kediaman Emak Meriam, keduanya langsung masuk ke rumah menuju dapur yang saat ini terang karena lampunya dihidupkan. "Kalau ada Emak gue, lo jangan bahas-bahas calon jodoh gue. Nanti Emak gue marah lagi," bisik Simi di telinga Jayanti. "Kenapa emangnya?" "Karena Emak gue ngira kalau gue halu, padahal kenyataannya 'kan emang benar. Mak gue mana tahu kalau berawal dari khayalan, bisa jadi kenyataan," ujar Simi. "Simi, apa yang kamu bisikin ke Jaya? Kamu lagi ngomongin Emak di belakang ya? Ngaku kamu!" "Yee ... Emak kepedean, orang Simi tadi ngomongin cowok ganteng kok," ujar Simi langsung berjalan mendekat ke arah Emak Meriam yang tengah memasak sambal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD