10. Gíla

1208 Words
Simi terus memperhatikan gerak-gerik Remix, mulai dari pria itu yang tengah memesan secangkir kopi kemudian membayar secangkir kopi dan duduk di salah satu kursi. Simi bertopang dagu, memperhatikan Remix yang sangat tampan hari ini, bukan hari ini saja melainkan hari-hari sebelumnya dan hari-hari berikutnya pria itu terlihat selalu tampan. Jayanti yang melihat kelakuan Simi hanya bisa menggelengkan kepalanya, ini memang kesalahannya yang meminta agar Simi mengejar cinta CEO. Tak menyangka juga kalau Sini benar-benar melakukan itu, ia hanya bisa berdoa semoga saja Simi berhasil. Karena kalau Simi berhasil, masa depannya akan akan ditambah ia pasti akan kecipratan ketika Simi menikah dengan seorang CEO. Jayanti sama sekali tidak memikirkan harta, ia hanya berpikir kalau akan sangat mudah baginya riset secara langsung tentang kehidupan seorang CEO jika suami temannya adalah CEO. Membayangkan hal itu membuat Jayanti terkikik geli, rasanya tak sabar ingin mengeksekusi kisah nyata Simi dan dijadikan sebuah cerita dalam novel. "Sim, lo nggak mau tuh nyamperin gebetan lo?" Jayanti mulai beraksi, ia ingin agar Simi bisa segera memulai pendekatannya dengan Remix. "M-masa gue harus ke sana sih, Jay?" tanya Simi. Ada perasaan takut kalau Remix nanti akan mengusirnya, ditambah ia juga gugup kalau berhadapan langsung dengan Remix. "Ya iyalah, katanya lo mau dapatin hati dia. Sebisa mungkin intensitas pertemuan lo sama dia tuh banyak, jangan cuma sesekali. Selagi lo di sini 'kan mendingan lo samperin dia, capet kek atau gimana gitu." Simi langsung memandang ke arah Jayanti. "Takut ah, Jay." "Sejak kapan Simi yang pemberani ini jadi penakut? Kalau lo nggak gerak cepat, bisa-bisa nanti calon jodoh lo diambil orang lain loh. Lo lihat tuh, banyak yang lirik-lirik ke arah dia. Gue yakin banget kalau lo telat sedetik aja, mereka bisa ambil kesempatan yang seharusnya jadi milik lo." Simi terdiam mendengar perkataan Jayanti, matanya melihat ke arah perempuan-perempuan yang kedapatan tengah melirik Remix. Wajar saja mereka melihat Remix seperti itu karena Remix memang memiliki wajah yang tampan, perempuan-perempuan itu pasti tidak akan tahan untuk tak memperhatikan Remix. Melihat itu membuat Simi kesal, apalagi ketika ada seorang perempuan yang berniat mendekati Remix tetapi beruntung pria itu sama sekali tidak menanggapinya. "Ini nggak bisa dibiarin, Jay, gue harus ke sana!" Simi berdiri dari duduknya, tekadnya sudah bulat untuk mendekati Remix. "Nah iya, lo emang harus ke sana." Simi berjalan hendak menuju ke tempat Remix, tetapi langkahnya terhenti dan bergegas kembali menghampiri Jayanti. "Tapi gue bingung, gue harus ngomong apa?" Jayanti berdecak mendengarnya, bisa-bisanya Simi ini ya. "Tadi 'kan lo dikasih sepeda sama dia, ya lo tinggal bahas aja itu sepeda, Sim." "Eh lo benar juga ya, cerdas otak lo, Jay. Gue ke sana deh." Simi bergegas meninggalkan Jayanti menuju ke arah Remix, tanpa meminta izin, Simi langsung duduk tepat di bangku yang ada di hadapan Remix membuat pria itu yang menyadari kehadiran seseorang pun langsung mendongak. "Kamu ....." Remix yang mengenali Simi langsung bersuara. "Iya ini gue, masih ingat 'kan?" Walaupun saat ini Simi sedang gugup, tetapi sebisa mungkin ia ceria. "Ya, kamu yang tidak sengaja saya tabrak sepedanya 'kan?" Simi hanya mengangguk. "Bagaimana keadaan kamu?" tanya Remix. "Seperti yang lo lihat kalau sekarang gue baik-baik aja," jawab Simi. Remix sepertinya agak tidak percaya kalau Simi bisa sembuh begitu cepat, tetapi tidak ada yang dia tanyakan. Dia memilih kembali menikmati kopinya dan membiarkan Simi berada di depannya. "Tadi pagi ada kurir yang datang ke rumah gue, dia ngirim sepeda. Itu lo yang kirim?" tanya Simi langsung. "Kamu sudah menerimanya?" Bukan itu jawaban yang ingin Simi dengar. "Iya, makasih atas sepeda yang lo kirim." "Tidak perlu berterima kasih, semua ini kesalahan saya. Saya memiliki kewajiban mengganti sepeda kamu yang rusak," ujar Remix sambil tersenyum tipis. Sejenak, Simi terpana dengan senyuman Remix, astaga ... senyuman itu sungguh manis sekali. Kalau ia meminum kopi tanpa gula dengan menatap ke wajah Remix yang tersenyum, ia yakin kopi itu akan terasa manis walau tanpa gula. Oke, anggap saja ia berlebihan, tetapi kenyataannya memang begitu. "Kamu mendengar kata-kata saya?" Remix menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Simi ketika Simi tidak memberikan respon. "Ah iya!" Simi terkejut, karena terlalu terpana ia bahkan tidak mendengar kata-kata Remix selanjutnya. "Ngomong-ngomong sepeda gue yang lama di mana? Kenapa lo nggak balikin itu juga?" tanya Simi. "Sepeda lama kamu sudah rusak parah, saya pikir sepeda itu tidak dibutuhkan lagi. Maka dari itu saya meminta seseorang untuk membuangnya," jawab Remix membuat Simi melongo. "Apa!? Sepeda itu lo buang!?" tanya Simi terkejut bukan main. Gadis itu kini menjadi panik, bagaimana tidak? Emak Meriam selalu menanyakan keberadaan sepeda itu. Emaknya ingin agar sepeda itu bisa kembali ke rumah karena sepeda itu memiliki kenangan tersendiri untuk emaknya, kalau sudah begini apa yang harus ia katakan pada emaknya? "Iya, ada masalah?" tanya balik Remix heran. "Jelas aja! Duh, lo nggak tahu gimana pentingnya itu sepeda. Lo tahu nggak kalau bagi emak gue, sepeda itu jauh lebih penting dari sepeda yang barusan lo kirim. Lo nggak tahu betapa berartinya sepeda itu bagi emak gue, nanti gue harus bilang apa sama beliau? Masa gue bilang kalau lo buang itu sepeda? Bisa-bisa gue diusir dari rumah." Simi kali ini menjadi sangat panik, gadis itu duduk dengan gelisah. Remix memperhatikan gestur tubuh dan wajah Simi yang nampaknya terlihat sangat panik, sejenak ia merasa bersalah karena asal membuang barang orang lain tanpa bertanya lebih dulu. "Maafkan saya, saya sama sekali tidak tahu kalau barang itu amat berarti bagi ibu kamu." Simi tertegun mendengar permintaan maaf Remix, tidak menyangka kalau CEO kaya itu bisa meminta maaf pada gadis biasa sepertinya. Ternyata yang Mbak Dira bilang benar, kalau Remix itu adalah orang yang ramah pada siapapun itu. "Saya akan meminta orang untuk menemukan sepeda itu kembali dan mengantarnya ke rumah kamu," sambung Remix. "Ah, nggak perlu. Nanti malah ngerepotin, biar gue aja nanti yang cari cara buat ngejelasin semuanya ke emak gue," ujar Simi. "Tidak, saya salah maka saya harus bertanggungjawab. Saya pastikan kalau sepeda itu akan kembali ke rumah kamu," balas Remix. "Tapi lo—" Kata-kata Simi terhenti ketika terdengar dering telepon, Remix bergegas mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Ia berdecak ketika lagi dan lagi mamanya yang menelepon, ragu Remix untuk menjawabnya. Namun, ia tak mungkin mengabaikan panggilan itu, hingga akhirnya ia mengangkat panggilan itu. Remix menempelkan ponselnya di telinganya dan kembali mendengarkan ocehan mamanya tentang pernikahannya, Simi memperbesar lubang telinganya karena ia berniat menguping. "Remix, kamu sampai kapan mau begini? Selalu aja nolak. Kalau kamu nggak mau Mama jodohin, harusnya kamu cari jodoh sendiri dong. Mama tuh pengen lihat kamu nikah," ujar Syafira. "Ma, 'kan aku udah bilang kalau aku itu butuh waktu. Mama jangan maksa terus," balas Remix mulai lelah. "Mama nggak maksa, tapi Mama kesal sama kamu karena kamu udah bikin anak sahabat Mama sedih. Seharusnya kamu kalau nggak mau sama dia ya jangan langsung nolak dulu lah, kenal dulu dia orangnya bagaimana." Dalam hati Remix kesal, ia sungguh tidak tertarik dengan anak teman mamanya yang terlalu genit itu, tetapi mamanya tidak mau mengerti. "Udah dulu ya, Ma, aku harus segera ke kantor. Nanti kita sambung lagi, bye, Ma!" ujar Remix segera menutup panggilan secara sepihak. "Lagi cari jodoh ya?" tanya Simi tiba-tiba membuat Remix menoleh ke arahnya. "Hmm?" "Nikah sama gue aja, yuk!" Simi refleks menutup mulutnya ketika mengatakan itu, apalagi ketika melihat raut terkejut Remix. Sepertinya ia sudah gíla, bisa-bisanya ia berkata asal seperti itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD