Bab 3: Awal dari Kesengsaraan

1076 Words
Raye memutuskan untuk menyimpan sendiri kejadian beberapa hari yang lalu dari kedua teman dekatnya. Rasanya sungguh memalukan sampai-sampai ia tidak sanggup menceritakan insiden itu pada siapa pun. Dan hari ini pun terjadi, saat Raye harus kembali bertemu dengan Rolan. Kali ini sebagai mahasiswanya. Raye masih tidak tahu harus bersikap seperti apa nantinya. Doanya di sepanjang pagi dan malam tak dikabulkan. Di semester ini, Rolan akan tetap menjadi dosennya. Tadinya ia sempat berpikir ulang untuk mengambil mata kuliah ini tahun depan saja, tetapi teringat jika mata kuliah yang diampu oleh Rolan akan berlanjut di semester enam. Yang artinya Raye memang harus mengikuti mata kuliah ini kalau ingin lulus tepat waktu. Maka dari itu, Raye memutuskan untuk menjadi mahasiswa teladan supaya bisa menghapus citra buruknya di mata Rolan. Paling tidak, Raye berharap di akhir semester nanti, Rolan akan membiarkannya tetap lulus mata kuliah ini walau harus mendapat nilai C sekalipun. Selain itu, Raye juga akan mencoba sok akrab dengan Rolan. Seperti hubungannya dengan Pak Gilang selama ini. Jadi, pertama-tama ia akan mengajukan diri sebagai penanggung jawab di mata kuliah yang diampu Rolan. Syukurlah Raye mempunyai kepribadian yang ceria hingga tak sulit baginya untuk menarik perhatian Rolan nantinya. Sebab, sudah ada sebagian dosen yang mengenalnya. Atau paling tidak mengetahui nama dan angkatannya. Raye akan mati-matian mengadu nasibnya di semester ini. “Lah, abis mimpi apa lo tadi malem jam segini udah dateng.” Anggita yang baru memasuki kelas, menegur Raye yang sudah duduk manis di dalam kelas. “Gue semangat banget hari ini,” jawab Raye berapi-api. Anggita mengambil duduk di sebelah Raye dan meletakkan tasnya di kursi kosong satunya untuk diduduki Niana nantinya. “Pasti karena mau lihat Pak Rolan kan lo?” “Pokoknya gue mau belajar sungguh-sungguh di mata kuliah ini.” Anggita menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mabok ini anak.” Lantas, keduanya kini sudah sibuk dengan ponsel masing-masing. Anggita tengah bermain game, sementara Raye membaca jurnal yang berkaitan dengan mata kuliah yang diampu Rolan. Pukul 09.50, sudah waktunya perkuliahan dimulai. Kelas juga sudah hampir penuh meskipun masih ada beberapa orang yang belum hadir. Wajar saja, semakin bertambahnya semester, maka semakin bertambah pula tingkat kemalasan tiap mahasiswa. Apalagi di hari pertama kuliah, biasanya dosen hanya akan membahas soal kontrak perkuliahan. Dan yang ditunggu-tunggu sejak tadi pun akhirnya tiba. Pukul sepuluh lewat lima menit, Rolan memasuki kelas. Seketika suasana menjadi hening dan seluruh perhatian tertuju ke depan. “Selamat pagi teman-tem ... an.” Rolan sempat memenggal sapaannya saat matanya berlabuh pada Raye yang duduk di barisan tengah. Matanya berkilat kaget. Dan Raye pun menyadarinya. “Baiklah, di pertemuan pertama ini, saya hanya akan membahas perihal kontrak perkuliahan.” Rolan melanjutkan kalimatnya setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya. “Sebelumnya, ada yang sudah mengenal saya?” “Sudah, Pak,” jawab para mahasiswa dengan kompak, terutama Raye yang berusaha sekuat mungkin menjawab dengan teriakan hingga Anggita nyaris memukul kepalanya. Rolan tersenyum, membuat para mahasiswi bersorak kegirangan karena memang Rolan sangat manis saat tersenyum. Apalagi pria itu mempunyai lesung pipi di satu sisi wajahnya. “Sayang sekali kita baru bisa bertemu hari ini, ya?” Basa-basi yang Rolan lontarkan pun berlanjut. Sedari tadi, Raye menyimaknya dengan saksama. Ia juga mendapati jika pria itu kerap kali menoleh ke arahnya dengan pandangan yang berbeda, yang diyakini sebagai pertanda bahaya bagi Raye. Yang pertama, Raye memotret Rolan tanpa izin. Kedua, Raye membohonginya. Lalu, apa lagi yang Raye harapkan sekarang? Rolan tidak langsung mengusirnya saja sudah merupakan keberuntungan besar baginya. Tetapi di balik itu, Rolan ternyata memang sesuai seperti apa yang dibicarakan oleh senior-seniornya selama ini. Pria itu adalah dosen yang benar-benar ramah dan tampak bersahabat. Walaupun tetap ada beberapa peraturan yang harus dituruti kalau ingin mengikuti kelasnya. “Jadi, siapa kira-kira yang bisa saya andalkan untuk menjadi penanggung jawab mata kuliah ini?” Selesai menjabarkan kontrak perkuliahan, Rolan mulai mengangkat topik selanjutnya. Seperti semester-semester sebelumnya, wajar bila dosen berkeinginan untuk merekrut salah satu mahasiswa sebagai penanggung jawab di mata kuliahnya. Semata-mata untuk mempermudah komunikasi antara dosen dan mahasiswanya. Biasanya, sih, bisa dihitung jari saja mahasiswa di kelas Raye yang bersedia untuk menjadi penanggung jawab mata kuliah. Terlalu malas karena pasti akan sangat repot walaupun nantinya sang dosen akan memberi apresiasi lebih berupa nilai tambahan. Raye yang sebelumnya pernah menjadi penanggung jawab di mata kuliah yang diampu oleh Pak Gilang, kini sangat percaya diri untuk mengajukan diri. Maka dari itu, satu detik setelah pertanyaan Rolan menguar di seantero kelas, Raye langsung mengangkat sebelah tangannya. “Saya, Pak.” Semua mata sontak menoleh ke arahnya. Dari arah belakang, beberapa teman lelakinya tak segan menyoraki Raye. Beberapa tahun berada di kelas yang sama, teman-temannya jelas sudah hafal jika tindakan Raye barusan pasti mengandung motif tertentu. Karena apalagi memangnya kalau bukan wajah tampan Pak Rolan. Di antara teman-temannya yang terbilang cukup dekat dengan Raye, ia sudah dikenal sebagai sosok yang mudah jatuh cinta. Apalagi dengan lelaki yang berpenampilan menarik. “Jangan Raye, Pak. Dia tukang modus.” Andika, salah satu mahasiswa yang memang cukup dekat dengan Raye, berceletuk sembarangan hanya untuk menggodanya. “Diem lo!” hardik Raye dengan tatapan sinis yang melayang ke arah Andika sambil tetap mempertahankan satu tangannya yang terangkat ke udara. “Ada yang lain lagi?” tanya Rolan, menghentikan keributan kecil di antara mahasiswanya. Satu menit berlalu. Hanya Raye yang masih tanggap mengangkat tangannya. Tidak ada orang lain yang bersedia untuk menjadi lawannya. Barangkali sudah terlalu malas mengurus hal-hal yang berkaitan dengan dosen. Apalagi biasanya mereka memang selalu saling tunjuk hingga dosen yang berakhir membuat keputusan. Menit kedua pun telah terlewatkan. Sepertinya memang tak ada pilihan lain bagi Rolan. “Baiklah kalau tidak ada yang lain,” ucap Rolan yang tampak pasrah dengan helaan napas panjang. Ia lantas memanggil Raye ke depan. Sembari bersorak di dalam hati, Raye maju untuk menghadap Rolan dengan senyum lebar yang bertengger di bibirnya. Setidaknya, ini satu-satunya cara untuk merombak citranya di hadapan Rolan. “Siapa nama kamu?” tanya Rolan setelah Raye berdiri di depan mejanya. “Raye, Pak.” “Catat nomor handphone kamu.” Rolan menyerahkan ponselnya pada Raye. Masih dengan semangat yang tak luntur, Raye melaksanakan perintah Rolan dengan sigap. “Mahasiswa jurusan Hukum, eh?” Pergerakan Raye yang tengah mengetikkan nomornya di ponsel Rolan terhenti seketika tatkala ia mendengar pertanyaan pria itu barusan. Dengan jantung yang mendadak berdentum kuat di dalam sana, Raye melirik Rolan hati-hati dan menemukan pria itu yang tengah menatapnya dengan senyum setengahnya. Seperti mengisyaratkan jika hidup Raye tak akan tenang setelah ini. Ya, ampun! Pengen meninggal aja rasanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD